#JejakRamadhan: Malaikat yang Bertangan di Bawah


Di Ramadhan kali ini, saya menemukan Tuhan kerap mengajak saya ngobrol-ngobrol-cantik. Saya tahu, remah-remah hikmah mulai tersuguh karena saya yang memulai. Sebab, Tuhan selalu ada, menunggu, dan memebuka pelukannya lebar-lebar tiap saat. Cuman sayanya aja yang kerap gak peduli, sombong, atau lupa. Dan ketika saya mulai menoleh, Ia lalu menyajikan banyak sekali sajian legit di Ramadhan ini.

Dulu, ada sebuah scene yang begitu saja mampir di hadapan mata. Saat kejadian itu tergelar, perasaan saya hanya… hmm-well-nice. Just it. Namun kejadian itu seakan berkepompong lalu menjelma menjadi kupu-kupu indah di Ramadhan ini. Terlebih setelah membaca Malaikat Muncul di Deket Kantor Ane..!!!!!. Artikel itu semacam pemantik kepompong scene agar mempercepat munculnya mahkluk bersayap cantik. Ini kisahnya.

Di suatu siang yang sangat terik, saya sedang duduk di sebuah Kopaja yang tak terlalu padat penumpang, namun tak juga bisa dikatakan kosong. Ketika hiruk-pikuk di dunia virtual yang tersuguh dari ponsel saya kian menarik, mendaratlah dua buah kertas lusuh seukuran HVS di pangkuan saya. Setelah celingak-celinguk, ternyata seorang bapak pengamen tualah yang memberikannya. Sembari mendengarkan ia bernyanyi, saya mulai menelaah apa isi tulisan di kertas itu.

Jika para seniman jalanan yang mengedarkan amplop menuliskan singkat saja bahwa mereka membutuhkan bantuan untuk uang sekola atau uang makan, si bapak ini menulisnya dengan sangat detail. Lembar pertama merupakan rincian keperluan sehari-hari yang mencakup dirinya, istri, dan kedua anaknya. Masing-masing berbeda rinciannya. Untuk anak terkecil ada keperluan beli susu, untuk kakaknya butuh uang SPP, dan lain sebagainya. Sampai serupiah-rupiahnya dituangkan. Sekilas jika dilihat mirip dengan hitung-hitungan kasbon di sebuah warung.

Masih di halaman yang sama dia menempelkan foto kopi KTP dirinya dan sang istri. Mungkin KTP ini didapuk sebagai juru bicara bahwasanya dia orang baik-baik dan tak berniat menipu.

Lanjut ke halaman kedua. Isinya adalah surat keterangan tidak mampu yang dikeluarkan oleh pejabat pemerintah setempat. Berada satu wilayah dengan alamat yang tertera di KTP-ya. Di bawah surat tersebut ia menuliskan bahwa ia sudah mencoba segala jenis pekerjaan. Namun belum mencukupi karena penghasilannya sangat minim. Akhirnya ia menjajal mengamen untuk menyambung hidup keluarganya.

Oke, sekarang kita beralih ke penampakan si bapak tua. Siang itu ia mengenakan kaus (yang sudah susah jika dikatakan) putih. Dengan tambalan di sana-sini. Sepatu olahraga yang tak lagi layak pakai. Tutur katanya sopan, tak berlebihan, karena kadang banyak pengamen yang suka ‘banyak omong’ dan terkesan menggurui. Tidak dengan bapak ini.

Baiklah, rasanya mungkin tak sayang jika memberikan sekadar seribuan untuk pengamen yang sudah berusaha tampil ‘plus’ ini. Sekilas, cukup banyak orang yang menyisihkan recehan untuknya. Entah itu limaratus atau bahkan seribu.

Setiap ia mendapatkan uang dari penumpang ia berucap “Alhamdulillah ya Allaah, semoga semua doa yang baik untuk bapak/ibu/mba/mas ini” dengan wajah yang teramat khusyu dan penuh syukur.

Lalu tiba-tiba, di lampu merah Kopaka berhenti sejenak. Ada seorang pengemis buta yang meraba-raba badan Kopaja dan berusaha naik dengan susah payah. Si bapak yang juga sama tuanya ini mencoba mengangkat si pengemis. Sesaat pengemis ini mengedarkan topi bututnya ke semua penumpang. Saya dapat melihat semuanya dengan jelas karena duduk di bangku paling belakang. Tak banyak yang memberi pada si pengemis. Pun demikian saya. Ah, toh saya udah bersedekah pada si bapak pengamen.

Tau-tau si bapak pengamen mengeluarkan uang 5000 rupiah (bukan 500, lihat nolnya ada tiga) dan memberikannya pada sang pengemis buta!

Jika mengingat itu semua sekarang, ya Tuhan. Bapak pengamen yang berkesusahan, yang tak lapang rezekinya saja masih bisa bersedekah. Dan nilai sedekahnya melebihi apa yang saya berikan. Tak terhitung nilai kebaikan yang dikucurkan pada bapak pengamen. Bukankah keutamaan yang lebih tinggi jika bersedekah di saat sempit dibandingkan sedang lapang?

Mungkin apa yang saya saksikan dulu itu dengan kakek yang diceritakan pada link di atas merupakan malaikat yang sama. Hadir untuk saya. Untuk memperlihatkan bahwa para adanya peminta-minta, pengamen, anak yatim, dan orang cacat itu diturunkan oleh Tuhan sebagai fasilitas bagi saya untuk berbagi. Untuk selalu menyucikan niat ketika memberi. Terlepas motif dan siasat pada beberapa oknum peminta-minta.

Lalu jika mereka memberikan kesempatan berbuat baik untuk kita mengapa mereka yang mengucap terima kasih? Mungkin sebenarnya kita yang harus berterima kasih dengan lebih lantang pada mereka.

Advertisements

#JejakRamadhan: Kelak Kau Sendiri Mengarungi Mati

alone


Sebetulnya lintasan ide tulisan ini nggak mampir pas Ramadhan. Namun ide ini minta ditulis dengan diperkuat oleh berita kematian yang setia dilantunkan oleh speaker masjid dekat rumah saya ketika Ramadhan. Nyatanya, hanya syetan yang dibelenggu selama Ramadhan, malaikat maut tak cuti dari tugasnya.

Jadi beberapa hari sebelum puasa, saya lagi rajin jalan kaki dari depan komplek sampai rumah. Lumayan jauh, butuh 15 menit dan ratusan langkah untuk bisa menyapa sarang saya. Apa yang paling enak untuk menemani perjalanan? Owh ya, tentu saja musik.

Musik dengan pesonanya bisa membuat pikiran larut dalam syairnya. Bahkan tubuh pun terhipnotis untuk bergerak selaras bit yang sedang diputar dalam kepala. Apalagi nggak jarang, perjalanan itu dilakoni sendirian di tengah komplek yang sudah sangat sepi. Benar-benar sepi, kucing aja kadang malas menyembulkan kepalanya. Saat tombol ‘play’ ditekan, seluruh bumi sontak ikut larut berdendang.

Lalu, tiba-tiba baterei ponsel drop. Layar padam. Musik berhenti. Yang ada hanya saya sendiri…dalam gelap dan sepi.

Coba bayangkan. Di depan saya hanya ada jalan lurus yang panjang. Di beberapa spot lampu jalan tua sudah lelah menjalankan tugasnya. Gelap. Udara agak berkabut. Pintu bahkan jendela rumah sudah tertutup rapi. Tak ada siapa pun.

Yang berkelebat dalam hati bukanlah rasa takut akan hantu ataupun orang jahat. Kesendirian di tengah jalan yang lengang tanpa siapa pun dalam ini menyiratkan tanya di benak saya: Ya ampun, kalo saya udah mati apakah akan sesepi ini?

Lalu saya membayangkan yang sedang berjalan ini bukanlah badan melainkan ruh saya. Ruh yang sudah habis masa kontraknya di dunia. Saya memang belum pernah mati. Namun, apakah saya akan begitu saja mempercayai diri ini sudah mati jika kelak kehidupan tak lagi bersemayam dalam diri ini? Jika bayi lahir saja menangis ketika berpisah dengan alam rahim, respons apa yang akan saya alami ketika sadar diri ini sudah tak lagi menjejak bumi?

Sungguh, di malam itu saya tiba-tiba merasakan sepi yang teramat sepi. Sendiri yang teramat menyakitkan. Namun saya masih mungkin akan sampai di rumah, ada yang membukakan pintu, ada yang menawari mau dibuatkan teh atau tidak, bertemu dengan buah hati yang mengahmburi saya dengan pelukan. Lalu apa yang terjadi jika yang sedang berjalan menuju rumah ini hanyalah ruh tanpa jasad. Mungkin saya bisa begitu saja masuk rumah namun yang paling menyesakkan dada adalah….tak ada yang menyadari kedatangan saya.

Kesadaran lalu menyergap saya. Menyisakan sebuah nada bicara yang memelas. Ya Tuhan, kelak saya akan sendiri. Sendiri menghadapi maut. Sendiri menghadapi sosok-sosok yang belum pernah saya temui di mana pun. Sendiri menjalani tahapan perjalanan setelah kehidupan. Siapa yang akan menemani? Siapa yang akan menerangi jikalau jalan yang terbentang demikian gelap?

Serentet pertanyaan itu menjadi ‘oleh-oleh’ yang saya bawa sesampainya di rumah. Lalu tak lama dari hari itu saya menemukan jawaban.

Sumber jawaban ini saya dapat dari mana-mana (sila cari sendiri untuk detailnya). Setidaknya ini yang saya imani, setelahnya. Konon, setelah kematian, amal-amalan kita akan mewujud menjadi makhluk-makhluk. Jika amalnya baik makhluk itu akan enak dipandang dan memperlakukan kita dengan baiknya. Begitu pun sebaliknya. Dan sungguh tak ada yang menemani kita dalam menjalani kehidupan pasca kematian. Selain itu tadi….makhluk yang kita ciptakan sendiri.

Pertanyaan membuahkan jawaban. Lalu jawaban menelurkan kembali serentetan pertanyaan. Satu yang langsung menohok. Lalu, makhluk jenis apa yang akan menemani saya, kamu, kamu, dan kamu kelak?

#JejakRamadhan 2: Ini Zahra, Anak Kebanggaan Saya

Hei hei semua. Gimana puasanya? Bukaannya enak? Boleh bagi? Soalnya 2 hari puasa ini, saya belum berkesempatan ‘jajan-jajan cihuy’ bukaan khas Ramadhan. Pas buka, selalu pas di bis. Tapi, alhamdulillaah ya *ala Syahrini :D* masih bisa berbuka dengan (tampang) yang manis. 😀

Di #JejakRamadhan kali ini, saya ingin bertutur mengenai suatu scene yang tersuguh di malam tarawih. Lagi-lagi tarawih, ya. Rahmat dan hikmah memang berasa menderas di tiap malam Ramadhan. Begini adegannya.

Setelah salim-salim sama tetangga selesai witir, saya lantas tergopoh-gopoh keluar mesjid mencari Air, anak saya, yang jalan duluan nyelip-nyelip trus menghilang dari pandangan. Dengan langkah besar-besar saya mencoba menerobos gerombholan jamaah masjid.

Tiba-tiba ada seorang bapak bergamis putih dan berwajah teduh yang tengah berbincang dengan seorang ibu. Di depan si bapak terlihat satu gadis kecil berjilbab mungil. Si gadis kecil ini menyender di perut ayahnya, sementara sang ayah memeluknya dari belakang sambil sesekali mengusap-usap kepala si anak.

“Eh, anaknya udah besar aja, Pak. Siapa namanya?” kata si ibu ramah. Si gadis kecil pun salim tanpa perlu disuruh.

“Ini Zahra, Bu. Anak kebanggaan saya. Sholehah dan menyenangkan hati orang tuanya,” ujar sang bapak sambil memeluk anaknya lebih erat. Jujur, tanpa ada kesan pongah sedikit pun. Tatapannya penuh kasih dan hormat pada si gadis kecil. Tak ayal, ada semburat merah tomat di pipi gembulnya.

Seakan ada yang memaku saya di jalanan aspal ketika scene ‘manis’ itu tersuguh. Ada yang berpendar-pendar di dada ini. Entah apa. Senyum begitu saja mampir mengulas bibir. Apa yang pertama kali terbersit dalam benak saya, coba? Dia. Dia, Lelaki yang Lembut Hatinya dan Manusia Termulia Kekasih Pemilik Cinta.

Saya jadi ingat Rasulullaah. Betapa ketika masyarakat Makkah gemar mengubur anak perempuannya hidup-hidup, ketika gengsi dan rasa aman begitu meraja mengalahkan sebuah nyawa yang butuh dikasihi, Rasulullaah bersikap sangat menghormati anak perempuannya, Fathimah.

Cara si bapak itu memeluk erat sang gadis kecil, mengantarkan saya pada perangai Rasulullaah yang kerap menggendong Fathimah di bahunya, bercanda hangat, mengajari ilmu hikmah dengan penuh cinta, dan satu hal lagi. Rasulullaah bangga dengan anak perempuannya. Rasa bangga yang mencuat di kala semua bapak mencibiri anak perempuannya.

Bahkan, dijaganya hati Fathimah dari apapun yang berpotensi menyakitinya. Dengan lantang Rasulullah berkata, “Barang siapa yang mencintai dirinya, maka itu bukti kecintaan padaku. Barang siapa yang menyakitinya, maka itu sama dengan menyakitiku”. Terenyuh.

Rasa hormat dan cinta yang bapak berwajah teduh itu perlihatkan terasa bagai berkah. Kenapa? Karena setelah kebekuan saya mencair, ketika saya sadar harus kembali ke misi utama mencari Air, saya langsung berlari..terus berlari dan menghamburi Air yang ternyata sudah menunggudi depan gerbang rumah dengan pelukan hangat.

“Air, Bunda sayang dan ingin terus belajar menghormati Air,” bisik saya

“Bunda, aku nggak ngerti. Hormat kok nggak ada benderanya,” Air menimpali tanpa berontak dalam dekapan saya.

Ah, Nak.

Kalau detik itu adalah adegan di sebuah drama Korea, saya yakin tiba-tiba hujan rintik turun, dan kamera bergerak lambat menjauh ke atas.

#JejakRamadhan 1: Sedu-sedan Sang Imam Witir

Entah kenapa Deddy Mizwar selalu memprotes jika ada yang bilang Bulan Ramadhan ini dengan ‘bulan puasa’. Boleh jadi, itu karena puasa tak hanya dilakoni oleh umat Muslim. Ragam dan jenis puasa terpatri dalam risalah tiap kepercayaan. Ya, baiklah. Alhamdulillah, diri ini diizinkan untuk mencicip lezatnya Bulan Ramadhan 2011.

Ceritanya, tagar #JejakRamadhan ini akan berkisah mengenai apa yang terlihat di mata, terdengar di telinga, tercium di hidung, tersentuh di kulit, ataupun terasa di hati selama bulan suci ini. Ini kisah saya.

***

Baik, kisah ini bermula dari apa yang saya dengar ketika shalat Witir di tarawih malam pertama. Jadi, tetua di masjid ini punya kebijakan untuk menyenangkan hati semua orang. Dibuatlah 2 shift sholat tarawih. Untuk penganut 8 rakaat bleh lanjut witir 3 rakaat, nah yang kuat sampai 20 rakaat menepi dulu istirahat. Jika witir shift 1 sudah tunai, maka tarawih dilanjut kembali. Adil, ya?

Tapi bukan itu yang mau diceritakan di sini. Yang ingin dikulik adalah sang imam witir. Imam tarawih beristirahat sejenak sebelum lanjut. Nah, ada yang beda terasa di hati ketika sang imam witir mulai membaca Al-Fatihah.

Bacaannya biasa, bukan? Al-fatihah. Yang juga digaungkan berkali-kali oleh sang imam tarawih. Tapi di witir ini, surat tersbeut dilantunkan lantang tanpa dibelak-belokan seperti biasanya agar terasa cantik di kuping. Yang ini terdengar lurus dan mantap. Jika biasanya hati tersapu dengan alunan yang mendayu dari sebuah bacaan Al-Quran, kali ini tidak. Hati seakan tersentak dengan kelurusannya. Lalu mengajak untuk lebur dalam khusyu.

Di beberapa ayat, sang imam terdiam sejenak. Terdengar seperti sedang mengatur ragam rasa cinta ilahiah yang sedang menyerbunya. Isak tertahan kerap terdengar halus. Seperti orang yang sedang tenggelam dalam bah rahmat Tuhannya.

Sontak, saya menyimak sambil mengingat-ingat arti dari tiap ayat yang sedang dilantunkan sang imam. Sungguh, mungkin kebersihan hati dan kerinduan yang membuncah dalam diri sang imam kepada yang dicintainya membuat cahaya itu memendar di masjid kami.

Ayatnya tak asing, cara membacakannya pun sederhana. Tak perlu keindahan lagu jika nyatanya ia menangkap pelangi makna dari ayat yang ia lantunkan.

Allah, jika pertemuan dan rasa cintanya pada-Mu bisa membuatnya bergetar kala dilantunkan nama-Mu, lalu kehendak apalagi yang terbersit dalam hatinya selain-Mu?

Sekilas kabar, sang imam witir ini dulu punya perangai yang berbeda. Tepatnya seperti apa saya nggak tau. Namun perubahan besar terjadi ketika ia pulang dari berhaji. Mungkin ini yang dinamakan haji yang mabrur. Setelah kakinya menginjak Tanah Air, tak pernah shubuh di masjid kami alfa membangunkan untuk shalat tahajud, adzan pertama, adzan shubuh, atau membangunkan sahur jika Ramadhan tiba. Dan siapa orangnya? Beliau. kenapa saya tahu? Suara sang imam ini tiada dua. Lantang, tegas, dan ya..’mengganggu’ tidur orang yang enggan bangun untuk kemudian berwudhu.

Sungguh. Allah terang berbicara pada saya lewat sang imam. Bisa jadi apa yang terasa di hati saya seperti cerita di atas adalah berkah Ramadhan hari pertama untuk saya.

Ini kisah saya, apa kisahmu?