Diary (Lagi)

Dear diary….

Beberapa hari lalu tangan ini mulai menuliskan kalimat itu kembali. Menulis lho, ya. Bukan mengetik. Menulis secara harfiah di atas kertas menggunakan pena (yang nggak tau kenapa selalu milih warna biru).

Sebetulnya aktivitas ini sempat rutin dilakoni waktu tahun 1997 sampai 2003. Hasilnya, 5 buah diary aneka rupa dan harga pun puas tercoreti sampai halaman terakhir. Lengkap dengan kata ‘halo, selamat datang di duniaku’ di awal halaman dan ‘Bye and thank you’ di halaman terakhir.

Nah, sejak nikah aktivitas ini berhenti. Kenapa berhenti menulis diary?

1. Punya rahasia itu enak. Gk dipungkiri emang, isinya diary kan ungkapan hati yang jujur banget. Mulai dari suka ama siapa, maki-maki dengan kata yang gak mungkin diucap, sampai sedih-sedihan norak karena patah hati. Nahh, semua rahasia itu ludeslah sudah. Status rahasianya turun pangkat saat suami aku perbolehkan baca. Gak ada gregetnya deh setelah itu. *suami gak brenti-brenti godain. Jadi girls, mikir-mikir lagi ya sodorin diary ke suamimu kelak. He-he-he.

2. Terbaca mertua. Entah perhatian atau emang kepo *ups*. Mertua akhirnya tertangkap tangan membaca diary-diaryku. Ah, dunia rasanya runtuh. Trus aku mikir, lha kalau aku nulis yang gimana-gimana tentang anaknya, piye? Ntar aku diusir dari rumahnya (saat itu masih d Pondok Mertua Indah). He-he. Jadilah urung tulis menulis diary d buku.

3. Hanyut karena banjir. Banjir besar beberapa tahun kemarin membuat diary-diaryku bernasib kurang baik. Mulai dari tulisannya luntur (karena di beberapa chapter, halah chapter, ditulis pake spidol), basah dan lengket semua halamannya, sampay hanyut entah ke mana. Jadilah sedih berujung trauma nulis diary lagi.

Lalu, lalu, selang beberapa tahun kok ya nulis diary lagi? Iya, jadi ini nih alasannya:

1. Keterbatasan blog. Awalnya, karena trauma dengan rahasia yang terkangkang bebas atas ulah orang-orang yang kepo, kupikir blog tempat asyik untuk cerita. Bisa dikomentari orang pula. Ha-ha. Tapi ya itu, sometimes pengen banget nulis bebas tanpa harus takut aturan publikasi di ruang publik. Dan walau sekarang ada blog yang privat tetep aja rasanya nggak pooll.

2. Sensasi realease melalui menulis. Beda banget. Sensasi abis nulis dengan keyboard dan dengan pulpen. Walau pegel banget, tapi ada lebih banyak perasaan dan ketegangan yang terlepas setelah menekan, menggerakan, mencoret, dan mengulas pena di atas kertas. Amazing!

Begitulah, jadi sejak bulan lalu ada banyak kata ‘dear diary’ lagi dalam hidupku. Khawatir dibaca? Pastinya, tapi berkaca dengan pengalaman yang dulu-dulu kini lebih rapi menyimpan diarynya. Kalo bisa bikin bunker sendiri kaya Saddam Husein. Aih, lebay.