Sindrom ‘Mama Rewel’ Jelang Pernikahan

Selain harga naik dan pengajian (yang entah kenapa) bersiap libur jelang puasa dan Lebaran. Ada lagi yang khas tiap tahunnya. Apa coba? Musim kawin. Ya, lihat saja nanti. Tiap gang melengkungkan janur kuningnya. Tanda ada yang berjanji setia di depan Tuhannya agar bisa bersama sampai maut memisahkan.

Begitu pun kisah teman-teman di sekitar saya. Beberapa di antaranya sedang bersiap. Ada yang merapikan diri menuju lamaran ataupun pernikahan. Problemnya umum. Namun ada satu dari ‘kegilaan’ persiapan nikah yang begitu saja menyeruak di alam pikir dan hati saya.

Merunut dari pengalaman dan celoteh para wanita di sekeliling saya, ada sindrom yang khas pada tiap mama atau ibu calon mertua jelang pernikahan. Baik itu tambah riwil, mengambil jarak, atau justru terlampau ‘mengobrak-abrik’ tiap detail rencana hajatan. Pertanyannya mirip: kenapa sih gak adem ayem aja, ntar juga beres. Seakan ingin berkata: mama doain aja kenapa sih, jangan justru malah jadi batu sandungan acara ini. Kalau dikerucutkan, mama/calon ibu mertua saat itu cuman satu: URING-URINGAN.

Rasanya?

Pastinya sebel. Kalau dibilang khawatir pesta gak berjalan dengan baik, ya siapa yang nggak khawatir. Kalau nggak percaya 100% sama pasangan pilihan kita, ya kita juga gak bisa jamin apa-apa karena hidup bareng aja belum. Banyak sekali kekhawatiran yang kita juga gak mampu untuk menjawabnya. Karena jawabannya perlu kesabaran, kepala dingin, dan ini yang penting…butuh waktu. Apakah mama/calon ibu mertua nggak mengerti? Bukankah kalian juga dulu pernah mengalami jadi calon pengantin?

Dan lalu, pertanyaan terakhir itu rasanya menodong hati saya. Apakah benar mama yang tidak mengerti? Atau juga sebenarnya saya yang tidak memahami perasaan mama sebagai seorang ibu?

Saya kini seorang ibu dari Air. Seorang anak perempuan yang kelak akan diboyong suaminya. Coba bayangkan. Air mengajukan seorang pria yang dia pilih untuk jadi teman hidupnya. Yang akan melayani dan dilayani oleh Air sepenuh hati. Yang didamba-damba kehadirannya. Yang dipeluk-cium tiap malamnya. Pria yang setelah melantunkan janji suci semeta-merta membawa Air ke tempat yang kian berjarak dengan saya. Duh, membayangkannya aja udah bikin hati jadi teriris.

Seorang ibu pastinya bahagia jika anaknya bahagia. Terlebih ia berbahagia atas usaha ibunya. Melihat kenyataan anak perempuan kita ‘dibawa’ sama sang pujaan hatinya tetap aja membuat hati tak tenang dan…sedih.

Akankah Air dilayani dengan baik oleh suaminya seperti saya melayaninya? Bahkan seekor nyamuk pun dijaga tiap saat agar tak menggigit kulit halusnya oleh saya. Akankah ia dinantikan oleh suaminya sebagaimana saya merindukannya? Seperti saya menantinya dengan tak sabar walau dia hanya sedang mengenyam waktu sejenak di sekolah. Akankah ia menjaga keselamatannya sepiawai saya? Bahkan saat Air belajar ‘belanja’ mandiri ke minimarket yang jaraknya selemparan batu saya deg-degan minta ampun. Dan akankah Air merasa terus bahagia bersama suaminya? Sebagaimana ia tak berhenti memeluk dan memberikan gambar-gambar dengan rasa bangganya sebagai tanda cintanya pada saya. Akankah ia akan dipeluk penuh cinta oleh suaminya? Seperti biasanya ia dipeluk, dibelai, dicium, dan didendangkan shalawat yang mengantarkan dirinya beristirahat.

Dan, akankah Air tetap mencintai saya seperti biasanya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya sebagai ibu setelah ia dicintai suaminya? Akankah ia punya cukup waktu dengan saya lagi untuk sekadar berbincang berdua di balkon rumah, sambil memandang bintang, dan bertukar rasa eskrim?

Saya tau, Air bisa menjaga itu. Tapi, ya… tetap saja. Walau pernikahan anak bukanlah sebuah gelar perpisahan. Namun, tetap menorehkan duka di antara sejuta suka.

Ya, kini saya paham. Mungkin jenis kesedihan dan kekhawatiran inilah yang menjejaki dada tiap para perempuan yang melepas sauh perahu anak perempuannya bersama lelaki pilihannya.

Jika saja memang ada mesin waktu dan berkesempatan kembali ke detik-detik pernikahan saja dulu. Saya cuman ingin memeluk erat Mama dan Nenek. Dan mengatakan. Tidak, tidak akan ada yang berubah. Jarak tak mampu memisahkan dua insan yang dulunya berada dalam satu tubuh.

Mungkin peluk yang sama akan saya hamburkan saat bertemu dengan mereka lagi. Sembari juga terus memberikan cinta yang terbaik pada Air, agar senantiasa ingat. Jika kelak Air menikah… saya sadar, cinta kami akan selalu sama. Dan saya akan selalu ada… untuknya.