[Cerita Pulau] Mandi Angin di Remora

Sebetulnya pengen posting sekalian foto saat snorkeling menjelajahi pulau di trip kali ini. Tapi kebanyakan foto itu ada di kamera underwater punya Chika. Baiklah. Saya mau cerita aja tentang perjalanan di atas Kapal Motor Remora.

image

Mejeng sebelum jalan sama Pak Tibi dan Pak Jenggot.

image

Nah ini dia artes hits masa kini yang berbaju merah, Dede.

Ini adalah kapal yang sama dengan perjalanan jelajah Pulau di November tahun lalu. Masih dengan guide bernama Dede dan seorang Pak Tua berjanggut yang saya selalu lupa namanya.

Kapal biru putih yang dilengkapi jendela di depan kemudi ini milik jagoan Pulau Pramuka. Pak Tibi namanya. Ia sudah menjadi kawan yang setia menemani para pecinta laut sejak kami masih duduk di bangku kuliah.  Pak Tibi selain memiliki kapal (salah satunya KM Remora) dan anak buah kapal yang setia berada di bawah arahannya, juga memiliki istri yang sangat keibuan.

image

Ibu Tibi yang berjilbab hijau. Aih, dia bisa juga poses ala ala Korea. Peace!

Cerita sedikit tentang Ibu Tibi. Bayangkan sosok yang tambun dan lugu. Ia senang tertawa kegelian, bahkan untuk hal yang kami suka bingung apa yang ia anggap lucu. Istri Pak Tibi sudah kami anggap sebagai ibu. Perpanjangan tangan Tuhan sebagai ibunda kala kelaperan salah satunya hahahahah. Kalau kami datang, sebut saja nama makanan dan dia akan segera menyodorkannya. Hal ini membuat kami berhati-hati melontarkan jenis kuliner. Benar saja, ketika Lyd bilang “Ikannya mana?” saat sepiring besar cumi bakar dihidangkan di depan mata, delapan ikan bakar langsung menyusul tersaji dengan cepatnya. Aih, ibu ini baiknya.

image

Septi dan Air. Air mukanya kesenangan karena dibeliin permen loli banyak dan kaos Pulau Seribu sama Ibu.

Tak hanya Ibu, Septi yang merupakan anak kedua mereka sangat ramah dan menyenangkan.  Bayangkan saja, Air diajak main ke hutan mangrove mencari kerang dan membuat mahkota dari rumput laut. Asyik berkejaran di pantai sampai keduanya basah kuyup saat pulang ke rumah. Sayang, saya tak sempat mengabadikan momen mereka saat bermain. Ah, keluarga Pak Tibi memang hangat. Semoga mereka diberkahi.

Okey lanjut ke atas KM Remora. Perjalanan kali ini, kami akan snorkeling di Pulau Perak, Pulau Belanda, dan Pulau Bira. Destinasi yang memakan waktu sekitar 2 jam.

image

Yaiy! Aer asin kami dataaang.

image

Pose kaki silang kembaran wajib diabadikan, katanya.

image

Dini dengan bindy yang makenya miring. Oleh-oleh Chika dari India.

Satu jam pertama kami masih semangat selfie dan sesekali bercanda di atas kapal.

image

image

image

image

image

Namun sejam ke depannya kami mulai mati gaya. Ada yang tidur karena begadang semalam sampai yang merenungi nasib dan sibuk entah apa yang berkecamuk dalam pikirannya. 

Saya sendiri sempat bermeditasi kira-kira 15 menit. Lumayan hebat sensasinya. Perpaduan antara hela napas, debur gelombang, ayunan kapal, dan deru mesin bercampur menjadi sebuah nuansa yang tak pernah saya dapati jika ada di darat.

Di Pulau Perak, kami sempat menambatkan kapal. Rupanya ini merupakan pulau wisata. Karena banyak wisatawan yang makan di warung, berfoto, dan main pasir yang memang putih menyilaukan. Hal yang cukup seru adalah ada banyak ayunan yang bertali panjang sekali di tepi pantai.

image

image

image

Dan gorengan ada di mana-mana, kawan. Bakwan jagung panas, tahu isi, dan pisang goreng jadi jagoan di Pulau ini. Yummm. Nikmat sekali.

image

Cerita snorkeling singkat saja ya. Karena banyak hal yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.  Hal yang lucu adalah beberapa kali snorkel saya dan Air lepas dari masker. Dan mengharuskan Dede menyelam lebih dalam untuk mengambilnya. Juga ketika Air panik berenang berbalik arah ketika harus snorkeling di atas kumpulan bulu babi yang berjarak beberapa belas senti dari tubuhnya. Hihihihi. Saya juga ngeri sih sejujurnya.

image

Total dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore kami wara-wiri dari pulau ke pulau dengan hati riang.  Dan alhamdulillah KM Remora sangat tahu diri. Mesinnya mati pas ketika sudah menyentuh bibir dermaga Pulau Pramuka tempat kami menginap.

Terima kasih ya, Remora.

[Cerita Pulau] Pagi yang (Tidak) Sempurna

Oke. Jargon hari ini adalah “Sempurna? Muke lo jauh”. Alarm hape jam 3.30 am sukses membelah mimpi yang entah apa. Yang jelas, ada mimpi yang lebih menggiurkan untuk diajak jadi kenyataan: ketemu pantai dan maen air asin. Yaiy!

Setelah packing semalem, dua tas siap diajak nemplok di punggung. Packing bareng Air kali ini lumayan seru.

Idealnya: packing selesai jam 7 trus bobo cantik dan bangun sebelum shubuh.

Kenyataan: selesai jam 10.30 PM sambil nguap-nguap.

Idealnya: Air menulis barang bawaannya sendiri lalu memasukinya ke dalam tas sambil bersiul-siul.

Kenyataannya: list bawaan aku yang nulis, dia milih baju doang trus masukin ke tas sambil terkantuk-kantuk.

Idealnya: malam sebelom berangkat penginapan dan kapal buat snorkeling udah fix.

Kenyataannya: tetiba Lyd ngingetin “Eh Tabata tempat kita nginep udah izin sama yang punya belom ya kalo kita mau numpang”. Nyiahahahha.  Dan drama di grup pun dimulai yang disulut dengan kata “terserah” saat Lyd nanya mau berapa hari pake kapal. Meh.

Tapi sudahlah drama packing selesai. Lanjut lagi ke acara bangun tidur kuterus mandi. Ini beneran. Mandi gak pake mikir.

Bawaan, check. Duit, check. Air, check. Makanan kucing, check. Ready to go. Dunia berasa akan sempurna hari ini.

Membelah shubuh berdua Air di atas kuda besi. Namun baru 5 menit kesempurnaan pagi ini dirobek-robek dengan tutupnya penitipan motor. Bah. Rupanya si abang abang ini  butuh rehat juga di libur panjang ini. Crap! Anggaplah mereka bosan menggembala domba-domba pemakan bensin ini.

Memutar arah.

Baiklah. Gak ada waktu untuk merutuki nasib. Karena kapal di Muara Angke berangkat jam 7. Dan itu udah jam setengah 6.  Udah lama rasanya gak berlomba-lomba sama Paman Matahari. Setelah dapet penitipan motor yang buka akhirnya lanjut naik ojek ke stasiun.

Bentar.  Kalo ada yang tanya kenapa gak naek motor dan titip di stasiun? Well, iya aku masih penakut hahahahaha. Cuman baru jadi jagoan komplek menang dulu-duluan lawan kucing perumahan.

Sesampainya di mulut Stasiun Bekasi baru keingetan kalau tas Eiger kecil yang isinya pundi-pundi Paman Gober beserta handphone ketinggalan di rumah. Errrggghhhh. Ya mau gak mau putar arah lagi menuju rumah karena ongkos commuter line gak bisa dibayar pake daun apalagi rumput yang bergoyang. (Second) crap!

Tapi ini nih enaknya travelling sama Air. Dia mah anaknya gitu. Senang menertawakan kebodohan atau keteledoran. Alih-alih berlomba kesel atau nyesel karena udah ceroboh, kami milih ketawa-tawa gila di atas ojek sampe abangnya beberapa kali nengok ke kaca spion. Macam khawatir kita belaga gila biar lolos dari kewajiban bayar ojek. Kan tersangka juga kalo gak waras gak jadi divonis nyiahahhahahaha.

Di tengah ketawa, Air nyeletuk gini, “Bun, ini kesempatan si Abang dapet uang lebih banyak soalnya dia udah cari rezeki dari shubuh.” Bener juga. Ih anak siapa sih ini *benerin jilbab*. Aku jadi tau bahwa sebagian rezeki orang itu jalannya lewat kecerobohan orang lain. Yah, anggap aja ini mirip orang males buang gelas plastik di tempat sampah eh jadi rezeki pemulung. Jadi hikmahnya: buanglah sampah pada tempatnya, salurkan rezeki pada penerimanya. Mungkin ini sisi positif jadi orang yang clumsy.  *sungkem.

Dasar rezeki anak sholehah, begitu tag on kartu masuk stasiun,  eh kereta Bekasi Kota udah ganteng nungguin kami. Begitu duduk, pintu ketutup…and here we go. Bismillah.

image

Baru aja menghela napas lega, Chika wasap di grup: udah di mana, gue udah deket. Alamak, kami baru aja naik roket dari Bekasi, masih harus muterin meteor dan berjuang nembus ozonnya bumi. Lydia udah sampe Angke. Dini udah sampe halte Transjakarta Kota dan sibuk di toilet. Anak ini emang lagi jadi Duta Eek. Iya ini jorok, tapi ya gimana dia bangga dengan itu. *salam pup.

Aku jadi ikutan mules saat mereka reportase bahwa harus jalan dari luar pelabuhan serta terpaksa turun dari Bajaj karena membludaknya anak manusia yang sama-sama kangen dengan aku main aer asin.  Ugh.

Di kereta Air mulai norak. Mulai dari takjub sama gerbong wanita commuter line yang bersih dan nyaman sampe saat kosong jadi sibuk gelantungan di pegangan kereta.

image

Sarapan pagi yang sehat: narsis di kereta

image

Tolong, aku mau liburan

Syukurlah akhirnya bisa lanjut naik Bajaj tanpa negosiasi alot perkara ongkos.  Dua puluh lima ribu, deal! But then….si bajaj mogok in the middle of no where. (Third) crap! Eh tapi sejak kejadian putar balik kanan bubar jalan bawa tas yang ketinggalan, aku sama Air udah sepakat mau enjoying the day no matter what. Dan saat mogok ini, kami ketawa gila lagi. Sambil kipas-kipas duit ongkos biar abang Bajaj gak nurunin kami secara paksa.

image

Tenang, Bang. Wefie kadang bisa bikin mogok jadi jalan lagi.

Voila! Setelah mencoba starter berkali-kali dan berdoa komat-kamit, Bajaj bisa hidup lagi. Ah, thanks God. Ternyata pas kami dateng di mulut pelabuhan, para anak manusia yang tadi memadati jalanan udah mulai tobat diangkut ke kapal. Sampe Bajaj kami bisa menyusui pinggiran pelabuhan.

Beberapa kali Lyd telepon kalo aku sama Air harus bergegas masuk kapal Radja Express. Bingung di mana tu kapal merapat nanya sama beberapa ABK. Jawabannya mirip: Raja-rajaan udah jalan semua.

Merasa gak percaya akhirnya nekat lewatin kapal pencari ikan dan ya akhirnya nemu Radja Express yang emang beberapa saat lagi akan melaju. Chika melambaikan tangan dan bantu Air masuk lambung kapal. Ahhhh, untung masih sempet. Another rezeki anak sholehah cantik nan berbudi luhur ini. Maaf kalimat terakhir ini hoax.

image

image

Here we go. Pulau, tunggu kami ya. Pagi kami gak sempurna, tapi letak kesempurnaan hidup ada di sela-sela ketidaksempurnaannya, kan?

Liburan Rasa Kampung

Sebenarnya yang liburan sih Air. Saya cuma kecipratan aja. Selepas resign, jadwal jadi ngikutin anak kriwil ini. Mungkin istilah yang lebih tepat buat saya adalah libur masak sendiri dan beberes rumah nyiahahahha.

Selama 12 hari saya dan Air melancong (halah) ke Bandung (Cimahi) dan Indihiang (Tasik). Dua tanah Sunda yang bersejarah caelah 🙂 Yang pertama kota kelahiran saya dan yang terakhir disebut adalah hometown mama.

Biasa hidup di lingkungan urban dan dilingkupi budaya Betawi atau Bekasi, berinteraksi terus-terusan dengan urang Sunda terasa semacam pintu Doraemon yang mengantarkan saya pada masa kecil.

Gak jarang saya jadi norak sendiri. Disapa oleh keramahan orang Cimahi mulai dari keluarga sampai sopir angkot membuat saya merasa ya ampun aku kok ternyata jadi judes Hahaha. Maklumlah, Ibu Kota keras, Jenderal. 😀

Hal menarik lainnya adalah volume suara. Mungkin kota besar adalah kota yang berisik. Karena tanpa sadar saya bicara dengan frekuensi suara yang lebih tinggi dibandingkan orang Bandung. Cowong, kalo kata mereka. Istilah untuk orang yang ngomong kenceng banget kaya monyet tereak-tereak di hutan. Ajaibnya, saya cuma misuh-misuh pelan aja kedengeran, lho. Ishhhh…selain bicara halus dan pelan, ternyata orang Parahiangan ini
sensitif banget pendengarannya. Saya jadi merasa sudah bukan bagian dari urang Bandung. 😀

Beda dengan di Tasik, keluarga di sini lebih menggunakan tingkat bahasa Sunda yang lebih kasar. Karena di Bandung biasa pake bahasa yang lebih halus, di Tasik saya jadi agak kagok pada awalnya. Lama-lama terbiasa. Tapi jangan sampai aja bahasa beginian dilontarkan di Bandung, hasilnya satu: dipelototin nenek. Udah cowong, kasar pula. Siap dilempar ke terminal :p

Untungnya rute liburan kali ini Pondok Gede-Bandung-Tasik. Ini semacam gradasi dari kota ke desa. Makin ke Tasik pola hidupnya makin ‘mendesa’. Di Cimahi, walau masih ada sawah di kanan-kiri, masih terasa kota karena masyarakat di situ sudah konsumtif. Belum lagi mall sudah banyak dan area perkantoran udah  kota banget. Walau gitu, kearifan budaya Sunda lebih terasa.

Di Tasik, khususnya Indihiang. Rumah-rumah saudara yang saya kunjungi masih banyak yang mendapatkan kepuasan dengan beternak ayam, bebek, burung, dan sebagainya. Belum lagi mereka senang bercocok tanam. Makanya lucu waktu malam tahun baru, kerabat yang datang sibuk bawa pisang, pepaya, salak, ayam kampung, bebek potong, dan hasil bumi lainnya.

Kalau ditilik dari segi pola pikir, orang kampung itu sederhana sekali. Yang penting bisa hidup dengan bahagia hari itu. Makan cukup, kerja cukup, tidur cukup, main cukup. Kompleksitas pikiran orang kota gak laku di sini. Hati lebih penuh dan hangat rasanya. Apalagi kekeluargaan di sini mantap sekali. Butuh apa, ada yang bantu. Pengen apa, kalo ada yang punya langsung dikasiin. Di Bekasi kalo butuh apa, tinggal bayar. Pengen apa, tinggal bayar juga. Hahahaha.

Selama di Cimahi dan Indihiang saya dan Air tidur jam 9 atau 10 dan bangun lebih pagi. Makan teratur dan gerak tubuh lebih banyak. Gak heran kalo berat badan saya naik 2 kg. Yaiyyy! Dan Air turun 1 kg jadi lebih slim karena lebih banyak bergerak. Balance life, happy life ya.

Cuma ya itu, ciri khas budaya non-urban adalah kepo. Mungkin karena masalah keluarga dianggap masalah bersama. Atau masalah warga adalah masalah kita juga. Jadi tiap orang merasa berhak ikut masuk dalam apapun yang terjadi sama kita. Ini maksudnya baik memang. Cuma karena terbiasa berjibaku di kota yang menghormati privacy (baca: individualistis) jadi perkara kepo ini agak well ganggu.

Tapi over all, Air dan saya seneng banget sama liburan kali ini. Alhamdulillah. Makasih ya buat semua keluarga yang support dan menampung kami selama 12 hari ini. Mmmmuuaaah :*