Ulat Besi

Yaiy libur tlah tiba, eh ini liburan Air maksudnya. Emaknya mah kan libur tiap saat hihihi. Di momen ini kami memilih menaiki kereta ke Bandung. Request anak kicik yang keranjingan naik ginian sepulangnya dari travelling ke Cirebon dulu. 

Dalam hati mikir, ah elah Bandung dowang pake kereta. Naik bis lebih murah dah cepet pulak. Yasudahlah ya. Seminggu sebelum berangkat booking dan bayar tiket. Kelar! 

Di hari-H, agak rempong karena bawa jaket tebel dan matras yoga. Sebuah persiapan untuk tubuh kerempeng yang lemah lunglai letih (halah) kalo kena dingin. Ya maklum sodara-sodara, belasan tahun hidup di gurun (baca: Bekasi) bikin kulit jadi norak kalo kena dingin. 

Dan sebuah sok-sokan bernama “pengen rajin yoga walo liburan” merasuki jiwa. Hingga gelundungan matras jadi muatan yang ditenteng-tenteng. 

Dengan segala perabotan lenong itu menuju stasiun naik Uber. Aih, ada penutupan jalan dong di depan kantor BPJS Kesehatan Bekasi. Jadi muter lebih jauh. Padahal tinggal sepelemparan kolor doang udah sampe stasiun. 

Ah akhirnya sampe! 

Masih sempet sarapan jajanan kue pasar depan stasiun. Dan Air tiap menit nanya, “Keretanya mana sih”. 

Tau aja perut udah kenyang, si kereta dateng dengan gagahnya. 

Selalu suka sensasi duduk di kereta luar kota. Apa ya, perjalanan yang rasanya “napak”. Karena mata bisa menyisiri kota-kota yang dilewati. Hal yang gak bisa dirasakan kalau kita naik pesawat terbang, kan?

Kedua, colokan! Haha! Perjalanan sungguh sempurna kalau ada 3 hal: listrik buat hape, duit, dan orang tersayang. Ya gak? 

Ketiga, pemandangan cantik. 

Iya, cantik. Senang rasanya bisa menyapu pandangan dengan suasana pedesaan, sawah, ngarai, dan pemandangan unik lainnya. 

Misalnya saja ketika kami melewati “kuburan” kereta di Purwakarta. Melihat tumpukan gerbong tua yang sudah berkarat. Bahkan beberap di antaranya sudah “berambut” tanaman menjalar. 

Ah tak terasa dua jam perjalanan berakhir sudah. Kami memilih berhenti di Stasiun Bandung walo sebetulnya bisa turun di Cimahi. Ya, sekadar temu kangen sama Stasiun Bandung, terakhir 16 tahun lalu nginjek lantainya. Dan ini yang pertana untuk Air. 

Hello, tanah Pasundan. Kami datang!

Advertisements

2 thoughts on “Ulat Besi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s