Keyakinanmu, Terorismu

“Mungkin, sekarang banyak orang yang diteror oleh keyakinannya sendiri,” kata saya membuka percakapan di meja makan tadi pagi. 

Begini. 

Ketika saya liburan di Bandung seorang kawan bercerita di sebuah sore ditemani secangkir kopi hangat. Sebut saja ia Dwi. 

Dwi seorang perempuan yang santai, relijius dengan caranya sendiri, dan meyakini Islam dengan perjalanan ruhani yang hanya Tuhan dan dirinya saja yang tahu. Ia baik dan senang menolong. 

Sampai suatu ketika, ia mendapat SMS dari saudaranya yang katanya sedang rajin ibadah dan mengaji. Isi SMS-nya bukan sekadar forward tapi benar-benar ditujukan untuk Dwi. Misalnya, seperti ini. 

Assalamu’alaikum. Dwi gimana sholatnya? Jangan bolong-bolong ya. Inget umur lho.

Dwi, pake jilbab dong. Cantik loh. Kan nutup aurat itu wajib hukumnya. Dosa kalo keliatan sama yang bukan muhrim.


Aku harap kamu gak pacaran ya. Haram. Ini aku ngasi tahu karena sayang. Kan harus ngasi tau walo hanya satu ayat.

Dan masih banyak lagi. 

Dwi dan saudaranya ini sama sekali gak akrab. Setiap Dwi tanya kenapa sih kirim terus SMS kaya gitu. Alasannya:

1. Guru ngajinya bilang, “Sampaikanlah walau hanya 1 ayat”.

2. Kalau saudara kita masih ada yg abai sama perintah Allaah dan dia gak ngasi tahu maka dosanya dia tanggung juga. 

3. Dia ingin berdakwah.

Alih-alih merasa menjadi lebih baik, Dwi merasa terganggu. Bahkan sudah meminta untuk gak perlu lagi kirim SMS. Dan bilang bahwa dosa dia biar dia nanggung sendiri aja. 

Pertama, Dwi merasa gak sedang butuh nasihat spiritual. Kedua, saudaranya ini gak tau kondisi ruhani dan spiritual dirinya emang lagi kaya apa. Ketiga, bukankah sesama muslim juga harus saling berbuat baik…..tapi bukan cuman “baik” menurut kehendak hati sendiri. 

Bagi saya, cerita Dwi adalah potret yang sungguh menarik dari apa yang memang sedang marak terjadi di society kita sekarang.

Saya pernah diajari, ketika ada orang yang ingin mengenal Allaah melalui Islam, sambut ia dengan cinta. Bukan dengan ilmu terlebih dahulu. 

Mengapa?

Karena ketika seseorang sudah tumbuh rasa cinta dan kasih pada Allaah serta Rasul-Nya, maka layaknya orang jatuh cinta. Ia akan melakukan apa saja ibadah yang akan menhantarkan ia pada ridho Ilahi. Segala ibadahnya karena cinta. Segala ilmu akan dilahapnya. Segala akhlah baik Rasulullaah akan ia contoh sekemampuannya. 

Hal yang banyak terjadi sekarang adalah menyambut orang lain yang ingin mengenal Islam dengan ilmu. Benar, ia akan rajin memetik amal. Namun hal ini rentan menjadikan agama sebagai Tuhan. Ilmu sebagai tujuan. Dan ber-Islam sebagai kebanggaan. 

Orang yang jatuh cinta ia akan hanyut dengan yg dicintainya. Orang yang berilmu akan larut dalam kebanggaannya. 

Lalu, ketika ilmu itu mengantarkanya pada bab mengenai jihad, maka rasa takut pada dosa tak mengajarkan orang lain menjadi utama. 

Saya sering sekali menyaksikan, orang berdakwah serupa memuntahi orang. Asal ia bisa mengantarkan 1 ayat pada orang lain. Tak peduli apakah orang itu memang pada momen dan kondisi yang tepat. Yang penting dia aman dari dosa. Lalu merasa gak cemas lagi. Jebret! Suka gak suka, makan tuh muntahan. 

Apa yang ia yakini menjadi teror atas level keimanannya. Sehingga ia tanpa sadar meneror yang lain agar sejenak terlepas dari kecemasan spiritual. 

Pertanyaannya: ia berdakwah untuk apa? Untuk siapa?

Di sisi lainnya, saya sungguh bersyukur masih ada pendakwah yang sangat bijak. Yang entah kenapa justru biasanya mereka yang justru fokus dengan perbaikan dirinya. Mendakwahi diri sendiri lebih keras. Dan oleh karena kualitas ibadahnya diliputi berkah Allaah dan cinta kasih Rasulullaah, ia malah menjadi magnet bagi yang sedang mencari cinta Ilahi. 

Semoga mereka dirahmati Allaah. 

Bagi saya, pengetahuan dan level spiritual ini gak matematis. Bukan level ilmu yang hanya bisa diturunkan melalui pengajaran lahir. Ada hal batiniah yang berkelindan antara sesama manusia, semesta, dan Allaah.

Yah, begitulah. 

Semoga kita bisa tenang terus tanpa dihinggapi penyakit kecemasan spiritual. Hey, ternyata teroris itu gak cuman yang ngebom. Kadang, kecemasan atas apa yang kita yakini juga bisa jadi teror. 

Dan ngebom-ngebomin “kuil” spiritual orang lain tanpa izin. Eh sejak kapan teroris pake perizinan? 

Advertisements

2 thoughts on “Keyakinanmu, Terorismu

  1. hmmm saya jadi teringat bagian cerita dari buku yg baru saya baca, dimana Gandhi diminta seorang memberi nasihat pada seorang anak bandel yg harusnya ga boleh makan garam demi kesehatannya, Gandhi menyuruh datang seminggu kemudian. Dan baru kemudian akhirnya dia memberi nasihat yg biasa saja : jangan makan garam. dan anak itu patuh begitu saja

    Ternyata Gandhi langsung praktek dulu ga makan garam, baru memutuskan memberi nasihat..

    eh nyambung ga ya sama soal di atas? pokoknya gitu deh hehehe, dan makasih atas tulisan bagus ini eniwei ya teh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s