Akibat Ngintip 


Mari lupakan sejenak segala writing challange. Kadang, rasa bersalah telat posting bikin kalo mau nulis yang lain jadi tertahan. 

Ngomongin rasa bersalah. Ugh. Ini kerasanya kaya “hantu” gentayangan. Ya gak sih? Padahal bisa jadi sebenernya gak salah atau gak salah-salah amat. 

Salah satunya perkara jadi ibu. 

Tiap ibu jadi punya jendela untuk mengintip kehidupan ibu lainnya. Ada teropong kekinian bernama media sosial yang bisa didapatkan secara gratis. Eh nggak deng kudu bayar pake kuota hihihi. 

Ngeliat ibu A seneng banget bilang anaknua juara ini-itu. Ibu B sukses cas cis cus dengan anaknya pake bahasa asing. Ibu C ambisius kejar tayang biar anaknya khatam hapalan Quran. Ibu D sibuk banget ajak anaknya travelling keliling dunia demi yang namanya pengalaman. 

Dan Ibu E, F, G, H dengan variasi harapan serta pencapaian lainnya. 

Lalu saya yang juga punya teropong media sosial ini jadi mikir. Setelah kegiatan intip-intipan selesai, ada lintasan pertanyaan yang hadir. 

Apakah saya kurang ambisius membentuk Air menjadi sesuatu?

Apakah saya sudah benar menjadi seorang ibu?

Apakah…apakah…apakah ah masih banyak deretan tanya yang menggelayuti pikiran. 

Pertama, saya gak hobi membicarakan prestasi anak sama orang-orang. Bahkan kalau di acara kumpul keluarga atau grup chatnya, saya agak malas kalau pembicaraan sudah bernada “oh kalau anak aku sih bla bla bla”. Baik disampaika secara langsung atau pun tersirat. 

Bukan, bukan saya gak bangga dengan apa yang sudah Air capai. Tapi pencapaian macam itu lebih suka saya obrolin sama Air. Evaluasi progress, menyiasati kekurangan dan sebagainya. 

Bahkan saya sampai bertanya sama Air, “Kamu keberatan gak kalo Bunda terdengar jarang nimbrung kalo ada keluarga atau temen Bunda yang ngomongin prestasi anak-anaknya?” Dan dia gak keberatan. Baginya apresiasi di depan dia aja udah cukup. 

Disadari apa nggak, apa yang saya share di media sosial tentang Air malah mostly tentang how absurd and silly Air. Tujuannya bukan pamer, lebih ke menghibur aja. 

Oke, tentang ambisius. 

Saya menyadari kalau ambisius bukan bagian dari hidup saya. Terlebih membebankan ambisi pribadi ke Air, ugh itu kok ya gak banget. 

Jauh sebelum Air lahir, saya meyakini bahwa anak bukanlah pribadi yang bisa diplintar-plintir. Ada “tugas” khusus yang Allah beri sama Air. Alih-alih membuat Air ada di jalur saya, mending menyibukkan diri menemukan jalur yang paling pas buat dirinya sendiri. 

Ya emang keliatannya saya jadi santai sebagai seorang ibu. Santai banget malah. 

Makanya di satu titik suka re-think. Eh bener gak sih sesantai ini? Liat anaknya tumbuh dengan baik dan menikmati masa kecil bagi saya udah cukup. 

Ternyata ya, semakin kita beri ruang dan waktu, anak rupanya kian piawai menemukan jati dirinya. Saya memilih untuk membuat boundaries sebijak mungkin.

Karena saya menyadari, kita cuma mendampingi sampai batas tertentu. Bukankah kelak ia akan merancang dan merambahi hidupnya sendiri…..tanpa kita.

Akhirnya, setiap berada di titik galau seperti tadi, saya menemukan hal kunci yang bisa dilakukan: memperbaiki doa. 

Karena hanya doa yang bisa sampai di mana pun anak kita berada. Dan dengan doa, kita bisa minta bimbingan dari Maha Baik agar ditunjukkan cara menjadi ibu yang paling cocok untuk sebuah jiwa yang dititipkan pada kita. 

Ada yang pernah ngalamin jugakah?

Ketika Bunda Galak dan Kasar

Sore ini sedang di sebuah tempat makan. Judulnya nungguin Air yang lagi main di rumah temen gymnasticnya. 

Oleh karena Air liburan, nyaris 24 jam kami selalu bersama-sama. Momen mahal dan penuh syukur dijalanin. 

Tapi detik ini saya menyadari sesuatu. Jarak yang tercipta antara saya dan Air sekarang membuat hati lebih jernih mengevaluasi hal yang kemarin luput ditangkap. 

Saya menyesal, belakangan memperlalukan Air tidak baik. Galak, bukan tegas. Kasar, bukan dengan hormat. 

Iya, saya lupa. Kedekatan kami memang teramat lekat sampai rasanya saya boleh seperti itu. Walaupun hampir kesemuanya dilakukan tanpa sadar. 

Disadari beberapa detik setelah dilakukan. Kemudian disesali. 

Saya barusan mencoba memutar kembali beberapa adegan di mana Air bermuka khas ketika ia kecewa. Dan sungguh, ini bukan kecewa yang perlu ia rasakan. Maaf, Nak.

Ada beberapa jenis kecewa dan alasan kecewa yang perlu anak alami agar ia belajar. Tapi sungguh, yang saya lakukan rasanya kok ya sebaiknya bisa saya hindari. 

Kemudian saya mencoba mencari tahu alasannya. Mengais-ngais penyebabnya. 

Saya sedang panik. Saya sedang resah. Saya sedang tak karuan. Mostly, mode “cranky mom” keluar pas saya lagi laya gitu. 

Tapi rasanya gak adil ya kalau kemudian alam bawah sadar saya memperlakukan Air seperti itu jika saya sedang “muter-muter”.  

Okelah. Sebaiknya penyesalan ini harus jadi pelajaran biar jadi perbaikan. Ini yang ingin saya coba lakukan.

1. Bicara dengan Air = tenang dulu.

2. Intonasi biasa aja. Kan saya juga gak suka dibentak sama orang lain hanya karena kesalahan kecil. Gak enak tau!

3. Benahi yang bikin galau segera. Kalau belum bisa, katakan pada diri, “Tenang, ini postpone dulu. Dipikirkan lagi pada waktunya”. 

4. Hormati Air. Dia anak, guru, human being. Ada Allaah dalam hatinya. 

5. Sadari. Waktu bersama gak akan selamanya. Nikmati. Syukuri. Jalani dengan cinta terbaik. 

Ah, saya jadi sangat merindukan Air sekarang. Saya jemput malaikat kecilku dulu, ya. 

#NulisRandom2015 Hiiiyyy….Ular!

Apa binatang yang paling ditakutin? Saya dengan cepet akan jawab: BUAYA! Selain bergigi tajam dan bertenaga besar, dia bisa ngejar kita di darat dan di air. Aduh mau ke mana coba? Selain itu, saya takut dan geli sih liat binatang melata semacam ulat dan ular.

Nah, yang terakhir disebut rupanya siang tadi bertamu tiba-tiba di rumah. Jangan bayangkan rumah saya ada di tengah hutan atau rawa. Penuh pohon rindang atau semak rerumputan. Bukan, sama sekali bukan. Kebayang gak sebuah tempat bernama: Bekasi. Gersang, panas, dan gundul. Terletak dua rumah di belakang Alfamart dan gak jauh dari pusat perbelanjaan kota. Intinya, itu ular gak tau dari mana.

Ceritanya, siang tadi sahabat Air yang bernama Keysha main ke rumah. Mereka sempat duduk-duduk di sofa ruang tamu sambil sesekali selonjoran di lantai. Saat mereka sedang membawa gadget ke lantai dua, saya melihat semacam tali tambang warna hitam melingkar di kaki sofa. Saya telisik-telisik dan bertanya, sepertinya saya gak punya tambang macam itu.

Rupanya setelah didekati itu ULAR, sodara-sodara! Aih, paniknya luar biasa. Walau bukan ular dewasa, tapi aduh liat badannya yang menggeliut-geliut itu rasanya merinding disko. Badannya yang mengkilat berwarna hitam-kuning membuat para gadis kecil teriak histeris.

Jujur, saya ikutan panik. Bukan apa-apa. Walaupun saya dulu anak Pramuka, saya gak tau kalo nemu ular di rumah harus diapain. Yang saya ingat, kata guru ngaji kalau nemu ular ya harus dibunuh. Bah, gimana mau bunuh. Ngedeketin aja takutnya setengah mati.

Keysha dan Air menyarankan disiram pakai air garam. Namun itu terasa gak mungkin karena ular itu melata ke bawa kabel tablet dan beberapa gadget yang sedang dicharge. Kemudian menyelinap masuk ke bawah kasur di depan televisi.

Merasa gak bisa mengatasi, saya akhirnya keluar rumah dan meminta Bang Rahman, ojek langganan, untuk membantu. Berbekal gagang sapu dan segudang keberanian, Bang Rahman mengangkut semua barang yang aman dari ular ke atas kursi. Khawatirnya itu ular masuk ke dalam tas atau menyelinap ke dalam pouch yang berisi kabel-kabel charger. Hiiyyy.

Dan benar saja, ular itu kaget ketika kasur diangkat. Dia bergeliut panik kesana-kemari. Anak-anak saya amankan di lantai dua, sambil sesekali mengintip dari anak tangga akan tindakan heroik Bang Rahman. Saya? Naik ke atas sofa. Udah gak tau malu. Ah, bodo amat.

“Wah, ini ular berbisa. Bahaya juga. Kepalanya ada dua di ujungnya,” kata Bang Rahman sambil memasukkan ular ke dalam plastik.

Hah? Kepala dua? Ah, sudahlah.

Selepas Bang Rahman keluar dengan ular di dalam plastik yang sibuk menggigiti si plastik, saya dan anak-anak terduduk lemas. Siyoook!

Rumah saya emang suka dimasuki tikus, kecoa, bahkan ikan kecil-kecil sewaktu banjir sih. Tapi ular? Aduh, BIG NO NO. Ngeri banget. Moga semua ular di duna ini kapok ya masuk rumah saya. Nanti dibasmi Bang Rahman loh, ular. Maennya ke hutan aja ya. 😀

Jihadmu, Nak

Artwork by Adam Stone

Beberapa dari teman saya menginginkan anaknya jadi mujahid. Bisa berlaga berjihad atas nama Allaah.

Saya pun mendoakan hal serupa. Moga Air jadi mujahidah. Jihad mengendalikan egonya krn Allaah. Jihad untuk beragama bukan atas dasar rasa bangga dan sombong ber-Islam. Jihad agar teguh jadi orang yg bermanfaat dlm kebaikan bagi semua makhluk.

…makhluk lintas agama, suku, ras, dan spesies.

Karena jihad bukan hanya perkara negara Islam tegak di Indonesia. Bukan perkara angkat senjata demi agama. Setidaknya bagi saya begitu.

Masak Berjamaah

Mungkin benar, apa apa yang berjamaah dapat lebih banyak hikmah dan berkah. Gak cuman perkara sholat, masak pun bisa jadi demikian. Masih menyoal liburan kemarin (owh maafkan karena masih belum move on dari masa pakasiyong ini 🙂 ). Saya baru sadar banyak senyum ketika ada di tengah momen memasak bersama nenek di Bandung dan dengan mama serta uwa di Tasik.

Rasanya seperti anak gadis tempo dulu yang ditempa di dapur sedemikian rupa agar kelak bisa melayani perut keluarga dengan baik. Tsaaaaahhh. Sekali kali merasa jadi gadis lagi boleh lah ya :p

Bagaimana nenek masih saja menepuk tangan saya yang berkacak pinggang saat tangan satunya sedang menggoreng. Hahaha, saya emang bengal. Atau ketika jari telunjuk ditekuk tak semestinya saat mengulek sambel yang diikuti gelengan kepala nenek. Saya cengengesan.

Tak ada yang berubah rasanya. Nenek yang memilih diam saat mengajari masak dan berkata “lihat dan hapalkan” saat saya bertanya ini-itu. Namun, sejago apapun  saya dalam urusan menghapal, para bumbu dan kekawannya memilih berkolaborasi lebih ciamik dan maknyus di tangan nenek. Nasib tangan pengetik bukan pemasak kaya saya ini cuma bisa iri. Hihihi.

Di Tasik, masak dengan mama dan uwa punya budaya yang beda. Namun sama-sama tak ada yang beda. Cuma kulit yang pada lebih keriput dan saya yang udah punya “buntut”.

Isi dapur tak sekadar minyak yang sibuk menggoreng dan pisau yang mengiris racik bumbu enak, tapi juga gosip terkini dari anggota keluarga. Nyiahahahha. Sayangnya momen-momen masak berjamaah Ini gak sempet diabadikan. Tangan lagi sok sokan belepotan adonan dan ngiris-ngiris soalnya. Caelaaaahhh :d

Dapur bukan hanya panas dengan asap dan hawa penggorengan, namun hati saya menghangat dengan kebersamaan. Ada semacam pelajaran perkara kewanitaan yang diturunkan dalam kegiatan masak berjamaah ini. 

Kelak saya juga ingin mengajak Air main ke dapur lebih sering. Sekarang Air seneng join ketimprunga  di dapur sama saya hanya kalau bikin kudapan sore. Selebihnya kalau masak makanan berat apalagi yang harus ada agenda iris bawang wah dia sih kabur menjauh. Meh.

Entah Mau Nulis Apa

Hai, udah lama gak nulis di sini.

Kalimat itu terasa sangat pasaran ya. Khususnya buat para (yang ngaku-ngaku) blogger tapi jarang nongol negokin ‘rumahnya’ apalagi nulis. Tapi saya memahami kenapa begini dan begitunya. Karena rupanya saya juga saat ini ingin mengumbar kalimat yang sama. Ribuan niat one day one post, rasanya cuman menguat di tataran pikiran saja. Siyaul.

Oke, jadi saya harus nulis.

Entah mau nulis apa. Bukan karena gak ada hal yang ingin diutarakan maupun dikisahkan. Ini semacam laptop yang udah ‘kekenyangan’ dicekokin ratusan gigabyte foto dan playlist, plus grup Whatsapp yang menagih ruang untuk meringkuk dalam folder memori. Penuh. Nge-hang.

Yaudahlah ya, kita mulai aja dengan mmmm yang terdekat, tegampang, dan terbaru aja.

Sudah hampir setengah bulan saya berganti kostum dari full-time employee jadi kerja semau-maunya. Alasannya bukan males, tapi nggak ada Mba yang jagain Air. Plus sukses ditakut-takutin berita pembunuhan anak oleh baby sitter. Klop lah saya akhirnya ‘kembali pulang’ mengabdi sama Air.

Sejauh ini, saya merasa bahagia tiada tara *kalimat ini macam lagu lawas. Bisa mulai ngetik pagi hari selepas Air sekolah dengan pake kaos kutung, celana pendek, dan tanpa harus keringetan membelah macet Ibu Kota. Lalu, menyambut gembira saat Air pulang sekolah sambil sebelumnya bikin kudapan sore.

Acara ngemil sore ini nikmat banget deh rasanya. Cemilannya sih sederhana aja. Kadang pisang goreng, bakwan jagung, martabak tahu-telor, piscok, atau makaroni panggang. Modalnya cuman nekat dan Chef Google. Enak gak enak ya dimakan juga. Bukan karena didampingi teh panas buat saya dan jus dingin buat Air, melainkan kehangatan bertukar cerita dengan Air atas kegiatannya hari itu. Priceless banget.

Ini yang bikin hati Air kegirangan belakangan ini. Ah, Nak. Seharusnya kita coba ini dari dulu, ya. 

Oiya, saya juga jadi rajin masak. Oh Nyonya Besar bertubuh cungkring ini ternyata piawai juga belepotan minyak dan berkubang dalam adonan. Untungnya, AIr cukup kooperatif (baca: mau ngabisin makanan yang entah enak apa nggak) :D.

Mungkin ini yang namanya menjalani kodrat ya, rasanya hidup jadi penuh. Atau mungkin juga ini namanya norak hahahhaha. Belom aja nemu bosennya, tauk deh kalo udah jenuh gimana. 🙂

Sesungguhnya urusan masak dan ngobrol sama Air ini adalah hiburan yang Allaah kasih sama saya belakangan ini. Ya, ada ujian besar yang sedang menghampiri saya. Namun mungkin memang benar apa yang dikatakan seorang bibi saya di Cimahi:

Allaah menurunkan ujian itu satu paket. Bukan hanya dengan solusinya saja, melainkan lengkap juga dengan penghiburannya.

Ya, saya dihibur dengan cara-Nya yang luar biasa. Doakan saya ya, kawan.