Kapan Terakhir Merasa Bahagia?

Pertanyaan ini bagi saya absurd. Apa standar dari berbahagia? Apakah senyum yang otomatis terulas? Perasaan yang meletup-letup hingga ingin terbang dan berputar-putar? Entahlah. Bahagia belakangan buat saya adalah kata yang maknanya sulit sekali dijabarkan.

Namun ada sebuah momen sederhana yang bahkan sampai sekarang kalau saya mengingatnya, hati terasa sangat penuh. Bukan penuh sesak. Melainkan “utuh”.

Di suatu sore yang basah, saya diajak oleh Paman ke sebuah gunung yang konon meletus saat saya dilahirkan 32 tahun lalu. Galunggung. Siapa yang mengalami efek dahsyat dari ledakan dari gunung yang bertempat menjulang 2.167 meter dpl di Garut-Tasikmalaya ini? Kabar mengenai ini bukan hanya memenuhi surat kabar dan berita di seluruh dunia, tapi Galunggung juga bergemuruh secara terus-menerus aktif dari 5 April 1982 sampai 8 Januari 1983. Sembilan bulan! Dahsyat. Kalau ia seorang ibu yang sedang mengandung, maka selepas reda meluapkan lahar ia akan melahirkan. Saya, jadi salah satu bayi yang lahir di saat Galunggung mulai berguncang.

Efek abu dari Galunggung ini ternyata punya banyak cerita. Ya coba aja pikir, meletus terus-terusan hampir setahun itu pasti menerbangkan abu vulkanik yang sangat banyak. Salah satu cerita saya nukil dari http://www.tabloidavasi.com.

Pada tanggal 24 Juni 1982 musibah menimpa pesawat British Airways dengan Call Sign Speedbird 9. Diakibatkan oleh abu vulkanik Gunung Galunggung yang meletus pada tanggal 5 Mei 1982. Letusan berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983.  Penerbangan nomor 009 maskapai tersebut menerobos abu Gunung Galunggung yang menyebar sampai Samudra Hindia, selatan Tasikmalaya, Jawa Barat. Bahaya abu yang dialami British Arways  dapat mengancam ke- selamatan 248 penumpang dan 15 awak Boeing 747-200. Kapten pilot bahkan telah menyampaikan kepada menara pengawas Halim Perdana Kusuma untuk rencana mendaratkan pesawat ke laut (ditching).

Ketika pesawat memasuki abu vulkanik ini, keempat mesinnya tiba-tiba mati mendadak. Peristiwa ini menghebohkan, pasalnya pesawat melayang turun dari ketinggian 36.000 kaki (11.000 m) ke 12.000 kaki (3.700 m). Untungnya pada ketinggian terakhir tadi ketiga mesin dapat dihidupkan kembali. Pesawat kemudian mendarat darurat di Halim Perdana Kusuma, Jakarta, untuk sementara waktu menunggu perbaikan, penggantian mesin, dan pembersihan.

Itu fakta.

Adapun mitos tentang abu Galunggung adalah saya. Papa waktu saya kecil sering sekali menggoda dengan pernyataan, “Kamu ini anak nemu. Dulu ada nenek-nenek bawa bayi. Katanya ditemukan di bawah timbunan abu Galunggung. Karena kasian, bayi itu Papa bawa deh. Nah itu tuh kamu.” Saya selalu sukses dibuat menangis karena mitos ini. Hih! 😀

Nah, lalu pada akhir tahun kemarin, Si Paman secara spontan mengajak saya dan Air berwisata kilat ke kaki gunung yang menyambut kelahiran saya ini. Naik motor selama 30 menit dari Indihiang melewati jalan berkelok yang udaranya segar sekali. Rupanya saya dan Air bisa menikmati mandi air panas dari gunung Galunggung.

Warna kolamnya agak kurang menjanjikan sih, coklat buluk gitu. Dan isinya penuh dengan manusia. Ya iyalah masa ada komodo :P. Cuman lumayan lah bikin hangat badan dan konon katanya air dari kawah Galunggung ini dipercaya menyembuhkan penyakit kulit.

Giliran selesai mandi, saya dan Air menuju kamar bilas. Ini kali pertama kami mandi pake acara meniup-niup air dalam gayung. Persis kaya kalo lagi makan kuah bakso yang puanas. Aih, rasanya kaya direbus. Keluar dari kamar bilas, kami matang dan bisa disajikan sesuai selera hahahhaa. Panas bo!

Paman ternyata masih punya agenda ‘menculik’ kami ke Situ Gede. Katanya makannya jangan di sini, enakan makan ikan bakar di warung langganannya si situ itu.

Nah…ini bagian yang dari awal ingin saya ceritakan. (Tsaealaaah panjang bener yak ternyata pembukaannya hihihihi).

“Ngemil dulu ya selama dalam perjalanan ke Situ Gede,” pesan Paman. Kami menurut saja. Yang saya bingung ngemilnya gimana lha wong ke sananya naik motor? Paman dengan santai ya itu sale pisang sama keripik dipegang aja, dicemilin selama di motor.

What?

Saya dan Air terbiasa patuh dengan urusan berkendara. Naik motor harus pake helm. Saat itu? Kami melanggar. Di jalan gak boleh makan apapun, tangan harus pegangan ke yang bonceng. Saat itu? Tangan kami sibuk mengambil cemilan dan mengunyah dengan santainya. Iya, tau ini salah.

Namun kombinasi badan yang rileks habis berendam air hangat, cuaca yang gerimis ringan, badan yang hangat dibalut jaket tebal, udara bersih-dingin yang berlomba keluar-masuk paru, sale pisang yang manis dan empuk tiada dua, keripik gurih yang owh sungguh nikmat, rasa pasrah mengikuti ke manapun si Paman membawa saya serta Air, membuat saya tiba-tiba gak menginginkan apapun lagi.

Sepanjang perjalanan saya tersenyum.  Merasa sangat merdeka. Entah kenapa.

Apa ini rasanya berbahagia?

 

 

Advertisements

Bahagiakah Kamu, Nak?

happy kids

happy kids

“Siapa sih yang nggak pengen anaknya bahagia?”
“Apapun akan dilakukan biar anak gue bahagia”
“Eh, tapi anak gue bahagia nggak sih”

Serenceng pertanyaan itu entah mengapa layaknya banjir rob di Jakarta melibas pikiran dan hati saya. Nadanya serupa. Yakin-yakin-tapi-bingung. Bahagia terasa abstrak untuk insan yang tak memasukan kata itu dalam kamus hidupnya. Atau parahnya, yang merasa tak layak berbahagia. Saya? Tentunya

Saya enggan mendefinisikannya. Bahagia itu porsinya dirasa dan dilihat, alih-alih diucap. Apalagi jika dikaitkan dengan makhluk yang namanya anak. Anak yang bahagia. Kalimat yang jika dilafalkan merangsang imaji untuk menayangkan senyum dan tawa anak-anak kita.

Saya jadi ingat. Sudah hampir 2 mingguan ini, Air lebih banyak tersenyum dan tertawa lepas. Saya bertanya, “Hmm, gadis Bunda sekarang makin cantik karena senyumnya banyak dan senang tertawa, Air merasa apa?”. “Aku seneng, tapi nggak tau karena apa,” jawabnya polos.

Padahal di minggu itu beberapa kali ia merasa kecewa karena ayahnya harus pulang ke Bandung, ia lompat-lompat kegirangan karena uang tabungannya cukup untuk membeli robot-robotan, ia mengatakan merasa rindu saat saya harus pulang lebih larut, ia memeluk saya erat saat music box yang didambakan tiba-tiba ada di kamarnya, ia merasa cemas karena akan mengikuti lomba menari, dan ia harus menghadai kenyataan pahit ditinggal pindah rumah oleh sahabatnya. Begitu fluktuatif mood dan perasaannya. Jatuh-bangun ia menyeimbangkan kembali kondisi hatinya. Tapi, mengapa ia tampak begitu….berbahagia.

Saya merasa musykil jika menanyakan hal-hal abstrak atau filosofis seperti “Apakah kamu berbahagia?” pada Air. Terlebih karena saya tidak yakin ia tahu apa dan bagaimana orang yang berbahagia itu. Terseret pada penasaran saya tak bisa menahan untuk bertanya pada Air. Pada anak yang baru saja melepas masa balitanya.

“Apa Air merasa bahagia?” tanya saya di suatu malam, sebelum tidur, dengan lampu temaram, dan ia nyaman di pelukan.

“Aku bahagia, Bunda,” jawabnya sambil memainkan rambutku.

“Pasti menyenangkan ya merasa bahagia. Apa yang Air rasa memangnya sampai bisa merasa bahagia?”

“Bunda pernah bilang. Tiap saat itu ada waktu-waktunya. Ada waktunya main, makan, sekolah, istirahat, mandi. Aku merasa cukup aja. Cukup main, cukup makan, cukup sekolah. Trus, aku boleh merasa sedih, boleh kesal, boleh ketawa, boleh bercanda, boleh marah. Jadi aku seneng, aku bahagia,” seraya memeluk saya erat.

Ya, ternyata merasa cukup itu membahagiakannya.

Jika itu yang kau butuhkan, Nak. Berkembanglah selayaknya dirimu menginginkannya. Ayah dan Bunda hanya menemani perjalananmu dan mengarahkan kembali jika kau tersesat. Dan…..mengantarkanmu pada jalan kembali pada pencipta ruh sucimu.

*Teruntuk semua keponakan Biru dan anak-anak lain di dunia. Bahagia untukmu itu keniscayaan. Kau berhak menciptanya.

Pernah dipublikasi di http://www.kisahharubiru.wordpress.com dan http://www.ruangtanpakubikel.wordpress.com