Protected: Pantai

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Balon

image

Sering kali. Segala rupa rasa, kebahagiaan, kecemasan, harapan, dan bahkan cinta terasa bagai balon-balon. Penuh berisi gas. Saling berliuk-liuk dalam genggaman. Senantiasa waspada dalam pengawasan. Takut ia akan lepas, kempis, pecah, dan hilang.

Kemudian diajaklah balon-balon gendut itu kemanapun kaki melangkah. Mulai dari saat jalan lapang, ketika memasuki gang sempit, melintasi kerumunan, atau pun duduk sendirian di tepi lamunan.

Tersenggol, mengganggu, dan cemas tak habis-habisnya lalu menjadi akibatnya. Sesekali mengecek genggaman talinya. Terus dipegang sampai telapak basah tak karun. Berkali-kali melihat ke atas sundulan sundulan balon sambil sibuk mengatur rute jalan di tengah kerumunan. Repot benar.

Terus dilakukan…terus sampai tangan menjadi lelah. Mata kian berontak. Dan sekeliling yang terganggu berteriak.

Mungkin begitulah.

Padahal bisa jadi ada pilihan yang lebih memudahkan semuanya. Tapi tak banyak yang cukup percaya untuk melakukannya: melangitkan semuanya. Ya, melepaskan dengan sadar semua balon-balon pada kehendak semesta.

Dan lihat saja, tak ada lagi was-was. Kecewa. Dan hati yang teramat lelah.

Namun ya. Memang iya. Godaan untuk menggapai-gapaikan lengan ke langit untuk kembali menggenggam senantiasa menggairahkan. Mau mencoba?

Berjalan ringan tanpa balon-balon. Dan lihat, ada kejutan tak terbayangkan di dalamnya.

Suami (Perlu Tahu) Bercocok Tanam

love-between-husband-and-wife1

Cobalah tengok warta kriminal belakang ini, kekerasan pada para perempuan marak diberitakan. Kebanyakan dari kabar tersebut menyebutkan bahwa suami, lelaki yang berjanji di depan Allah ketika ijab-qabul akan memelihara istrinya, menjadi pelaku utama kekerasan. Belum lagi kasus penelantaran sang ibu dan anak. Seakan-akan para lelaki tersebut terinspirasi ingin menjadi ‘Bang Thoyib’ yang lupa pulang. Para suami jenis ini gemar bercocok tanam anak, namun setelah dipanen (baca: lahir) dibiarkan begitu saja. Mereka muslim? Ya, mereka muslim, setidaknya itulah yang tertera di KTP-nya. Namun mengapa mereka dapat menjadi keji terhadap wanita yang ia pilih untuk dicintai selama sisa hidupnya? Banyak faktor tentunya, namun bisa jadi karena Rasulullah belum ada dalam hatinya. Rasulullah memang guru terbaik yang mencontohkan bagaimana cara yang paling mulia dalam memperlakukan istri.

Istri Ladangnya, Suami Petaninya

Terinspirasi dari cuplikan tulisan M. Quraish Shihab “Kelahiran Anak” dalam Dia Dimana-mana: Tangan Tuhan di Balik Setiap Fenomena, ternyata ada hikmah besar mengapa Allah mengibaratkan istri sebagai ladang sebagaimana tertuang dalam firman-Nya.

 Istri-istri kamu adalah tanah tempatmu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok- tanam kamu itu kapan dan bagaimana saja kamu kehendaki” (QS. Al-Baqarah [2]: 223).

Jika istri adalah ladang, maka suamilah yang tentunya menjadi petaninya. Petani yang baik paham bagaimana cara bercocok-tanam sehingga kelak ia akan memanen hasil yang baik dan penuh berkah. Suami yang baik tahu dan sadar akan arti memperlakukan istri dengan bijak, agar kelak anak-anak sholeh/ah akan terlahir dari rahim istrinya.

Memilih Ladang

Hal utama yang perlu diperhatikan adalah tentunya melakukan kegiatan bercocok-tanam ini di ladang milik sendiri. Bukan ladang milik orang lain yang bisa jadi akan digugat oleh si empunya, ataupun ladang tak bertuan yang tidak jelas kualitasnya. Hendaknya sang lelaki hanya menebarkan benih pada perempuan yang telah sah menjadi istri. Hal ini bukan hanya lebih baik untuk dirinya, namun juga agar ia dapat menjaga diri dari dosa dan mengundang banyak kebaikan.

Agar buah yang dipanen berkualit baik dan terjaga, pilihlah ladang yang subur. Adapun Rasulullah memberikan kita tips bagaimana menetapkan wanita yang layak dipilih.

Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika memilih wanita karena cantik, bisa jadi buah yang dipanen bagus kulitnya namun busuk dalamnya. Jika memilih wanita karena kaya, bisa jadi buahnya banyak dan rimbun namun kecut rasanya. Wanita yang baik agamanya menjadikan buah yang dipanen indah luarnya dan manis dalamnya.

Bagaimana jika ladang yang dipilih ternyata kurang subur? Jangan lantas dibuang dan ditinggalkan. Berdoa dan berikhtiarlah pada Allah swt., Zat Yang Maha Berkehendak. Layaknya lahan gambut yang kurang subur, dengan ketekunan para ilmuwan dan izin Allah akhirnya dapat ditanami dengan bantuan mikroba tanah. Sama dengan istri, ada banyak alternatif yang dapat meningkatkan kesuburannya. Ajaklah sang istri ke dokter ataupun pengobatan yang halal dan terpercaya.

 Menanam Benih

Petani yang baik mengetahui kapan waktunya ia harus meletakan benih. Ia akan menunggu hari yang cukup cerah sehingga matahari dapat menghangatkan benih, dan senantiasa mengecek persediaan air agar benih dapat disirami lalu tumbuh. Suami yang baik akan mendatangi istrinya di waktu dan cara yang tepat seperti yang dicontohkan Rasulullah,

Datangilah (istrimu) dari arah depan atau arah belakang, tetapi awaslah (jangan menyetubuhi) pada dubur dan dalam keadaan haid. (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Agar nutrisi dan komponen organik dalam tanah merata, sebelum menanam benih biasanya petani akan membajak lahannya. Petani yang baik akan menggunakan peralatan yang memang ditujukan untuk itu, misalnya menggunakan kerbau atau traktor. Suami yang baik kiranya akan memperhatikan kesiapan istrinya sebelum menanam benih, memberikan makanan yang sehat agar mampu mengandung sang buah hati dengan sehat dan kuat.

Merawat Benih yang Sudah Ditanam

Setelah benih tertanam, petani tak langsung begitu saja meninggalkan ladang dan menunggu tanpa melakukan apapun sampai masa panen. Dengan penuh ketekunan dan kesabaran, ia akan menjaga benih agar tumbuh akan berkembang serta siap dipanen dengan kualitas terbaik. Ia akan mendatangi ladang dan menyirami tanaman yang sudah mulai tumbuh secara rutin dan teratur. Suami yang sholeh akan mengikuti bagaimana Rasulullah memperlakukan istrinya. Istri yang sedang mengandung butuh perhatian dan perlakuan yang lembut. Pelukan dan belaian akan dapat menjauhkan istri dari perasaan tertekan.

Adalah Rasulullah setiap hari selalu mengunjungi kami semua (istri-istrinya), seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami dengan tidak mencampuri hingga beliau singgah ke tempat istri yang beliau giliri waktunya, lalu bermalam di tempatnya (HR. Ahmad).

Petani yang baik senantiasa memberikan segala kebutuhan ladangnya misalnya dengan memberi pupuk. Dengannya, tanaman akan merasa senang dan tumbuh dengan baik Rasulullah bahwa wanita perlu disenangkan hatinya dengan diistimewakan dan dipuji dengan panggilan yang menyenangkan. Seperti yang dikisahkan Aisyah ra.,

Saya sedang mencari-cari sebuah jarum yang terjatuh dari tangan saya, namun tak berhasil menemukannya. Tiba-tiba Rasulullah masuk, lalu aku dapat melihat jarum yang terjatuh karena pancaran sinar wajah beliau. Saya pun tertawa, kemudian beliau berkata: ‘Wahai si pipi merah delima, apa yang membuatmu tertawa? (HR. Ibnu ‘Asakir).

Selain pupuk, petani akan menjaga ladangnya dari hama dengan menyemprotkan pestisida, mencabuti gulma pengganggu tiap harinya, dan mengusir burung yang akan merusak buah dari tanaman yang akan kelak dipanen. Suami yang diberkati Allah akan senantiasa mengingatkan akan kebaikan dan menjaga istrinya dari keburukan.

Rasulullah biasa memencet hidung Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkan kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan” (HR. Ibnu Sunni).

Memanen dengan Baik

Tanaman yang sudah besar dan cukup umur akan segera dipanen dengan cara yang terbaik. Petani yang baik akan menggunakan peralatan yang memadai. Jika memungkinkan ia akan menyewa alat terbaik yang dapat mempercepat aktivitas panen. Begitupun suami yang baik, ia akan menjadi suami SIAGA (siap, antar, jaga) ketika istrinya akan melahirkan sang buah hati yang sudah ditunggu-tunggu. Semua kebutuhan bersalin dipenuhi, dan menemani sang istri dengan penuh cinta dan kesabaran saat bertarung dengan maut ketika melahirkan.

Mengatur Masa Panen

Tidak baik jika menanam benih setiap saat. Tanah akan kehilangan kesuburannya. Lihatlah sawah, setelah padi dipanen biasanya akan diselingi dengan menanam sawi atau tanaman lainnya. Selain itu, lahan biasanya dibajak kembali oleh petani. Kesemua hal itu dimaksudkan agar jasad renik dan komposisi nutrisi tanah menjadi subur kembali.

Begitu pun suami yang baik, ia akan mengatur masa kehamilan. Jika kehamilan terjadi setiap tahun, maka sang istri akan lelah dan kurang fit untuk mengandung kembali. Biarkan istri dan sang buah hati menikmati masa menyusui sampai dengan 2 tahun.

Semoga menginspirasi para kaum bapak agar piawai dalam ‘bercocok-tanam’.

Wallahu ‘alam.

**Publikasi pertama di ngerumpi.com pada 12 Januari 2011

Patah Tak Selalu Payah

240 (1)Dalam sebuah pertemuan dua jiwa, hati mewujud menjadi sayap. Bentangan dari bulu-bulu lembutnya mampu menghangatkan jiwa yang dinisbatkan bersanding bersisian. Tiap helaiannya mengandung seribu anak bulu yang dalam lipatannya terdapat seribu lagi buluh dengan beragam fungsinya. Melindungi, memanjakan, mencintai, bahkan lengkap dengan fungsi rela tersakiti.

Namun hukum persatuan dua jiwa bukanlah 2 tambah 2 menjadi empat. Jika bicara jiwa, maka hukum penjumlahan ini menjadi 2 tambah 2 akan selalu 2. Mengapa? Ini karena sayap tadi.

Begini.

Saat jiwa menemukan jalannya untuk melebur bersama pasangannya, maka keduanya akan jatuh, jatuh sampai dasar. Inilah mengapa penyatuan dua jiwa sering kali dibingkai dengan kata “jatuh cinta”.

Mengapa bisa jatuh, bukankah ada sepasang sayap untuk satu jiwa?

Ya, karena fungsi rela tersakiti pada beberapa buluh yang berada dalam larik-larik bulu sayapnya mulai aktif berfungsi. Ia akan lisis, mengatarsis dirinya sendiri. Pelan namun pasti ia akan merobek ikatan atom yang melekatkan satu sayap pada tubuh jiwa. Menyisakan setengah sayap dan tubuh yang utuh. Pada saat itulah satu jiwa akan jatuh. Bersama dengan jiwa yang ia pilih.

Dua jiwa ini merintih pedih dan gaduh mengaduh. Namun tak sedikit pun terlontar keluh, walau tubuh berkalang peluh. Karena ini adalah sebuah keniscayaan, sebuah pilihan yang dibuat atas nama kesadaran. Walau sisanya dilingkupi selaput takdir atas nama Tuhan.

Hanya yang menyadari dengan segenap-genapnyalah yang kemudian mampu menyaksikan adanya pertautan di tempat patahnya sayap kedua jiwa ini. Perlahan namun pasti. Semacam akar yang mulai mengurat dan mengedarkan darah dengan aliran tak terputus di antara keduanya. Layaknya janin dalam rahim ibunda. Walau dalam tiap jalinannya ada air mata dan amarah. Namun benci, bukan bahasa yang mempunyai daya dalam konsepsi agung ini.

Hanya yang memahami sebenar-benarnyalah yang akan mahir melakukan akselerasi dalam tahap ini. Dua jiwa dengan sepasang sayap ini memendarkan kekuatan digdaya yang siapapun yang memilikinya layak untuk merasa jumawa.

Mengapa?

Dengan konfigurasi itu, jika satu jiwa dengan dua sayap mampu melesat dengan tinggi dan jauh sampai langit ketiga, kelima, atau ketujuh maka dua jiwa dengan sepasang sayap ini mampu meliuk indah dan menebas kedalaman langit menuju pada Zat di mana langit ada dalam genggaman-Nya.

Di sini, sayap yang patah tak berarti lahirnya diri yang payah. Patahnya tak berarti hilang satu, melainkan menjadi satu. Ya, satu…utuh.

*Publikasi pertama di ngerumpi.com pada 16 April 2012

Mari Berbincang

Dalam kemelut yang tekun bergelut
Mari kita berbincang

Dalam tanya yang tercerai dari jawab
Mari kita berbincang

Dalam luka yang tak pelak ternganga
Mari kita berbincang

Mari…

Mari kita berbincang
Dalam syahdunya pelukan

Karena dalam peluk,
ada perih yang terobati

Karena dalam peluk,
ada maaf yang terlingkupi

Karena dalam peluk,
ada rindu yang tergenapi

Karena dalam peluk,
ada kasih yang terbarui

Karena dalam peluk…
ada perbincangan tentang semesta kita
tanpa kata, tanpa aksara,
namun sarat makna

Lelaki Teduh Di Kala Shubuh


Di suatu shubuh. Saat salam terakhir digumamkan di akhir shalat shubuh. Saya memandang pria yang tak hanya menjadi imam shalatku, tapi juga imam yang disodorkan Tuhan untuk hidupku. Dia sedang duduk bertafakur dan melangitkan doa-doa pertama kami di pagi hari itu.

Dari balik bahunya saya menatap wajahnya yang basah dengan air wudhu. Wajahnya agak pucat. Letih dan khawatir dengan baik-baik disembunyikan dari parasnya. Tak tidur ia semalaman. Banyak pekerjaan, katanya. Sesekali ia mengeluhkan sakit pada perutnya dan lemas badannya. Namun ketika saya memperlihatkan mimik khawatir ia menetralkannya dengan canda dan tawa.

Kupandang bahunya. Besar, kokoh, dan tegap. Mewujud sedemikian rupa mungkin karena terpaan beban hidup yang sudah ia pikul sejak kecil. Kini, ada saya dan anaknya yang turut menambah berat bahunya.

Kondisi kami tak cukup baik di shubuh itu. Kami terancam tak mengenyam agenda ‘gajian’ dalam 30 hari ke depan. Dengan naiknya harga bahan pangan, biaya sekolah anak kami, terancamnya ia tak punya lagi proyek yang bisa digarap, dan iuran yang senantiasa minta ‘dipuaskan dahaganya’ tiap bulan menggelayuti mata dan pikiran imam saya ini.

Kebingungan dan kekhawatiran pasti membadai dalam hatinya. Namun tidak di wajahnya. Seakan meyakini jika rasa yang sama mewabahi saya dan anaknya justru akan membuat suasana makin tak terkendali dan makin sedihlah ia.

Bahkan ia mengurungkan niat untuk berobat padahal sudah sakit berhari-hari. Boleh jadi ia cemas, biayanya akan sangat mahal. Sehingga ia lebih memilih bisa membuat dapur mengepul ketimbang mengobati sakitnya.

Lamunan saya tersentak tiba-tiba. Ketika ia menyapukan kedua tangan ke wajahnya. Lalu dengan segenap hati mengucap ‘amin’. Kata amin yang shubuh itu berasa penuh harap dan keberserahan yang tak terkira.

Ia lalu membalik, menghadapkan seluruh tubuhnya ke arah saya. Buru-buru saya menciumi tangannya. Yang besar dan kasar dikerjai waktu dan kehidupan. Tangan yang pemiliknya saya hormati dan cintai segenap hati.

Kami memiliki ‘salim khas’ yang senantiasa dilakukan setiap selesai shalat berjamaah. Setelah saya mencium tangannya, ia mengecup kening saya dengan khidmat. Rasanya menyenangkan hati. Seperti sedang mematri nama dan kehormatan diri saya dalam hatinya. Lalu giliran saya. Saya kecup keningnya. Dengan pejaman mata yang mulai berkaca-kaca kami seperti bertelepati. Dalam sebuah kecup hangat, bahasa tak butuh aksara dan kata.

Saya sampaikan padanya, masih ada banyak nikmat dalam keterbatasan. Ada banyak kebahagiaan dalam ketidakmampuan. Ada beribu keajaiban dalam kepapaan. Dan akan selalu berlimpah kasih Tuhan dalam keberserahan.

Salim ini ditutup dengan kecupan ringan di bibir. Dan…berpelukan. Hangat rasanya. Seolah kami sedang saling mentransfer energi, saling menguatkan. Mungkin bukan hanya kami yang sedang tak berjarak seperti ini. Mungkin ada Tuhan yang merengkuh kami berdua di shubuh itu. Lalu ia berkata, “Sabar, ya.” Matanya menatap saya dengan penuh keteduhan. “Iya,” jawab saya mantap.

Dengan kasih Sang Cahaya di Atas Segala Cahaya, shubuh itu menjelma menjadi pagi. Tak hanya langit yang menyilahkan matahari bersinar. Ada pula mentari yang hangat…di hati kami.