Yang Hangat dari Sahabat

Apa yang pertama kali terbersit ketika mendengar kata “sahabat”? Bagi saya, kata sahabat itu mengandung kehangatan. Sensasi hangatnya seperti baru saja berkelana di padang salju, menggigil kedinginan, lalu menemukan rumah mungil dengan perapian di dalamnya. Ya, seperti dua tangan terbuka yang siap menghamburkan pelukan terbaik bagi saya kapan saja dan di mana saja saya butuhkan.

Walaupun kami satu angkatan sekolah, usianya bertaut satu tahun dengan saya. Sebenarnya sebuah kebanggan bisa bersahabat dengannya. Kenapa? Karena dia termasuk tipe orang yang tidak mudah jatuh suka pada orang lain. Pun demikian dengan perkenalan pertama kami. Dia judes, cuek, gak mau tahu, dan ya menyebalkan. Dari sekian banyak orang Bandung yang terkenal akan keramahtamahan dan pandai berbasa-basi, dia bisa dibilang lebih mirip sama orang Jakarta. To the point dan tak suka basa-basi. Ini mungkin tombol “klik” kami. Walaupun tidak mudah dekat, tapi ketika dia membuka gerbang hatinya maka yang diundang akan betah berlama-lama dalam hatinya.

Dengan latar belakang keluarga saya yang ‘hobi’ menggunakan bahasa tubuh dan menempatkan sopan-santun di atas segalanya, mendapati seseorang yang begitu ‘clear’ terasa meringankan beban. Tak perlu lagi mengerenyitkan dahi dan membuang waktu untuk sekadar menerjemahkan maksud dari tingkah seseorang. Karena dengan senang hati dia akan mengatakan A itu A dan tidak itu tidak. Walau selama masa sekolah, saya cukup kerepotan jika kadar ketegasan dia terlalu over. Misalnya ketika kami menaiki sebuah angkot bersama teman lainnya, lalu ada seseorang yang kata-katanya tidak ia sukai, ia sontak mengentikan angkot lalu turun begitu saja. Kami hanya melongo dan geleng-geleng kepala.

Tanpa janjian, kami berdua pun melepas masa lajang dalam usia muda. Dan sama-sama menjadi ibu ketika masih kuliah. Ini berarti anaknya tak jauh beda usianya dengan anak saya. Bedanya, dia sudah beranak dua sedangkan saya masih berbuntut satu. Karenanya, cukup menyenangkan mengetahui ada seseorang di samping saya ketika membutuhkan tempat berkeluh kesah dan menyandarkan diri ketika galau.

Senangnya lagi, kami adalah ibu bekerja. Saya seorang editor majalah, sedangkan dia seorang wartawan koran harian. Tuh, tanpa janjian kita sama-sama di bidang jurnalistik. Sehingga kami saling membutuhkan jika satu dari kami sedang terserang “guilty feeling” ataupun sedang dalam kebingungan mengatur masalah keuangan dan me-time yang juga butuh dana.

Satu hal yang khas dari dirinya adalah dia tak pernah menggurui, menasehati, atau mengarahkan. Bagi saya ini menyenangkan. Sepertinya ini adalah prinsip persahabatan kami yang begitu saja tercipta tanpa harus ditulis atau direka-reka. Namun, entah bagaimana caranya pembicaraan mengalir dan berujung solusi yang justru saya atau dia buat sendiri. Dia mengizinkan saya membuat keputusan yang keliru, yang kemudian saya jadi justru belajar banyak. Dia mengizinkan saya bersebrangan pendapat dengan dirinya melalui cara yang elegan. Rasanya diperhatikan secara intens dari sudut matanya, namun tanpa terasa dicengkram, bahkan serasa memiliki kebebasan penuh.

Walaupun dia seorang yang terlihat keras, namun ia sangatlah lembut dan penyayang pada anak-anaknya dan anak saya. Dia akan mengaum keras jika ada apa-apa dengan anaknya.
Bagi saya, dia adalah seorang wanita berhati kuat, dengannya mampu menguatkan hati orang-orang di sekitarnya. Karenanya saya pernah bilang padanya bahwa 6 diary yang saya tulis sejak SMA akan saya wariskan untuk dirinya. Sayang, diary itu hanyut dibawa banjir, sehingga warisan itu batal diserahkan .

Sedangkan dari dirinya, ada satu warisan yang ia berikan pada saya. Nama singkat saya. Dari dialah nama “Vei” berasal. Sampai sekarang, di kantor dan komunitas saya lebih sering dipanggil nama itu.

Hari ini sahabat saya berulang tahun. Terima kasih sudah menjadi rumah untukku. Karena rumah adalah hati orang-orang terkasih. Dan ya, salah satunya adalah dirimu. Selamat ulang tahun, sahabatku. Semoga segala kebaikan dan kekuatan tercurah atas dirimu.

Tulisan ini saya persembahkan untukmu, Mur.

With purely love,

Your bestfriend-Vei

#JejakRamadhan: Kelak Kau Sendiri Mengarungi Mati

alone


Sebetulnya lintasan ide tulisan ini nggak mampir pas Ramadhan. Namun ide ini minta ditulis dengan diperkuat oleh berita kematian yang setia dilantunkan oleh speaker masjid dekat rumah saya ketika Ramadhan. Nyatanya, hanya syetan yang dibelenggu selama Ramadhan, malaikat maut tak cuti dari tugasnya.

Jadi beberapa hari sebelum puasa, saya lagi rajin jalan kaki dari depan komplek sampai rumah. Lumayan jauh, butuh 15 menit dan ratusan langkah untuk bisa menyapa sarang saya. Apa yang paling enak untuk menemani perjalanan? Owh ya, tentu saja musik.

Musik dengan pesonanya bisa membuat pikiran larut dalam syairnya. Bahkan tubuh pun terhipnotis untuk bergerak selaras bit yang sedang diputar dalam kepala. Apalagi nggak jarang, perjalanan itu dilakoni sendirian di tengah komplek yang sudah sangat sepi. Benar-benar sepi, kucing aja kadang malas menyembulkan kepalanya. Saat tombol ‘play’ ditekan, seluruh bumi sontak ikut larut berdendang.

Lalu, tiba-tiba baterei ponsel drop. Layar padam. Musik berhenti. Yang ada hanya saya sendiri…dalam gelap dan sepi.

Coba bayangkan. Di depan saya hanya ada jalan lurus yang panjang. Di beberapa spot lampu jalan tua sudah lelah menjalankan tugasnya. Gelap. Udara agak berkabut. Pintu bahkan jendela rumah sudah tertutup rapi. Tak ada siapa pun.

Yang berkelebat dalam hati bukanlah rasa takut akan hantu ataupun orang jahat. Kesendirian di tengah jalan yang lengang tanpa siapa pun dalam ini menyiratkan tanya di benak saya: Ya ampun, kalo saya udah mati apakah akan sesepi ini?

Lalu saya membayangkan yang sedang berjalan ini bukanlah badan melainkan ruh saya. Ruh yang sudah habis masa kontraknya di dunia. Saya memang belum pernah mati. Namun, apakah saya akan begitu saja mempercayai diri ini sudah mati jika kelak kehidupan tak lagi bersemayam dalam diri ini? Jika bayi lahir saja menangis ketika berpisah dengan alam rahim, respons apa yang akan saya alami ketika sadar diri ini sudah tak lagi menjejak bumi?

Sungguh, di malam itu saya tiba-tiba merasakan sepi yang teramat sepi. Sendiri yang teramat menyakitkan. Namun saya masih mungkin akan sampai di rumah, ada yang membukakan pintu, ada yang menawari mau dibuatkan teh atau tidak, bertemu dengan buah hati yang mengahmburi saya dengan pelukan. Lalu apa yang terjadi jika yang sedang berjalan menuju rumah ini hanyalah ruh tanpa jasad. Mungkin saya bisa begitu saja masuk rumah namun yang paling menyesakkan dada adalah….tak ada yang menyadari kedatangan saya.

Kesadaran lalu menyergap saya. Menyisakan sebuah nada bicara yang memelas. Ya Tuhan, kelak saya akan sendiri. Sendiri menghadapi maut. Sendiri menghadapi sosok-sosok yang belum pernah saya temui di mana pun. Sendiri menjalani tahapan perjalanan setelah kehidupan. Siapa yang akan menemani? Siapa yang akan menerangi jikalau jalan yang terbentang demikian gelap?

Serentet pertanyaan itu menjadi ‘oleh-oleh’ yang saya bawa sesampainya di rumah. Lalu tak lama dari hari itu saya menemukan jawaban.

Sumber jawaban ini saya dapat dari mana-mana (sila cari sendiri untuk detailnya). Setidaknya ini yang saya imani, setelahnya. Konon, setelah kematian, amal-amalan kita akan mewujud menjadi makhluk-makhluk. Jika amalnya baik makhluk itu akan enak dipandang dan memperlakukan kita dengan baiknya. Begitu pun sebaliknya. Dan sungguh tak ada yang menemani kita dalam menjalani kehidupan pasca kematian. Selain itu tadi….makhluk yang kita ciptakan sendiri.

Pertanyaan membuahkan jawaban. Lalu jawaban menelurkan kembali serentetan pertanyaan. Satu yang langsung menohok. Lalu, makhluk jenis apa yang akan menemani saya, kamu, kamu, dan kamu kelak?