Kala Klarifikasi Menggandeng Gengsi

Masa kini. Kala informasi mudah terbit dan mudah basi. Manusia disibukan memillah-milah mana yang valid, mana yang kiasan, mana yang gosip, dan mana yang fakta. Semua bebas memilih. Baik memilih sumber maupun jenis informasinya. Semua bebas meyakini. Meyakini yang memiliki bukti atau yang hanya menjadi buah bibir.

Terlebih jika sumber dan jenis informasinya mengandung dan mengundang interpretasi. Banyak yang akhirnya terjebak dengan asumsi. Tapi ada juga yang selamat…karena klarifikasi atau mencari bukti serta referensi.

Berasumsi memang memakan energi yang lebih sedikit ketimbang melakukan klarifikasi. Nah, makin ‘kompleks’ lagi jika asumsi bersahabat dengan prasangka. Hati tak tenang, padahal informasi belum tentu benar. Lelah jadinya.

Namun demikian, beberapa orang rela berlelah-lelah memilih berasumsi dan berprasangka lalu meyakininya sepenuh hati. Padahal mereka punya kesempatan dan pilihan untuk mengklarifikasi.

Kenapa?

Karena klarifikasi hanya untuk orang yang berani. Berani bertanya, berani menegaskan, tak malas mencari bukti, dan tak kendor semangat menggali bukti dari segala rupa referensi.

Walau demikian ada juga yang berpendapat: Ah, tapi banyak kok orang yang jatuh dalam prasangka juga orang yang berani. Buktinya, mereka berani menanggung risiko meyakini sepenuh hati bahkan menyebarkan informasi yang belum diverifikasi.

Itu bukan berani. Itu nekat dan konyol. Kenapa? Karena sebenarnya mereka mampu dan bisa memilih melakukan klarifikasi. Namun kemampuan mengklarifikasi ini kalah dengan kadar gengsi maka bertanya pun engan dilakukan.

Secara psikologis, ada orang yang menganggap ‘bertanya’ adalah ciri dari ketidakmampuan. Jadi bertanya tanda tak mampu, bukan ingin menjadi orang yang mampu bertanya.

Nah, karena gengsi dianggap berkaitan dengan rasa tidak mampu, maka klarifikasi ditendang jauh-jauh. Terlebih jika yang harus diklarifikasi adalah pihak yang bersebrangan dengan kita.

Tapi sekali lagi. Ini pilihan. Di zaman yang serba ada dan serba cepat, tentunya “memilih” sudah jadi menu utama.

Jadi, mau klarifikasi atau makan gengsi?