Hening Saat Genting

Menemukan ketenangan saat kondisi santai, bisa jadi lebih mudah. Walau ya ada juga yang masih kesulitan. Tapi bisa tetap damai ketika sekeliling ingin menindasmu dengan kecepatan penuh, ini baru luar biasa. 

Ya, gak? 

Gimana bisa tetep kalem saat kerjaan ini minta cepet dikelarin. Di detik yang sama, tim minta koordinasi dan bantuan. Lalu household things minta perhatian juga. Situasi ini terasa familiar, bukan?

Toss!

Hasil yang paling cepet kerasa adalah: kepala penuh. Tapi diurai juga susah. Kang pijet…mana…kang pijet. Hahahha. Kalo kepala udah pengang, pikiran sulit fokus. Nah kalo udah gak fokus, sistem tubuh jadi nge-hang. Output-nya: muka begok gak ada ekspresi. 

Sudah setengah bulan saya mulai jadi  freelancer tipe kerjaan yang gak santai. Seminggu pertama, mode muka begok ini berlangsung. Seminggu kedua mode kepala berasap dan pengen guling-guling muncul.

Hal ini kontras banget sama kondisi sebelumnya. Perbandingan kerja dan menikmati hidup itu kira-kira 30:70. Saya masih sempet masak enak. Sempet yoga 2 kali seminggu bahkan ikut kelas zumba juga. Masih punya kesempatan leyeh-leyeh di kasur sambil nonton iFlix. Hidup indah. 

Demand pekerjaan yang sekarang lebih tinggi. Kabar baiknya salary lebih lumayan dan saya suka jenis pekerjaannya. Tapi saya belum menemukan ritme yang nyaman. 

Nyaman gimana?

Saya gak mau sampai pekerjaan jadi prioritas tertinggi dalam hidup. Balance, itu yang diinginkan. Masih punya waktu keluarga, dengan teman, dengan hobi. 

Thanks God, aku kenal sama yoga sebelumnya. Kupikir cuma pas sholat dan yoga aku punya “rem”. Semacam sarana di mana saya mengizinkan tubuh, pikiran, dan jiwa saya “terlepas” sejenak dari rongrongan di luar diri. 

Menghadirkan hening. Membuat pikiran dan jiwa menjadi bening. Menyilahkan energi selaras lagi. Menumbuhkan kesadaran akan tujuan dari setiap hal yang sedang dijalani. 

Di yoga, saya berkomunikasi dengan diri, berterima kasih pada diri. Di sholat, diri saya berkomunikasi dengan pemilik jiwa, berterima kasih pada Sang Maha Baik. 

Ini semacam kebutuhan. Kegiatan yang kalau diibaratkan seperti ajakan, “Yuk, Neng sinih selonjoran dulu,” ketika kita tengah terengah-engah berlari.

Dan hening….datang lagi. 

Advertisements