Teman Geliat-geliut

Izinkan saya bercerita tentang teman-teman yoga yang setia keringetan bareng sampe sekarang. Merasa belum mumpuni cerita tentang yoga itu sendiri, setidaknya saya mulai dengan mereka-mereka dulu, ya. 

Chita

Perempuan 20-an bertubuh mungil. Bekerja sebagai pegawai di sebuah rumah sakit di bilangan Setu, Bekasi. 

Pembawaannya tenang, walau kalau udah bicara hal yang ia sukai bisa berapi-api. Chita pendengar yang baik. Suka travelling and some kind of melancholic lady.  Err…. ini prejudice sik. Base on her caption in Instagram. Hihihi.

Di yoga, saya melihat dia yang core-nya paling aktif. Jadi kalau urusan handstand dia ini paling ringan walau katanya masih takut ngangkat satu kakinya. Fleksibilitas tubuhnya juga lumayan bagus. Kayaknya di antara kami berempat, Chita yang paling lentur. 

Slogan yang saya kasih buat Chita: Si tenang yang menghanyutkan. 

Etty

Kesamaan antara saya dan Etty adalah punya kaki panjang. Hal ini bisa jadi problem sendiri kalo lagi yoga. Kabar baiknya, saya merasa punya temen senasib sependeritaan kalo udah belibet sama kaki. Hihihi.

Etty ini semacam wanita karier. Kariernya jadi penggiat di RT-nya bersama segerombolan ibu-ibu. Gak jarang Etty bolos yoga karena kudu jaga Posyandu atau pengajian bareng genk-nya. 

Oiya, kesamaan lainnya adalah saya dan Etty suka banget sama aerobik juga zumba. Jenis olahraga yang gak terlalu diminati sama dua teman saya yang lainnya. 

Di yoga, Etty lumayan dalam hal power. Cuma dia ngaku punya ketegangan di leher. Jadi beberapa pose yang butuh leher rileks jadi tantangan tersendiri buat dia. It’s ok, dear. Lama-lama juga santai. 

Slogan yang saya kasih buat Etty: Si aktif yang suka wara-wiri. 

Rina

Temen saya yang satu ini very talkative. Suasana jadi seru kalo Rina ada di tengah-tengah kami. Dia ini tipe perempuan yang skillfull. Mulai dari jualan, masak, beberes, dan urus keperluan keluarganya ini keren banget. You name it, lah. Serba bisa. 

Selain itu, pola makan Rina sangat inspiring. Selain cowo ganteng, Rina gampang tergoda sama buah-buahan “ganteng”. Hahahaha. Ampe kalo dia gendong semangka merah aja mukanya bahagia banget. Disiplin gak makan bakso kecuali di “cheating day” sebulan sekali. Makan segala jenis grain yang sehat. Dan dia gak melakukan itu biar kurus, tapi biar sehat. Dan emang Rina jarang sakit plus badannya makin bagus aja. 

Di yoga, Rina punya hambatan di kaki karena pernah cedera. Dan anatomi kakinya yang ngelock ke belakang. Hebatnya dia tetep semangat dan terus rajin latihan. Tapi, di antara berempat ini, Rina yang paling bagus dalam hal arm balance. Cepet banget nemu titik keseimbangan. 

Slogan yang saya kasih buat Rina: Gak ada lo, gak rame! 

Ketika Yoga jadi Napas Kita

Mau tahu hobi kita berempat apa selain yoga? Ngerumpi! Aselik, tiap abis kelas yoga atau saat kami janjian ketemuan sambil nongkrong cantik pasti rumpi. 

Gosipin apa? Ya, gosipin yoga! Hahahahha. 

Misalnya bahas gerakan yang masih belum bisa, atau sensasi yang kami rasakan saat berlatih yoga. Atau diskusi bacaan kami tentang seluk-beluk olahtubuh kesayangan dari berbagai sumber. 

Gak jarang kami ngasi kritikan membangun satu sama lain. Contohnya ketika bahu saya yang sering drop saat headstand. Hal yang mungkin gak disadari diri sendiri, tapi terlihat sama mereka. 

Oleh karena sama-sama peduli akan progress satu sama lain, jadinya kritikan ini kaya kasi semangat baru. 

Gak jarang kita tuker-tukeran foto atau video para yogi atau yogini di Instagram. Mengkaji kok mereka bisa kaya gitu. Nyoba bareng.

Bagi saya, bisa punya kesempatan mengenal yoga aja udah berkah. Apalagi dikasih bonus Chita, Etty, dan Rina buat nemenin bikin tambah bahagia. 

I love you all, my babes! 

Hening Saat Genting

Menemukan ketenangan saat kondisi santai, bisa jadi lebih mudah. Walau ya ada juga yang masih kesulitan. Tapi bisa tetap damai ketika sekeliling ingin menindasmu dengan kecepatan penuh, ini baru luar biasa. 

Ya, gak? 

Gimana bisa tetep kalem saat kerjaan ini minta cepet dikelarin. Di detik yang sama, tim minta koordinasi dan bantuan. Lalu household things minta perhatian juga. Situasi ini terasa familiar, bukan?

Toss!

Hasil yang paling cepet kerasa adalah: kepala penuh. Tapi diurai juga susah. Kang pijet…mana…kang pijet. Hahahha. Kalo kepala udah pengang, pikiran sulit fokus. Nah kalo udah gak fokus, sistem tubuh jadi nge-hang. Output-nya: muka begok gak ada ekspresi. 

Sudah setengah bulan saya mulai jadi  freelancer tipe kerjaan yang gak santai. Seminggu pertama, mode muka begok ini berlangsung. Seminggu kedua mode kepala berasap dan pengen guling-guling muncul.

Hal ini kontras banget sama kondisi sebelumnya. Perbandingan kerja dan menikmati hidup itu kira-kira 30:70. Saya masih sempet masak enak. Sempet yoga 2 kali seminggu bahkan ikut kelas zumba juga. Masih punya kesempatan leyeh-leyeh di kasur sambil nonton iFlix. Hidup indah. 

Demand pekerjaan yang sekarang lebih tinggi. Kabar baiknya salary lebih lumayan dan saya suka jenis pekerjaannya. Tapi saya belum menemukan ritme yang nyaman. 

Nyaman gimana?

Saya gak mau sampai pekerjaan jadi prioritas tertinggi dalam hidup. Balance, itu yang diinginkan. Masih punya waktu keluarga, dengan teman, dengan hobi. 

Thanks God, aku kenal sama yoga sebelumnya. Kupikir cuma pas sholat dan yoga aku punya “rem”. Semacam sarana di mana saya mengizinkan tubuh, pikiran, dan jiwa saya “terlepas” sejenak dari rongrongan di luar diri. 

Menghadirkan hening. Membuat pikiran dan jiwa menjadi bening. Menyilahkan energi selaras lagi. Menumbuhkan kesadaran akan tujuan dari setiap hal yang sedang dijalani. 

Di yoga, saya berkomunikasi dengan diri, berterima kasih pada diri. Di sholat, diri saya berkomunikasi dengan pemilik jiwa, berterima kasih pada Sang Maha Baik. 

Ini semacam kebutuhan. Kegiatan yang kalau diibaratkan seperti ajakan, “Yuk, Neng sinih selonjoran dulu,” ketika kita tengah terengah-engah berlari.

Dan hening….datang lagi.