#Ramadhan1: Bye Satan, Hello Self!

Ramadhan menyapa lagi. Sudah dari dua hari kemarin, hawa-hawanya sudah berasa sekali. Aromanya. Semangat orang-orang. Apa ya, semacam pintu berkah dari Allaah sudah mulai bersiap dibuka. Menyenangkan rasanya. 

Saya dan keluarga dalam kondisi yang gak begitu baik dalam hal finansial beberapa bulan belakangan ini. Ada banyak kewajiban yang kami kejar untuk digenapi. Hingga, ketika orang bersiap banyak sekali untuk Ramadhan, saya menyiapkan hati saja. Di satu sisi, saya mensyukuri. Bukankah lebih sedikit yang perlu disiapkan?

Besar sekali keinginan saya bisa bercerita di penghujung hari semacam ini setiap hari. Tapi kita lihat saja nanti. Seberapa kuat. Dan seberapa niat hihihi. 

No Sahur

Hahaha. Ini silly banget. Di saat yang lain begitu semangat jalanin sahur pertama, saya serumah malah bangun jam 5! Alarm udah disetting di hape Air. Tapi entah kenapa gak kedengeran. 

Hape saya emang lupa ditaro di mana semalem. Yasudahlah ya, kita serumah pada gak sahur. Alhamdulillaah tapi kuat sik sampe buka.

Satu Juz Sehari saat Tarawih

Sudah dua tahun ini, masjid dekat rumah memberlakukan kebijakan surat yang dibacakan saat tarawih itu 1 juz per hari. Konon, warga sini sampai ‘sewa’ hafiz jadi imam tarawih. 

Saya sebetulnya lebih seneng surat-surat pendek aja. Bukan karena lebih cepet sih, tapi surat pendek itu bisa saya lebih hayati artinya karena apal. 

Selain itu, karena jadi lama saat baca suratnya agak biar sampe 1 juz, alhasil adegan sebelum ruku jadinya luamaaaa. Bukan pegel. Tapi jadi kaya ngasi celah ke pikiran buat jalan-jalan. Mikirnya menjelajah kemana-mana. Sahur apa, besok mau buka apa, kerjaan yang belum apa aja, mukena ibu di depan bagus amat. Hahahhaha…. 

Ada lagi. Saya kasian sama para sepuh dan anak-anak. Mereka jadi lama sekali berdiri padahal gak ngerti-ngerti amat yang lagi dibacain imam. Haishh.

Latihan Menghadapi Diri

Katanya selama Ramadhan setan dibelenggu. Artinya, segala goda dan kesalahan itu murni dari diri sendiri. 

So, buat yang selama ini bilang “musuh kita adalah setan”, coba sebulan ini liat. Tanpa kehadiran setan, dan gak ada yang bisa disalah-salahin, jadi sholeh gak? Kalau belum, ya berarti jangan-jangan kita setan berbentuk manusia. 

Itulah mungkin alasan Allah menghadirkan Ramadan. Biar kita tau benar kaya apa sih diri ini. Dan sejauh mana kita teguh menjadi yang lebih baik di mata Allaah. Semoga kita semua bisa sampe di sana ya. 

Dua menit menuju pergantian hari. Harus tidur. Biar gak bablas lagi pas sahur hahahaha. 

Sudah Senja, Tuhan


Balkon. Tempat sempurna paling maksimal untuk menikmati senja di rumah. Semilir angin. Lantunan orang mengaji. Langit yang memerah lalu meredup. Seperti sebuah pesta yang kemudian usai.

Sudah senja, Tuhan. 

Terima kasih kiriman hari barunya. Kesempatan yang tak semua orang bisa merasakannya. Sehingga berkesempatan mencicipinya dengan segala syukur adalah keharusan. 

Sudah senja, Tuhan.

Terima kasih untuk malam yang akan dijelang. Sebuah hadiah termanis untuk merasakan keheningan. Sehingga tenang menjadi kidung sebelum terpejam. 

Sudah senja, Tuhan.

Adakah kau bahagia melihatku saat tadi siang? 

Photo credit: Catching Magic

Teman Geliat-geliut

Izinkan saya bercerita tentang teman-teman yoga yang setia keringetan bareng sampe sekarang. Merasa belum mumpuni cerita tentang yoga itu sendiri, setidaknya saya mulai dengan mereka-mereka dulu, ya. 

Chita

Perempuan 20-an bertubuh mungil. Bekerja sebagai pegawai di sebuah rumah sakit di bilangan Setu, Bekasi. 

Pembawaannya tenang, walau kalau udah bicara hal yang ia sukai bisa berapi-api. Chita pendengar yang baik. Suka travelling and some kind of melancholic lady.  Err…. ini prejudice sik. Base on her caption in Instagram. Hihihi.

Di yoga, saya melihat dia yang core-nya paling aktif. Jadi kalau urusan handstand dia ini paling ringan walau katanya masih takut ngangkat satu kakinya. Fleksibilitas tubuhnya juga lumayan bagus. Kayaknya di antara kami berempat, Chita yang paling lentur. 

Slogan yang saya kasih buat Chita: Si tenang yang menghanyutkan. 

Etty

Kesamaan antara saya dan Etty adalah punya kaki panjang. Hal ini bisa jadi problem sendiri kalo lagi yoga. Kabar baiknya, saya merasa punya temen senasib sependeritaan kalo udah belibet sama kaki. Hihihi.

Etty ini semacam wanita karier. Kariernya jadi penggiat di RT-nya bersama segerombolan ibu-ibu. Gak jarang Etty bolos yoga karena kudu jaga Posyandu atau pengajian bareng genk-nya. 

Oiya, kesamaan lainnya adalah saya dan Etty suka banget sama aerobik juga zumba. Jenis olahraga yang gak terlalu diminati sama dua teman saya yang lainnya. 

Di yoga, Etty lumayan dalam hal power. Cuma dia ngaku punya ketegangan di leher. Jadi beberapa pose yang butuh leher rileks jadi tantangan tersendiri buat dia. It’s ok, dear. Lama-lama juga santai. 

Slogan yang saya kasih buat Etty: Si aktif yang suka wara-wiri. 

Rina

Temen saya yang satu ini very talkative. Suasana jadi seru kalo Rina ada di tengah-tengah kami. Dia ini tipe perempuan yang skillfull. Mulai dari jualan, masak, beberes, dan urus keperluan keluarganya ini keren banget. You name it, lah. Serba bisa. 

Selain itu, pola makan Rina sangat inspiring. Selain cowo ganteng, Rina gampang tergoda sama buah-buahan “ganteng”. Hahahaha. Ampe kalo dia gendong semangka merah aja mukanya bahagia banget. Disiplin gak makan bakso kecuali di “cheating day” sebulan sekali. Makan segala jenis grain yang sehat. Dan dia gak melakukan itu biar kurus, tapi biar sehat. Dan emang Rina jarang sakit plus badannya makin bagus aja. 

Di yoga, Rina punya hambatan di kaki karena pernah cedera. Dan anatomi kakinya yang ngelock ke belakang. Hebatnya dia tetep semangat dan terus rajin latihan. Tapi, di antara berempat ini, Rina yang paling bagus dalam hal arm balance. Cepet banget nemu titik keseimbangan. 

Slogan yang saya kasih buat Rina: Gak ada lo, gak rame! 

Ketika Yoga jadi Napas Kita

Mau tahu hobi kita berempat apa selain yoga? Ngerumpi! Aselik, tiap abis kelas yoga atau saat kami janjian ketemuan sambil nongkrong cantik pasti rumpi. 

Gosipin apa? Ya, gosipin yoga! Hahahahha. 

Misalnya bahas gerakan yang masih belum bisa, atau sensasi yang kami rasakan saat berlatih yoga. Atau diskusi bacaan kami tentang seluk-beluk olahtubuh kesayangan dari berbagai sumber. 

Gak jarang kami ngasi kritikan membangun satu sama lain. Contohnya ketika bahu saya yang sering drop saat headstand. Hal yang mungkin gak disadari diri sendiri, tapi terlihat sama mereka. 

Oleh karena sama-sama peduli akan progress satu sama lain, jadinya kritikan ini kaya kasi semangat baru. 

Gak jarang kita tuker-tukeran foto atau video para yogi atau yogini di Instagram. Mengkaji kok mereka bisa kaya gitu. Nyoba bareng.

Bagi saya, bisa punya kesempatan mengenal yoga aja udah berkah. Apalagi dikasih bonus Chita, Etty, dan Rina buat nemenin bikin tambah bahagia. 

I love you all, my babes! 

Keyakinanmu, Terorismu

“Mungkin, sekarang banyak orang yang diteror oleh keyakinannya sendiri,” kata saya membuka percakapan di meja makan tadi pagi. 

Begini. 

Ketika saya liburan di Bandung seorang kawan bercerita di sebuah sore ditemani secangkir kopi hangat. Sebut saja ia Dwi. 

Dwi seorang perempuan yang santai, relijius dengan caranya sendiri, dan meyakini Islam dengan perjalanan ruhani yang hanya Tuhan dan dirinya saja yang tahu. Ia baik dan senang menolong. 

Sampai suatu ketika, ia mendapat SMS dari saudaranya yang katanya sedang rajin ibadah dan mengaji. Isi SMS-nya bukan sekadar forward tapi benar-benar ditujukan untuk Dwi. Misalnya, seperti ini. 

Assalamu’alaikum. Dwi gimana sholatnya? Jangan bolong-bolong ya. Inget umur lho.

Dwi, pake jilbab dong. Cantik loh. Kan nutup aurat itu wajib hukumnya. Dosa kalo keliatan sama yang bukan muhrim.


Aku harap kamu gak pacaran ya. Haram. Ini aku ngasi tahu karena sayang. Kan harus ngasi tau walo hanya satu ayat.

Dan masih banyak lagi. 

Dwi dan saudaranya ini sama sekali gak akrab. Setiap Dwi tanya kenapa sih kirim terus SMS kaya gitu. Alasannya:

1. Guru ngajinya bilang, “Sampaikanlah walau hanya 1 ayat”.

2. Kalau saudara kita masih ada yg abai sama perintah Allaah dan dia gak ngasi tahu maka dosanya dia tanggung juga. 

3. Dia ingin berdakwah.

Alih-alih merasa menjadi lebih baik, Dwi merasa terganggu. Bahkan sudah meminta untuk gak perlu lagi kirim SMS. Dan bilang bahwa dosa dia biar dia nanggung sendiri aja. 

Pertama, Dwi merasa gak sedang butuh nasihat spiritual. Kedua, saudaranya ini gak tau kondisi ruhani dan spiritual dirinya emang lagi kaya apa. Ketiga, bukankah sesama muslim juga harus saling berbuat baik…..tapi bukan cuman “baik” menurut kehendak hati sendiri. 

Bagi saya, cerita Dwi adalah potret yang sungguh menarik dari apa yang memang sedang marak terjadi di society kita sekarang.

Saya pernah diajari, ketika ada orang yang ingin mengenal Allaah melalui Islam, sambut ia dengan cinta. Bukan dengan ilmu terlebih dahulu. 

Mengapa?

Karena ketika seseorang sudah tumbuh rasa cinta dan kasih pada Allaah serta Rasul-Nya, maka layaknya orang jatuh cinta. Ia akan melakukan apa saja ibadah yang akan menhantarkan ia pada ridho Ilahi. Segala ibadahnya karena cinta. Segala ilmu akan dilahapnya. Segala akhlah baik Rasulullaah akan ia contoh sekemampuannya. 

Hal yang banyak terjadi sekarang adalah menyambut orang lain yang ingin mengenal Islam dengan ilmu. Benar, ia akan rajin memetik amal. Namun hal ini rentan menjadikan agama sebagai Tuhan. Ilmu sebagai tujuan. Dan ber-Islam sebagai kebanggaan. 

Orang yang jatuh cinta ia akan hanyut dengan yg dicintainya. Orang yang berilmu akan larut dalam kebanggaannya. 

Lalu, ketika ilmu itu mengantarkanya pada bab mengenai jihad, maka rasa takut pada dosa tak mengajarkan orang lain menjadi utama. 

Saya sering sekali menyaksikan, orang berdakwah serupa memuntahi orang. Asal ia bisa mengantarkan 1 ayat pada orang lain. Tak peduli apakah orang itu memang pada momen dan kondisi yang tepat. Yang penting dia aman dari dosa. Lalu merasa gak cemas lagi. Jebret! Suka gak suka, makan tuh muntahan. 

Apa yang ia yakini menjadi teror atas level keimanannya. Sehingga ia tanpa sadar meneror yang lain agar sejenak terlepas dari kecemasan spiritual. 

Pertanyaannya: ia berdakwah untuk apa? Untuk siapa?

Di sisi lainnya, saya sungguh bersyukur masih ada pendakwah yang sangat bijak. Yang entah kenapa justru biasanya mereka yang justru fokus dengan perbaikan dirinya. Mendakwahi diri sendiri lebih keras. Dan oleh karena kualitas ibadahnya diliputi berkah Allaah dan cinta kasih Rasulullaah, ia malah menjadi magnet bagi yang sedang mencari cinta Ilahi. 

Semoga mereka dirahmati Allaah. 

Bagi saya, pengetahuan dan level spiritual ini gak matematis. Bukan level ilmu yang hanya bisa diturunkan melalui pengajaran lahir. Ada hal batiniah yang berkelindan antara sesama manusia, semesta, dan Allaah.

Yah, begitulah. 

Semoga kita bisa tenang terus tanpa dihinggapi penyakit kecemasan spiritual. Hey, ternyata teroris itu gak cuman yang ngebom. Kadang, kecemasan atas apa yang kita yakini juga bisa jadi teror. 

Dan ngebom-ngebomin “kuil” spiritual orang lain tanpa izin. Eh sejak kapan teroris pake perizinan? 

Mengenali Tuhan

Kita tak pernah mengenal Tuhan, sampai ada yang mengenalkannya. ~Pi Patel, Life of Pi

Saya terdiam cukup lama ketika Pi dalam film itu berkata demikian. Pause. Saya catat lekat-lekat dalam batin dan dicerna perlahan-lahan. 

Siapa dan bagaimana Tuhan diperkenalkan pertama kali pada saya? 

Pertanyaan itu kian menggelitik untuk dicari tahu jawabannya. Oke, sambil bercerita bagaimana saya dan Tuhan diperkenalkan, silahkan kalian mengorek-ngorek juga file memori di dalam lipatan otak masing-masing. Jangan, jangan di lipatan celana. Gak bakal nemu. 

Kata Tuhan mulai digaungkan ketika saya mengaji. Ia sosok yang digambarkan dengan penuh kekuasaan dan juga senang menghukum yang berdosa. 

Kalian pernah baca buku komik jadul yang berjudul “Siksa Kubur”? Nah begitulah Tuhan yang bergema dalam benak. 

Suka menggunting orang yang berbohong. Melelehkan kulit sampai tersisa hanya tengkorak bagi yang suka jahat pada orang. Menyetrika punggung orang yang…ah entah apa kesalahannya. 

Seram. Tuhan sungguh seram.

Belum lagi orang dewasa pada saat saya kecil senang mengancam dengan membawa-bawa nama Tuhan. Kalo gak sholat, kalo teraweh bolong-bolong, kalo gak puasa, Tuhan jadi algojo di tiap situasi. 

Lama-lama Tuhan di dalam mulut-mulut mereka dibuat menjadi Sang Maha yang harus dipatuhi karena ketakutan. 

Sampai kemudian saya berkenalan dengan asmaul husna. Begitu banyak nama-Nya yang indah dan terasa sangat baik. Bahkan setiap apapun yang dilakukan harus dengan nama-Nya yang Pengasih dan Penyayang. 

Saya pikir, kali ini Tuhan memperkenalkan diri-Nya dari sisi lain yang belum saya jamah. Saya cuma percaya bahwa Tuhan itu Maha Segala. Termasuk kebaikan. Jika ada orang baik aja saya bisa kagum, berarti Tuhan sekian kali lipat Maha baiknya. 

Masa iya Tuhan cuma punya jobdesc menghukum ciptaan-Nya, pikir saya waktu kecil. Buat apa manusia diciptakan lalu hanya untuk dipites-pites macam kutu rambut. Nope. It must be beyond than that. 

Beranjak dewasa, saya mendapati seorang Syaikh berkata.

Rahmat Allaah mendahului murka-Nya.

Dan banyak sekali hadis Qudsi bahkan ayat Alquran yang menggambarkan kebaikan Allaah sebagai Tuhan. Ini, ini yang kemudian saya yakini. 

Sungguh beruntungnya saya. Punya perjalanan yang berujung pada kekaguman Maha Baik. Tidak, tidak merasa lebih baik dari siapapun. Saya cuma ngerasa apa jadinya kalau saya masih merasa bahwa Tuhan segitu kakunya melihat gerak-gerik ciptaan-Nya. 

Perjalanan mengenal Tuhan masihlah panjang. Semoga saya dalam keadaan khusyu mencintai-Nya ketika kelak berpulang. 

Balon

image

Sering kali. Segala rupa rasa, kebahagiaan, kecemasan, harapan, dan bahkan cinta terasa bagai balon-balon. Penuh berisi gas. Saling berliuk-liuk dalam genggaman. Senantiasa waspada dalam pengawasan. Takut ia akan lepas, kempis, pecah, dan hilang.

Kemudian diajaklah balon-balon gendut itu kemanapun kaki melangkah. Mulai dari saat jalan lapang, ketika memasuki gang sempit, melintasi kerumunan, atau pun duduk sendirian di tepi lamunan.

Tersenggol, mengganggu, dan cemas tak habis-habisnya lalu menjadi akibatnya. Sesekali mengecek genggaman talinya. Terus dipegang sampai telapak basah tak karun. Berkali-kali melihat ke atas sundulan sundulan balon sambil sibuk mengatur rute jalan di tengah kerumunan. Repot benar.

Terus dilakukan…terus sampai tangan menjadi lelah. Mata kian berontak. Dan sekeliling yang terganggu berteriak.

Mungkin begitulah.

Padahal bisa jadi ada pilihan yang lebih memudahkan semuanya. Tapi tak banyak yang cukup percaya untuk melakukannya: melangitkan semuanya. Ya, melepaskan dengan sadar semua balon-balon pada kehendak semesta.

Dan lihat saja, tak ada lagi was-was. Kecewa. Dan hati yang teramat lelah.

Namun ya. Memang iya. Godaan untuk menggapai-gapaikan lengan ke langit untuk kembali menggenggam senantiasa menggairahkan. Mau mencoba?

Berjalan ringan tanpa balon-balon. Dan lihat, ada kejutan tak terbayangkan di dalamnya.

Iman

Tuhan ingin tahu sejauh mana hamba-Nya bergantung dan berserah. Karenanya ujian menjadi makanan sehari-hari para pecinta. Tiap saat. Tiap detik. Dan tiap kedip.

Ujian akan kehilangan hanya satu di antaranya.

Satu pintaku, jika Dia berkenan mengambil banyak hal yang memang sejatinya bukan milikku, moga Yang Maha Baik tak mengambil imanku akan Dia. Karena dengan-Nya, aku hidup dan kembali.

-catatan di dini hari yang sepi dengan Panda di pangkuan