Ibu Bekerja Akrobatik

Apa cita-citamu, Nak kalo udah besar? Bayangkan, ada nggak anak perempuan yang dengan lantang menjawab “Jadi ibu bekerja!!!!!” Sungguh pemandangan yang langka jika memang ada.

Pun demikan dengan saya. Tak pernah terbersit sedikit pun akan punya profesi sebagai ibu bekerja. But, here I am. Seorang editor majalah yang juga seorang istri sekaligus seorang ibu dari seorang putri cantik.

Jadi gini…izinkan saya bercerita.

Sudah dua minggu ini asisten rumah tangga nggak lagi bekerja sama dengan saya. Pesona pabrik garmen sudah memincut hatinya. Dan apa yang terjadi? Bertransformasilah saya menjadi anggota sirkus. Nggak percaya? Nih gini aksinya.

Pagi buta, karena suami lagi puasa Rajab, saya ‘koprol’ untuk buatkan sahur. Lanjut ‘split’ setrika baju yang akan dipakai saya dan suami ke kantor serta yang dipakai Air ke sekolah. Saya memutuskan hanya pakaian dalam dan pakaian ke luar rumah yg ‘sanggup’ saya gilas dengan besi panas itu.

Lalu lalu, saya ‘lompat ke pasar’ belanja yang akan saya olah sepulang kantor. Buatkan sarapan, urus Air sampai ke sekolah, dan berangkat ke kantor.

Sampai rumah jam 8 malam, mampir ke rumah kakak untuk jemput Air. Mengajarkan Air membaca, membaca cerita, menemaninya gosok gigi, dan menemaninya sampai terlelap. Koprol lagi menyapu, mengepel, dan mencuci piring. Diakhiri dengan mencuci (pakai tangan, mesin cuci rusak 😦 ) dan meracik masakan.

Fiuh, menuliskannya aja berasa cape hehehe. Alhasil, baru kencan sama kasur jam 2 dini hari. Begitu tiap hari.

Tau nggak, zombie aja kalah kalo liat muka saya pas ke kantor. Sungguh err…jangan cerita deh. Serem hehe. Dengan lingkaran hitam di bawah mata dan pandangan yang tidak pada tempatnya. Lha, kok jadi kaya buang sampah sembaranhgan aja. Hihihi.

Cape? Pastinya. Tapi nggak tau deh. Ada sensasi yang agak aneh gitu dan menyenangkan tepatnya saat akrobat kaya gitu.

Pertama, kantor itu berasa jadi lebih menyenangkan. Berasa kaya: hei, ini kesempatan bisa duduk agak lama dan membiarkan diri ini berkarya serta memberdayakan otak yang selama di rumah diabaikan karena fisik lagi bergulat. Perjalanan di bis menuju rumah adalah ranjang sementara. Nikmat deh. Karena pasti tertidur dengan lelapnya. Untung gak kelewatan turunnya heuheu.

Kedua, banyak detail rumah yang selama ini nggak terperhatikan jadi terurus. Walau lelah, tapi berasa ini kesempatan besar untuk menempa diri jadi the real working mom. Sungguh menyenangkan bisa melayani suami dan anak di seluruh sisi. Makannya, pakaiannya, dan penampilannya.

Tapi ya, begitulah. Karena dari mulai punya anak selalu didampingi asisten rumah tangga, jadinya dalam melakoni semuanya belum nemu ritme dan strategi yang pas biar waktunya lebih efektif. Biar nggak lagi tidur jam 2 pagi melulu.

Biarlah, ini masih proses. Seiring waktu pasti bisa dijalani dengan lebih piawai. Oiya satu hal lagi, saya jadi mau masak hahaha. Kelemahan terbesar dalam hal kerumahtanggaan adalah urusan bikin santapan. Tapi dikit-dikitlah.

That’s why di status FB saya pernah nulis: “Salam hormat setinggi-tingginya untuk para ibu bekerja yang bijak berkarya, lembut mendidik buah hati, hangat pada kekasihnya, dan andal mengurusi rumah.”

Karena saya tau benar melakoni profesi ibu bekerja itu berat. Tapi banyak yang mampu menjalankan perannya dengan baik.

Doakan semoga saya bisa sampai situ. Semoga.

Menari dan Berpendarlah

Nak,
Catatan ini dibuat saat Bunda sedang galau dan merasa sangat berat hati. Meninggalkanmu hampir selama 12 jam sehari tentunya bukanlah hal yang mudah. Bagimu mungkin sama beratnya ketika kau harus pulang meninggalkan tempat bermain kesukaannmu di sebuah mall yang sering kita kunjungi. Dan yak, kembalinya Bunda bekerja memang hal yang sering kita perbincangkan. Setiap hari, sebelum tidur. Dimana semua keinginanmu agar merasa Bunda “ada” cukup membuat Bunda merasa lebih siap, hanya karena kau siap. Apakah Bunda siap…entahlah.

Nak,
Sore ini, Bunda kembali bersedih. Karena mulai besok, Bunda tak dapat menemanimu berceloteh tentang bunga putih yang sudah mekar di mesjid yang selalu kita lewati saat pergi sekolah. Lapangan dan matahari sore tak dapat kita nikmati bersama dengan tawa ketika kita lomba lari di atas rumputnya.

Namun…
Sedih ini lambat laun memudar. Ayahmu, dengan lembut dan bijaknya menemani Bunda selama masa ini. Dia sangat mengerti bahwa tak mudah bagi seorang ibu untuk berpisah walau hanya sedetik saja dengan anaknya, perpanjangan dirinya. Dengan sebuah diri dimana tiap sel darah yang tercipta mengaliri keduanya secara bergantian. Dengan sebuah diri yang jantungnya pernah berdetak bersama dalam satu ruang. Beruntunglah Bunda memiliki kekasih sepertinya, seperti kau beruntung memilikinya sebagai ayah.

Nak,
Selain Ayah, ada sebuah lagu yang entah mengapa membuat Bunda merasa jalan yang akan Bunda tempuh memang keinginan Bunda. Jalan yang bisa membuat Bunda lebih hidup, lebih berbahagia, dan dapat membuat Bunda menjadi mengutuh sebagai manusia. Awalnya Bunda pikir ini egois. Ternyata bahagia itu sebuah pilihan. Dan Bunda memilihnya. Percayalah bahwa kita dapat membahagiakan orang lain jika kita berbahagia.

Nak,
Lagu Shine ini sering kita dengar bersama saat duduk berdua bersebelahan menonton sebuah serial Barbie Dancing Princess kesukaannmu. Kelak jika kau besar, kondisi yang Bunda alami mungkin akan kau hadapi. Misalnya saat kau harus keluar kota meninggalkan Bunda dan Ayah sementara, atau kelak saat kau harus meneruskan pendidikan di tempat yang berjarak dengan kami.

Ini kutipan lirik bait pertama…
There’s a place you can go
Where your heart is free
There’s a rhythm
That’s right for your soul

Jika Barbie begitu berbahagia menemukan sebuah hall rahasia sehingga ia bisa menari sesuka hati, begitulah Bunda saat mendapatkan pekerjaan ini. Bagi Bunda, pekerjaan ini bukan sekadar agar mendapat uang yang dapat kita gunakan untuk jalan-jalan di akhir minggu. Pekerjaan ini seperti ruang tempat Bunda dapat berekspresi dan berkarya. Bagaimana Bunda bisa menetapkan bahwa kantor dan pekerjaan inilah yang tepat? Entahlah….(akan terjawab di bait selanjutnya).

Take a breath, find your courage
And make the leap
Cause your feet always know where to go

Tidak mudah bukan berari sulit dan tak mungkin. Mungkin kita hanya butuh menarik napas panjang. Sebuah hal kecil yang penuh makna. Saat napas masuk, penuhilah dirimu dengan harapan sehingga tak ada ruang untuk cemas dan takut. Lalu melompatlah. Saat harapan muncul, rencana akan muncul dengan sendirinya. Rencana berpendar, berlompatan, dan muncul berbinar bergerak-gerak lincah seperti peri-peri kecil yang terbang kesana-kemari lengkap dengan butir-butir bercahayanya. Benar adanya, ikutilah kemana kakimu ingin melangkah. Ditambah doa orang-orang terkasih, maka arah kakimu akan semakin terarah dan berkah.

There’s a beauty already inside of you
There’s a difference that only you’ll make
Every place that you spin brings you somewhere new
Finding hope every step that you take

Pekerjaan baru. Kegiatan baru. Orang-orang yang baru. Menakutkan? Bisa jadi. Tapi mungkin juga tidak. Mungkin kita hanya merasa cemas saja. Cemas tak sama dengan takut. Cemas hanyalah penanda alami tubuhmu agar kita bersiap. Sedangkan lawannya takut bukanlah berani. Karena berani adalah kondisi dimana kau sadar ada sesuatu yang lebih penting dari sesuatu yang kau takutkan. Kelak tiap langkah yang Bunda dan kau ciptakan justru membuat kita berkesempatan memetik harapan-harapan baru. Bunda dan kau telah dibekali, percayalah bekal itu cukup untuk membuat banyak hal baru yang menyenangkan.

And you dance and you dance in an endless flow
In the grace of a perfect design
Stepping out of the dark and into the glow
And the whole world will see when you shine
You can shine
Shine

Saat Bunda kelak serius dengan pekerjaan Bunda, saat Bunda mungkin akan pulang lebih larut, Bunda ingin kau tahu sebuah hal. Bahwa saat itu Bunda tidak sedang meninggalkanmu, Bunda hanya sedang menari. Menari sepenuh hati. Tarian yang kelak jika sudah selesai akan kita saksikan bersama kilau dan cahayanya. Sama dengan dirimu kelak. Jika kau agak telat memberi kabar, saat kau absen untuk mengunjungi Bunda dan Ayah, Bunda akan percaya bahwa kau pun sedang menari seperti Bunda. Tak sabar rasanya menikmati kilau tarianmu, Nak.

Suddenly sparkling bright (shine)
Making a magical light (shine)
You will (shine)
Sisters are there by your side
Love will be your guide

Jika kau melangkah dengan hatimu yang bebas, dengan dorongan kuat yang tak bisa kau elakkan, dengan sebuah rasa yang selalu ingin kau ulas warnanya dengan caramu, maka saksikanlah. Akan tersuguh banyak keajaiban yang tercipta. Bukan hanya untukmu. Tapi untuk Ayah dan Bunda, bahkan untuk semua orang yang hatinya tersambung denganmu. Karena cintamu, cinta orang-orang yang mengasihimu, serta cinta Tuhanmu yang akan menjadi pemandunya. Semoga Bunda bisa mengalami ini semua dengan keputusan yang Bunda ambil ini ya, Nak.

Nak,
Semoga catatan ini menjadi penyejuk saat Bunda merasa kangen dengan dirimu di kantor. Dan…semoga catatan ini menjadi tamparan saat Bunda mulai salah arah dan tak terkendali. Jika orang-orang bilang bahwa ibu banyak berkorban untuk anaknya. Kupikir tidak begitu. Karena saksikanlah, saat ini kau berkorban begitu besar untuk Bunda. Hanya agar Bunda dapat menari sepenuh hati dan berpendar dengan indah, seperti Barbie.

With A Bundle of Love,

Bunda