(Cuma) Mimpi Semalam

dreamSemalam saya bermimpi. Bukan hal aneh. Karena setiap menutup mata, itu berarti layar film berbentuk mimpi terkembang seketika. Saya menonton dalam pejam. Ya, saya memetik bunga-bunga tidur itu hampir setiap hari. Tak terkecuali jika badan sedang teramat lelah, atau bahkan jika terlelap hanya dalam 5 menit saja. Mimpi setia mendatangi. 

Layaknya pecinta film, sebanyak apapun tayangan yang ia lahap, selalu ada beberapa film yang menorehkan kesan. Begitu pun mimpi saya. Rating 1 masih ditempati serial mimpi kiamat yang saya saksikan mulai dari SMP sampai sekarang. Rating 2 ditempati mimpi serial nikah yang mulai dari nikah tapi gak ada calonnya, calonnya ada tapi gak ada mukanya, sampai habis nikah suaminya pergi.

Nah, semalam saya bermimpi hal yang bisa menggeser rating 2 ke rating 3. Mimpi tersebut sejauh ini tidak serial (oh tidak, cukup sekali saja). Oke, jadi mimpi itu awalnya hanya seperti adegan sehari-hari. Saya berjalan-jalan keliling kota, mendatangi cafe untuk menulis, atau berjalan bersama teman-teman.

Saat itu, saya mengenakan pakaian putih dari bahan chiffon yang melambai-lambai indah. Saya tampil tanpa jilbab dan berambut pendek sekali. Satu hal yang kental terasa adalah saya merasa sangat ringan. Rasanya jalan mewujud jadi eskalator tak kasat mata sehingga untuk berjalan saya hanya butuh menggelincirkan kaki. Oh ya, kaki saya telanjang. Dan dalam mimpi, walau di sekitar saya semua orang rapi beralas kaki, kaki saya yang polos tak dilirik maupun dihujat. Aneh? Saya pikir tidak, toh itu hanya dalam mimpi.

Hanya saja saya merasa agak sedih karena rasanya semua orang hari itu teramat sibuk dengan urusannya. Begitu saya datangi mereka bahkan tak mengalihkan matanya dari apa yang mereka kerjakan. Sok sibuk, saya pikir. Sudahlah. Untung saja, ada beberapa teman yang masih mau berbincang walau sedikit dengan saya. Tapi tak banyak. Saya merasa terpinggirkan. Sepi. Sudahlah, toh hari tak harus selalu berwarna, kan?

Ketika menjelang malam, saya ingin pulang. Kemudian tersadar bahwa saya tak tahu harus pulang ke mana. Saya berjalan di lorong dan jalanan yang basah di langit yang makin gelap. Di kejauhan, saya melihat seseorang yang dalam mimpi itu terasa sebagai sahabat dekat. Aih, saya senang luar biasa. Setidaknya dia bisa menunjukkan arah pulang atau ya mungkin dia mau menawarkan rumahnya untuk saya bermalam.

“Hei, saya mau pulang ke rumah. Kamu tau jalan ke rumahku?” tanya saya. Bukannya langsung menjawab, ia malah mengajakku duduk di bangku depan sebuah toko yang sudah sepi. Kemudian dia bertutur dan meminta saya untuk menyadari bahwa….. saya sudah mati. 

Jelas saya kaget dan menganggapnya sebagai sebuah lelucon. Rupanya ia serius dengan mengajak saya mengitari waktu yang telah ditempuh seharian ini. Baju ini, kaki telanjang, orang-orang sibuk, dan tak tahu arah rumah. Oh tidak, ini pasti tidak mungkin. Karena bukannya tadi siang saya bercakap-cakap dengan beberapa teman?

Ia menenangkan. Bahwa mati itu hanya beralih dunia, dan orang-orang yang ngobrol dengan saya adalah mereka yang memiliki kemampuan komunikasi lintas dunia.

Mengetahui saya sudah mati sungguh membuat hati teramat sedih. Jika ditanya sedih karena apa, saya juga tak tahu pasti. Hanya satu kalimat yang terngiang-ngiang ketika itu:

Tak bisa lagi……

Dalam tangis dalam, saya terbangun. Bangun dengan mata yang langsung membelalak. Napas terengah-engah. Seketika kalimat tadi berubah.

Ah, saya masih bisa!

Advertisements

Sindrom ‘Mama Rewel’ Jelang Pernikahan

Selain harga naik dan pengajian (yang entah kenapa) bersiap libur jelang puasa dan Lebaran. Ada lagi yang khas tiap tahunnya. Apa coba? Musim kawin. Ya, lihat saja nanti. Tiap gang melengkungkan janur kuningnya. Tanda ada yang berjanji setia di depan Tuhannya agar bisa bersama sampai maut memisahkan.

Begitu pun kisah teman-teman di sekitar saya. Beberapa di antaranya sedang bersiap. Ada yang merapikan diri menuju lamaran ataupun pernikahan. Problemnya umum. Namun ada satu dari ‘kegilaan’ persiapan nikah yang begitu saja menyeruak di alam pikir dan hati saya.

Merunut dari pengalaman dan celoteh para wanita di sekeliling saya, ada sindrom yang khas pada tiap mama atau ibu calon mertua jelang pernikahan. Baik itu tambah riwil, mengambil jarak, atau justru terlampau ‘mengobrak-abrik’ tiap detail rencana hajatan. Pertanyannya mirip: kenapa sih gak adem ayem aja, ntar juga beres. Seakan ingin berkata: mama doain aja kenapa sih, jangan justru malah jadi batu sandungan acara ini. Kalau dikerucutkan, mama/calon ibu mertua saat itu cuman satu: URING-URINGAN.

Rasanya?

Pastinya sebel. Kalau dibilang khawatir pesta gak berjalan dengan baik, ya siapa yang nggak khawatir. Kalau nggak percaya 100% sama pasangan pilihan kita, ya kita juga gak bisa jamin apa-apa karena hidup bareng aja belum. Banyak sekali kekhawatiran yang kita juga gak mampu untuk menjawabnya. Karena jawabannya perlu kesabaran, kepala dingin, dan ini yang penting…butuh waktu. Apakah mama/calon ibu mertua nggak mengerti? Bukankah kalian juga dulu pernah mengalami jadi calon pengantin?

Dan lalu, pertanyaan terakhir itu rasanya menodong hati saya. Apakah benar mama yang tidak mengerti? Atau juga sebenarnya saya yang tidak memahami perasaan mama sebagai seorang ibu?

Saya kini seorang ibu dari Air. Seorang anak perempuan yang kelak akan diboyong suaminya. Coba bayangkan. Air mengajukan seorang pria yang dia pilih untuk jadi teman hidupnya. Yang akan melayani dan dilayani oleh Air sepenuh hati. Yang didamba-damba kehadirannya. Yang dipeluk-cium tiap malamnya. Pria yang setelah melantunkan janji suci semeta-merta membawa Air ke tempat yang kian berjarak dengan saya. Duh, membayangkannya aja udah bikin hati jadi teriris.

Seorang ibu pastinya bahagia jika anaknya bahagia. Terlebih ia berbahagia atas usaha ibunya. Melihat kenyataan anak perempuan kita ‘dibawa’ sama sang pujaan hatinya tetap aja membuat hati tak tenang dan…sedih.

Akankah Air dilayani dengan baik oleh suaminya seperti saya melayaninya? Bahkan seekor nyamuk pun dijaga tiap saat agar tak menggigit kulit halusnya oleh saya. Akankah ia dinantikan oleh suaminya sebagaimana saya merindukannya? Seperti saya menantinya dengan tak sabar walau dia hanya sedang mengenyam waktu sejenak di sekolah. Akankah ia menjaga keselamatannya sepiawai saya? Bahkan saat Air belajar ‘belanja’ mandiri ke minimarket yang jaraknya selemparan batu saya deg-degan minta ampun. Dan akankah Air merasa terus bahagia bersama suaminya? Sebagaimana ia tak berhenti memeluk dan memberikan gambar-gambar dengan rasa bangganya sebagai tanda cintanya pada saya. Akankah ia akan dipeluk penuh cinta oleh suaminya? Seperti biasanya ia dipeluk, dibelai, dicium, dan didendangkan shalawat yang mengantarkan dirinya beristirahat.

Dan, akankah Air tetap mencintai saya seperti biasanya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya sebagai ibu setelah ia dicintai suaminya? Akankah ia punya cukup waktu dengan saya lagi untuk sekadar berbincang berdua di balkon rumah, sambil memandang bintang, dan bertukar rasa eskrim?

Saya tau, Air bisa menjaga itu. Tapi, ya… tetap saja. Walau pernikahan anak bukanlah sebuah gelar perpisahan. Namun, tetap menorehkan duka di antara sejuta suka.

Ya, kini saya paham. Mungkin jenis kesedihan dan kekhawatiran inilah yang menjejaki dada tiap para perempuan yang melepas sauh perahu anak perempuannya bersama lelaki pilihannya.

Jika saja memang ada mesin waktu dan berkesempatan kembali ke detik-detik pernikahan saja dulu. Saya cuman ingin memeluk erat Mama dan Nenek. Dan mengatakan. Tidak, tidak akan ada yang berubah. Jarak tak mampu memisahkan dua insan yang dulunya berada dalam satu tubuh.

Mungkin peluk yang sama akan saya hamburkan saat bertemu dengan mereka lagi. Sembari juga terus memberikan cinta yang terbaik pada Air, agar senantiasa ingat. Jika kelak Air menikah… saya sadar, cinta kami akan selalu sama. Dan saya akan selalu ada… untuknya.

Menari dan Berpendarlah

Nak,
Catatan ini dibuat saat Bunda sedang galau dan merasa sangat berat hati. Meninggalkanmu hampir selama 12 jam sehari tentunya bukanlah hal yang mudah. Bagimu mungkin sama beratnya ketika kau harus pulang meninggalkan tempat bermain kesukaannmu di sebuah mall yang sering kita kunjungi. Dan yak, kembalinya Bunda bekerja memang hal yang sering kita perbincangkan. Setiap hari, sebelum tidur. Dimana semua keinginanmu agar merasa Bunda “ada” cukup membuat Bunda merasa lebih siap, hanya karena kau siap. Apakah Bunda siap…entahlah.

Nak,
Sore ini, Bunda kembali bersedih. Karena mulai besok, Bunda tak dapat menemanimu berceloteh tentang bunga putih yang sudah mekar di mesjid yang selalu kita lewati saat pergi sekolah. Lapangan dan matahari sore tak dapat kita nikmati bersama dengan tawa ketika kita lomba lari di atas rumputnya.

Namun…
Sedih ini lambat laun memudar. Ayahmu, dengan lembut dan bijaknya menemani Bunda selama masa ini. Dia sangat mengerti bahwa tak mudah bagi seorang ibu untuk berpisah walau hanya sedetik saja dengan anaknya, perpanjangan dirinya. Dengan sebuah diri dimana tiap sel darah yang tercipta mengaliri keduanya secara bergantian. Dengan sebuah diri yang jantungnya pernah berdetak bersama dalam satu ruang. Beruntunglah Bunda memiliki kekasih sepertinya, seperti kau beruntung memilikinya sebagai ayah.

Nak,
Selain Ayah, ada sebuah lagu yang entah mengapa membuat Bunda merasa jalan yang akan Bunda tempuh memang keinginan Bunda. Jalan yang bisa membuat Bunda lebih hidup, lebih berbahagia, dan dapat membuat Bunda menjadi mengutuh sebagai manusia. Awalnya Bunda pikir ini egois. Ternyata bahagia itu sebuah pilihan. Dan Bunda memilihnya. Percayalah bahwa kita dapat membahagiakan orang lain jika kita berbahagia.

Nak,
Lagu Shine ini sering kita dengar bersama saat duduk berdua bersebelahan menonton sebuah serial Barbie Dancing Princess kesukaannmu. Kelak jika kau besar, kondisi yang Bunda alami mungkin akan kau hadapi. Misalnya saat kau harus keluar kota meninggalkan Bunda dan Ayah sementara, atau kelak saat kau harus meneruskan pendidikan di tempat yang berjarak dengan kami.

Ini kutipan lirik bait pertama…
There’s a place you can go
Where your heart is free
There’s a rhythm
That’s right for your soul

Jika Barbie begitu berbahagia menemukan sebuah hall rahasia sehingga ia bisa menari sesuka hati, begitulah Bunda saat mendapatkan pekerjaan ini. Bagi Bunda, pekerjaan ini bukan sekadar agar mendapat uang yang dapat kita gunakan untuk jalan-jalan di akhir minggu. Pekerjaan ini seperti ruang tempat Bunda dapat berekspresi dan berkarya. Bagaimana Bunda bisa menetapkan bahwa kantor dan pekerjaan inilah yang tepat? Entahlah….(akan terjawab di bait selanjutnya).

Take a breath, find your courage
And make the leap
Cause your feet always know where to go

Tidak mudah bukan berari sulit dan tak mungkin. Mungkin kita hanya butuh menarik napas panjang. Sebuah hal kecil yang penuh makna. Saat napas masuk, penuhilah dirimu dengan harapan sehingga tak ada ruang untuk cemas dan takut. Lalu melompatlah. Saat harapan muncul, rencana akan muncul dengan sendirinya. Rencana berpendar, berlompatan, dan muncul berbinar bergerak-gerak lincah seperti peri-peri kecil yang terbang kesana-kemari lengkap dengan butir-butir bercahayanya. Benar adanya, ikutilah kemana kakimu ingin melangkah. Ditambah doa orang-orang terkasih, maka arah kakimu akan semakin terarah dan berkah.

There’s a beauty already inside of you
There’s a difference that only you’ll make
Every place that you spin brings you somewhere new
Finding hope every step that you take

Pekerjaan baru. Kegiatan baru. Orang-orang yang baru. Menakutkan? Bisa jadi. Tapi mungkin juga tidak. Mungkin kita hanya merasa cemas saja. Cemas tak sama dengan takut. Cemas hanyalah penanda alami tubuhmu agar kita bersiap. Sedangkan lawannya takut bukanlah berani. Karena berani adalah kondisi dimana kau sadar ada sesuatu yang lebih penting dari sesuatu yang kau takutkan. Kelak tiap langkah yang Bunda dan kau ciptakan justru membuat kita berkesempatan memetik harapan-harapan baru. Bunda dan kau telah dibekali, percayalah bekal itu cukup untuk membuat banyak hal baru yang menyenangkan.

And you dance and you dance in an endless flow
In the grace of a perfect design
Stepping out of the dark and into the glow
And the whole world will see when you shine
You can shine
Shine

Saat Bunda kelak serius dengan pekerjaan Bunda, saat Bunda mungkin akan pulang lebih larut, Bunda ingin kau tahu sebuah hal. Bahwa saat itu Bunda tidak sedang meninggalkanmu, Bunda hanya sedang menari. Menari sepenuh hati. Tarian yang kelak jika sudah selesai akan kita saksikan bersama kilau dan cahayanya. Sama dengan dirimu kelak. Jika kau agak telat memberi kabar, saat kau absen untuk mengunjungi Bunda dan Ayah, Bunda akan percaya bahwa kau pun sedang menari seperti Bunda. Tak sabar rasanya menikmati kilau tarianmu, Nak.

Suddenly sparkling bright (shine)
Making a magical light (shine)
You will (shine)
Sisters are there by your side
Love will be your guide

Jika kau melangkah dengan hatimu yang bebas, dengan dorongan kuat yang tak bisa kau elakkan, dengan sebuah rasa yang selalu ingin kau ulas warnanya dengan caramu, maka saksikanlah. Akan tersuguh banyak keajaiban yang tercipta. Bukan hanya untukmu. Tapi untuk Ayah dan Bunda, bahkan untuk semua orang yang hatinya tersambung denganmu. Karena cintamu, cinta orang-orang yang mengasihimu, serta cinta Tuhanmu yang akan menjadi pemandunya. Semoga Bunda bisa mengalami ini semua dengan keputusan yang Bunda ambil ini ya, Nak.

Nak,
Semoga catatan ini menjadi penyejuk saat Bunda merasa kangen dengan dirimu di kantor. Dan…semoga catatan ini menjadi tamparan saat Bunda mulai salah arah dan tak terkendali. Jika orang-orang bilang bahwa ibu banyak berkorban untuk anaknya. Kupikir tidak begitu. Karena saksikanlah, saat ini kau berkorban begitu besar untuk Bunda. Hanya agar Bunda dapat menari sepenuh hati dan berpendar dengan indah, seperti Barbie.

With A Bundle of Love,

Bunda