Moana, Mau Anu Mikir Dulu

stop-judging-l

Kalau kamu menganggap bahasan ini adalah resensi film Moana (2016) yang lagi hot-hotnya diputer di bioskop, segera close laman ini. Soalnya bukan mau puja-puji dan kritik-kejam itu film.

Oke, saya cerita sedikit latar belakang tulisan ini.

Di suatu sore yang cerah, Air tiba-tiba bilang, “Bunda sadar gak, di film Moana itu gak ada peran jahat, lho. Semua tindakan buruk ternyata ada alasan di baliknya. Dan alasan-alasan itu baik.”

Saya coba menggali dengan bertanya, “Misalnya gimana?”

Air mikir bentar lalu menjelaskan, “Misalnya Maui. Dia mencuri jantung Te Fiti bukan karena serakah pengen menguasai, tapi agar manusia lebih bisa sejahtera. Dia seperti itu karena merasa gak diinginkan orangtuanya yang berwujud manusia. Makanya setelah jadi setengah dewa dia bikin pulau, tumbuhin kelapa buat manusia.”

“Trus apalagi?” saya memancingnya kembali.

“Hmm, Te Ka! Dia yang digambarkan monster lahar bukan mau menyakiti Maui dan Moana, tapi dia bentukan dari Te Fiti yang jantungnya diambil. Dia kehilangan dirinya sebagai penjaga alam.” Air tersenyum setelah panjang lebar bicara.

Bahasan sore itu, menyisakan bahasan tersendiri di benak selama sisa hari.

Klise sih emang quotes yang bilang “Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan”. Tapi sungguh, ini cocok banget deh sama fenomena belakangan ini.

Saya agak ngeri. Karena kini orang punya kecenderungan terlalu enteng untuk menempelkan label di “jidat” orang lain. Tanpa mau sedikit aja bersusah-susah mengenali lebih dalam, mengkaji sedikit lebih jauh, dan membuka lebar-lebar hati serta pikiran.

Bahkan, barusan saya sendiri mikir, apakah saya juga terlalu cepat menghakimi mereka yang seperti saya jelaskan tadi? Well, iya mereka pasti punya jutaan alasan untuk tak suka dengan seseorang, merasa gak sreg sama pendapat yang lain, merasa terganggu dengan penampilan siapalah.

Cuma, haruskah kemudian pilihan-pilihan kita ditindaklanjuti dengan sikap mencaci, berkata kasar, sinis, dan bahkan saling menyakiti?

Saya cuma mau bilang, selama kita masih berstatus “manusia” maka biasa aja lah. Gak ada yang lebih baik dari yang lain. Setidaknya biarkan aja Tuhan yang ngasi kita rapor. Tugas kita cuma saling menyayangi.

Ya, kalau gak bisa menyayangi setidaknya tetap berlaku baik. Malu sama akal budi yang disematkan di diri. Kalau etika ditaruh di got depan rumah, gak malu sama tikus yang hidup di dalemnya?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s