Saksi Kunci

Menulis saat dilibas gelombang-gelombang pemikiran selalu random, unstructured, dan macam senapan memuntahkan rentetan peluru. 

Here i am now. 

Tsunami pemikiran ini dipicu tontonan bernama Mata Najwa. Seri lama. Judulnya “Saksi Kunci”. Isinya penuturan dua perempuan yang kata-katanya membuat hakim memenjarakan salah satu pejabat besar masuk bui atas kasus suap kelas kakap. 

Dengan itu, mereka gak bisa hidup tenang barang sekejap saja. Ibaratnya, tiap detik selalu bergelut dengan kemungkinan ditembak mati. Pertaruhan dengan hantu teror. 

Nggak, saya nggak akan bahas isunya. Ataupun menelisik kaitannya dengan politik atau apalah apalah. 

Yang membuat saya terhenyak dari “Saksi Kunci” ini adalah ekspresi KETAKUTAN yang luar biasa dari seorang nara sumber. 

Bahasa tubuh dari mba itu membuat saya teringat sebuah scene di National Geography Wild. Saat menanyangka. seekor anjing dengan mata lelah karena selalu waspada. Badan gemetar. Ekor masuk ke dalam dua kakinya. Ketakutan teramat sangat. Ia selalu disiksa dan diperlakukan kasar oleh pemiliknya. 

Ekspresi mereka sama. Seakan berteriak dalam diamnya: “SAYA LELAH TERUS-MENERUS TERANCAM!”

Saya gak bisa membayangkan bagaimana mereka bertahan hidup. Bagaimana rindunya akan yang namanya ketenangan. 

Gila aja. Nonton film horor di bioskop aja udah merasa kaya dikejar-kejar hantu lama banget. Untungnya kalo nonton ada ujung filmnya. Takut mereda. Tenang datang lagi. 

Si Mba ini mungkin macam jadi lakon hidup yang horor tanpa ujung. Tiap ia melangkah seperti berjalan di bawah moncong senjata. 

Owh, Allaah kehidupan macam apa itu. 

Saya beberapa kali menarik napas berat dan panjang setiap melihat bahasa tubuh si Mba dalam Mata Najwa itu. 

Betapa hidup tenang itu berharga sekali. Maha Baik, makasih ya. 

Tubuh Tak Pernah Mengkhianati

Serem abis ya judulnya. 😂

Sebenarnya tulisan ini lahir dari sebuah kekaguman sekaligus rasa kasian pada tubuh-tubuh yang sering dihakimi pemiliknya sendiri. Dituduh ini-itu. 

Misalnya gini. 

Aduuuh sebel deh makin kurus, naikin berat badan susah, turunnya kok ya meluncur gini.

—padahal pemilik tubuhnya emang suka males makan dan gak disiplin jam makannya.

Ya ampun! Masa liburan ampe naik 5 kg siiih. Cape-cape olahraga sebelumnya eh malah makin gendat gini abis pulang dari Bali.

—selama liburan kulineran nonstop pagi-siang-sore-malem

Masa bolos fitness seminggu aja berat badan naik 3 kg?

—bolos karena begadang lembur dengan cemilan berat tanpa henti

Kayaknya gue minum aer aja jadi lemak deh. Cepet banget gendut.

—yang ngomong gak pernah olahraga, seneng tidur berlama-lama. 

Apakah kalimat-kalimat tersebut terasa familiar?

Buat saya, iya. Yang bilang hal pertama itu emang saya hahahaha.

Sampai kemudian saya menyadari bahwa tubuh itu sangat manut sama saya. 

Begitu makan dengan sehat, tubuh enakan. 

Ketika kebanyakan makan, tubuh gendutan. 

Ketika diberi asupan buruk, tubuh sakit. 

Ketika ditambah olahraga, tubuh mengencang.

Ketika tidur cukup, tubuh segar. 

Sesimpel itu. 

Coba sekarang bayangkan. Ketika pikiran adalah kita, dan tubuh adalah seorang partner. Saat pikiran nyuruh tubuh kulineran sampe kekenyangan selama beberapa hari. Tubuh nurut. Tapi, saat tubuh bereaksi secara normal menjadi gendut, si tubuh disalah-salahin. Dijelek-jelekin.

Betapa kasihan. Sungguh kasihan.

Saya sendiri menyadari bahwa tubuh tak pernah mengkhianati ketika saya stres dan enggan makan. Olahraga jalan terus, tapi perut males banget diisi. 

Alih-alih sehat, saya kuyu, kurus, dan jelek lah pokoknya. Hihihi. Lalu ketika orang mengomentari, “Ya ampun Vei, kamu kurus banget deh”.

Opsi jawaban 1: iya nih sebel deh kurus banget badan aku. Jelek banget ya.

Opsi jawaban 2: iya, makanku lagi gak bener. Tapi tubuh ini pinter, merespons dengan wajar. Jadilah kurus. Alhamdulillah. Aku yang harus koreksi cara makan nih. 

Daaan, automatically saya pilih jawaban 1. Lalu kemudian merasa bersalah.

Soalnya sebetulnya, sungguh perlu disyukuri ketika tubuh merespons dengan wajar atas semua perlakuan kita. Kebayang deh kalo dengan olahraga banyak dan makan sedikit banget trus berat badan saya malah jadi gendut. Kan serem, itu yang nambah berat apaan ya, otot, lemak, cairan, dosa, atau khilaf? Hihihi.

Atau sebaliknya. Makan buanyak tapi badan kurus banget. Kedengerannya indah ya. Tapi coba dipikir lagi. Jangan-jangan ada sel-sel berbahaya yang ngabisin nutrisi. Atau cacingan hihihi.

So, sekali lagi. Tubuh gak pernah berkhianat. Ia cuma manut. Cuma perlu diperlakukan adil sesuai kebutuhan. 

Lalu gimana dengan orang yang gak gemuk-gemuk walo makan banyak. Atau orang yang susah kurus walo udah olahraga?

Gini. Saya percaya bahwa kita semua diciptakan dengan setelah tubuh yang beda-beda. Ada yang bertulang kecil macam saya. Ada yang cenderung mudah gemuk. Ada yang sangat kurus. Bawaan lahir, gitu istilahnya. 

Sebetulnya, tubuh bawaan kita kalau dirawat dengan baik ya sehat-sehat aja. Nah, yang bikin jadi masalah adalah: membandingkan badan sendiri dengan orang lain, lalu diikuti punya keinginan bertubuh seperti orang lain. 

Pabrik beda, bahan-bahan beda, lha ya masa pengen punya bentuk badan sama persis. Itu namanya menciptakan masalah sendiri. Sebel sendiri. Galau sendiri. Stres sendiri. Terus aja gitu. 

Semakin sibuk dengan tubuh orang lain, semakin kita kehilangan kesempatan berkenalan dan memahami tubuh sendiri. 

Layaknya partner, tubuh akan lebih nyaman saat merasa diterima, dikenali kebutuhannya, dicari strategi untuk mengatasi kelemahannya, dan…disyukuri sebagai bentuk mencintainya. 

Yuk sama-sama kita bilang sama tubuh: terima kasih. 

Gerbong Wanita

Ini pemandangan di commuter line yang saya naiki tadi pagi menuju Stasiun Manggarai. 

Gerbong wanita. Yang entah kenapa kok ya tone bajunya semacam janjian gitu. Biru-pink. 

Setiap melihat kerumunan perempuan yang tidak saling mengenal kaya gitu, saya sering larut dalam banyak pemikiran. 

Pagi ini, saya membayangkan bisa jadi satu atau beberapa perempuan dalam gerbong ini sedang menghadapi sesuatu yang berat sekali. Tak hanya sekadar pergulatan bulanan karena PMS. 

Apakah ada yang semalam ia digebuki suaminya sementara pagi-pagi sekali harus tetap berangkat kerja?

Apakah ada yang tidak mampu sarapan karena ia memastikan anak-anaknya berperut kenyang dahulu, ia hanya menahan lapar.

Apakah ada yang dicampakkan suaminya setelah berkali-kali disakiti?

Apakah ada yang sedang menahan lelah mengerjakan beberapa pekerjaan demi bisa membayar utang orang tua?

Siapapun itu. Semoga kalian diberi kekuatan dan hati yang tangguh.

Ada banyak cerita di gerbong ini. Yang menguap bersama angin yang direbakkan kereta. Yang mendingin diterpa putaran kipas dan AC yang berpadu-paduan. 

Wahai perempuan, kita bisa, kita kuat. 

Keyakinanmu, Terorismu

“Mungkin, sekarang banyak orang yang diteror oleh keyakinannya sendiri,” kata saya membuka percakapan di meja makan tadi pagi. 

Begini. 

Ketika saya liburan di Bandung seorang kawan bercerita di sebuah sore ditemani secangkir kopi hangat. Sebut saja ia Dwi. 

Dwi seorang perempuan yang santai, relijius dengan caranya sendiri, dan meyakini Islam dengan perjalanan ruhani yang hanya Tuhan dan dirinya saja yang tahu. Ia baik dan senang menolong. 

Sampai suatu ketika, ia mendapat SMS dari saudaranya yang katanya sedang rajin ibadah dan mengaji. Isi SMS-nya bukan sekadar forward tapi benar-benar ditujukan untuk Dwi. Misalnya, seperti ini. 

Assalamu’alaikum. Dwi gimana sholatnya? Jangan bolong-bolong ya. Inget umur lho.

Dwi, pake jilbab dong. Cantik loh. Kan nutup aurat itu wajib hukumnya. Dosa kalo keliatan sama yang bukan muhrim.


Aku harap kamu gak pacaran ya. Haram. Ini aku ngasi tahu karena sayang. Kan harus ngasi tau walo hanya satu ayat.

Dan masih banyak lagi. 

Dwi dan saudaranya ini sama sekali gak akrab. Setiap Dwi tanya kenapa sih kirim terus SMS kaya gitu. Alasannya:

1. Guru ngajinya bilang, “Sampaikanlah walau hanya 1 ayat”.

2. Kalau saudara kita masih ada yg abai sama perintah Allaah dan dia gak ngasi tahu maka dosanya dia tanggung juga. 

3. Dia ingin berdakwah.

Alih-alih merasa menjadi lebih baik, Dwi merasa terganggu. Bahkan sudah meminta untuk gak perlu lagi kirim SMS. Dan bilang bahwa dosa dia biar dia nanggung sendiri aja. 

Pertama, Dwi merasa gak sedang butuh nasihat spiritual. Kedua, saudaranya ini gak tau kondisi ruhani dan spiritual dirinya emang lagi kaya apa. Ketiga, bukankah sesama muslim juga harus saling berbuat baik…..tapi bukan cuman “baik” menurut kehendak hati sendiri. 

Bagi saya, cerita Dwi adalah potret yang sungguh menarik dari apa yang memang sedang marak terjadi di society kita sekarang.

Saya pernah diajari, ketika ada orang yang ingin mengenal Allaah melalui Islam, sambut ia dengan cinta. Bukan dengan ilmu terlebih dahulu. 

Mengapa?

Karena ketika seseorang sudah tumbuh rasa cinta dan kasih pada Allaah serta Rasul-Nya, maka layaknya orang jatuh cinta. Ia akan melakukan apa saja ibadah yang akan menhantarkan ia pada ridho Ilahi. Segala ibadahnya karena cinta. Segala ilmu akan dilahapnya. Segala akhlah baik Rasulullaah akan ia contoh sekemampuannya. 

Hal yang banyak terjadi sekarang adalah menyambut orang lain yang ingin mengenal Islam dengan ilmu. Benar, ia akan rajin memetik amal. Namun hal ini rentan menjadikan agama sebagai Tuhan. Ilmu sebagai tujuan. Dan ber-Islam sebagai kebanggaan. 

Orang yang jatuh cinta ia akan hanyut dengan yg dicintainya. Orang yang berilmu akan larut dalam kebanggaannya. 

Lalu, ketika ilmu itu mengantarkanya pada bab mengenai jihad, maka rasa takut pada dosa tak mengajarkan orang lain menjadi utama. 

Saya sering sekali menyaksikan, orang berdakwah serupa memuntahi orang. Asal ia bisa mengantarkan 1 ayat pada orang lain. Tak peduli apakah orang itu memang pada momen dan kondisi yang tepat. Yang penting dia aman dari dosa. Lalu merasa gak cemas lagi. Jebret! Suka gak suka, makan tuh muntahan. 

Apa yang ia yakini menjadi teror atas level keimanannya. Sehingga ia tanpa sadar meneror yang lain agar sejenak terlepas dari kecemasan spiritual. 

Pertanyaannya: ia berdakwah untuk apa? Untuk siapa?

Di sisi lainnya, saya sungguh bersyukur masih ada pendakwah yang sangat bijak. Yang entah kenapa justru biasanya mereka yang justru fokus dengan perbaikan dirinya. Mendakwahi diri sendiri lebih keras. Dan oleh karena kualitas ibadahnya diliputi berkah Allaah dan cinta kasih Rasulullaah, ia malah menjadi magnet bagi yang sedang mencari cinta Ilahi. 

Semoga mereka dirahmati Allaah. 

Bagi saya, pengetahuan dan level spiritual ini gak matematis. Bukan level ilmu yang hanya bisa diturunkan melalui pengajaran lahir. Ada hal batiniah yang berkelindan antara sesama manusia, semesta, dan Allaah.

Yah, begitulah. 

Semoga kita bisa tenang terus tanpa dihinggapi penyakit kecemasan spiritual. Hey, ternyata teroris itu gak cuman yang ngebom. Kadang, kecemasan atas apa yang kita yakini juga bisa jadi teror. 

Dan ngebom-ngebomin “kuil” spiritual orang lain tanpa izin. Eh sejak kapan teroris pake perizinan? 

Mengenali Tuhan

Kita tak pernah mengenal Tuhan, sampai ada yang mengenalkannya. ~Pi Patel, Life of Pi

Saya terdiam cukup lama ketika Pi dalam film itu berkata demikian. Pause. Saya catat lekat-lekat dalam batin dan dicerna perlahan-lahan. 

Siapa dan bagaimana Tuhan diperkenalkan pertama kali pada saya? 

Pertanyaan itu kian menggelitik untuk dicari tahu jawabannya. Oke, sambil bercerita bagaimana saya dan Tuhan diperkenalkan, silahkan kalian mengorek-ngorek juga file memori di dalam lipatan otak masing-masing. Jangan, jangan di lipatan celana. Gak bakal nemu. 

Kata Tuhan mulai digaungkan ketika saya mengaji. Ia sosok yang digambarkan dengan penuh kekuasaan dan juga senang menghukum yang berdosa. 

Kalian pernah baca buku komik jadul yang berjudul “Siksa Kubur”? Nah begitulah Tuhan yang bergema dalam benak. 

Suka menggunting orang yang berbohong. Melelehkan kulit sampai tersisa hanya tengkorak bagi yang suka jahat pada orang. Menyetrika punggung orang yang…ah entah apa kesalahannya. 

Seram. Tuhan sungguh seram.

Belum lagi orang dewasa pada saat saya kecil senang mengancam dengan membawa-bawa nama Tuhan. Kalo gak sholat, kalo teraweh bolong-bolong, kalo gak puasa, Tuhan jadi algojo di tiap situasi. 

Lama-lama Tuhan di dalam mulut-mulut mereka dibuat menjadi Sang Maha yang harus dipatuhi karena ketakutan. 

Sampai kemudian saya berkenalan dengan asmaul husna. Begitu banyak nama-Nya yang indah dan terasa sangat baik. Bahkan setiap apapun yang dilakukan harus dengan nama-Nya yang Pengasih dan Penyayang. 

Saya pikir, kali ini Tuhan memperkenalkan diri-Nya dari sisi lain yang belum saya jamah. Saya cuma percaya bahwa Tuhan itu Maha Segala. Termasuk kebaikan. Jika ada orang baik aja saya bisa kagum, berarti Tuhan sekian kali lipat Maha baiknya. 

Masa iya Tuhan cuma punya jobdesc menghukum ciptaan-Nya, pikir saya waktu kecil. Buat apa manusia diciptakan lalu hanya untuk dipites-pites macam kutu rambut. Nope. It must be beyond than that. 

Beranjak dewasa, saya mendapati seorang Syaikh berkata.

Rahmat Allaah mendahului murka-Nya.

Dan banyak sekali hadis Qudsi bahkan ayat Alquran yang menggambarkan kebaikan Allaah sebagai Tuhan. Ini, ini yang kemudian saya yakini. 

Sungguh beruntungnya saya. Punya perjalanan yang berujung pada kekaguman Maha Baik. Tidak, tidak merasa lebih baik dari siapapun. Saya cuma ngerasa apa jadinya kalau saya masih merasa bahwa Tuhan segitu kakunya melihat gerak-gerik ciptaan-Nya. 

Perjalanan mengenal Tuhan masihlah panjang. Semoga saya dalam keadaan khusyu mencintai-Nya ketika kelak berpulang. 

[Day #10] Ahsyeeemm! 

Iya, asem. 

Saya paling gak tahu cara menikmati buah bernama kedondong. Udah mana keras. Dimakannya pun bingung. Dikupas susah. Mana pake acara dijepit di pintu segala sebagai alternatif mengupas kedondong ini. 

Eh bener loh, jarang banget pula nemu kedondong yang manis. Atau emang saya gak niat aja nyarinya hihihi. 

Seumur-umur emang belum pernah sengaja beli kedondong. Kesempatan saya ketemu palingan pas beli rujak. Udah, itu doang.

Sebetulnya saya suka sih segala jenis buah asal gak asem banget atau busuk hihihi. Malah saya seneng berpetualang rasa. Nyobain rasa buah-buahan yang ada. Apalagi Indonesia negara tropis di mana buah-buahan lebih banyak dan warna-warni. 

Tapi kedondong, ya gitu deh. Maaf ya kamu. *sungkem sama kedondong dong.

[Day #9] Bilangan Umur Hanyalah Angka?

Saya paling empet kalo ada yang bersikap sok-sokan ketika mendapati dirinya lebih senior, lebih tua, dan merasa lebih tahu segalanya. Apalagi pas masa-masa ospek ya? Duh! 

Dari dulu, saya paling gak suka dengan prinsip bahwa yang lebih tua adalah yang lebih boleh ini-itu dari yang junior. Apalah arti sebuah angka yang berderet dan dinamakan umur. Gak jamin juga lebih dalam segala hal. Lebih banyak kerutan sih iya. #eh

Sering juga gak kita ketemu sama anak muda bahkan anak kecil yang justru lebih bijak, lebih tahu, dan lebih lebih lainnya. 

Hal ini menjadikan saya ketika SMA lebih senang bergaul dengan kakak kelas. Bukannya gak kapok dan takut diomelin pas ospek sih, tapi saya lebih mudah menghormati mereka yang lebih tua tapi gak mint dihormati. Saya merasa sejajar dengan mereka. 

Itu pun terbawa ketika kuliah. 

Ah ya, memang kalau dalam pengalaman walau yang tua belum tentu lebih banyak ngalamin, setidaknya mental tua mereka bikin jadi lebih seneng ngasih tahu dengab sukarela. Ya siapa sih yang nolak dikasih ilmu. Yekan?

Pokoknya kalo ada yang merasa senior dan sok-sokan, ya gak usah berhadapan sama saya lah. Gebok nih! Hihihi.