Sepeda Air

Bisa dibilang, hidup saya sama Air itu kaya agen rahasia. Penuh dengan kegiatan saling memberitahukan kode kapan dia senang, kapan saya sebel, kaya apa kalo dia lagi merajuk, seperti apa kalau saya lagi bersemangat. Plus, kami adalah agen yang hobinya negosiasi. Halah, bahasa itu terlampau keren. Kita suka mengaitkan kelingking ketika buat kesepakatan, begitulah. Apa pun bentuk deal-deal-annya dan di manapun kita melakukannya, bentuk kesepakatannya selalu berakhir sama.

Misalnya ketika kita sepakat kalo Air boleh bobo 10 menit lagi setelah saya nyemprotin obat nyamuk di kamarnya. Atau sesederhana kesepakatan akan “waktu gak boleh nyium pipi Air”: kalo saya pake lipstik, kalo saya belom mandi, kalo saya sakit, dan kalo mulut saya belepotan minyak ūüôā Dan dengan “the power of cantelan kelingking” kami pun saling menepati janji.

Nah, ngomongin tentang kesepakatan, di bawah kesakralan kelingking kami, Air bakal dibeliin sepeda kalau nilai ujian kenaikan ke kelas 2-nya rata-rata 7. Nah (lagi), karena Senin depan dia udah mulai ujian mulailah saya mencari info tentang sepeda idamannya Air.

You know what? Air udah ngasih kriteria sepeda barunya ini sejak sepeda yang dia pake sekarang ini baru seumur seminggu. Hih! ūüôā Dia bilang kan nggak apa-apa mikirin sepeda selanjutnya kalo sepeda ini udah kecil. Hmm, itu oli di rantai aja belom kering dan rem masih pakem. *gigit Air*

Ini loh sepeda kedua Air yang (dulu) baru beli itu.

sepeda3

Yang itu gantiin sepeda pertama cimit-cimitnya ini.

sepeda 1

Jadi, dia itu untuk sepeda ketiganya, mau banget jenis sepeda mini yang ada keranjangnya di depan plus boncengan di belakangnya. Itu harga mati!

Dan tersesatlah saya siang ini di toko-toko online yang menjajakan sepeda dengan beragam warna dan harganya. Tapi saya jadi mikir, ini kenapa yang jualan semua mengategorisasi sepeda anak dengan 12″, 14″, 16″ gitu. Itu maksudnya apa?

Setelah gugling, saya jadi ngerti.

Ukuran sepeda itu ditentukan dengan ukuran pelek. Itu loh, besi yang melingkar dan menempel dengan roda.¬†Ukuran pelek diperoleh dengan mengukur diameter pelek yang telah dipasang ban. Nah, ukuran standar sepeda ternyata bukan cm, namun inci. Jadi pada satuan ukuran sepeda, senti meter dikonversi jadi inci.¬†Contohnya gini, kalau hasil pengukuran diameter pelek adalah 30 cm, maka itu masuk ke kategori sepeda 12 inci atau sering ditulis 12″.

Ada sih cara gampang buat tau ukuran sepeda itu gimana tanpa harus sediain meteran atau penggaris buat ukur peleknya. Jadi, di ban itu ada tulisannya.  Contoh: 20 x 2.30, angka 20 menunjukkan bahwa ukuran pelek adalah 20 inci (50 cm), sedangkan angka 2.30 menunjukkan bahwa lebar tapak ban adalah 2,30 inci (atau 5,84cm). Ngerti gak?

Biar gampang, nih contekan konversi ukuran sepeda dari inci ke cm.

  • Ukuran pelek 12″ ¬†itu jadi diameternya 30 cm
  • Ukuran pelek 16″ itu jadi diameternya¬†40 cm
  • Ukuran pelek 18″ itu jadi diameternya¬†45 cm
  • Ukuran pelek 20″ itu jadi diameternya¬†50 cm
  • Ukuran pelek 24″ itu jadi diameternya¬†60 cm
  • Ukuran pelek 26″ itu jadi diameternya¬†65 cm

Nah, terus saya mikir. Kan Air itu tinggi badannya lebih jangkung dibanding usia sebenarnya. Katanya lagi, yang paling pas itu nentuin ukuran sepeda dari tinggi badannya, selain umur. Saya pun jadi harus cari ukuran sepeda, tinggi badan, dan umur. Rada susah nyarinya karena di artikel bule-bule banyaknya pake satuan inci.  Eh tapi dapet nih dari www.bikebarn.co.nz . Ini (lagi) contekannya.

bike-sizes-kids

Wohohoho. Baiklah, saya jadi tau kalo Air butuh sepeda yang ukurannya 20″. Yiha! Tentu saja yang lengkap dengan keranjang, boncengan, dan warna pink. Apa? Pink? Oh no, my eyes…help my eyes! Hihihi.

Iya oke, mungkin dari yang baca mikir gini: ya bawa aja Air ke toko sepeda. Naikin, dan pilih yang pas dan dia suka. Iya sih. Tapi kalau gitu saya mungkin gak tau ilmu-ilmu di atas kan?

All in all, ada yang mau nyumbang recehan buat belinya gak? #eh

Mengendarai Hidup

Sepulang kantor sore kemarin, saya gak berangkot ria. Gak bisa sok-sokan lagi membaca orang-orang asing di hadapan. Berkurang kesenangan? Saya pikir nggak. Kenapa? Soalnya saya terjebur dalam perbicangan hangat dengan dokter muda manis yang berbaik hati “mengangkut” saya sampai Jati Bening.

Namanya dokter Vani. Sesi pulang bareng tiap Selasa dan Kamis sama Vani selalu menyenangkan. Cerita-cerita dia sedang PTT, bagaimana akhirnya dia lulus dan disumpah dokter, sampai kenapa dia akhirnya merasa “kecemplung” di dunia dokter karena cita-cita masa kecilnya.

Nah, sore itu kami ngobrol ngaler-ngidul sampai akhirnya tersebutlah kisah seorang dokter muda juga bernama, mm…sebut sajalah Tiara. Dia bukan sembarang dokter. Sebelumnya saya tanya dulu deh, apa sih yang terbersit kalo disebut kata “mahasiswi kedokteran”? ¬†Mungkin yang menjadi gambaran umum dari mereka adalah keren, gadget freak yang selalu punya yang terbaru, horangkayah, bersih-bersih, otaknya brilian, gonta-ganti mobil, dan…sehat serta baik tumbuh kembangnya. Ya, anggap ajalah sebagian besar begitu, ya.

Lalu apa istimewanya dokter Tiara ini?

Di tahun ke-empat dia menjalani perkuliahannya sebagai mahasiswa kedokteran ada beberapa dosen yang bilang gini sama dia, “Udahlah Tiara, kamu mending mengundurkan diri aja. Soalnya kemungkinan lulusnya kecil. Orang normal aja susah banget lulus jadi dokter.” Mungkin kalau si dosen ini bicara dengan mahasiswa yang pemalesan tingkat dewa atau yang intelegensinya tiarap masih agak wajar, ya. Tapi Tiara ini tidak berada di kondisi tersebut. Mau tau alasan di dosen judging seperti itu?

…karena Tiara mengidap multipel sklerosis.

Ini merupakan penyakit yang menyerang saraf. Beberapa kali Tiara mengalami serangan. Nah kalo sudah gini, biasanya dia kejang-kejang, napas susah banget, badan lumpuh sebagian, wajah jadi kurang simetris dan tidak normal. Serangan tersebut mengharuskan dia dirawat intensif di rumah sakit.

Tentunya profesi dokter dan pengidap multipel sklerosis merupakan kombinasi yang tidak biasa, bukan?

Ditambah lagi, apa yang dihadapi mahasiswa kedokteran itu berat banget. Di sela-sela kuliah dan hapalan yang seabreg, mereka juga harus jaga malam. Bahkan menurut penuturan dr. Vani, banyak yang malemnya jaga besoknya wisuda pake baju yang semalem dipake. Kan biasanya yang laen nyiapin kebaya beberapa bulan sebelumnya dan nyalon di subuh hari. Buat mereka, itu udah gak penting. Wisuda dengan mata beler, udah biasa. Ada lagi, temennya yang baru melahirkan  2 hari yang lalu, udah stand by jaga malam. Tidur 1-2 jam sehari udah jadi cemilan mereka. Bisa bayangin gak Tiara ini gimana jalaninnya. Di sela jumpalitan, tangannya selalu dihiasi infusan dan tempat nyuntikin obat. Suntik sendiri bahkan. Kalau sedang nggak bisa jalan ya pake alat bantu.

Selama menjalani perkuliahan dia beberapa kali kena serangan. Sempat dia udah pake alat bantu segala macem, lalu kehilangan kemampuan berbahasa Indonesia. Jadi dia bisa paham orang ngomong, tapi cuman bisa membalas dengan bahasa Inggris. Konon, kata dr. Vani, area yang bikin kita bisa bahasa Indonesia dan Inggris itu beda titik. Nah, Tiara ini keserang area bahasa Indonesianya.

Itu masih mending. Dia juga pernah kena serangan sehingga dia frustasi karena ia mampu mencerna kata orang tapi dia membalas dengan omongan yang bunyinya cuman “cepetang…cepetong…cepetang…cepetong”. Duh….

Tapi…akhirnya…..dia lulus!

Sehabis lulus dia ikut PTT di luar Jawa, di desa pelosok Tanah Air (lupa tempatnya di mana). Selama 3 bulan dia praktik di sana, wah tempat dia mangkal jadi rame. Semua sayang banget sama dia. Bahkan seharusnya dia menjalani layanan penjara (cek kesehatan para napi) sebanyak sebulan sekali, dia rela dateng dua hari dalam seminggu. Atas dasar kasih sayang.

Sampai suatu waktu dia izin kembali ke Jakarta pas baru 3 bulan di desa, ada urusan katanya. Taunya, pas di Jakarta dia kena serangan lagi. Semua warga desa kehilangan. Dia gak ingin warga desa tau kalo tidak kembalinya dia ke sana karena sakit. Oleh karena ada beberapa pihak yang menghembus-hembuskan gosip kurang baik akan hal ini, akhirnya ada yang memberi tahu faktanya ke Kepala Dinas setempat dengan diperkuat surat dari Tiara (itu juga mau nulis karena dipaksa). Semua kemudian nangis…..

Sekarang Tiara lagi menjalani S2 di Belanda. Mendapat beasiswa yang ia raih sendiri di umurnya yang ke-25 tahun. Padahal biasanya penderita multipel sklerosis paling lama bertahan hidup sampai 25 tahun. Hebat, ya.

Selama mendengar kisah ini dari dr. Vani beberapa kali saya tertegun. Malu rasanya. Dia dengan segala keterbatasan bisa mematahkan apa yang orang label terhadap dirinya. Dia tangguh. Seperti apa kata Albert Einstein pada gambar di atas, Tiara memilih untuk terus mengayuh “sepeda” kehidupannya.

Dan terus melaju…..

Kamu?