Resolusi (yang Terasa) Basi

Kemarin saya buka lagi “La Tahzan” milik sepupu di Tasik. Saat kata resolusi mencapai pamornya lagi di akhir tahun, ada kalimat yang Allaah perlihatkan melalui karya Al-Qarni.

Anggaplah masa hidup Anda hanya hari ini, atau seakan-akan Anda dilahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga.

Saya sempat bertanya ketika membaca tweet seorang teman yang mendeklarasikan bahwa sekian persen dari resolusi 2014 sudah terlaksana. Dan beberapa lainnya mengeset rencana dan harapan yang digantungkan pada tahun depan nanti.

Saya? Merasa amnesia dan tidak tergerak membuat satu list resolusi pun.

Merenungkan baik-baik kalimat Al-Qarni tadi rasanya lebih menggiurkan. Well, kalimat tersebut mengantarkan alam pikir ke sebuah memori ketika menghadiri satu sesi Akademi Berbagi yang digawangi rekan dari pakar penyembuhan holistik, Reza Gunawan, yang saya lupa namanya.  Maaf hihihihi.

Dia bilang bahwa manusia zaman sekarang ini sering kali “split”. Satu “kakinya” ada di masa lalu, dan lainnya ada di masa depan. Yang ada tinggallah perasaan lelah dan pegal saat menjalani masa sekarang. Terlalu cemas memikirkan yang nanti dan belum menerima kejadian yang sudah lewat. Nah loh, mana enak split terus-terusan apalagi kayang. đŸ˜€

Oke balik lagi ke resolusi. Jadi, saya gak punya resolusi apa-apa buat tahun 2015. Kalaupun harus punya, saya hanya ingin bisa menyuguhkan yang terbaik buat Allaah tiap harinya. Sisanya saya berserah.

Kejadian-kejadian besar di akhir tahun 2014 terasa membuat saya menyejajarkan kepala serendah-rendahnya dengan tanah. Berserah dan pasrah semacam pembelajaran yang alhamdulillah Allaah berikan agar ego menjadi rebah.

Di titik tersebut, keinginan akan ini-itu semacam menguap. Saya mau hidup hari ini saja.

Selebihnya, saya hanya ingin ‘pulang’ dengan perasaan penuh rindu menuju Ilahi. Diiringi dengungan doa yang tak putus dari para pecinta.  Aamiiin.

Advertisements

Entah Mau Nulis Apa

Hai, udah lama gak nulis di sini.

Kalimat itu terasa sangat pasaran ya. Khususnya buat para (yang ngaku-ngaku) blogger tapi jarang nongol negokin ‘rumahnya’ apalagi nulis. Tapi saya memahami kenapa begini dan begitunya. Karena rupanya saya juga saat ini ingin mengumbar kalimat yang sama. Ribuan niat one day one post, rasanya cuman menguat di tataran pikiran saja. Siyaul.

Oke, jadi saya harus nulis.

Entah mau nulis apa. Bukan karena gak ada hal yang ingin diutarakan maupun dikisahkan. Ini semacam laptop yang udah ‘kekenyangan’ dicekokin ratusan gigabyte foto dan playlist, plus grup Whatsapp yang menagih ruang untuk meringkuk dalam folder memori. Penuh. Nge-hang.

Yaudahlah ya, kita mulai aja dengan mmmm yang terdekat, tegampang, dan terbaru aja.

Sudah hampir setengah bulan saya berganti kostum dari full-time employee jadi kerja semau-maunya. Alasannya bukan males, tapi nggak ada Mba yang jagain Air. Plus sukses ditakut-takutin berita pembunuhan anak oleh baby sitter. Klop lah saya akhirnya ‘kembali pulang’ mengabdi sama Air.

Sejauh ini, saya merasa bahagia tiada tara *kalimat ini macam lagu lawas. Bisa mulai ngetik pagi hari selepas Air sekolah dengan pake kaos kutung, celana pendek, dan tanpa harus keringetan membelah macet Ibu Kota. Lalu, menyambut gembira saat Air pulang sekolah sambil sebelumnya bikin kudapan sore.

Acara ngemil sore ini nikmat banget deh rasanya. Cemilannya sih sederhana aja. Kadang pisang goreng, bakwan jagung, martabak tahu-telor, piscok, atau makaroni panggang. Modalnya cuman nekat dan Chef Google. Enak gak enak ya dimakan juga. Bukan karena didampingi teh panas buat saya dan jus dingin buat Air, melainkan kehangatan bertukar cerita dengan Air atas kegiatannya hari itu. Priceless banget.

Ini yang bikin hati Air kegirangan belakangan ini. Ah, Nak. Seharusnya kita coba ini dari dulu, ya. 

Oiya, saya juga jadi rajin masak. Oh Nyonya Besar bertubuh cungkring ini ternyata piawai juga belepotan minyak dan berkubang dalam adonan. Untungnya, AIr cukup kooperatif (baca: mau ngabisin makanan yang entah enak apa nggak) :D.

Mungkin ini yang namanya menjalani kodrat ya, rasanya hidup jadi penuh. Atau mungkin juga ini namanya norak hahahhaha. Belom aja nemu bosennya, tauk deh kalo udah jenuh gimana. đŸ™‚

Sesungguhnya urusan masak dan ngobrol sama Air ini adalah hiburan yang Allaah kasih sama saya belakangan ini. Ya, ada ujian besar yang sedang menghampiri saya. Namun mungkin memang benar apa yang dikatakan seorang bibi saya di Cimahi:

Allaah menurunkan ujian itu satu paket. Bukan hanya dengan solusinya saja, melainkan lengkap juga dengan penghiburannya.

Ya, saya dihibur dengan cara-Nya yang luar biasa. Doakan saya ya, kawan.