#JejakRamadhan 1: Sedu-sedan Sang Imam Witir

Entah kenapa Deddy Mizwar selalu memprotes jika ada yang bilang Bulan Ramadhan ini dengan ‘bulan puasa’. Boleh jadi, itu karena puasa tak hanya dilakoni oleh umat Muslim. Ragam dan jenis puasa terpatri dalam risalah tiap kepercayaan. Ya, baiklah. Alhamdulillah, diri ini diizinkan untuk mencicip lezatnya Bulan Ramadhan 2011.

Ceritanya, tagar #JejakRamadhan ini akan berkisah mengenai apa yang terlihat di mata, terdengar di telinga, tercium di hidung, tersentuh di kulit, ataupun terasa di hati selama bulan suci ini. Ini kisah saya.

***

Baik, kisah ini bermula dari apa yang saya dengar ketika shalat Witir di tarawih malam pertama. Jadi, tetua di masjid ini punya kebijakan untuk menyenangkan hati semua orang. Dibuatlah 2 shift sholat tarawih. Untuk penganut 8 rakaat bleh lanjut witir 3 rakaat, nah yang kuat sampai 20 rakaat menepi dulu istirahat. Jika witir shift 1 sudah tunai, maka tarawih dilanjut kembali. Adil, ya?

Tapi bukan itu yang mau diceritakan di sini. Yang ingin dikulik adalah sang imam witir. Imam tarawih beristirahat sejenak sebelum lanjut. Nah, ada yang beda terasa di hati ketika sang imam witir mulai membaca Al-Fatihah.

Bacaannya biasa, bukan? Al-fatihah. Yang juga digaungkan berkali-kali oleh sang imam tarawih. Tapi di witir ini, surat tersbeut dilantunkan lantang tanpa dibelak-belokan seperti biasanya agar terasa cantik di kuping. Yang ini terdengar lurus dan mantap. Jika biasanya hati tersapu dengan alunan yang mendayu dari sebuah bacaan Al-Quran, kali ini tidak. Hati seakan tersentak dengan kelurusannya. Lalu mengajak untuk lebur dalam khusyu.

Di beberapa ayat, sang imam terdiam sejenak. Terdengar seperti sedang mengatur ragam rasa cinta ilahiah yang sedang menyerbunya. Isak tertahan kerap terdengar halus. Seperti orang yang sedang tenggelam dalam bah rahmat Tuhannya.

Sontak, saya menyimak sambil mengingat-ingat arti dari tiap ayat yang sedang dilantunkan sang imam. Sungguh, mungkin kebersihan hati dan kerinduan yang membuncah dalam diri sang imam kepada yang dicintainya membuat cahaya itu memendar di masjid kami.

Ayatnya tak asing, cara membacakannya pun sederhana. Tak perlu keindahan lagu jika nyatanya ia menangkap pelangi makna dari ayat yang ia lantunkan.

Allah, jika pertemuan dan rasa cintanya pada-Mu bisa membuatnya bergetar kala dilantunkan nama-Mu, lalu kehendak apalagi yang terbersit dalam hatinya selain-Mu?

Sekilas kabar, sang imam witir ini dulu punya perangai yang berbeda. Tepatnya seperti apa saya nggak tau. Namun perubahan besar terjadi ketika ia pulang dari berhaji. Mungkin ini yang dinamakan haji yang mabrur. Setelah kakinya menginjak Tanah Air, tak pernah shubuh di masjid kami alfa membangunkan untuk shalat tahajud, adzan pertama, adzan shubuh, atau membangunkan sahur jika Ramadhan tiba. Dan siapa orangnya? Beliau. kenapa saya tahu? Suara sang imam ini tiada dua. Lantang, tegas, dan ya..’mengganggu’ tidur orang yang enggan bangun untuk kemudian berwudhu.

Sungguh. Allah terang berbicara pada saya lewat sang imam. Bisa jadi apa yang terasa di hati saya seperti cerita di atas adalah berkah Ramadhan hari pertama untuk saya.

Ini kisah saya, apa kisahmu?