Scrappy is Back!

Dari setahun yang lalu saya ini pecinta digital scrapbook. Tahun ini, saya mulai lagi buat di sela-sela waktu ngantor *karyawan macam apaaa ini hihihhi*

Berikut hasilnya.

Air di foto atas itu kaya udah SMP yak? Mukanya boros. Emaknya jadi imut gitchuu ya. *dilempar kelom*

Namanya Air ya hobinya main air atau di tempat yang ada airnya kaya pantai (yang di foto itu di Jatiluhur) *Jatiluhur kan bukan pantaii tauuu :))

Ini apa ya. Ya gitu deh kegiatan Air kalo liburan. Kalo nggak denger musik, berenang, dan face painting.

Ini dia Kaka Aya sahabat Air yang diceritain di postingan sebelumnya. Duh, dia kehilangan banget, deh pas Kaka Aya pindah rumah. :”(

Ini sok gayanya bocah kriwil satu itu. Ini pose-pose kaya gini langka banget deh. Biasanya kalo nggak manyun ya muka-muka jelek amat gitu. Heuheuheu

Hmm, itu foto curi-curi soalnya ya itu tadi, pas mood pas mau dijepret.

Air si kuda lumping. Ini ceritanya dia abis dandan-dandanan trus minta difoto. Tumen bangeuuut!

Begitulah. đŸ™‚

Advertisements

Jelang Setahun Air Jadi Gadis Kecil


Jelang 6 tahun kebersamaan Air bersama saya di 1st September nanti, saya jadi tergelitik ingin menuliskan ragam kebisaan Air yang telah ia raih. Banyaknya kemajuan di tahun pertama setelah melepas masa balitanya ini mirip dengan satu tahun pertama pada bayi. Bedanya, kalo bayi masih nurut-nurut aja, nah di masa gadis kecil ini pake acara nyeyel. Yap, ngeyel ini juga salah satu kemajuannya hihihi. Coba saya runut ya.

Bisa bermanuver dengan sepeda roda dua. Sungguh, ini salah satu dari pencapaian Air yang paling membanggakan. Kenapa? Karena tekad ini lahir dari inisiatifnya sendiri. Seolah dia tau benar kapan dirinya betul-betul siap. Sampai suatu hari dia berkata dengan mantap, “Bun, aku udah siap melepas roda bantunya sekarang”. Langsung bisa? Owh tentu tidak. Air ‘mencicipi’ jatoh ke got, nabrak gerbang, dan luka di beberapa bagian tubuhnya dulu sebelum bisa. Senengnya lagi, saya berkesempatan mengajari dan menyemangatinya. Saya menyaksikan detik-detik pertama ketika Air bisa menggenjot sepeda roda duanya tanpa dipegangi dan tanpa goyang-goyang. Sekarang? Wow, jangan tanya. Dia punya punuk virtual berisi energi super kalo udah main sepeda. Manuvernya? Melaju dengan kecepatan tinggi, melepas satu tangannya, dan belok dengan kemiringan yang bikin emaknya ini deg-deg plas đŸ™‚

Berenang dengan jarak 2 meter. Nah ini yang bikin tercengang. Air ini dulu paling gak suka diguyur. Kalo berenang, kepalanya kering banget. Ngedumel-dumel kalo saya ciprati air. Lha kok namanya Air takut sama Air ihihihi. Rupanya, untuk urusan renang ini dia ‘gengsi’ diajari (ini gen dari siapa cobaa). Maunya liat. Akhirnya saya berenang wara-wiri dengan beragam gaya. Air mengamati dan mencoba sendiri di kolam kecil. Awalnya dia cuman bisa 3 cipakan kaki dengan teknik mengambang yang tau-tau udah bisa. Seiring waktu dia bisa makin jauh jarak renangnya. Intinya dia makin ‘besahabat sama air’ hehehe. Sekarang, dia lagi berlatih gaya katak dan watter trapen (ini harus berlatih di kolam dalam). Awalnya, berenang buat Air adalah terapi untuk amandelnya yang ‘genit’, ditowel virus/bakteri dikit langsung melendung. Rupanya renang ini melancarkan metabolisme dan memperkuat imunitasnya.

Mandi, keramas, makan, nyisir, dan pake baju sendiri. Dari itu semua yang usahanya lebih keras adalah makan sendiri. Jadi kalo makan sendiri thu mukanya males-malesan. Etapi kalo disuapin makannya banyak banget. Jadinya di sekolah, Airlah yang paling telat kalo makan siang. Yang lain udah bobo siang di kelasnya. Dia masih memamah biak. Dan yak, dengan senjata cetakan nasi yang kece-kece, dia melahap dengan lahap. Walo gitu, dasar anak zaman sekarang, Air masih risihan kalo makan pake tangan (gak pake sendok). pelan-pelan lah ya. Kalo urusan mandi, dia punya ritual sendiri. Pintu ditutup (karena terganggu sama emaknya yang dikit-dikit liat progress mandinya bhihhik..), utak-atik maenan di bak (5 menit), guyur badan, ngelamun (3 menit), sabunan (cuman perut, muka, kaki, tangan dikit), maen busa-busa sabun (3 menit, kalo nggak diteriakin), bilas, keramas (kenapa gk sekalian aja bilasnya), bilas rambut, sikat gigi, kumur-kumur, andukan. Fiuuh. Nah, urusan pake baju dah lancar.

Membaca 1 kalimat (5 kata) dan sudah IQRO jilid 2. Dalam hal membaca, sungguh Ayah Air sangat kooperatif sekali. Dia mencari ragam sofware membaca di iPad, membaca cerita dan meminta Air membaca beberapa kalimat, dan lainnya. Nah, tentang IQRO, baru aja kemarin Air masuk jilid 2. Nggak sia-sia rasanya pulang tepat waktu dari kantor untuk bisa shalat Isya berjamaah, berdoa bersama, mengajari Air mengaji, dan mendongengkan kisah para Nabi sebelum tidur. Seneng rasanya.

Bernegosiasi. Inilah mungkin jawaban kenapa Air termasuk anak yang nggak rewel dan jarang tantrum. Kekuatan negosiasi memberinya rasa aman, bahwa dirinya punya hak untuk berpartisipasi dalam tiap keputusan. Misal gini. Saat Air harusnya udah mandi jam 4 sore eh ternyata dia malah tetep asyik nonton. Saya nyuruh dia segera mandi. Dia bilang 30 menit lagi. Saya bilang 10 menit lagi. Dia nawar, 15 menit deh tanpa acara main di bak, tanpa ngelamun, dan tanpa main busa-busa. Kami pun salaman. Deal. Begitupun dalam beragam hal.

Mix n match baju dan aksesoris. Air ini girly banget. Jauh ama emaknya yang rada urakan gayanya. Dia makin PD dengan padu-padan pakaiannya. Tau baju untuk tidur, untuk di rumah, dan jalan-jalan. Begitu pun dengan pilihan warnanya. Dan satu lagi. Dia suka banget pilah-pilih aksesoris yang pas sama bajunya, plus wana kuteknya (omigod). Walau urusan naro perintilan perabotannya masih jauh dari rapi. Bocah lah namanya juga.

Bersahabat. Dulu, Air ini anaknya supel banget. Ke mana-mana gemar berkenalan sama sesama anak-anak. Mungkin karena sekarang udah tau malu, dia jadi cenderung sedikit pilah pilih. Hopla! Terbentuklah persahabatan antara Air-Naya-Audyra di sekolah dan Air-Kaka Aya di rumah. Begitu lekatnya sampai mereka punya bahasa sendiri, mainan favorit sendiri, dan suka bertukar makanan dan aksesoris. Nah, ini keliatan banget pas Kaka Aya pindah rumah dna Audyra ‘cuti’ sekolah. Semua keceriannya tercerabut. Saya setengah mati memotivasi semangatnya. Sampai akhirnya dia tahu, bahwa bersahabat itu nggak harus selalu saling ketemu, yang penting sesekali komunikasi dan selalu ingat di hati.

Mengatur mekanisme diri ketika kangen, sayang, dan menghadapi ketidakhadiran. Dulu, Air pernah mengalami tic syndrom. Gejalanya mata kananya kedip-kedip terus dengan mulut yang ketarik ke atas tanpa ia sadari. Setelah hipnoterapi, ketahuanlah bahwa ia menekan rasa kangen dan kehilangan sosok Ayah karena si Ayah kerjanya jauh. Nah, setelah itu Air menemukan sendiri cara mengatasi rasa-rasa tersebut. Biasanya dia menggambar. Entah itu melukis Ayah/Bunda dan dirinya dengan tanda hati di tengahnya dan ketika Ayah/Bunda datang ia meminta gambar itu dipajang di kantor. Ada juga cara lain, biasanya dia tidur dengan memeluk jaket/baju Bunda/Ayahnya.

Daaaan, masih banyak pencapaian lainnya. Tapi bakalan jadi novel kalau dituntaskan satu persatu. Atas kesemuanya itu satu yang terus saya gaungkan. Rasa syukur. Sungguh sebuah anugerah masih bisa bersamanya dan diberi kesempatan membesarkannya dengan cinta.

#JejakRamadhan 2: Ini Zahra, Anak Kebanggaan Saya

Hei hei semua. Gimana puasanya? Bukaannya enak? Boleh bagi? Soalnya 2 hari puasa ini, saya belum berkesempatan ‘jajan-jajan cihuy’ bukaan khas Ramadhan. Pas buka, selalu pas di bis. Tapi, alhamdulillaah ya *ala Syahrini :D* masih bisa berbuka dengan (tampang) yang manis. đŸ˜€

Di #JejakRamadhan kali ini, saya ingin bertutur mengenai suatu scene yang tersuguh di malam tarawih. Lagi-lagi tarawih, ya. Rahmat dan hikmah memang berasa menderas di tiap malam Ramadhan. Begini adegannya.

Setelah salim-salim sama tetangga selesai witir, saya lantas tergopoh-gopoh keluar mesjid mencari Air, anak saya, yang jalan duluan nyelip-nyelip trus menghilang dari pandangan. Dengan langkah besar-besar saya mencoba menerobos gerombholan jamaah masjid.

Tiba-tiba ada seorang bapak bergamis putih dan berwajah teduh yang tengah berbincang dengan seorang ibu. Di depan si bapak terlihat satu gadis kecil berjilbab mungil. Si gadis kecil ini menyender di perut ayahnya, sementara sang ayah memeluknya dari belakang sambil sesekali mengusap-usap kepala si anak.

“Eh, anaknya udah besar aja, Pak. Siapa namanya?” kata si ibu ramah. Si gadis kecil pun salim tanpa perlu disuruh.

“Ini Zahra, Bu. Anak kebanggaan saya. Sholehah dan menyenangkan hati orang tuanya,” ujar sang bapak sambil memeluk anaknya lebih erat. Jujur, tanpa ada kesan pongah sedikit pun. Tatapannya penuh kasih dan hormat pada si gadis kecil. Tak ayal, ada semburat merah tomat di pipi gembulnya.

Seakan ada yang memaku saya di jalanan aspal ketika scene ‘manis’ itu tersuguh. Ada yang berpendar-pendar di dada ini. Entah apa. Senyum begitu saja mampir mengulas bibir. Apa yang pertama kali terbersit dalam benak saya, coba? Dia. Dia, Lelaki yang Lembut Hatinya dan Manusia Termulia Kekasih Pemilik Cinta.

Saya jadi ingat Rasulullaah. Betapa ketika masyarakat Makkah gemar mengubur anak perempuannya hidup-hidup, ketika gengsi dan rasa aman begitu meraja mengalahkan sebuah nyawa yang butuh dikasihi, Rasulullaah bersikap sangat menghormati anak perempuannya, Fathimah.

Cara si bapak itu memeluk erat sang gadis kecil, mengantarkan saya pada perangai Rasulullaah yang kerap menggendong Fathimah di bahunya, bercanda hangat, mengajari ilmu hikmah dengan penuh cinta, dan satu hal lagi. Rasulullaah bangga dengan anak perempuannya. Rasa bangga yang mencuat di kala semua bapak mencibiri anak perempuannya.

Bahkan, dijaganya hati Fathimah dari apapun yang berpotensi menyakitinya. Dengan lantang Rasulullah berkata, “Barang siapa yang mencintai dirinya, maka itu bukti kecintaan padaku. Barang siapa yang menyakitinya, maka itu sama dengan menyakitiku”. Terenyuh.

Rasa hormat dan cinta yang bapak berwajah teduh itu perlihatkan terasa bagai berkah. Kenapa? Karena setelah kebekuan saya mencair, ketika saya sadar harus kembali ke misi utama mencari Air, saya langsung berlari..terus berlari dan menghamburi Air yang ternyata sudah menunggudi depan gerbang rumah dengan pelukan hangat.

“Air, Bunda sayang dan ingin terus belajar menghormati Air,” bisik saya

“Bunda, aku nggak ngerti. Hormat kok nggak ada benderanya,” Air menimpali tanpa berontak dalam dekapan saya.

Ah, Nak.

Kalau detik itu adalah adegan di sebuah drama Korea, saya yakin tiba-tiba hujan rintik turun, dan kamera bergerak lambat menjauh ke atas.

Sindrom ‘Mama Rewel’ Jelang Pernikahan

Selain harga naik dan pengajian (yang entah kenapa) bersiap libur jelang puasa dan Lebaran. Ada lagi yang khas tiap tahunnya. Apa coba? Musim kawin. Ya, lihat saja nanti. Tiap gang melengkungkan janur kuningnya. Tanda ada yang berjanji setia di depan Tuhannya agar bisa bersama sampai maut memisahkan.

Begitu pun kisah teman-teman di sekitar saya. Beberapa di antaranya sedang bersiap. Ada yang merapikan diri menuju lamaran ataupun pernikahan. Problemnya umum. Namun ada satu dari ‘kegilaan’ persiapan nikah yang begitu saja menyeruak di alam pikir dan hati saya.

Merunut dari pengalaman dan celoteh para wanita di sekeliling saya, ada sindrom yang khas pada tiap mama atau ibu calon mertua jelang pernikahan. Baik itu tambah riwil, mengambil jarak, atau justru terlampau ‘mengobrak-abrik’ tiap detail rencana hajatan. Pertanyannya mirip: kenapa sih gak adem ayem aja, ntar juga beres. Seakan ingin berkata: mama doain aja kenapa sih, jangan justru malah jadi batu sandungan acara ini. Kalau dikerucutkan, mama/calon ibu mertua saat itu cuman satu: URING-URINGAN.

Rasanya?

Pastinya sebel. Kalau dibilang khawatir pesta gak berjalan dengan baik, ya siapa yang nggak khawatir. Kalau nggak percaya 100% sama pasangan pilihan kita, ya kita juga gak bisa jamin apa-apa karena hidup bareng aja belum. Banyak sekali kekhawatiran yang kita juga gak mampu untuk menjawabnya. Karena jawabannya perlu kesabaran, kepala dingin, dan ini yang penting…butuh waktu. Apakah mama/calon ibu mertua nggak mengerti? Bukankah kalian juga dulu pernah mengalami jadi calon pengantin?

Dan lalu, pertanyaan terakhir itu rasanya menodong hati saya. Apakah benar mama yang tidak mengerti? Atau juga sebenarnya saya yang tidak memahami perasaan mama sebagai seorang ibu?

Saya kini seorang ibu dari Air. Seorang anak perempuan yang kelak akan diboyong suaminya. Coba bayangkan. Air mengajukan seorang pria yang dia pilih untuk jadi teman hidupnya. Yang akan melayani dan dilayani oleh Air sepenuh hati. Yang didamba-damba kehadirannya. Yang dipeluk-cium tiap malamnya. Pria yang setelah melantunkan janji suci semeta-merta membawa Air ke tempat yang kian berjarak dengan saya. Duh, membayangkannya aja udah bikin hati jadi teriris.

Seorang ibu pastinya bahagia jika anaknya bahagia. Terlebih ia berbahagia atas usaha ibunya. Melihat kenyataan anak perempuan kita ‘dibawa’ sama sang pujaan hatinya tetap aja membuat hati tak tenang dan…sedih.

Akankah Air dilayani dengan baik oleh suaminya seperti saya melayaninya? Bahkan seekor nyamuk pun dijaga tiap saat agar tak menggigit kulit halusnya oleh saya. Akankah ia dinantikan oleh suaminya sebagaimana saya merindukannya? Seperti saya menantinya dengan tak sabar walau dia hanya sedang mengenyam waktu sejenak di sekolah. Akankah ia menjaga keselamatannya sepiawai saya? Bahkan saat Air belajar ‘belanja’ mandiri ke minimarket yang jaraknya selemparan batu saya deg-degan minta ampun. Dan akankah Air merasa terus bahagia bersama suaminya? Sebagaimana ia tak berhenti memeluk dan memberikan gambar-gambar dengan rasa bangganya sebagai tanda cintanya pada saya. Akankah ia akan dipeluk penuh cinta oleh suaminya? Seperti biasanya ia dipeluk, dibelai, dicium, dan didendangkan shalawat yang mengantarkan dirinya beristirahat.

Dan, akankah Air tetap mencintai saya seperti biasanya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya sebagai ibu setelah ia dicintai suaminya? Akankah ia punya cukup waktu dengan saya lagi untuk sekadar berbincang berdua di balkon rumah, sambil memandang bintang, dan bertukar rasa eskrim?

Saya tau, Air bisa menjaga itu. Tapi, ya… tetap saja. Walau pernikahan anak bukanlah sebuah gelar perpisahan. Namun, tetap menorehkan duka di antara sejuta suka.

Ya, kini saya paham. Mungkin jenis kesedihan dan kekhawatiran inilah yang menjejaki dada tiap para perempuan yang melepas sauh perahu anak perempuannya bersama lelaki pilihannya.

Jika saja memang ada mesin waktu dan berkesempatan kembali ke detik-detik pernikahan saja dulu. Saya cuman ingin memeluk erat Mama dan Nenek. Dan mengatakan. Tidak, tidak akan ada yang berubah. Jarak tak mampu memisahkan dua insan yang dulunya berada dalam satu tubuh.

Mungkin peluk yang sama akan saya hamburkan saat bertemu dengan mereka lagi. Sembari juga terus memberikan cinta yang terbaik pada Air, agar senantiasa ingat. Jika kelak Air menikah… saya sadar, cinta kami akan selalu sama. Dan saya akan selalu ada… untuknya.

Bahagiakah Kamu, Nak?

happy kids

happy kids

“Siapa sih yang nggak pengen anaknya bahagia?”
“Apapun akan dilakukan biar anak gue bahagia”
“Eh, tapi anak gue bahagia nggak sih”

Serenceng pertanyaan itu entah mengapa layaknya banjir rob di Jakarta melibas pikiran dan hati saya. Nadanya serupa. Yakin-yakin-tapi-bingung. Bahagia terasa abstrak untuk insan yang tak memasukan kata itu dalam kamus hidupnya. Atau parahnya, yang merasa tak layak berbahagia. Saya? Tentunya

Saya enggan mendefinisikannya. Bahagia itu porsinya dirasa dan dilihat, alih-alih diucap. Apalagi jika dikaitkan dengan makhluk yang namanya anak. Anak yang bahagia. Kalimat yang jika dilafalkan merangsang imaji untuk menayangkan senyum dan tawa anak-anak kita.

Saya jadi ingat. Sudah hampir 2 mingguan ini, Air lebih banyak tersenyum dan tertawa lepas. Saya bertanya, “Hmm, gadis Bunda sekarang makin cantik karena senyumnya banyak dan senang tertawa, Air merasa apa?”. “Aku seneng, tapi nggak tau karena apa,” jawabnya polos.

Padahal di minggu itu beberapa kali ia merasa kecewa karena ayahnya harus pulang ke Bandung, ia lompat-lompat kegirangan karena uang tabungannya cukup untuk membeli robot-robotan, ia mengatakan merasa rindu saat saya harus pulang lebih larut, ia memeluk saya erat saat music box yang didambakan tiba-tiba ada di kamarnya, ia merasa cemas karena akan mengikuti lomba menari, dan ia harus menghadai kenyataan pahit ditinggal pindah rumah oleh sahabatnya. Begitu fluktuatif mood dan perasaannya. Jatuh-bangun ia menyeimbangkan kembali kondisi hatinya. Tapi, mengapa ia tampak begitu….berbahagia.

Saya merasa musykil jika menanyakan hal-hal abstrak atau filosofis seperti “Apakah kamu berbahagia?” pada Air. Terlebih karena saya tidak yakin ia tahu apa dan bagaimana orang yang berbahagia itu. Terseret pada penasaran saya tak bisa menahan untuk bertanya pada Air. Pada anak yang baru saja melepas masa balitanya.

“Apa Air merasa bahagia?” tanya saya di suatu malam, sebelum tidur, dengan lampu temaram, dan ia nyaman di pelukan.

“Aku bahagia, Bunda,” jawabnya sambil memainkan rambutku.

“Pasti menyenangkan ya merasa bahagia. Apa yang Air rasa memangnya sampai bisa merasa bahagia?”

“Bunda pernah bilang. Tiap saat itu ada waktu-waktunya. Ada waktunya main, makan, sekolah, istirahat, mandi. Aku merasa cukup aja. Cukup main, cukup makan, cukup sekolah. Trus, aku boleh merasa sedih, boleh kesal, boleh ketawa, boleh bercanda, boleh marah. Jadi aku seneng, aku bahagia,” seraya memeluk saya erat.

Ya, ternyata merasa cukup itu membahagiakannya.

Jika itu yang kau butuhkan, Nak. Berkembanglah selayaknya dirimu menginginkannya. Ayah dan Bunda hanya menemani perjalananmu dan mengarahkan kembali jika kau tersesat. Dan…..mengantarkanmu pada jalan kembali pada pencipta ruh sucimu.

*Teruntuk semua keponakan Biru dan anak-anak lain di dunia. Bahagia untukmu itu keniscayaan. Kau berhak menciptanya.

Pernah dipublikasi di http://www.kisahharubiru.wordpress.com dan http://www.ruangtanpakubikel.wordpress.com