Mengenali Tuhan

Kita tak pernah mengenal Tuhan, sampai ada yang mengenalkannya. ~Pi Patel, Life of Pi

Saya terdiam cukup lama ketika Pi dalam film itu berkata demikian. Pause. Saya catat lekat-lekat dalam batin dan dicerna perlahan-lahan. 

Siapa dan bagaimana Tuhan diperkenalkan pertama kali pada saya? 

Pertanyaan itu kian menggelitik untuk dicari tahu jawabannya. Oke, sambil bercerita bagaimana saya dan Tuhan diperkenalkan, silahkan kalian mengorek-ngorek juga file memori di dalam lipatan otak masing-masing. Jangan, jangan di lipatan celana. Gak bakal nemu. 

Kata Tuhan mulai digaungkan ketika saya mengaji. Ia sosok yang digambarkan dengan penuh kekuasaan dan juga senang menghukum yang berdosa. 

Kalian pernah baca buku komik jadul yang berjudul “Siksa Kubur”? Nah begitulah Tuhan yang bergema dalam benak. 

Suka menggunting orang yang berbohong. Melelehkan kulit sampai tersisa hanya tengkorak bagi yang suka jahat pada orang. Menyetrika punggung orang yang…ah entah apa kesalahannya. 

Seram. Tuhan sungguh seram.

Belum lagi orang dewasa pada saat saya kecil senang mengancam dengan membawa-bawa nama Tuhan. Kalo gak sholat, kalo teraweh bolong-bolong, kalo gak puasa, Tuhan jadi algojo di tiap situasi. 

Lama-lama Tuhan di dalam mulut-mulut mereka dibuat menjadi Sang Maha yang harus dipatuhi karena ketakutan. 

Sampai kemudian saya berkenalan dengan asmaul husna. Begitu banyak nama-Nya yang indah dan terasa sangat baik. Bahkan setiap apapun yang dilakukan harus dengan nama-Nya yang Pengasih dan Penyayang. 

Saya pikir, kali ini Tuhan memperkenalkan diri-Nya dari sisi lain yang belum saya jamah. Saya cuma percaya bahwa Tuhan itu Maha Segala. Termasuk kebaikan. Jika ada orang baik aja saya bisa kagum, berarti Tuhan sekian kali lipat Maha baiknya. 

Masa iya Tuhan cuma punya jobdesc menghukum ciptaan-Nya, pikir saya waktu kecil. Buat apa manusia diciptakan lalu hanya untuk dipites-pites macam kutu rambut. Nope. It must be beyond than that. 

Beranjak dewasa, saya mendapati seorang Syaikh berkata.

Rahmat Allaah mendahului murka-Nya.

Dan banyak sekali hadis Qudsi bahkan ayat Alquran yang menggambarkan kebaikan Allaah sebagai Tuhan. Ini, ini yang kemudian saya yakini. 

Sungguh beruntungnya saya. Punya perjalanan yang berujung pada kekaguman Maha Baik. Tidak, tidak merasa lebih baik dari siapapun. Saya cuma ngerasa apa jadinya kalau saya masih merasa bahwa Tuhan segitu kakunya melihat gerak-gerik ciptaan-Nya. 

Perjalanan mengenal Tuhan masihlah panjang. Semoga saya dalam keadaan khusyu mencintai-Nya ketika kelak berpulang. 

Advertisements

2 thoughts on “Mengenali Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s