Kadang Kesibukan Cuma Alasan

Seorang teman kantor saya bilang begini. 

Kalo kerjaan sehari-hari lo itu menulis, blog pasti terbengkalai. Eneg tau udah ngurusin tulisan punya kantor tiap hari. Pas ngeblog ya ngeblank.

Ya emang kebayang sih. Boro-boro pengen ketak-ketik. Mikir mau nulis apa aja rasanya udah males. Yang kebayang abis upload kerjaan kantor trus bobok. Macam bayi yang udah kenyang mimik ASI trus pup, tinggal tidur.

Padahal platform blogging sekarang udah makin easy use. Gak perlu buka laptop. Tinggal buka aplikasi di smartphone. Blogging macam nulis status FB atau Twitter. Klik send, jadi deh postingan.

Cuma ya psikologi orang eneg kan macam kita lagi mabok darat. Kalo mual dikasi steak mahal atau cowo ganteng juga yang kepikiran cuma satu: cari tempat muntah hahahahha. 

Itulah kenapa saya masih kagum sama blogger yang rajin banget nulis. Padahal saya tahu dia sibuknya macam gasing. Hebatnya lagi, yang ditulis bukan “kerjaan” sampingan. Macam review produk atau endorse. Tapi beneran macam penulis kolom. Aih, saya mudah jatuh cinta sama mereka yang ‘jadi dirinya’ sendiri saat bertingkah di dalam blognya. 

Menelusuri jejak pikirannya. Melihat mereka menyusun ide dan alur cerita. Memahami sudut pandangnya akan isu atau hal meresahkan yang ia tangkap dalam kesehariannya.

Saya jadi terpacu untuk tetap menulis di sini. Walau belakangan postingan saya cuma kaya orang ‘muntah’. Miskin data. Fakir ide. Menyedihkan? Nggak. 

Soalnya saya masih percaya. Selain Tuhan, menulis bisa diandalkan ketika berbincang dengan sesama manusia terasa tak lagi cukup. Semoga waktu saya cukup. 

Advertisements

Hening Saat Genting

Menemukan ketenangan saat kondisi santai, bisa jadi lebih mudah. Walau ya ada juga yang masih kesulitan. Tapi bisa tetap damai ketika sekeliling ingin menindasmu dengan kecepatan penuh, ini baru luar biasa. 

Ya, gak? 

Gimana bisa tetep kalem saat kerjaan ini minta cepet dikelarin. Di detik yang sama, tim minta koordinasi dan bantuan. Lalu household things minta perhatian juga. Situasi ini terasa familiar, bukan?

Toss!

Hasil yang paling cepet kerasa adalah: kepala penuh. Tapi diurai juga susah. Kang pijet…mana…kang pijet. Hahahha. Kalo kepala udah pengang, pikiran sulit fokus. Nah kalo udah gak fokus, sistem tubuh jadi nge-hang. Output-nya: muka begok gak ada ekspresi. 

Sudah setengah bulan saya mulai jadi  freelancer tipe kerjaan yang gak santai. Seminggu pertama, mode muka begok ini berlangsung. Seminggu kedua mode kepala berasap dan pengen guling-guling muncul.

Hal ini kontras banget sama kondisi sebelumnya. Perbandingan kerja dan menikmati hidup itu kira-kira 30:70. Saya masih sempet masak enak. Sempet yoga 2 kali seminggu bahkan ikut kelas zumba juga. Masih punya kesempatan leyeh-leyeh di kasur sambil nonton iFlix. Hidup indah. 

Demand pekerjaan yang sekarang lebih tinggi. Kabar baiknya salary lebih lumayan dan saya suka jenis pekerjaannya. Tapi saya belum menemukan ritme yang nyaman. 

Nyaman gimana?

Saya gak mau sampai pekerjaan jadi prioritas tertinggi dalam hidup. Balance, itu yang diinginkan. Masih punya waktu keluarga, dengan teman, dengan hobi. 

Thanks God, aku kenal sama yoga sebelumnya. Kupikir cuma pas sholat dan yoga aku punya “rem”. Semacam sarana di mana saya mengizinkan tubuh, pikiran, dan jiwa saya “terlepas” sejenak dari rongrongan di luar diri. 

Menghadirkan hening. Membuat pikiran dan jiwa menjadi bening. Menyilahkan energi selaras lagi. Menumbuhkan kesadaran akan tujuan dari setiap hal yang sedang dijalani. 

Di yoga, saya berkomunikasi dengan diri, berterima kasih pada diri. Di sholat, diri saya berkomunikasi dengan pemilik jiwa, berterima kasih pada Sang Maha Baik. 

Ini semacam kebutuhan. Kegiatan yang kalau diibaratkan seperti ajakan, “Yuk, Neng sinih selonjoran dulu,” ketika kita tengah terengah-engah berlari.

Dan hening….datang lagi. 

Hilang

COPETIzinkan saya bercerita agak panjang. Tentang perjalanan saya dari rumah ke kantor. Terdengar biasa, ya? Kalau punya waktu lanjutkan. Kalau nggak, tinggalkan aja blog ini.

Pagi itu, saya juga berharap perlintasan saya dari Bekasi ke Terminal Pulo Gadung biasa saja, naik bis tiga per empat–sejenis Kopaja, yang terkenal dipanggil TIGER, singkatan TiGa pER empat–mendengarkan playlist “Naik-naik ke Puncak Gunung” yang berisi lagu-lagu penuh semangat, dan tentu saja dalam suasana berdesakan bersama puluhan penumpang lain.

Namun Tuhan menambahkan yang biasa saya waspadai namun luput juga dari perhatian saya, yaitu alert dengan pencopet, pelaku pelecehan seksual, maupun pihak yang membawa senjata tajam. Ya, hari ini saya kecopetan. Smartphone Blackberry (BB) yang sudah mengakrabi tas saya selama 3 tahun, berpindah tangan. Masih terdengar biasa saja, ya? Toh, bisa jadi kalian yang membaca juga pernah kehilangan barang yang sama. Tapi boleh ya saya sekadar mengeluarkan apa yang ada di kepala agar lebih terasa lega.

Begini ceritanya.

Ketika naik Tiger, suasana mini bus ini memang sudah penuh. Saya masih bisa berdiri dekat pintu. Setelah masuk tol, seorang bapak menyarankan saya agar naik agar lebih aman. Jadilah saya berdiri di lorong Tiger dengan tas yang saya sampirkan talinya di bahu kanan sambil didekap. Di depan saya, ada seorang ibu sedang menggendong anaknya. Di kiri saya, ada seorang mba yang sedang sibuk memaikan BB-nya. Di belakang, bapak tambun berjaket kulit berdiri membelakangi saya. Lalu di kanan, pria usia 20-an berjaket krem yang mencanglongkan tasnya di depan dadanya. Setelah kenek bis memanen ongkos dari para penumpang, semua pun terhanyut dalam pikirannya masing-masing dan jarang ada lagi yang sibuk membuka tas untuk mengambil ongkos.

Tiba-tiba, di tengah tol ada suara seperti ritsleting (penulisannya begitu, dari bahasa Belanda “ritssluiting”, seperti pada KBBI terbitan Pusat Bahasa edisi 4, 2008, hlm. 1178, eh ini apa sih malah bahas bahasa) yang ditutup, “Sreeet,” begitu. Saya jadi otomatis mengecek tas saya yang juga memiliki ritsleting. Ah, tertutup. Aman.

Namun naluri saya berkata bahwa saya harus mengecek tas. Oleh karena kondisi Tiger yang penuh sesak saya hanya mengecek sekilas dan tidak menemukan BB di dalam tas. Saya mulai curiga, namun tak bisa teriak karena saya merasa belum mengecek secara detail. Terlebih saya khawatir pelaku membawa senjata tajam dan melukai penumpang Tiger. Saya hanya mencoba menghapalkan muka-muka yang dekat dengan saya. Entah kenapa. Pria berjaket krem terlihat rikuh dan saya pandang lekat-lekat matanya.

Di pintu Tol Cakung, beberapa penumpang turun. Ya, memang biasanya juga begitu. Saya pun akhirnya bisa duduk karena turunnya penumpang menyisakan beberapa bangku kosong yang juga diduduki oleh penumpang yang asalnya berdiri. Dan lorong Tiger pun kosong. Pria berjaket krem ini pindah ke bangku belakang, saya pikir dia mau turun. Tapi ngapain susah-susah ke belakang toh pintu depan lebih dekat. Saya berpikir oh dia mungkin mau bertemu dengan temannya.

Tak lama, seorang perempuan muda yang mengenakan ransel besar dan tas laptop di tangannya teriak, “Dompet saya ilang!”. Tiba-tiba memori otak saya bekerja. Teriakan itu seakan mantra yang memunculkan kembali ingatan di kopaja yang saya tumpangi 1 tahun lalu. Ada keributan di belakang kopaja karena ada yang kehilangan telepon genggamnya dan beberapa pria mengerubutinya sambil bertanya ini-itu. Selang berapa lama, penumpang depan ada yang kehilangan dompet. Saya cepat-cepat memeriksa secara saksama isi tas yang ada di pangkuan. Benar, BB saya hilang. 

Saya kemudian melihat perempuan muda itu teriak, “Aduh bapak-bapak tolong saya, saya panggil polisi nanti!”.

Ya, polisi! Karena merasa saya juga kehilangan BB, sontak pandangan saya menyusuri jalan di sekitar Tiger yang masih berjalan. Untung saja, ada 2 orang polisi lalu lintas yang sedang bertugas. Wajah saya sumringah. Saya langsung melongokan ke jendela dan memanggil “Polisi! Tolong!”.

Setelah saya minta supir Tiger untuk menepikan kendaraannya, saya melihat perempuan muda itu ekspresinya dari panik menjadi takut. Begitu pula beberapa penumpang yang khawatir akan terjadi keributan akhirnya memilih turun dan mencari kendaraan lain. Merasa takut pencopetnya kabur, abang-abang ojek yang ada di sekitar situ dan saya meminta pada polisi untuk menahan penumpang karena bisa jadi salah satunya adalah pelakunya.

Saya turun dari Tiger. Polisi menanyai saya, “Mba mencurigai siapa?”.  Tak ragu saya menunjuk pria berjaket krem, “Dia, saya mencurigai dia.” Ia pun ditarik turun dan digeledah pakaian dan tasnya. BB saya tidak ada.

Pria berjaket krem menggerutu, “Saya kan bantuin Mba tadi yang kehilangan dompet kenapa saya yang dituduh?”.

Polisi berpakaian preman pun membantu menelepon nomor saya, dan masih tersambung namun karena nada getar, jadi tak langsung terdengar.

Saya bilang sama polisi, “Saya rasa pencopetnya tidak sendiri, dan barang saya sudah berpindah tangan. Geledah saja semuanya.” Polisi setuju, setelah saya meminta waktu dan kesedian seluruh isi bus, polisi menggeledah semua penumpang.

Ada beberapa ibu yang minta izin untuk pindah kendaraan segera karena urusannya penting. Si pria berjaket krem komentar, “Iya suruh pergi aja, gak mungkin kan perempuan yang nyopet”.

Lalu ada yang nyeletuk, “Lah tadi mba yang kehilangan dompet udah ketemu belum?”.

Polisi menanyai si perempuan beransel tadi dan hendak menggeledahnya, sontak ia bilang “Saya juga hilang dompet kenapa saya digeledah?” gerutunya sambil kemudian dia pergi. Tak terima, saya bilang ke polisi, “Kenapa dilepaskan?”

Belum sempat terjawab, salah seorang penumpang menanyakan seperti apa BB-saya. Saya dan polisi yang berurusan dengan perempuan beransel pun teralih perhatiannya.

Akhirnya, BB saya tidak ditemukan. Polisi pun berkata bahwa mereka sudah mengusahakan namun tak lagi bisa mengusahakan apa-apa.

Tiger pun melanjutkan perjalanan. Kemudian ada pria bermata sipit yang nyeletuk, “Lain kali hati-hati, Mba. Emang gak berasa ya, Mba?” Saya hanya mengangguk, malas menanggapi. Mental saya cape.

Mba yang duduk di depan (tepat di belakang supir) mengajak saya untuk duduk di sebelahnya.. Dia kemudian berbisik, “Orang yang kamu tunjuk tadi waktu polisi nanya memang pelakunya. Kata supir, orang itu masih sama temannya 2 orang di dalam kendaraan ini. Dua temannya sudah kabur. Mba coba lihat ke belakang, tapi jangan mencurigakan. Hapalkan wajahnya. Jadi lain kali naik Tiger, Mba harus ekstra hati-hati kalau liat wajah-wajah itu”.

Saya pikir ada baiknya. Dengan pura-pura memperhatikan jalan sekitar saya menengok ke belakang dan memasukkan profil para pelaku yang saya curigai ke dalam otak saya dan dilabel “harus ingat”.

Sampai Pasar Pulo Gadung, saya pun turun bersama satu mba berjilbab yang kemudian naik angkot yang sama dengan saya. Dia bertutur begini, “Mba, salah satu pelakunya adalah yang duduk di sebelah saya, itu loh yang matanya sipit.”

Oh pria bermata sipit yang tadi mencoba beramah-tamah sama saya. Hmm…

“Waktu di pintu tol, saya melihat mas yang matanya sipit memungut sesuatu dari bawah, padahal tak ada barang dia yang jatuh. Itu rupanya BB Mba sedang dialihtangankan,” lanjutnya.

“Saya merasa awalnya saya yang jadi sasaran. Namun ibu berseragam guru di depan saya yang sedang berdiri dan sering naik Tiger bareng menatap saya dengan tatapan berbeda seakan memberi kode agar saya lebih berhati-hati. Saya kekep tas saya erat-erat,” tuturnya.

Ia kemudian mengutarakan analisisnya, “Mba yang kehilangan dompet saya rasa gerombolan mereka. Buktinya. Si orang yang Mba tuduh menegaskan bahwa perempuan gak mungkin nyopet, sesaat Mba minta sama polisi untuk digeledah”.

Ya! Seperti yang saya duga.

Saya menyadari bahwa nurani itu selalu benar. Semua kecurigaan saya bukan tanpa alasan. Dan tentu saja saya harus lebih berhati-hati. Saya ikhlas barang yang saya miliki berpindah tangan.

Salam hormat setinggi-tingginya untuk 2 polisi lalu lintas, 3 orang polisi berpakaian preman yang sudah sigap membantu.. Setidaknya, polisi tersebut tidak seperti kisah saya saat kemalingan laptop di sini. Masih ada polisi yang baik. Syukurlah masih ada.

Walau jujur, saya jadi takut beredar di trayek tersebut karena khawatir mereka mengingat wajah saya dan kemudian menyakiti saya. Semoga hal buruk ini tidak terjadi.

Dua hal yang saya syukuri, tidak ada korban jiwa dan semua penumpang selamat (termasuk pencopetnya). Serta saya diberi kesempatan untuk berjuang untuk mencari barang saya dan hadirnya polisi yang membantu. Setidaknya saya bisa bilang sama diri sendiri bahwa, “Sudah, kamu sudah berusaha dan memilih gak menyerah begitu saja”.

Anggap saja saya kurang sedekah, dan perlu lebih banyak bersyukur.

Hati-hati ya, kawans. *nadahin tangan terima BB baru* 🙂

Melambatlah, Kawan

slow-down…cerita waktu dulu, di suatu pagi dengan kaos kutung, celana pendek, dan teh dalam mug favorit…

Saat ini saya sedang duduk di meja kerja si Ayah. Sedari pagi sudah sibuk ketak-ketik kirim email, nulis, dan browsing ini-itu. Kemudian di satu titik, saya menyadari bahwa siang ini terasa bening.

Matahari terlihat ceria, sinarnya yang kemilau menyelimuti tiap detil pandangan. Kicau burung, entah apa jenisnya, ternyata masih ada saja yang berkicau.  Sesekali terdengar sayup-sayup suara bocah dari bimbingan belajar balita di depan rumah melapalkan nama-nama huruf dalam sebuah lagu. Kemudian hening, hanya bunyi tik-tik-tik dari jam meja kecil.

Bagi saya ini luar biasa. Kenapa? Karena hening yang biasa saya rasakan hanyalah ketika di kantor ketika semua orang sibu memelototi monitornya. Suasanya membosankan, hanya dengung AC yang setia menyanyi di kala itu. Atau ketika malam hari saat semua orang sudah tidur. Ini pun biasanya tak sempat dinikmati karena mata berat digelayuti kantuk.

Saya merasa jadi norak sendiri.

Mungkin selama ini saya hidup dalam kecepatan penuh. Layaknya seseorang yang dibonceng dengan motor dan melahap jalanan dengan kecepatan 180 km/jam. Yang tampak di pandangan hanyalah sederet garis-garis lurus aneka warna, saking cepatnya.

Detik ini hidup saya melaju di 20 km/jam. Lambat, namun tetap bergerak dan sempat menyaksikan semesta.

Sesekali, melambatlah. Dunia tak akan jadi jungkir balik karenanya. Ada banyak warna dunia yang tak kan terlewati, ada beribu tawa yang bisa kau kantongi, ada banyak pesan hangat yang akan mampir di hatimu.

…Life is not measured by the number of breaths we take, but by the moments that take our breath away…

**Dipublikasikan pertama kali di ngerumpi.com pada 16 januari 2012

 

Pembalut dalam Angkot

Shut_Your_Mouth1“Iiiih, ada pembalut bekas di pojokan!” teriak teman kantor sambil menunjuk-nunjuk sesuatu di kolong dudukan angkot yang kami tumpangi.

Sontak semua penumpang–saya, dua teman saya, dan 3 orang ibu-ibu–langsung mencari-cari ‘ranjau’ yang dimaksud. Dan ya, memang ada pembalut yang terlentang dengan pasrahnya di bawah kursi seorang ibu. Refleks, si ibu pun pindah ke tempat lain, seakan pembalut itu bisa tiba-tiba melompat ke atas pangkuannya.

Jijik memang. Pembalut itu masih lengkap dengan darah di atasnya. Saya juga nyaris tidak percaya. Sebutlah bungkus minuman, kulit duku, bahkan muntah sekalipun masih wajar ‘menghiasi’ wujud interior angkot. Tapi ini…. mmm….ya, begitulah.

Setelah fase ebujut-dah-kaget-banget-gue selesai, seantero angkot kini sibuk berceloteh mengenai ‘gimana bisa tuh pembalut nangkring dengan manisnya di pojokan.

Ibu 1: Mungkin ada mba-mba lagi haid. Celana dalemnya longgar dan perekat pembalutnya gak kuat. Pas dia turun eeehh copot deh gak sadar. *dia pun ngakak sendiri*

Ibu 2: Orang gila ini mesti! Gila! Ngantongin pembalut bekas pake trus gak dicuci. Ditaro di angkot pas lagi sepi. Udah gila perempuan sekarang! *berapi2, dan kata gila entah berapa kali dia sebut*

Temen: Eh tapi, bisa aja semalem ada perkosaan di sini. Ya, pemerkosa kan gak mau tau perempuannya lagi haid apa nggak. Yang penting dia puas. Apalagi kan lagi marak perkosaan di angkot. *ibu-ibu pun bergidik*

Temen 2: Bisa aja sih. Tapi berapa sering sih perkosaan di angkot. Maap-maap nih ya. Bang sopir, ni angkot semalem sapa yang narik? Yaaa, namanya juga orang. Daripada di kebon yang becek dan dingin, bisa jadi ada pasangan gila ‘anu-menganu’ di sini. Ya karena sama-sama keburu nafsu, ampe lupa buang pembalutnya.

Dan…terus…terus…terus. Masing-masing seperti menunjukkan kepiawaiannya berimajinasi. Bisa jadi kalo ada lomba “1001 Ide Asal Pembalut di Angkot” maka tim angkot hore ini bakal juara. 😛

Pembicaraan pun menghangat dengan saling dukung menghujat pasangan yang having sex di angkot hanya karena “kebelet”. Atau pun yang seribu kali yakin pelaku hal tersebut pasangan tidak sah. Ujung-ujungnya? Ya, pembalut itu tetap di tempatnya. Mendengarkan dan diam dengan segala misterinya. Hahahahhaha…

Komentar itu wajar sih. Namanya juga orang ya. Hal yang menjadi berbahaya adalah jika komentar itu disponsori oleh asumsi pribadi. Mirip seperti asumsi para angkoters dalam insiden “pembalut tak bertuan” *bukan tuan ya, kan yang pake perempuan, aih dibahas*.

Bukankah asumsi itu di-drive oleh knowledge, pengalaman, dan masa lalu? Asumsi yang diyakini secara buta tanpa kemampuan dan keinginan mengonfirmasi ini yang agak mengkhawatirkan.

Layaknya riset ilmiah. Asumsi itu mirip hipotesis. Hipotesis-hipotesis ini kelak akan membangun sebuah fakta kesimpulan. Tapi gak semerta-merta prosesnya. Butuh pembuktian serta pengujian dengan beragam data dan percobaan. Ini proses mengonfirmasi.

Ya, walau manusia diciptakan dengan akal sehingga memiliki rasa penasaran dan kemampuan mengomentari dengan membuat asumsi pribadi. Jadi ya berasumsi bukan jadi hal haram lah ya. Ya itu tadi, asal gak terjebak dalam asumsi buta. Emang, dalam kenyataannya gak setiap asumsi bisa dikonfirmasi. Somehow, ada kondisi di mana pengujian dan pembuktian

Namun, manusia juga punya hati, yang jika bersih bisa jadi mampu memilah. Mana yang perlu jadi concern atau tidak. Mana yang perlu jadi perhatian untuk dipelajari atau dikomentari lalu terbakar emosi sendiri. Hebatnya, masih ada juga yang memilih sebuah isu jadi concern kemudian diikuti aksi nyata yang lebih memberi perubahan.

Karena pada akhirnya, komentar-komentar tentang “asal-muasal” pembalut tadi pun gak jadi apa-apa karena situasi gak jadi berubah, pembalut juga gak ada yang berani buang hahahaha.

Begitulah. So, jangan buang pembalut sembarangan ya *ini apaaa* 😀

Mengendarai Hidup

Sepulang kantor sore kemarin, saya gak berangkot ria. Gak bisa sok-sokan lagi membaca orang-orang asing di hadapan. Berkurang kesenangan? Saya pikir nggak. Kenapa? Soalnya saya terjebur dalam perbicangan hangat dengan dokter muda manis yang berbaik hati “mengangkut” saya sampai Jati Bening.

Namanya dokter Vani. Sesi pulang bareng tiap Selasa dan Kamis sama Vani selalu menyenangkan. Cerita-cerita dia sedang PTT, bagaimana akhirnya dia lulus dan disumpah dokter, sampai kenapa dia akhirnya merasa “kecemplung” di dunia dokter karena cita-cita masa kecilnya.

Nah, sore itu kami ngobrol ngaler-ngidul sampai akhirnya tersebutlah kisah seorang dokter muda juga bernama, mm…sebut sajalah Tiara. Dia bukan sembarang dokter. Sebelumnya saya tanya dulu deh, apa sih yang terbersit kalo disebut kata “mahasiswi kedokteran”?  Mungkin yang menjadi gambaran umum dari mereka adalah keren, gadget freak yang selalu punya yang terbaru, horangkayah, bersih-bersih, otaknya brilian, gonta-ganti mobil, dan…sehat serta baik tumbuh kembangnya. Ya, anggap ajalah sebagian besar begitu, ya.

Lalu apa istimewanya dokter Tiara ini?

Di tahun ke-empat dia menjalani perkuliahannya sebagai mahasiswa kedokteran ada beberapa dosen yang bilang gini sama dia, “Udahlah Tiara, kamu mending mengundurkan diri aja. Soalnya kemungkinan lulusnya kecil. Orang normal aja susah banget lulus jadi dokter.” Mungkin kalau si dosen ini bicara dengan mahasiswa yang pemalesan tingkat dewa atau yang intelegensinya tiarap masih agak wajar, ya. Tapi Tiara ini tidak berada di kondisi tersebut. Mau tau alasan di dosen judging seperti itu?

…karena Tiara mengidap multipel sklerosis.

Ini merupakan penyakit yang menyerang saraf. Beberapa kali Tiara mengalami serangan. Nah kalo sudah gini, biasanya dia kejang-kejang, napas susah banget, badan lumpuh sebagian, wajah jadi kurang simetris dan tidak normal. Serangan tersebut mengharuskan dia dirawat intensif di rumah sakit.

Tentunya profesi dokter dan pengidap multipel sklerosis merupakan kombinasi yang tidak biasa, bukan?

Ditambah lagi, apa yang dihadapi mahasiswa kedokteran itu berat banget. Di sela-sela kuliah dan hapalan yang seabreg, mereka juga harus jaga malam. Bahkan menurut penuturan dr. Vani, banyak yang malemnya jaga besoknya wisuda pake baju yang semalem dipake. Kan biasanya yang laen nyiapin kebaya beberapa bulan sebelumnya dan nyalon di subuh hari. Buat mereka, itu udah gak penting. Wisuda dengan mata beler, udah biasa. Ada lagi, temennya yang baru melahirkan  2 hari yang lalu, udah stand by jaga malam. Tidur 1-2 jam sehari udah jadi cemilan mereka. Bisa bayangin gak Tiara ini gimana jalaninnya. Di sela jumpalitan, tangannya selalu dihiasi infusan dan tempat nyuntikin obat. Suntik sendiri bahkan. Kalau sedang nggak bisa jalan ya pake alat bantu.

Selama menjalani perkuliahan dia beberapa kali kena serangan. Sempat dia udah pake alat bantu segala macem, lalu kehilangan kemampuan berbahasa Indonesia. Jadi dia bisa paham orang ngomong, tapi cuman bisa membalas dengan bahasa Inggris. Konon, kata dr. Vani, area yang bikin kita bisa bahasa Indonesia dan Inggris itu beda titik. Nah, Tiara ini keserang area bahasa Indonesianya.

Itu masih mending. Dia juga pernah kena serangan sehingga dia frustasi karena ia mampu mencerna kata orang tapi dia membalas dengan omongan yang bunyinya cuman “cepetang…cepetong…cepetang…cepetong”. Duh….

Tapi…akhirnya…..dia lulus!

Sehabis lulus dia ikut PTT di luar Jawa, di desa pelosok Tanah Air (lupa tempatnya di mana). Selama 3 bulan dia praktik di sana, wah tempat dia mangkal jadi rame. Semua sayang banget sama dia. Bahkan seharusnya dia menjalani layanan penjara (cek kesehatan para napi) sebanyak sebulan sekali, dia rela dateng dua hari dalam seminggu. Atas dasar kasih sayang.

Sampai suatu waktu dia izin kembali ke Jakarta pas baru 3 bulan di desa, ada urusan katanya. Taunya, pas di Jakarta dia kena serangan lagi. Semua warga desa kehilangan. Dia gak ingin warga desa tau kalo tidak kembalinya dia ke sana karena sakit. Oleh karena ada beberapa pihak yang menghembus-hembuskan gosip kurang baik akan hal ini, akhirnya ada yang memberi tahu faktanya ke Kepala Dinas setempat dengan diperkuat surat dari Tiara (itu juga mau nulis karena dipaksa). Semua kemudian nangis…..

Sekarang Tiara lagi menjalani S2 di Belanda. Mendapat beasiswa yang ia raih sendiri di umurnya yang ke-25 tahun. Padahal biasanya penderita multipel sklerosis paling lama bertahan hidup sampai 25 tahun. Hebat, ya.

Selama mendengar kisah ini dari dr. Vani beberapa kali saya tertegun. Malu rasanya. Dia dengan segala keterbatasan bisa mematahkan apa yang orang label terhadap dirinya. Dia tangguh. Seperti apa kata Albert Einstein pada gambar di atas, Tiara memilih untuk terus mengayuh “sepeda” kehidupannya.

Dan terus melaju…..

Kamu?

Membaca Orang-orang

Tempo hari saya dan Buntal menghabiskan waktu berdua nonton HBO. Film yang disajikan adalah film Johnny English: Reborn. Ada yang pernah nonton gak? Pemeran utamanya si English ini dimaenin sama yang jadi Mister Bean. Bedanya di sini dia jadi agen rahasia. Tapi ya namanya juga dia ya, tetep aja genrenya komedi. Komedi sepi dengan lucu yang elegan, kalok menurut saya yang amatir ini. Cuman saya gak pengen bahas filmnya sih.

Jadi mau ngomong apa, Vei?

Ada satu tokoh yang menarik perhatian saya. Dia adalah Kate Summer, seorang behaviour psychologist. Dalam film itu, dia ceritanya bisa “membaca” karakter ataupun kepribadian orang melalui gerak-gerik simpel. Seperti misalnya, kalo orang keliatan suka sama lawan bicaranya maka pupilnya akan membesar. Itu contoh kecil sih, lainnya banyak dan bikin amaze.

Gak tau ya, saya suka amaze sama orang yang pintar “menelanjangi” lawan bicaranya tanpa merasa terintimidasi. Bahkan tanpa diketahui sama yang dibaca. Ngehe emang ya jagonya hahhaha. Beda sama orang yang emang punya gift bisa membaca pikiran. Itu kan gak perlu belajar, tetiba aja bisa. Kalau behavior psychologist ya hasil belajar dan praktik beratus-ratus orang.

Terlebih saya punya hobi mengamati gerak-gerik penumpang di angkutan umum yang saya tumpangi. Bukan, bukan niat mau nyopet 😀 tapi suka wondering mereka ini seperti apa sih aslinya. Itulah kenapa saya sering memberitakan selayang pandang di Twitter. Entah misalnya pengamen yang nyentrik, mba-mba yang ngiler kalo bobo, atau mas-mas ganteng wangi yang memesona. Kalo yang terakhir mah saya genit aja sik *grin*.

Kaya dua hari yang lalu waktu saya naik angkot ada seorang mba bermuka pucat dan panik sedang sibuk mengubrek-ubrek semua isi tasnya. Ya mukena, ya celana dalem, ya catetan apalah itu belerakan di lantai angkot. Dia baru aja dicopet. Kasian sih karena si mba merupakan pendatang dari seberang Jawa. Akhirnya semua penumpang urunan uang, setidaknya dia bisa sampe di tempat tujuannya di Jakarta. Dan saya di sela-sela kepanikan si mba masih aja gitu sempet mengira-ngira dia anak ke berapa, mau apa ke Jakarta, dia bohong apa nggak, dan lain-lain. Hhihihihi, ya maaappp kakaaa…

Lalu, saya nyambung lagi naik angkot yang lainnya. Di saat sibuk merogoh-rogoh recehan buat ongkos, tetiba ada seorang bule nenek-nenek pake baju kutung bergambar logo bir binang segede gambreng yang dipadukan dengan celana pendek banget plus sneakers. Wow…. Kemudian otomatis saya (sok-sokan) lagi membaca si nenek.

Turun dari angkot saya nyeberang nih ceritanya. Di depan sebuah rumah ada mas-mas lagi bukain gerbang karena mobil entah punya siapa mau keluar dari rumah itu. Gak ada yang aneh, awalnya. Mas itu ngegemblok tas item di depan. Setelah diliat lebih saksama, ternyata itu bukan tas sodara-sodara! “Tas” itu berbulu lebat…berkepala…bermulut…dan…hidup. Yak, simpanse! Tau lah ya selanjutnya gimana. Pilihannya:

a. “Membaca” si mas-mas

b. Masuk ke dalam mobil itu, kemudian pingsan

c. Nyuci kolor mas-mas

Etapi saya mah gak bisa sih baca kelakuan orang. Jadi gak usah parno ya kalo suatu saat ketemuan sama saya. Tapi plis…jangan bawa simpanse! 😀