Menunggu Hujan

Hujan angin. Stasiun basah. Orang-orang menepi. Enggan keluar. Seperti dua oramg kekasih yang enggan pulang. Kalau mereka berdua takut kangen. Kalau orang-orang ini takut kehujanan.

Saya salah satu dari kerumunan. Bukan, saya bukan takut kehujanan. Tapi sejenak melepas lelah. Setelah dari dikerjai jam tunggu kereta dan berdesakan di dalamnya. 

Yeah, jam pulang kantor seakan membuat jalanan dimuntahi karyawan yang bergegas memeluk rumahnya. 

Bagi saya yang sudah 2 tahun memilih menyingkir dari pergumulan dengan traffic Jakarta-Bekasi, melihat ini semua rasanya bersyukur. 

Aih, bukan jahat. Bukan merasa bahagia di atas para karyawan yang pergi maaih gelap, pulang juga udah gelap. Tapi, saya bersyukur diberikan kesempatan memilih. Dan walau pada awalnya merasa ragu saat menentukan kerja freelance, sekarang saya tambah yakin bahwa semesta ini berkonspirasi indah untuk saya. Dan tentu untuk kalian semua. 

Terlebih, mulai hari ini saya bergabung dengan sebuah perusahaan media yang membolehkan saya freelance. Fee lumayan. Dan bidang kerja yang saya gemari.

Apalagi kalau bukan syukur yang bisa dipanjatkan?

Walau sudah mulai menggeliat, perusahaan yang memandang pekerjaan yang bisa dilakukan di mana aja itu terbilang jarang. Apalagi ranah kerja yang bersifat manajerial.

Ini sebetulnya yang membuat saya bergairah. Seakan diri ini ditantang untuk membuktikan bisa nggak pengaturan tim dan kerja teknis dilakukan tanpa harus ketemu muka nine to five. 

Bosen tau ketemu mulu. Biar ada kangen-kangennya gitu wkwkwkwkw. Kok kaya iklan air mineral.
Wish me luck, ya. 

Gila

Setiap kali mendengar kawan berkisah mengenai sebuah kegilaan seorang manusia, saya suka mikir ulang. 

Mikir ulang dengan bertanya: emang gila itu apa sih?

Setiap ingin melabel atau bilang, “Ya ampun gila banget,” atau “Udah gila emang, atau “Ih itu mah gila ,” saya ngerem dulu. Ciiiittt….

Sambil ngerem, saya mengingat-ingat sebuah cerita yang sering diceritakan ketika saya kecil. 

Alkisah ada sebuah wilayah yang dipimpin oleh seorang raja. Rakyat di daerah itu selalu membicarakan bahwa rajanya itu aneh dan sering membuat keputusan yang gila. 

Omongan itu sampai ke telinga raja. Raja merasa tidak suka. Disuruhlah tabib membuat ramuan istimewa. Setelah jadi, raja menuangkan ramuan itu ke dalam saluran air utama yang akan mengalir ke rumah-rumah rakyatnya. 

Rakyat dan seluruh penghuni kerajaan meminun air yang terkontaminasi ramuan tersebut. Mau tau khasiat ramuan itu? Ya, membuat semua yang meminumnya menjadi gila.

Hingga tak ada lagi yang menyebutnya gila. Tak ada lagi orang gila di wilayah itu. Rakyat merasa sang raja tak lagi gila.

Sejak cerita itu mampir di telinga, saya beranggapan bahwa gila itu ada hanya karena “terasa berbeda”. Karena kalau semua sama, tak ada lagi istilah gila. Bukankah orang gila gak pernah menyadari dirinya gila. 

Sama kaya kejujuran di tengah pusaran kebohongan berjamaah. Atau kebenaran di dalam kubangan kejahatan. Jujur bisa jadi disebut kegilaan. Pun kebenaran.

Random banget ya tulisan ini. Mbuh. 

Saksi Kunci

Menulis saat dilibas gelombang-gelombang pemikiran selalu random, unstructured, dan macam senapan memuntahkan rentetan peluru. 

Here i am now. 

Tsunami pemikiran ini dipicu tontonan bernama Mata Najwa. Seri lama. Judulnya “Saksi Kunci”. Isinya penuturan dua perempuan yang kata-katanya membuat hakim memenjarakan salah satu pejabat besar masuk bui atas kasus suap kelas kakap. 

Dengan itu, mereka gak bisa hidup tenang barang sekejap saja. Ibaratnya, tiap detik selalu bergelut dengan kemungkinan ditembak mati. Pertaruhan dengan hantu teror. 

Nggak, saya nggak akan bahas isunya. Ataupun menelisik kaitannya dengan politik atau apalah apalah. 

Yang membuat saya terhenyak dari “Saksi Kunci” ini adalah ekspresi KETAKUTAN yang luar biasa dari seorang nara sumber. 

Bahasa tubuh dari mba itu membuat saya teringat sebuah scene di National Geography Wild. Saat menanyangka. seekor anjing dengan mata lelah karena selalu waspada. Badan gemetar. Ekor masuk ke dalam dua kakinya. Ketakutan teramat sangat. Ia selalu disiksa dan diperlakukan kasar oleh pemiliknya. 

Ekspresi mereka sama. Seakan berteriak dalam diamnya: “SAYA LELAH TERUS-MENERUS TERANCAM!”

Saya gak bisa membayangkan bagaimana mereka bertahan hidup. Bagaimana rindunya akan yang namanya ketenangan. 

Gila aja. Nonton film horor di bioskop aja udah merasa kaya dikejar-kejar hantu lama banget. Untungnya kalo nonton ada ujung filmnya. Takut mereda. Tenang datang lagi. 

Si Mba ini mungkin macam jadi lakon hidup yang horor tanpa ujung. Tiap ia melangkah seperti berjalan di bawah moncong senjata. 

Owh, Allaah kehidupan macam apa itu. 

Saya beberapa kali menarik napas berat dan panjang setiap melihat bahasa tubuh si Mba dalam Mata Najwa itu. 

Betapa hidup tenang itu berharga sekali. Maha Baik, makasih ya. 

Tubuh Tak Pernah Mengkhianati

Serem abis ya judulnya. 😂

Sebenarnya tulisan ini lahir dari sebuah kekaguman sekaligus rasa kasian pada tubuh-tubuh yang sering dihakimi pemiliknya sendiri. Dituduh ini-itu. 

Misalnya gini. 

Aduuuh sebel deh makin kurus, naikin berat badan susah, turunnya kok ya meluncur gini.

—padahal pemilik tubuhnya emang suka males makan dan gak disiplin jam makannya.

Ya ampun! Masa liburan ampe naik 5 kg siiih. Cape-cape olahraga sebelumnya eh malah makin gendat gini abis pulang dari Bali.

—selama liburan kulineran nonstop pagi-siang-sore-malem

Masa bolos fitness seminggu aja berat badan naik 3 kg?

—bolos karena begadang lembur dengan cemilan berat tanpa henti

Kayaknya gue minum aer aja jadi lemak deh. Cepet banget gendut.

—yang ngomong gak pernah olahraga, seneng tidur berlama-lama. 

Apakah kalimat-kalimat tersebut terasa familiar?

Buat saya, iya. Yang bilang hal pertama itu emang saya hahahaha.

Sampai kemudian saya menyadari bahwa tubuh itu sangat manut sama saya. 

Begitu makan dengan sehat, tubuh enakan. 

Ketika kebanyakan makan, tubuh gendutan. 

Ketika diberi asupan buruk, tubuh sakit. 

Ketika ditambah olahraga, tubuh mengencang.

Ketika tidur cukup, tubuh segar. 

Sesimpel itu. 

Coba sekarang bayangkan. Ketika pikiran adalah kita, dan tubuh adalah seorang partner. Saat pikiran nyuruh tubuh kulineran sampe kekenyangan selama beberapa hari. Tubuh nurut. Tapi, saat tubuh bereaksi secara normal menjadi gendut, si tubuh disalah-salahin. Dijelek-jelekin.

Betapa kasihan. Sungguh kasihan.

Saya sendiri menyadari bahwa tubuh tak pernah mengkhianati ketika saya stres dan enggan makan. Olahraga jalan terus, tapi perut males banget diisi. 

Alih-alih sehat, saya kuyu, kurus, dan jelek lah pokoknya. Hihihi. Lalu ketika orang mengomentari, “Ya ampun Vei, kamu kurus banget deh”.

Opsi jawaban 1: iya nih sebel deh kurus banget badan aku. Jelek banget ya.

Opsi jawaban 2: iya, makanku lagi gak bener. Tapi tubuh ini pinter, merespons dengan wajar. Jadilah kurus. Alhamdulillah. Aku yang harus koreksi cara makan nih. 

Daaan, automatically saya pilih jawaban 1. Lalu kemudian merasa bersalah.

Soalnya sebetulnya, sungguh perlu disyukuri ketika tubuh merespons dengan wajar atas semua perlakuan kita. Kebayang deh kalo dengan olahraga banyak dan makan sedikit banget trus berat badan saya malah jadi gendut. Kan serem, itu yang nambah berat apaan ya, otot, lemak, cairan, dosa, atau khilaf? Hihihi.

Atau sebaliknya. Makan buanyak tapi badan kurus banget. Kedengerannya indah ya. Tapi coba dipikir lagi. Jangan-jangan ada sel-sel berbahaya yang ngabisin nutrisi. Atau cacingan hihihi.

So, sekali lagi. Tubuh gak pernah berkhianat. Ia cuma manut. Cuma perlu diperlakukan adil sesuai kebutuhan. 

Lalu gimana dengan orang yang gak gemuk-gemuk walo makan banyak. Atau orang yang susah kurus walo udah olahraga?

Gini. Saya percaya bahwa kita semua diciptakan dengan setelah tubuh yang beda-beda. Ada yang bertulang kecil macam saya. Ada yang cenderung mudah gemuk. Ada yang sangat kurus. Bawaan lahir, gitu istilahnya. 

Sebetulnya, tubuh bawaan kita kalau dirawat dengan baik ya sehat-sehat aja. Nah, yang bikin jadi masalah adalah: membandingkan badan sendiri dengan orang lain, lalu diikuti punya keinginan bertubuh seperti orang lain. 

Pabrik beda, bahan-bahan beda, lha ya masa pengen punya bentuk badan sama persis. Itu namanya menciptakan masalah sendiri. Sebel sendiri. Galau sendiri. Stres sendiri. Terus aja gitu. 

Semakin sibuk dengan tubuh orang lain, semakin kita kehilangan kesempatan berkenalan dan memahami tubuh sendiri. 

Layaknya partner, tubuh akan lebih nyaman saat merasa diterima, dikenali kebutuhannya, dicari strategi untuk mengatasi kelemahannya, dan…disyukuri sebagai bentuk mencintainya. 

Yuk sama-sama kita bilang sama tubuh: terima kasih. 

Gerbong Wanita

Ini pemandangan di commuter line yang saya naiki tadi pagi menuju Stasiun Manggarai. 

Gerbong wanita. Yang entah kenapa kok ya tone bajunya semacam janjian gitu. Biru-pink. 

Setiap melihat kerumunan perempuan yang tidak saling mengenal kaya gitu, saya sering larut dalam banyak pemikiran. 

Pagi ini, saya membayangkan bisa jadi satu atau beberapa perempuan dalam gerbong ini sedang menghadapi sesuatu yang berat sekali. Tak hanya sekadar pergulatan bulanan karena PMS. 

Apakah ada yang semalam ia digebuki suaminya sementara pagi-pagi sekali harus tetap berangkat kerja?

Apakah ada yang tidak mampu sarapan karena ia memastikan anak-anaknya berperut kenyang dahulu, ia hanya menahan lapar.

Apakah ada yang dicampakkan suaminya setelah berkali-kali disakiti?

Apakah ada yang sedang menahan lelah mengerjakan beberapa pekerjaan demi bisa membayar utang orang tua?

Siapapun itu. Semoga kalian diberi kekuatan dan hati yang tangguh.

Ada banyak cerita di gerbong ini. Yang menguap bersama angin yang direbakkan kereta. Yang mendingin diterpa putaran kipas dan AC yang berpadu-paduan. 

Wahai perempuan, kita bisa, kita kuat. 

[Day #10] Ahsyeeemm! 

Iya, asem. 

Saya paling gak tahu cara menikmati buah bernama kedondong. Udah mana keras. Dimakannya pun bingung. Dikupas susah. Mana pake acara dijepit di pintu segala sebagai alternatif mengupas kedondong ini. 

Eh bener loh, jarang banget pula nemu kedondong yang manis. Atau emang saya gak niat aja nyarinya hihihi. 

Seumur-umur emang belum pernah sengaja beli kedondong. Kesempatan saya ketemu palingan pas beli rujak. Udah, itu doang.

Sebetulnya saya suka sih segala jenis buah asal gak asem banget atau busuk hihihi. Malah saya seneng berpetualang rasa. Nyobain rasa buah-buahan yang ada. Apalagi Indonesia negara tropis di mana buah-buahan lebih banyak dan warna-warni. 

Tapi kedondong, ya gitu deh. Maaf ya kamu. *sungkem sama kedondong dong.

[Day #9] Bilangan Umur Hanyalah Angka?

Saya paling empet kalo ada yang bersikap sok-sokan ketika mendapati dirinya lebih senior, lebih tua, dan merasa lebih tahu segalanya. Apalagi pas masa-masa ospek ya? Duh! 

Dari dulu, saya paling gak suka dengan prinsip bahwa yang lebih tua adalah yang lebih boleh ini-itu dari yang junior. Apalah arti sebuah angka yang berderet dan dinamakan umur. Gak jamin juga lebih dalam segala hal. Lebih banyak kerutan sih iya. #eh

Sering juga gak kita ketemu sama anak muda bahkan anak kecil yang justru lebih bijak, lebih tahu, dan lebih lebih lainnya. 

Hal ini menjadikan saya ketika SMA lebih senang bergaul dengan kakak kelas. Bukannya gak kapok dan takut diomelin pas ospek sih, tapi saya lebih mudah menghormati mereka yang lebih tua tapi gak mint dihormati. Saya merasa sejajar dengan mereka. 

Itu pun terbawa ketika kuliah. 

Ah ya, memang kalau dalam pengalaman walau yang tua belum tentu lebih banyak ngalamin, setidaknya mental tua mereka bikin jadi lebih seneng ngasih tahu dengab sukarela. Ya siapa sih yang nolak dikasih ilmu. Yekan?

Pokoknya kalo ada yang merasa senior dan sok-sokan, ya gak usah berhadapan sama saya lah. Gebok nih! Hihihi.