Deklarasi (Gak Penting)

foto gak pentingOke jadi gini. Apadeh dateng-dateng langsung “jadi gini” aja. :p

Setelah mikir-mikir iseng, saya ko jadi baru sadar kalo apa yang tertuang di blog selama ini kesannya serius banget. Reflektif. Dan berasa perlu nunggu ‘momen’ buat disajikan. Halah disajikan macam reality show masak aja. Terus, saya ko gampang jatuh kagum sama blogger yang bisa dikit-dikit cerita, dikit-dikit nulis tentang apa yang ia rasa-dengar-dan lakukan di blognya. Saya akhirnya….jatuh iri.

Saya jadi inget sebuah perbincangan dengan mantan pacar *ajiee, eh sumpah cuman ngobrol hahaha*. Katanya, dia ngiri sama saya yang kalo nulis terkesan spontan dan ringan. Etdah, padahal itu malah masih kerasa berat. Gak kebayang kan yang dia tulis beratnya segimana? Dan gak kebayang kan bahwa ribuan blog yang wara-wiri di dunia maya ini jauh lebih banyak yang fresh, ringan, dan kriuk-kriuk gitu kalau dibaca. Moso yang aku tulis dibilang spontan dan ringan. Hih! Eh emang ya ya? Iya gitu? *mulai gengges*

Nah, oleh karena saya suka jadi punya pembenaran dengan bilang “nunggu momen” untuk bisa nulis di blog ini, yang padahal karena saya males, terlalu perfeksionis, atau nunda-nunda gak jelas yang akhirnya gak jadi nulis, sekarang saya mau beda.

Mau nulis terserah saya. *laah siapa juga yang sebelumnya ngatur, Vei?*

Mau nulis keseharian yang penting. *yah pan ini mah udah biasa*

..dan yang gak penting. *oke deh*

Jadi yang mau disampein itu: Gitu aja sih.

Gak penting kan?

Yes! 

*se-enggak-penting foto artikel ini* *sigh*

Advertisements

Buat Apa Sih Bikin Blog?

Here I am.

Setelah beberapa bulan seakan amnesia menulis di blog ini. Bukti bahwa konsistensi gak semudah mengucapkannya. Hell, yeah.

Ya, amnesia menulis. Karena kalau sekadar menengok, membuka, membaca ulang, rasanya sering. Kenapa? Karena membaca, menelaah, dan mengomentari itu gampang. Kalo nulis? Hmmm…itu dia. Butuh mood booster atau pemantik. Gak punya ide, itu biasa. Ha-ha. Gak punya semangat nulis itu yang lebih gawat. Lalu, kenapa hari ini bisa nulis kembali.

Jadi gini, judulnya saya ini merasa terinspirasi dari film Julie & Julia. Intinya salah satu pelakonnya (Julie)punya proyek menulis pengalaman memasak 524 resep masakan Prancis dengan panduan buku dari idolanya (Julia) selama 365 hari. Bahwa akhirnya (belom apa-apa udah akhirnya aja hihihi) ia sadar, menulis blog itu ia awali untuk membuktikan bahwa ia bisa menuntaskan suatu hal yang biasanya ia lakukan setengah-setengah. Ia pun berhasil setelah jatuh bangun dan pernah merasa berbelok ketika niat nulis blognya berubah. Ia sempat jadi menulis untuk para pembacanya. Ataupun ia jadi terobsesi tulisannya dipublish dan jadi sebuah buku.

Satu hal yang menyentil adalah jika Julie akhirnya menyadari bahwa blogging itu sejatinya untuk mengutuhkan dirinya, lalu saya untuk apa?

Pernah gak, suatu saat pengen banget nulis dan di kepala muncul fade ide dan bayangan-bayangan seru tentang akan hal yang akan dituangkan? Lalu, tiba-tiba jadi urung karena terlintas ah pembaca suka gak ya (padahal sapa juga yang baca ha-ha). Atau, aduh malesin gak ya temanya. Bla bla bla. Lain sebagainya.

Padahal tagline blog ini adalah menulis agar mengutuh. Tapi rasanya nulis aja banyak pertimbangan, gimana bisa jd utuh? *keplak diri sendiri :p * Kalau pertimbangan etika itu memang perlu. Karena gak semua orang suka dengan tulisan yang sifatnya ‘nyampah’.

Hmm. Kapan ya mulai jadi merasa terbatasi sama pertimbangan yang gak perlu? *mikir*

Ah, mungkin pas kemarin sempat mencicipi menulis lalu dibayar. Menyenangkan memang. Tapi, ya saya lantas kebobolan. Jadinya ko ya seperti ingin memuaskan keinginan pasar. Begitu istilahnya kalo kata bung marketing perjaka ting-ting.

Tapi kan, blog ini gratis dan saya juga gak berharap dibayar. Jadi, gak ada salahnya kalo mulai lagi bebas menuangkan pikiran (asal etis). Menulis blog ini untuk diri sendiri. Begitu. Ya syukur-syukur kalau ada yang baca, apalagi komen. Itu bonus.

How about you, dear friend?