Hilang

COPETIzinkan saya bercerita agak panjang. Tentang perjalanan saya dari rumah ke kantor. Terdengar biasa, ya? Kalau punya waktu lanjutkan. Kalau nggak, tinggalkan aja blog ini.

Pagi itu, saya juga berharap perlintasan saya dari Bekasi ke Terminal Pulo Gadung biasa saja, naik bis tiga per empat–sejenis Kopaja, yang terkenal dipanggil TIGER, singkatan TiGa pER empat–mendengarkan playlist “Naik-naik ke Puncak Gunung” yang berisi lagu-lagu penuh semangat, dan tentu saja dalam suasana berdesakan bersama puluhan penumpang lain.

Namun Tuhan menambahkan yang biasa saya waspadai namun luput juga dari perhatian saya, yaitu alert dengan pencopet, pelaku pelecehan seksual, maupun pihak yang membawa senjata tajam. Ya, hari ini saya kecopetan. Smartphone Blackberry (BB) yang sudah mengakrabi tas saya selama 3 tahun, berpindah tangan. Masih terdengar biasa saja, ya? Toh, bisa jadi kalian yang membaca juga pernah kehilangan barang yang sama. Tapi boleh ya saya sekadar mengeluarkan apa yang ada di kepala agar lebih terasa lega.

Begini ceritanya.

Ketika naik Tiger, suasana mini bus ini memang sudah penuh. Saya masih bisa berdiri dekat pintu. Setelah masuk tol, seorang bapak menyarankan saya agar naik agar lebih aman. Jadilah saya berdiri di lorong Tiger dengan tas yang saya sampirkan talinya di bahu kanan sambil didekap. Di depan saya, ada seorang ibu sedang menggendong anaknya. Di kiri saya, ada seorang mba yang sedang sibuk memaikan BB-nya. Di belakang, bapak tambun berjaket kulit berdiri membelakangi saya. Lalu di kanan, pria usia 20-an berjaket krem yang mencanglongkan tasnya di depan dadanya. Setelah kenek bis memanen ongkos dari para penumpang, semua pun terhanyut dalam pikirannya masing-masing dan jarang ada lagi yang sibuk membuka tas untuk mengambil ongkos.

Tiba-tiba, di tengah tol ada suara seperti ritsleting (penulisannya begitu, dari bahasa Belanda “ritssluiting”, seperti pada KBBI terbitan Pusat Bahasa edisi 4, 2008, hlm. 1178, eh ini apa sih malah bahas bahasa) yang ditutup, “Sreeet,” begitu. Saya jadi otomatis mengecek tas saya yang juga memiliki ritsleting. Ah, tertutup. Aman.

Namun naluri saya berkata bahwa saya harus mengecek tas. Oleh karena kondisi Tiger yang penuh sesak saya hanya mengecek sekilas dan tidak menemukan BB di dalam tas. Saya mulai curiga, namun tak bisa teriak karena saya merasa belum mengecek secara detail. Terlebih saya khawatir pelaku membawa senjata tajam dan melukai penumpang Tiger. Saya hanya mencoba menghapalkan muka-muka yang dekat dengan saya. Entah kenapa. Pria berjaket krem terlihat rikuh dan saya pandang lekat-lekat matanya.

Di pintu Tol Cakung, beberapa penumpang turun. Ya, memang biasanya juga begitu. Saya pun akhirnya bisa duduk karena turunnya penumpang menyisakan beberapa bangku kosong yang juga diduduki oleh penumpang yang asalnya berdiri. Dan lorong Tiger pun kosong. Pria berjaket krem ini pindah ke bangku belakang, saya pikir dia mau turun. Tapi ngapain susah-susah ke belakang toh pintu depan lebih dekat. Saya berpikir oh dia mungkin mau bertemu dengan temannya.

Tak lama, seorang perempuan muda yang mengenakan ransel besar dan tas laptop di tangannya teriak, “Dompet saya ilang!”. Tiba-tiba memori otak saya bekerja. Teriakan itu seakan mantra yang memunculkan kembali ingatan di kopaja yang saya tumpangi 1 tahun lalu. Ada keributan di belakang kopaja karena ada yang kehilangan telepon genggamnya dan beberapa pria mengerubutinya sambil bertanya ini-itu. Selang berapa lama, penumpang depan ada yang kehilangan dompet. Saya cepat-cepat memeriksa secara saksama isi tas yang ada di pangkuan. Benar, BB saya hilang. 

Saya kemudian melihat perempuan muda itu teriak, “Aduh bapak-bapak tolong saya, saya panggil polisi nanti!”.

Ya, polisi! Karena merasa saya juga kehilangan BB, sontak pandangan saya menyusuri jalan di sekitar Tiger yang masih berjalan. Untung saja, ada 2 orang polisi lalu lintas yang sedang bertugas. Wajah saya sumringah. Saya langsung melongokan ke jendela dan memanggil “Polisi! Tolong!”.

Setelah saya minta supir Tiger untuk menepikan kendaraannya, saya melihat perempuan muda itu ekspresinya dari panik menjadi takut. Begitu pula beberapa penumpang yang khawatir akan terjadi keributan akhirnya memilih turun dan mencari kendaraan lain. Merasa takut pencopetnya kabur, abang-abang ojek yang ada di sekitar situ dan saya meminta pada polisi untuk menahan penumpang karena bisa jadi salah satunya adalah pelakunya.

Saya turun dari Tiger. Polisi menanyai saya, “Mba mencurigai siapa?”.  Tak ragu saya menunjuk pria berjaket krem, “Dia, saya mencurigai dia.” Ia pun ditarik turun dan digeledah pakaian dan tasnya. BB saya tidak ada.

Pria berjaket krem menggerutu, “Saya kan bantuin Mba tadi yang kehilangan dompet kenapa saya yang dituduh?”.

Polisi berpakaian preman pun membantu menelepon nomor saya, dan masih tersambung namun karena nada getar, jadi tak langsung terdengar.

Saya bilang sama polisi, “Saya rasa pencopetnya tidak sendiri, dan barang saya sudah berpindah tangan. Geledah saja semuanya.” Polisi setuju, setelah saya meminta waktu dan kesedian seluruh isi bus, polisi menggeledah semua penumpang.

Ada beberapa ibu yang minta izin untuk pindah kendaraan segera karena urusannya penting. Si pria berjaket krem komentar, “Iya suruh pergi aja, gak mungkin kan perempuan yang nyopet”.

Lalu ada yang nyeletuk, “Lah tadi mba yang kehilangan dompet udah ketemu belum?”.

Polisi menanyai si perempuan beransel tadi dan hendak menggeledahnya, sontak ia bilang “Saya juga hilang dompet kenapa saya digeledah?” gerutunya sambil kemudian dia pergi. Tak terima, saya bilang ke polisi, “Kenapa dilepaskan?”

Belum sempat terjawab, salah seorang penumpang menanyakan seperti apa BB-saya. Saya dan polisi yang berurusan dengan perempuan beransel pun teralih perhatiannya.

Akhirnya, BB saya tidak ditemukan. Polisi pun berkata bahwa mereka sudah mengusahakan namun tak lagi bisa mengusahakan apa-apa.

Tiger pun melanjutkan perjalanan. Kemudian ada pria bermata sipit yang nyeletuk, “Lain kali hati-hati, Mba. Emang gak berasa ya, Mba?” Saya hanya mengangguk, malas menanggapi. Mental saya cape.

Mba yang duduk di depan (tepat di belakang supir) mengajak saya untuk duduk di sebelahnya.. Dia kemudian berbisik, “Orang yang kamu tunjuk tadi waktu polisi nanya memang pelakunya. Kata supir, orang itu masih sama temannya 2 orang di dalam kendaraan ini. Dua temannya sudah kabur. Mba coba lihat ke belakang, tapi jangan mencurigakan. Hapalkan wajahnya. Jadi lain kali naik Tiger, Mba harus ekstra hati-hati kalau liat wajah-wajah itu”.

Saya pikir ada baiknya. Dengan pura-pura memperhatikan jalan sekitar saya menengok ke belakang dan memasukkan profil para pelaku yang saya curigai ke dalam otak saya dan dilabel “harus ingat”.

Sampai Pasar Pulo Gadung, saya pun turun bersama satu mba berjilbab yang kemudian naik angkot yang sama dengan saya. Dia bertutur begini, “Mba, salah satu pelakunya adalah yang duduk di sebelah saya, itu loh yang matanya sipit.”

Oh pria bermata sipit yang tadi mencoba beramah-tamah sama saya. Hmm…

“Waktu di pintu tol, saya melihat mas yang matanya sipit memungut sesuatu dari bawah, padahal tak ada barang dia yang jatuh. Itu rupanya BB Mba sedang dialihtangankan,” lanjutnya.

“Saya merasa awalnya saya yang jadi sasaran. Namun ibu berseragam guru di depan saya yang sedang berdiri dan sering naik Tiger bareng menatap saya dengan tatapan berbeda seakan memberi kode agar saya lebih berhati-hati. Saya kekep tas saya erat-erat,” tuturnya.

Ia kemudian mengutarakan analisisnya, “Mba yang kehilangan dompet saya rasa gerombolan mereka. Buktinya. Si orang yang Mba tuduh menegaskan bahwa perempuan gak mungkin nyopet, sesaat Mba minta sama polisi untuk digeledah”.

Ya! Seperti yang saya duga.

Saya menyadari bahwa nurani itu selalu benar. Semua kecurigaan saya bukan tanpa alasan. Dan tentu saja saya harus lebih berhati-hati. Saya ikhlas barang yang saya miliki berpindah tangan.

Salam hormat setinggi-tingginya untuk 2 polisi lalu lintas, 3 orang polisi berpakaian preman yang sudah sigap membantu.. Setidaknya, polisi tersebut tidak seperti kisah saya saat kemalingan laptop di sini. Masih ada polisi yang baik. Syukurlah masih ada.

Walau jujur, saya jadi takut beredar di trayek tersebut karena khawatir mereka mengingat wajah saya dan kemudian menyakiti saya. Semoga hal buruk ini tidak terjadi.

Dua hal yang saya syukuri, tidak ada korban jiwa dan semua penumpang selamat (termasuk pencopetnya). Serta saya diberi kesempatan untuk berjuang untuk mencari barang saya dan hadirnya polisi yang membantu. Setidaknya saya bisa bilang sama diri sendiri bahwa, “Sudah, kamu sudah berusaha dan memilih gak menyerah begitu saja”.

Anggap saja saya kurang sedekah, dan perlu lebih banyak bersyukur.

Hati-hati ya, kawans. *nadahin tangan terima BB baru* 🙂

Pantas di Lalu-lintas Banyak yang Naas

Pernah denger ambulans yang mengiung-ngiung ketika di jalan? Tentunya. Pernah menyaksikan banyak kendaraan yang tak memberi jalan pada ambulan yang sedang bergegas ke rumah sakit? Saya sering.

Entah apa pangkalnya. Tapi belakangan saya cuman bisa geleng-geleng kepala sama kelakuan orang “aneh” yang ada di bumi pertiwi ini. Atau saya yang aneh sebenarnya karena: pertama, mempersoalkan masalah ini; kedua, mengatakan mereka yang kebanyakan itu “aneh”.

Ya standar “aneh” kini jadi makin mengabut dan absurd untuk ditelusuri. Tapi karena ini ini blog saya, rumah saya, maka saya memutuskan mereka saja yang “aneh” hihihi.

Betapa tidak, ambulans jadi sangat kerepotan cari celah jalan agar pasiennya gak mati gegara ulah egoisme pengendara di jalanan. Sementara walau agak ngomel, pengendara minggir gak pake mikir sewaktu para petinggi negara mau lewat hanya agar tak telat datang rapat. Padahal entahlah apakah matanya tak terkatup dan hatinya ada di ruang rapat ketika membahas nasib rakyat.

Itu baru satu. Ada lagi hal aneh lainnya. Pak Polisi kita yang berdedikasi mencari uang tambahan di jalanan sering menilang orang yang tidak bawa SIM, STNK, dan lainnya tapi sering membiarkan anak SMP atau yg belum 17 tahun keliaran pakai motor. Bahkan anaknya sendiri yang masih usia SMP sudah dibekali motor. SIM-nya nembak pula.

Padahal tingkat kecelakaan lebih tinggi karena para pengemudi kendaraan bermotor nggak ngerti atau nggak tau rambu-rambunya. Yang lebih penting lagi, mereka masih belum paham etika berlalu-lintas.

Saya sering hampir celaka karena ulah pelajar yang “arisan” di tengah jalan sambil mengendarai motor. Atau karena yang dibonceng pacarnya, matanya nggak liat jalan di depan, malah nengok terus ke belakang. Ada lagi yang dalam kecepatan tinggi sempat-sempatnya mengeluarkan kamera pocket untuk memoto artis idolanya yang mejeng di papan iklan obat bau ketek.

Tak hanya itu, knalpot dibuat nungging ke atas sehingga buat dia keren tapi nyemprotin racun ke muka orang lain. Belum lagi yang hobi menyalip tapi ngajak celaka bareng-bareng. Celaka mah sendiri aja, gak usah ajak-ajak.

Yang paling menyebalkan adalah yang menelepon sambil menyetir. Baik motor atau mobil. Eh itu masih mending. Ternyata yang menyebalkan tingkat dewa adalah nulis SMS atau BBM-an sambil nyetir. Rasanya pengen nimpuk pake halte Transjakarta.

Entah kenapa, kata “tenggang rasa dan tidak semena-mena pada orang lain” turun pamor rasanya.

Kita emang bayar pajak untuk buat jalan. Jalan emang punya kita. Tapi kalimat itu belom selesai. “Jalan emang punya kita SEMUA”. Lha wong yang bayar pajak juga barengan.

Ya, gak?

Hari di Mana 2 Hal Tercuri dari Saya

Dua hari yang lalu ketika saya berada di kantor si mba menelepon saya. “Bu, kita kena musibah,” suaranya tidak jelas karena bicara sambil sesenggrukan. Deg. Hati saya seperti tercerabut tiba-tiba. Lintasan Air yang sedang dadah-dadah di gerbang sekolahnya lalu melesat di kepala. Duh, semoga bukan tentang Air.

“Lektop ibu diambil orang sama pemutar musik punya Air,” dengan nada ndeso yang bercampur panik si mba menceritakan kejadiannya. Sekitar pukul 12 siang, kondisi perumahan tempat saya tinggal di Bekasi ini lengang. Memang, sebagian besar rumah hanya dihuni oleh para asisten rumah tangga karena kedua majikannya bekerja di Jakarta yang sudah pergi pagi-pagi buta.

Lalu datanglah dua orang pria berseragam kemeja biru. Satu agak pendek gemuk dan satunya kurus tinggi berkumis serta memiliki tompel di atas bibirnya. Si gemuk mengenakan tas sedangkan si kurus membawa alat yang menurut pengakuan si mba seperti untuk mengukur listrik dan agak berisik ketika dinyalakan. Mereka mengaku sebagai petugas PLN dan akan mengecek listrik di seisi rumah.

Awalnya, mba tidak mengizinkan mereka masuk rumah dan menyarankan mereka datang hari Sabtu saja. Namun saat kedua pria ini bilang “harus sekarang, disuruh Bapak”. Sayangnya, si mba ini tidak menelepon saya untuk mengonfirmasi dan begitu saja membuka gembok gerbang dan pintu.

Kedua pria ini masuk terburu-buru ke dalam rumah tanpa membuka sepatunya. Si mba sempat protes “Pak, ko nggak dibuka sih sepatunya, kan kotor”. Mereka berdalih buru-buru. Si gendut bertas ini menyuruh si mba menyalakan semua lampu termasuk yang di lantai 2. Mba pun menurut dengan menaiki tangga diikuti si gendut, sementara si kurus tetap di bawah.

Ketika di atas, si gendut meminta pensil sambil mengeluarkan satu kartu berwarna kuning dengan logo PLN tertera di atasnya. Si Mba lalu dipanggil ke bawah karena ternyata si kurus membawa pulpen dan meminta mba membawakan pulpen itu ke temannya di atas.

Setelah merasa beres, mereka beringsut hendak keluar rumah. Pulpen dan kartu PLN-nya tak mereka ambil kembali. Di pintu, anaknya mba teriak “Maaa, dia ngambil pemutar musik punya Air!”. Si mba kaget dan langsung ke tempat biasa saya menyimpan laptop. Ia makin shock ketika laptop itu tak ada lagi di tempatnya. Kaget luar biasa akhirnya ia hanya bisa menangis bukannya meminta tolong. Saat itulah ia menelepon saya. Saat pelakunya langsung kabur menggunakan motor Mio berwarna putih (si mba tidak memperhatikan plat nomornya).

Saat tahu laptop saya raib, cuman satu yang bikin sedih. Dokumentasi Air dari sejak bayi sampai sekarang hanya ada di laptop itu. Sesuatu yang nggak berharga buat pencurinya tapi priceless buat saya. Mirip seperti kehilangan dompet.Terserahlah uang dan dompetnya, tapi kartu-kartu identitas di dalamnya itu yang nyesek kalo harus urus lagi.

Tak pikir panjang, saya pun langsung izin dari kantor untuk pulang cepat. Pikiran saya sibuk. Saya harus ngapain sekarang? Atas pengarahan Ayahnya Air, saya lalu mengajak mba ke Polres terdekat setelah sebelumnya menjemput Air dari sekolah.

Di kantor polisi, bagian pengaduan.

Saya memasuki ruangan itu. Di salah satu kubikel ada 3 orang polisi yang sedang berbincang. Karena tak tahu musti ke siapa, saya mendekati mereka. Ini secuplik dialog saya dengan salah seorang dari 3 orang polisi tadi.

“Pak, kalau mau buat laporan kehilangan kemana bagian yang mana, ya?”
“Ada apa, Bu?”
“Saya mau lapor kehilangan karena pencurian”
“Kapan emang kejadiannya?”
“Tadi siang, 3 jam yang lalu”
“Apa yang hilang?”
“Laptop dan mp3 player”
“Emang rumah kosong?”
“Ada pembantu saya dan anak perempuannya”
“Orangnya masuk dari mana?”
“Dari gerbang dan pintu utama”
“Kenapa si mba membukakan pintu”
“Pelaku ngaku orang PLN dan disuruh suami mengecek listrik”
“Makanya kalo punya pembantu itu dikasi tau, dong. Si mbanya gimana sih. Ada yang dicuri kan. Harus hati-hati (dan terus dan terus dan terus dia menyalahkan dan memarahi kami)”
“Ok. Saya jadi harus ke bagian mana ini, Pak!”
“Owh ke kubikel yang di pojok itu”

Saat saya memasuki kubikel itu, ada tiga buah kursi yang dipasang berjejer dengan seorang polisi sedang meringkuk tidur. Saya lantas berteriak ke polisi sebelumnya, “Orangnya tidur, Pak!”
Polisi sebelumnya berteriak, “Bangunin aja!”.

Ternyata si polisi sleeping beauty ini terbangun dari mimpinya karena mendengar teriakan saya. Bukannya tergopoh-gopoh ada yang masuk ruangannya, dia malah melihat saya dengan santainya dan membiarkan saya menunggunya menyelesaikan acara ngulet-ngulet panjangnya.

Dia lalu duduk. Dan bertanya hal-hal yang tadi ditanyakan oleh polisi pertama. Pembicaraan saya lalu diakhiri dengan: “Lalu ibu maunya kita ngapain?” Whaaatttt!??

Saya tanya balik. “Biasanya kasus seperti ini gimana reponsnya di kepolisian?”
“Ya buat laporan kehilangan. Terus akan dibawa ke Kepala Bagian. Kita kan punya tujuh unit. Nanti Kepala ini memilih unit mana yang akan menangani kasus. Jika sudah menunjuk, maka si unit akan memilih penyidik untuk menyelesaikan kasus ini”

Dalam hati saya mikir. Kalo kasusnya pencurian mobil, pas penyidik udah kepilih, mobilnya udah tinggal gelundungan ban. Lambat banget.

“Lalu kalo saya sekarang buat laporan kehilangan, kapan saya akan dimintai keterangan lanjutan untuk BAP?”

“Ya kita liat aja sih. Ada apa nggak Kepala Bagiannya. Soalnya dia juga suka keluar kota.”

Dalam hati saya mikir lagi. Kalo ada kasus pembunuhan, kalo semua bergantung kehadiran Kepala Bagian tuh pelaku dan membunuh berapa orang, ya? Pada gak punya BBM atau Skype gitu ya. .

Polisi itu berkata, “Lagian susah juga menyelidikinya lha wong identitasnya aja si mba gak bisa nyebutin namanya. Nggak jelas identitasnya”

Manaaaa adaaaa pencuri yang ngasih identitas, nama asli dan KTP, pas mau nyuri. Gimana sih.

“Identitas bukanya gak cuman nama kan, Pak? Ciri-ciri fisik yang khas, kendaraan yang dipakai sama pelaku bisa lho digambarkan dengan detail sama mba saya”
“Yaaa, susah, Bu”
“Kali aja ada laporan yang sama dan pelaku dengan ciri-ciri yang sama. Memangnya tahun ini udah ada berapa laporan yang motifnya sama kaya saya?”
“Ini motif baru kalau pencurian mengaku dari PLN dan lainnya. Ini laporan pertama yang masuk.”

Kaget dengernya. Soalnya selama perjalanan pulang dari kantor, di Twitter banyak sekali yang cerita dia mengalami kejadian yang serupa. Mengaku sebagai petugas PLN, PAM, servis AC, dan lainnya. Ini apa polisi yang berkilah atau memang masyarakatnya yang nggak lapor ke polisi hanya karena desperate laptopnya nggak bakalan balik walo lapor. Hei laporan ini kan bukan hanya tentang baliknya barang. Tapi juga biar polisi bikin gerakan untuk menangani agar gak terjadi lagi.

Polisi itu lalu mengamati pulpen dan kartu PLN kuning yang saya masukan dengan amat-sangat-hati-hati ke dalam kantung plastik. Karena sering nonton film CSI, NCIS, dan Law and Order saya pikir akan ada sidik jari yang berguna untuk mengarahkan penyelidikan.

Polisi itu bertanya, “Lalu, barang ini mau bisa kita apakan coba?”
“Bukannya ada sidik jari pelaku di situ ya, Pak”
“Bu, polisi kita ini nggak kaya di Jepang, kita nggak punya database kaya gitu….(pembicaraan selanjutnya bernada curcol tentang polisi berkesan nggak berdaya),” jawabnya sambil membuka plastik dan lalu mengunyeng-unyeng pulpen tadi dengan sembarangan dan semaunya. Rusak sudah.

Itu mirip banget perbincangan agen sama klien. Di mana si agen bilang ke kliennya dia nggak bagus lho, dia payah, dia nggak bisa diandalkan, tapi minta tetep dihormati dan dipercaya sama kliennya. Duh, padahal kan nasi yang polisi makanan seragam yang dia pake itu dari pajak yang kita bayar. Stakeholder utamanya dia ya, masyarakat.

Di bawah ukiran tagline di dinding kantor polisi yang bertuliskan “Melayani dan Melindungi Masyarakat” , Polisi itu lantas bertanya setelah mengakhiri sesi curhatnya.
“Kerja di mana, Bu?”
Saya tatap matanya lekat-lekat sambil menjawab, “Saya kerja di media”

Bahasa tubuh polisi itu lalu sontak berbeda. Tegap dan kemudian menjaga tiap kata-katanya.
Terlepas dari jenis barang yang hilang, mau itu cuman sekaliber laptop atau rumah dan nyawa sekali pun, polisi perlu bersikap lebih baik. Saya berhak mendapatkan pelayanan kalo dia nggak bisa melindungi dengan baik.

Saya jadi ingat ketika rumah saya dilempari kaca dan batu oleh suaminya pembantu karena saya melarikan istrinya ke LBH setelah sang suami berbulan-bulan melakukan KDRT pada sang istri. Saya langsung ke polisi, minta dilindungi. Apa yang kurang, motif jelas, identitas jelas, barang bukti perusakan ada. Mereka hanya bisa jawab, “Gini aja, Bu. Nih saya kasih nomer telepon sini, kami akan datang 5 menit ke rumah ibu”. Ya, bisa jadi mereka datang, nyawa saya sudah melayang di menit ke-2. Apa karena saya bukan anak jendral, anak presiden?

Lalu ketika membuat BAP atas pemukulan pembantu saya sama suaminya di rumah saya. Saya ditangani polwan. Tapi di meja sebelah, polwan lain sedang berkelakar dengan polisi pria tentang pelaporan kasus perkosaan seorang wanita. Pelapor dikata-katai dan disindir dengan kata-kata melecehkan. Entah bagaimana rasanya kalo si wanita pelapor itu mendengar. Yang jelas, saya aja yang mendengar itu nggak layak dilakukan oleh pihak yang ada di bawah sumpah untuk berlaku baik sama masyarakat.

Dan saya pun pulang dengan perasaan yang geram. Awalnya geram karena penipuan si pelaku dan si mba yang nggak hati-hati. Lalu berakhir dengan geram karena polisi yang sama sekali tidak menjunjung tinggi slogan yang mereka punya.

Hari itu saya sudah merasa tercuri 2 hal: harta benda yang diambil pelaku dan kepercayaan pada polisi yang diambil oleh oknum polisi sendiri. Saya sudah mengikhlaskan kehilangan material. Tapi saya tidak memilih ikhlas atas kinerja oknum polisi-polisi itu. Saya memilih putus asa.
Walau pastinya ada juga polisi baik di antara polisi kotor di negeri ini. Salam hormat setinggi-tingginya untuk para polisi yang menyandingkan sumpah mereka di jidat mereka agar selalu ingat dan mematrinya di hati mereka agar sumpahnya selalu dijaga untuk ditegakkan.