#JejakRamadhan 2: Ini Zahra, Anak Kebanggaan Saya

Hei hei semua. Gimana puasanya? Bukaannya enak? Boleh bagi? Soalnya 2 hari puasa ini, saya belum berkesempatan ‘jajan-jajan cihuy’ bukaan khas Ramadhan. Pas buka, selalu pas di bis. Tapi, alhamdulillaah ya *ala Syahrini :D* masih bisa berbuka dengan (tampang) yang manis. đŸ˜€

Di #JejakRamadhan kali ini, saya ingin bertutur mengenai suatu scene yang tersuguh di malam tarawih. Lagi-lagi tarawih, ya. Rahmat dan hikmah memang berasa menderas di tiap malam Ramadhan. Begini adegannya.

Setelah salim-salim sama tetangga selesai witir, saya lantas tergopoh-gopoh keluar mesjid mencari Air, anak saya, yang jalan duluan nyelip-nyelip trus menghilang dari pandangan. Dengan langkah besar-besar saya mencoba menerobos gerombholan jamaah masjid.

Tiba-tiba ada seorang bapak bergamis putih dan berwajah teduh yang tengah berbincang dengan seorang ibu. Di depan si bapak terlihat satu gadis kecil berjilbab mungil. Si gadis kecil ini menyender di perut ayahnya, sementara sang ayah memeluknya dari belakang sambil sesekali mengusap-usap kepala si anak.

“Eh, anaknya udah besar aja, Pak. Siapa namanya?” kata si ibu ramah. Si gadis kecil pun salim tanpa perlu disuruh.

“Ini Zahra, Bu. Anak kebanggaan saya. Sholehah dan menyenangkan hati orang tuanya,” ujar sang bapak sambil memeluk anaknya lebih erat. Jujur, tanpa ada kesan pongah sedikit pun. Tatapannya penuh kasih dan hormat pada si gadis kecil. Tak ayal, ada semburat merah tomat di pipi gembulnya.

Seakan ada yang memaku saya di jalanan aspal ketika scene ‘manis’ itu tersuguh. Ada yang berpendar-pendar di dada ini. Entah apa. Senyum begitu saja mampir mengulas bibir. Apa yang pertama kali terbersit dalam benak saya, coba? Dia. Dia, Lelaki yang Lembut Hatinya dan Manusia Termulia Kekasih Pemilik Cinta.

Saya jadi ingat Rasulullaah. Betapa ketika masyarakat Makkah gemar mengubur anak perempuannya hidup-hidup, ketika gengsi dan rasa aman begitu meraja mengalahkan sebuah nyawa yang butuh dikasihi, Rasulullaah bersikap sangat menghormati anak perempuannya, Fathimah.

Cara si bapak itu memeluk erat sang gadis kecil, mengantarkan saya pada perangai Rasulullaah yang kerap menggendong Fathimah di bahunya, bercanda hangat, mengajari ilmu hikmah dengan penuh cinta, dan satu hal lagi. Rasulullaah bangga dengan anak perempuannya. Rasa bangga yang mencuat di kala semua bapak mencibiri anak perempuannya.

Bahkan, dijaganya hati Fathimah dari apapun yang berpotensi menyakitinya. Dengan lantang Rasulullah berkata, “Barang siapa yang mencintai dirinya, maka itu bukti kecintaan padaku. Barang siapa yang menyakitinya, maka itu sama dengan menyakitiku”. Terenyuh.

Rasa hormat dan cinta yang bapak berwajah teduh itu perlihatkan terasa bagai berkah. Kenapa? Karena setelah kebekuan saya mencair, ketika saya sadar harus kembali ke misi utama mencari Air, saya langsung berlari..terus berlari dan menghamburi Air yang ternyata sudah menunggudi depan gerbang rumah dengan pelukan hangat.

“Air, Bunda sayang dan ingin terus belajar menghormati Air,” bisik saya

“Bunda, aku nggak ngerti. Hormat kok nggak ada benderanya,” Air menimpali tanpa berontak dalam dekapan saya.

Ah, Nak.

Kalau detik itu adalah adegan di sebuah drama Korea, saya yakin tiba-tiba hujan rintik turun, dan kamera bergerak lambat menjauh ke atas.

Advertisements

#JejakRamadhan 1: Sedu-sedan Sang Imam Witir

Entah kenapa Deddy Mizwar selalu memprotes jika ada yang bilang Bulan Ramadhan ini dengan ‘bulan puasa’. Boleh jadi, itu karena puasa tak hanya dilakoni oleh umat Muslim. Ragam dan jenis puasa terpatri dalam risalah tiap kepercayaan. Ya, baiklah. Alhamdulillah, diri ini diizinkan untuk mencicip lezatnya Bulan Ramadhan 2011.

Ceritanya, tagar #JejakRamadhan ini akan berkisah mengenai apa yang terlihat di mata, terdengar di telinga, tercium di hidung, tersentuh di kulit, ataupun terasa di hati selama bulan suci ini. Ini kisah saya.

***

Baik, kisah ini bermula dari apa yang saya dengar ketika shalat Witir di tarawih malam pertama. Jadi, tetua di masjid ini punya kebijakan untuk menyenangkan hati semua orang. Dibuatlah 2 shift sholat tarawih. Untuk penganut 8 rakaat bleh lanjut witir 3 rakaat, nah yang kuat sampai 20 rakaat menepi dulu istirahat. Jika witir shift 1 sudah tunai, maka tarawih dilanjut kembali. Adil, ya?

Tapi bukan itu yang mau diceritakan di sini. Yang ingin dikulik adalah sang imam witir. Imam tarawih beristirahat sejenak sebelum lanjut. Nah, ada yang beda terasa di hati ketika sang imam witir mulai membaca Al-Fatihah.

Bacaannya biasa, bukan? Al-fatihah. Yang juga digaungkan berkali-kali oleh sang imam tarawih. Tapi di witir ini, surat tersbeut dilantunkan lantang tanpa dibelak-belokan seperti biasanya agar terasa cantik di kuping. Yang ini terdengar lurus dan mantap. Jika biasanya hati tersapu dengan alunan yang mendayu dari sebuah bacaan Al-Quran, kali ini tidak. Hati seakan tersentak dengan kelurusannya. Lalu mengajak untuk lebur dalam khusyu.

Di beberapa ayat, sang imam terdiam sejenak. Terdengar seperti sedang mengatur ragam rasa cinta ilahiah yang sedang menyerbunya. Isak tertahan kerap terdengar halus. Seperti orang yang sedang tenggelam dalam bah rahmat Tuhannya.

Sontak, saya menyimak sambil mengingat-ingat arti dari tiap ayat yang sedang dilantunkan sang imam. Sungguh, mungkin kebersihan hati dan kerinduan yang membuncah dalam diri sang imam kepada yang dicintainya membuat cahaya itu memendar di masjid kami.

Ayatnya tak asing, cara membacakannya pun sederhana. Tak perlu keindahan lagu jika nyatanya ia menangkap pelangi makna dari ayat yang ia lantunkan.

Allah, jika pertemuan dan rasa cintanya pada-Mu bisa membuatnya bergetar kala dilantunkan nama-Mu, lalu kehendak apalagi yang terbersit dalam hatinya selain-Mu?

Sekilas kabar, sang imam witir ini dulu punya perangai yang berbeda. Tepatnya seperti apa saya nggak tau. Namun perubahan besar terjadi ketika ia pulang dari berhaji. Mungkin ini yang dinamakan haji yang mabrur. Setelah kakinya menginjak Tanah Air, tak pernah shubuh di masjid kami alfa membangunkan untuk shalat tahajud, adzan pertama, adzan shubuh, atau membangunkan sahur jika Ramadhan tiba. Dan siapa orangnya? Beliau. kenapa saya tahu? Suara sang imam ini tiada dua. Lantang, tegas, dan ya..’mengganggu’ tidur orang yang enggan bangun untuk kemudian berwudhu.

Sungguh. Allah terang berbicara pada saya lewat sang imam. Bisa jadi apa yang terasa di hati saya seperti cerita di atas adalah berkah Ramadhan hari pertama untuk saya.

Ini kisah saya, apa kisahmu?