Lelaki Teduh Di Kala Shubuh


Di suatu shubuh. Saat salam terakhir digumamkan di akhir shalat shubuh. Saya memandang pria yang tak hanya menjadi imam shalatku, tapi juga imam yang disodorkan Tuhan untuk hidupku. Dia sedang duduk bertafakur dan melangitkan doa-doa pertama kami di pagi hari itu.

Dari balik bahunya saya menatap wajahnya yang basah dengan air wudhu. Wajahnya agak pucat. Letih dan khawatir dengan baik-baik disembunyikan dari parasnya. Tak tidur ia semalaman. Banyak pekerjaan, katanya. Sesekali ia mengeluhkan sakit pada perutnya dan lemas badannya. Namun ketika saya memperlihatkan mimik khawatir ia menetralkannya dengan canda dan tawa.

Kupandang bahunya. Besar, kokoh, dan tegap. Mewujud sedemikian rupa mungkin karena terpaan beban hidup yang sudah ia pikul sejak kecil. Kini, ada saya dan anaknya yang turut menambah berat bahunya.

Kondisi kami tak cukup baik di shubuh itu. Kami terancam tak mengenyam agenda ‘gajian’ dalam 30 hari ke depan. Dengan naiknya harga bahan pangan, biaya sekolah anak kami, terancamnya ia tak punya lagi proyek yang bisa digarap, dan iuran yang senantiasa minta ‘dipuaskan dahaganya’ tiap bulan menggelayuti mata dan pikiran imam saya ini.

Kebingungan dan kekhawatiran pasti membadai dalam hatinya. Namun tidak di wajahnya. Seakan meyakini jika rasa yang sama mewabahi saya dan anaknya justru akan membuat suasana makin tak terkendali dan makin sedihlah ia.

Bahkan ia mengurungkan niat untuk berobat padahal sudah sakit berhari-hari. Boleh jadi ia cemas, biayanya akan sangat mahal. Sehingga ia lebih memilih bisa membuat dapur mengepul ketimbang mengobati sakitnya.

Lamunan saya tersentak tiba-tiba. Ketika ia menyapukan kedua tangan ke wajahnya. Lalu dengan segenap hati mengucap ‘amin’. Kata amin yang shubuh itu berasa penuh harap dan keberserahan yang tak terkira.

Ia lalu membalik, menghadapkan seluruh tubuhnya ke arah saya. Buru-buru saya menciumi tangannya. Yang besar dan kasar dikerjai waktu dan kehidupan. Tangan yang pemiliknya saya hormati dan cintai segenap hati.

Kami memiliki ‘salim khas’ yang senantiasa dilakukan setiap selesai shalat berjamaah. Setelah saya mencium tangannya, ia mengecup kening saya dengan khidmat. Rasanya menyenangkan hati. Seperti sedang mematri nama dan kehormatan diri saya dalam hatinya. Lalu giliran saya. Saya kecup keningnya. Dengan pejaman mata yang mulai berkaca-kaca kami seperti bertelepati. Dalam sebuah kecup hangat, bahasa tak butuh aksara dan kata.

Saya sampaikan padanya, masih ada banyak nikmat dalam keterbatasan. Ada banyak kebahagiaan dalam ketidakmampuan. Ada beribu keajaiban dalam kepapaan. Dan akan selalu berlimpah kasih Tuhan dalam keberserahan.

Salim ini ditutup dengan kecupan ringan di bibir. Dan…berpelukan. Hangat rasanya. Seolah kami sedang saling mentransfer energi, saling menguatkan. Mungkin bukan hanya kami yang sedang tak berjarak seperti ini. Mungkin ada Tuhan yang merengkuh kami berdua di shubuh itu. Lalu ia berkata, “Sabar, ya.” Matanya menatap saya dengan penuh keteduhan. “Iya,” jawab saya mantap.

Dengan kasih Sang Cahaya di Atas Segala Cahaya, shubuh itu menjelma menjadi pagi. Tak hanya langit yang menyilahkan matahari bersinar. Ada pula mentari yang hangat…di hati kami.