Gila

Setiap kali mendengar kawan berkisah mengenai sebuah kegilaan seorang manusia, saya suka mikir ulang. 

Mikir ulang dengan bertanya: emang gila itu apa sih?

Setiap ingin melabel atau bilang, “Ya ampun gila banget,” atau “Udah gila emang, atau “Ih itu mah gila ,” saya ngerem dulu. Ciiiittt….

Sambil ngerem, saya mengingat-ingat sebuah cerita yang sering diceritakan ketika saya kecil. 

Alkisah ada sebuah wilayah yang dipimpin oleh seorang raja. Rakyat di daerah itu selalu membicarakan bahwa rajanya itu aneh dan sering membuat keputusan yang gila. 

Omongan itu sampai ke telinga raja. Raja merasa tidak suka. Disuruhlah tabib membuat ramuan istimewa. Setelah jadi, raja menuangkan ramuan itu ke dalam saluran air utama yang akan mengalir ke rumah-rumah rakyatnya. 

Rakyat dan seluruh penghuni kerajaan meminun air yang terkontaminasi ramuan tersebut. Mau tau khasiat ramuan itu? Ya, membuat semua yang meminumnya menjadi gila.

Hingga tak ada lagi yang menyebutnya gila. Tak ada lagi orang gila di wilayah itu. Rakyat merasa sang raja tak lagi gila.

Sejak cerita itu mampir di telinga, saya beranggapan bahwa gila itu ada hanya karena “terasa berbeda”. Karena kalau semua sama, tak ada lagi istilah gila. Bukankah orang gila gak pernah menyadari dirinya gila. 

Sama kaya kejujuran di tengah pusaran kebohongan berjamaah. Atau kebenaran di dalam kubangan kejahatan. Jujur bisa jadi disebut kegilaan. Pun kebenaran.

Random banget ya tulisan ini. Mbuh. 

Advertisements

One thought on “Gila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s