Jihadmu, Nak

Artwork by Adam Stone

Beberapa dari teman saya menginginkan anaknya jadi mujahid. Bisa berlaga berjihad atas nama Allaah.

Saya pun mendoakan hal serupa. Moga Air jadi mujahidah. Jihad mengendalikan egonya krn Allaah. Jihad untuk beragama bukan atas dasar rasa bangga dan sombong ber-Islam. Jihad agar teguh jadi orang yg bermanfaat dlm kebaikan bagi semua makhluk.

…makhluk lintas agama, suku, ras, dan spesies.

Karena jihad bukan hanya perkara negara Islam tegak di Indonesia. Bukan perkara angkat senjata demi agama. Setidaknya bagi saya begitu.

Advertisements

Entah Mau Nulis Apa

Hai, udah lama gak nulis di sini.

Kalimat itu terasa sangat pasaran ya. Khususnya buat para (yang ngaku-ngaku) blogger tapi jarang nongol negokin ‘rumahnya’ apalagi nulis. Tapi saya memahami kenapa begini dan begitunya. Karena rupanya saya juga saat ini ingin mengumbar kalimat yang sama. Ribuan niat one day one post, rasanya cuman menguat di tataran pikiran saja. Siyaul.

Oke, jadi saya harus nulis.

Entah mau nulis apa. Bukan karena gak ada hal yang ingin diutarakan maupun dikisahkan. Ini semacam laptop yang udah ‘kekenyangan’ dicekokin ratusan gigabyte foto dan playlist, plus grup Whatsapp yang menagih ruang untuk meringkuk dalam folder memori. Penuh. Nge-hang.

Yaudahlah ya, kita mulai aja dengan mmmm yang terdekat, tegampang, dan terbaru aja.

Sudah hampir setengah bulan saya berganti kostum dari full-time employee jadi kerja semau-maunya. Alasannya bukan males, tapi nggak ada Mba yang jagain Air. Plus sukses ditakut-takutin berita pembunuhan anak oleh baby sitter. Klop lah saya akhirnya ‘kembali pulang’ mengabdi sama Air.

Sejauh ini, saya merasa bahagia tiada tara *kalimat ini macam lagu lawas. Bisa mulai ngetik pagi hari selepas Air sekolah dengan pake kaos kutung, celana pendek, dan tanpa harus keringetan membelah macet Ibu Kota. Lalu, menyambut gembira saat Air pulang sekolah sambil sebelumnya bikin kudapan sore.

Acara ngemil sore ini nikmat banget deh rasanya. Cemilannya sih sederhana aja. Kadang pisang goreng, bakwan jagung, martabak tahu-telor, piscok, atau makaroni panggang. Modalnya cuman nekat dan Chef Google. Enak gak enak ya dimakan juga. Bukan karena didampingi teh panas buat saya dan jus dingin buat Air, melainkan kehangatan bertukar cerita dengan Air atas kegiatannya hari itu. Priceless banget.

Ini yang bikin hati Air kegirangan belakangan ini. Ah, Nak. Seharusnya kita coba ini dari dulu, ya. 

Oiya, saya juga jadi rajin masak. Oh Nyonya Besar bertubuh cungkring ini ternyata piawai juga belepotan minyak dan berkubang dalam adonan. Untungnya, AIr cukup kooperatif (baca: mau ngabisin makanan yang entah enak apa nggak) :D.

Mungkin ini yang namanya menjalani kodrat ya, rasanya hidup jadi penuh. Atau mungkin juga ini namanya norak hahahhaha. Belom aja nemu bosennya, tauk deh kalo udah jenuh gimana. 🙂

Sesungguhnya urusan masak dan ngobrol sama Air ini adalah hiburan yang Allaah kasih sama saya belakangan ini. Ya, ada ujian besar yang sedang menghampiri saya. Namun mungkin memang benar apa yang dikatakan seorang bibi saya di Cimahi:

Allaah menurunkan ujian itu satu paket. Bukan hanya dengan solusinya saja, melainkan lengkap juga dengan penghiburannya.

Ya, saya dihibur dengan cara-Nya yang luar biasa. Doakan saya ya, kawan.

Ulang Tahun di Angka Terkeren!

Air 29 tahun…

Kata Tante Rilly Rosera, ini umur yang paling keren. Ingat tuturannya ketika kamu ikut Bunda dalam proses sesi pemotretan majalah tempat Bunda bekerja, Air? Iya, 9 tahun adalah angka terbesar dan terakhir dalam masa hidup manusia yang dituliskan dalam satu digit. Ini tahun di mana setelahnya Air akan berusia dua digit. Cool! Komentarmu saat itu.

Seminggu ini rasanya panas dingin. Menantikan umurmu berganti dari angka gendut 8 menjadi 9 tak bisa Bunda abaikan begitu saja. Kamu tahu, Nak? Sembilan tahun lalu Bunda, Ayah, dan semua yang mencintai kamu menantikan kelahiranmu dengan suka cita. Cucu pertama dari Oma Opa. Anak pertama dari Ayah Bunda. Dan ternyata…menjadi sahabat terbaik pertama yang Bunda lahirkan melalui rahim ini. Ayah pun ternyata sama deg-degannya loh. Dua hari kemarin, Ayah salah tanggal. Di malam 30 Agustus ia sudah siap membangunkan Air dan ingin mengucap selamat hari lahir untukmu. Untung saja Bunda ingatkan kalau belum waktunya. Hahahhaha.

Oke, ada banyak sekali hal yang kami syukuri atas perkembangan Air selama tahun ke-8 kemarin.

Air diperbolehkan menonton berita. Sungguh sangat mengagumkan melihat banyak binar bintang di matamu saat berita baik terulas di media yang kamu lihat. Ada rasa geram yang kental ketika menyaksikan bagaimana dunia tak seramah yang sering digaungkan dalam dongeng sebelum tidur. Semua menyisakan tanya: kenapa? Mengapa? Bagaimana seharusnya? Ya, Nak. Usia 9 tahun ini Bunda dan Ayah akan melebarkan pandanganmu seluas-luasnya. Agar kau saksikan bagaimana dunia berjalan, kemanusiaan dinistakan, dan kebahagiaan menjadi barang mahal. Untuk apa? Agar kelak kau akan selaras dengan nama yang Bunda Ayah anugerahkan padamu.

Airsyifa Swahira Waseso. Keturunan Waseso, anak yang nyaman dan hangat jika diajak berbicara, menyembuhkan hati yang luka, penggembira hati yang berduka, serta bijaksana layaknya begawan agung.

Bunda dan Ayah sempat terkaget-kaget. Ingat waktu kau sibuk mencorat-coret kertas dan terlihat sedang mengonsep sesuatu saat suatu malam sebelum tidur? Air dengan semangat mempresentasikan jika ia ingin sekali menjadi peraih Nobel perdamaian. Layaknya Malala Yousafzai, katamu. Atau bagaimana ketika kamu bertanya, “Kenapa PBB nakal gak ngapa-ngapain Israel padahal banyak membunuh anak-anak Palestina?” Juga saat kau bingung dengan pemberitaan ancaman teror yang ingin menghancurkan situs ibadah umat Budha, “Itu kan tempat ibadah temen sekelas aku, ini mungkin ibu gurunya lupa ngajarin walo beda agama tetap harus sayang.”

Belum lagi saat teman sepermainanmu mengajak untuk tak menemani seorang kawan hanya karena seorang Katolik, “Ka Joshua kan baik, kenapa gak ditemenin? Walau beda agama, dia temen aku juga”.

Dan seterusnya….dan seterusnya….

Di sisi perkembangan diri, Bunda dan Ayah sungguh bersyukur ketika kamu ikut perhelatan pemilihan ketua kelas. Kamu menjadi salah satu dari 3 calon yang diusulkan. Semingguan Bunda melihat bagaimana kamu mengonsep agenda kampanye kelas. Lucu rasanya tiap sarapan menjadi semacam arena ‘rapat’. Dan voila! Kamu mendapatkan 14 suara dari 16 pemilih. Di sini kamu menang dengan sangat elegan. Bagaimana kamu menenangkan hati rivalmu yang menangis karena kalah, bagaimana kamu menjadi semangat bangun pagi karena memiliki ‘tanggung jawab’ lebih tak boleh telat sebagai ketua kelas. Lain kali, Bunda mau ah jadi tim kampanye Air lagi hihihihi.

Dan di tahun kemarin, Air masih memutuskan mengikuti semua eksstakulikuler di sekolahnya. Kamu ini senang beraktivitas ya, Nak? Katanya di kelas 2 akan memilih 2 saja. Tapi dengan teguh kamu memutuskan masih mengikuti semuanya. Kata Ms. Novi, kamu satu-satunya murid di sekolah yang ikut seluruh ekskul tanpa diminta.

Oiya, Bunda dan Ayah senang sekali di tahun ke-8 umurmu sudah menguasai dua gaya renang dengan baik. Air masa takut air, katamu. Iya, Bunda dan Ayah selalu mendoakan agar apapun yang dijalani, semua dilakukan dengan riang dan total, ya.

Sekarang umurmu sudah 9 tahun. Sholat menjadi hal yang utama dan kita usahakan bersama untuk tak terlewat, ya. Kamu juga sudah memilih untuk menikmati berpakaian yang nyaman dan pantas untuk anak seumurmu. Memakai hijab kalau sudah haid, mau menikmati dulu masa anak-anak seperti yang kumau, katamu. Baiklah, Bunda menghormati keputusanmu.

Selamat hari lahir, sayang. Mendapatkan kesempatan 9 tahun membesarkanmu adalah hal yang teramat membahagiakan. Allaah teramat baik dengan Bunda. Ia tak hanya menganugerahi Bunda seorang gadis manis, melainkan juga menurunkan sahabat yang pelukannya terhangat. Bunda selalu terenyuh saat dalam keadaan sakit atau tertekan kamu datang dan berkata, “Sinih peluk dulu biar lebih nyaman.”

Ia juga memberikan Bunda seorang guru terbaik. Iya guru, kamu gak salah baca. Siapa yang mengajari Bunda untuk gak boleh marah terlalu lama, untuk murah dalam memaafkan, untuk konsekwen dengan janji dan perkataan, untuk kasih yang tanpa pamrih. Kamu, Nak.

Tak banyak yang akan Bunda janjikan padamu. Bukan janji jadi ibu yang terbaik, maupun terhebat karena selalu ada. Bunda bahkan tak berani janji apa-apa. Bunda hanya ingin berusaha sekuat tenaga memberikan apa yang sepantasnya kau dapatkan. Karena kalau Bunda berusaha, kita akan sama-sama mengusahakan.

Namun Bunda tak akan selamanya menemani. Kelak kau akan berjalan sendirian. Di tahun ke-9 ini, semoga Bunda dan Ayah senantiasa berusaha untuk memberikan ‘bekal’ dan modal yang nanti akan kau pergunakan sendiri. Karena dalam perjalanan hidup, kau akan menitinya bersama Tuhan yang kau cintai. Tak dengan Bunda, ataupun Ayah.

Happy birthday, young lady.

NB: Psssttt, peri gigi pesan katanya moga di umurmu yang keren ini dia bisa berkunjung lagi.

With a million-billion-and much more loves,

 

Bunda yang suka ngisengin Air

Ucapkan, Nak…

Nak, pernahkah kau melihat pengemis? Ya, banyak sekali. Mulai dari kakek tua renta, nenek buta, sampai anak seusiamu dengan badan ringkih dan baju kumal.

Tentu kau juga sering mengamati pengamen jalanan. Matamu membulat ketika melihat kakek tua memetik gitarnya. Badanmu bergoyang saat sekelompok pemuda menggenjengkan gitar dan menabuh drumnya dengan ritmis.

Kau juga pernah berinteraksi dengan anak-anak yatim piatu di panti tempo hari, bukan? Mereka begitu girang dipinjami buku-buku cerita dan bermain bersama kita dan kawan-kawan Bunda.

Ingat satu keresek baju-baju kecilmu yang kita gantungkan di pagar diambil pemulung dengan wajah riang? Ya, pasti kau ingat. Karena semalaman mukamu merengut. Baju kecil yang kau sayangi harus berpindah tangan karena sudah tak bisa lagi kau pakai. Dan wajahmu sontak berubah senyum seiring riangnya wajah pemulung.

Bunda juga tak lupa ekspresimu ketika harus memberikan satu sepatu yang masih cukup bagus karena dirimu diberikan sepatu baru oleh Ayah. Kita mengikuti jalan sufi, Nak. Jika kita diberi rezeki, maka kita perlu mengeluarkan rezeki yang kita miliki. Rezeki itu bahasa kasih Tuhanmu. Biarkan itu tetap mengalir. Karena aliran itu yang akan memberi cahaya pada hatimu.

Gurumu di sekolah mengajari untuk mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu oleh siapapun. Itu benar dan baik.

Namun yang lebih utama di sisi Tuhanmu adalah mengucap terima kasih lebih dulu dan lebih lantang ketika kau memberi.

Mungkin kau bingung, mengapa kau yang memberi justru berterima kasih?

Pengemis yang meminta-minta sebetulnya bukanlah semata-mata sedang mencari recehan dari dirimu. Dia sedang menawarkan sehasta tanah di surga.

Pengamen yang menghiburmu dengan gitar bututnya sedang memberikanmu kesempatan memiliki rumah mungil di kebun indah Tuhanmu.

Pemulung itu bukan menunggu baju dan sepatu bekasmu saja. Dia mempersilahkan taman surgawi di hadapanmu kelak.

Dan teman-temanmu tak cuma menunggu buku cerita dan games yang asyik, mereka menyuguhimu satu kursi nyaman dan indah di sebelah singgasana Tuhanmu yang kau cintai

Kau mau, Nak?

Ucapkanlah dengan lantang. Ucapkan dengan tulis dan seluruh kerendahan hatimu. Ucapkan dengan nama Tuhan dan Rasulullaah yang kau cintai…

Ucapkanlah terima kasih kala kau memberi.

With countless love,

Bunda

Selamat Pagi, Air


Bunda baru saja sampai di kantor. Ada rasa haru dan bahagia atas suguhan sederhana yang Tuhan beri pagi ini.

Nak, bagi Bunda, bisa menggandeng tangan mungilmu ketika mengantarkanmu ke sekolah adalah sebuah keharuan. Biasanya, dengan terburu-buru, kita naik ojek atau diantar ayah menuju sekolah. Tapi tidak pagi ini. Ditemani celotehanmu mengenai kupu-kupu, tentang bagaimana rasanya menjadi orang buta, sampai mengapa saat latihan manasik haji minggu depan harus berputar-putar 7 kali melewai Kabah kita berjalan kaki saja.

Di tengah perjalanan kita melihat seorang adik kecil berusia 2 tahun yang lucu. Buntal, berambut keriting, dengan pandangan mata penuh rasa ingin tahu. Bunda mengatakan padamu bahwa ia mirip sekali dengan dirimu ketika masih kecil. Lalu kau berkomentar bahwa mukanya berbeda denganmu. Ketika Bunda menjawab memang lebih baik berbeda, karena kalau tidak kalian bisa tertukar dan Bunda akan terkaget-kaget mendapati dirimu yang Bunda gandeng menjadi menciut. Kau sambut dengan gelak tawa yang bening dan lesung pipi khasmu yang jika kau tertawa mukamu mirip seperti anak kucing.

Sekitar 300 meter dari gerbang sekolah, kau meminta Bunda untuk berhenti bahkan bersembunyi. Ingin terlihat pergi sekolah sendiri tanpa diantar, katamu. Bunda menurut saja. Dengan langkah tergopoh-gopoh serta tas ransel yang lebih besar dari tubuhmu kau sampai di gerbang sekolah. Di kejauhan Bunda tersadar, bahwa kau sudah menjadi gadis kecil.

Kini kau masih bisa Bunda gandeng. Entah kalau kau sudah beranjak remaja. Kelak kau bertambah dewasa dan Bunda bertambah tua. Maukah kau mengantar Bunda sesekali ke sebuah taman jika Bunda sudah jompo seperti ketika kau menarik-narik tangan Bunda minta diajak ke taman belakang di rumah Eyang? Dan….bersediakah kau menggandeng tangan Bunda dengan penuh cinta ketika tubuh ini sudah renta?

Jawabannya mungkin iya karena Bunda percaya kau anak yang penuh kasih. Terlebih ketika semalam kau begitu setia menanti kedatangan Bunda dari kantor sampai pukul 12 malam dan kita akhirnya tertidur dengan tangan saling menggenggam.

Atas nama Tuhan, Bunda mencintaimu sebagai anakku, mengasihimu sebagai sahabatku, dan menghormatimu sebagai insan yang sejajar denganku. Selamat belajar dan bermain di sekolah, Nak, Bunda mau kerja dulu. Sampai bertemu nanti malam.

With purely love,
Bunda

Scrappy is Back!

Dari setahun yang lalu saya ini pecinta digital scrapbook. Tahun ini, saya mulai lagi buat di sela-sela waktu ngantor *karyawan macam apaaa ini hihihhi*

Berikut hasilnya.

Air di foto atas itu kaya udah SMP yak? Mukanya boros. Emaknya jadi imut gitchuu ya. *dilempar kelom*

Namanya Air ya hobinya main air atau di tempat yang ada airnya kaya pantai (yang di foto itu di Jatiluhur) *Jatiluhur kan bukan pantaii tauuu :))

Ini apa ya. Ya gitu deh kegiatan Air kalo liburan. Kalo nggak denger musik, berenang, dan face painting.

Ini dia Kaka Aya sahabat Air yang diceritain di postingan sebelumnya. Duh, dia kehilangan banget, deh pas Kaka Aya pindah rumah. :”(

Ini sok gayanya bocah kriwil satu itu. Ini pose-pose kaya gini langka banget deh. Biasanya kalo nggak manyun ya muka-muka jelek amat gitu. Heuheuheu

Hmm, itu foto curi-curi soalnya ya itu tadi, pas mood pas mau dijepret.

Air si kuda lumping. Ini ceritanya dia abis dandan-dandanan trus minta difoto. Tumen bangeuuut!

Begitulah. 🙂