#NulisRandom2015 Antara Abang Taksi, Arab, dan Selangkangan

91367399.jpg

Malam yang melelahkan. Saya dan Air memutuskan menumpang taksi putih selepas berkegiatan di bilangan Jakarta Timur. Waktu belumlah larut, walau purnama sudah setia memandangi perjalanan kami menuju rumah. Hembusan AC dan rasa penat membuat mata bergelayut berat dan ingin menutup saja. Tetiba driver taksi begitu saja berkata, “Itu penampungan yang mau pergi ke Hong Kong, Taiwan, dan Korea,” menyisakan mata saya yang perlahan jadi mau tak mau membuka. Bisa saja saya memilih untuk meneruskan tidur menyusul Air yang sudah bergelung manja di pangkuan.

Ternyata yang bapak itu maksudkan adalah, barusan kami melalui sebuah tempat penampungan sementara untuk para tenaga kerja wanita (TKW) yang hendak melarungkan nasib di negeri di mana mata sipit menjadi mayoritas. Untuk TKW yang ingin bekerja di Arab, menurut bapak, ditampung di daerah Condet. Kemudian mengalirlah cerita bapak mengenai perbincangannya dengan penumpang-penumpang yang kebetulan beberapa kali diantarkan ke gedung putih-biru yang terlihat kumuh tadi.

Merasa sesama pendatang di Ibu Kota yang katanya kejam ini, bapak menjadi berempati dan menjadi pendengar yang baik bagi para TKW ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa sudah habis sawah dan tanah ia jual untuk bisa punya ‘modal’ melangkahkan kaki ke luar negeri yang sudah minim lapangan pekerjaan buat mereka ini. Ada juga yang sudah tahunan masih mengendon di tempat penampungan karena tak kunjung jago cas-cis-cus bahasa negara yang jadi tujuan.

“Kasian, Mba. Mereka ini aja gak bisa bahasa Indonesia lah langsung diajari bahasa Mandarin yang cengkoknya mesti bener itu,” komentar si bapak.

Ternyata banyak TKW yang ia antarkan berkisah memiliki pernikahan yang kandas pascamenjalani pekerjaannya di luar negeri. Di satu sisi ada yang pulang sudah mendapati suami beranak-pinak dengan janda tetangga, ada yang suaminya kabur entah kemana dengan kondisi anak-anak dititipkan begitu saja di tetangga. Sudah diperas tenaga dan pikiran di negeri orang, dirampas pula suaminya di negeri sendiri. 😦

Di sisi lainnya, ada yang begitu jumawa. Merasa punya penghasilan yang berkali-kali lipat dari suaminya yang hanya seorang penggarap lahan tuan tanah, beberapa teman TKW-nya memutuskan tali pernikahan dengan sang suami.

“Hidup emang pilihan ya, Mba. Gak ada yang salah dengan mereka. Mereka cuman milih jalan nasib mereka sendiri,” ujar bapak sambil menekan klakson ketika ada pengendara motor yang memilih melawan arah dan hampir menyenggol lambung taksi.

Menurut data dan informasi si bapak, bicara penghasilan, lebih banyak pendapatan TKW yang kerja di Asia macam Hong Kong dan Taiwan ketimbang di tanah Arab. Dengan jam siang yang lebih panjang di Arab, jam kerja pun semakin panjang dan waktu rehat hanyalah sejenak. Belum lagi, kebanyakan keluarga Arab menempati satu rumah untuk beberapa kepala keluarga dengan hanya dua orang asisten rumah tangga. Juga urusan budaya yang banyak mengikat.

Seorang perempuan tidak diperkenankan keluar rumah tanpa muhrim, tidak boleh mengendarai mobil. Bahkan, kata bapak, ketika tuan rumah ingin makan maka semua pembantu harus masuk kamar dan tidak boleh melihat maupun berinteraksi. Mungkin tidak semua ya, ini hanya tuturan kisah dari seorang teman TKW-nya.

Tak hanya mengurus tetek-bengek perumah-tanggaan. Bukan barang baru, jika pembantu juga diperlakukan layaknya budak pada zaman dahulu. Budak halal ‘dinikmati’ tuan rumah dan anak-anak lelakinya. Menurut si Bapak, ia punya teman asal daerah Jawa yang dipaksa harus melayani nafsu semua anggota rumah. Dan saat hamil, dikeluarkan dari pekerjaannya. Jujur, saya bergidik ngeri. 😦

Itu TKW, ada juga sekelumit kisah sesama driver yang mengadu nasib di negeri Arab. Istri dari majikannya memergoki suaminya berhubungan dengan pembantunya, dan ia mengajak si driver ini harus melayani dirinya dan anak-anak perempuannya.

“Kaya zaman jahiliyah, Mba. Lebih liar dari orang bule. Nggak semuanya. Tapi pengalaman seorang TKW yang jadi penumpang taksinya bercerita bahwa majikannya memakai burqa serba hitam di luar dan sampai di rumah hanya memakai bra dan celana dalam. Bahkan di depan supirnya,” tutur bapak sambil membelokkan kemudi di perempatan.

Perbincangan mengalir menuju tren kawin kontrak yang kerap dilakukan orang Arab dengan warga Sukabumi. Tak banyak yang dibahas di sini. Si Bapak lebih tertarik menceritakan pengalamannya mengantarkan penumpang berbangsa Arab ini.

“Uangnya gak berseri, Mba. Saya dan kawan-kawan sering diminta mencarikan para Arab yang butuh teman tidur. Pernah beberapa kali dapat. Saya antarkan ke tempat mucikari dan para PSK berjajar layaknya wayang. Hahahahhaha,” tawa Bapak hampir saja membangunkan Air. Ah, dia masih nyenyak rupanya. Ini bukan bahasan yang ramah anak sebenarnya.

Saya juga geli sendiri ketika bapak lebih memilih kata ‘wayang’ ketimbang ‘model’.

“Ceritanya nih si ArabΒ mau pake 3 orang perempuan. Saya disuruh milih satu. Wah, bingung saya. Akhirnya saya pilih yang paling jelek aja hehehhe. Lumayan dapet 2 juta kalau bisa nganterin tamu. Tapi kesepakatan sama teman-teman kalau dapat uang kaya gitu dimakan bareng aja, jangan dikasi anak-istri. Nanti kalo anak saya jadi jablay bisa repot saya,” akunya.

Kemudian ia mengatakan dulu sempat mengantarkan tiga orang asal Ambon dari klub malam ke komplek seberang rumah saya yang baru saja kami lintasi. Satu di antara mereka mabuk berat dan ngamuk ingin kembali mabuk-mabukan di klub sampai memukul-mukul mobil dan temannya.

“Yang satu megangin kakinya, lainnya pegang tangannya. Kadang lepas, dan saya kena pukul beberapa kali. Padahal saya harus konsen mengemudi. Wah, saya ngebut saja daripada dapat uang gak seberapa tapi badan babak belur. Eh, begitu turun ternyata ada 3 botol minuman keras lengkap dengan slip pembeliannya bertuliskan 12 juta. Gila, satu botol seharga handphone canggih, Mba. Saya taruh aja di kantor poll, gak ada yang ngambil trus besoknya udah ilang tuh botol,” kenangnya sambil cengengesan.

Tapi itu tidak seberapa, katanya. Pernah ia kaget melihat penumpangnya berubah wujud. Ketika masuk ke dalam taksinya, si mba memakai baju gamis dan jilbab panjang layaknya orang pengajian. Tapi begitu bayar dan keluar taksi menuju hotel, eh tetiba sudah full make up dan pakai rok mini dengan belahan dada yang sangat rendah.

“Saya kaget puoolll. Kok orangnya beda, eh ternyata sama hahahhahaha,” tawanya yang renyah membahana seantero taksi.

Mendekati gang rumah, bapak masih sempat bercerita kalau ia sempat mengantarkan perempuan tanpa busana. Karena risih sekaligus kasihan, ia berikan jaketnya untuk dipakai ala kadarnya. Si Mba bercerita sambil nangis kalau dia kabur dari sebuah rumah yang sudah bertahun-tahun menjebak dirinya menjadi pelacur.

Cerita harus menemui akhirnya ketika mulut taksi sudah mendekati gerbang rumah. Setelah membayar, saya mendoakan diam-diam agar apapun pilihan yang diambil seorang anak manusia, mendapat bimbingan dari Yang Terang.

Selintas saya melirik Air. Dalam hati saya bilang, “Nak, di luar sana ada nasib yang dipertaruhkan begitu hebat dan beratnya. Apapun nasibmu, moga Bunda bisa senantiasa punya kesempatan mendoakanmu”.

Gerbang terbuka, dan kasur yang rapi serta hangat sudah menggelayut dalam benak.

Advertisements

22 thoughts on “#NulisRandom2015 Antara Abang Taksi, Arab, dan Selangkangan

  1. Saya juga sering dengerin driver taxi cerita, seru2 seru soalnya. Kadang, perjalanan jadi terasa lebih cepat (padahal diputer-puterin supaya jauh :p) ya keluar dari taxi, kita mendapat ‘sesuatu’ lah minimal πŸ˜€

  2. sepertinya taxi bisa jadi tempat menggali informasi ya mbak,, dari kisah anak jalanan sampe kisah mereka yang di gedongan. Selalu ada cerita yang membuat kita menganga ? Ciyussss ??

  3. disamping sebuah pilihan yang diambil pasti ada alasan mengapa itu bisa terjadi ya mba.. tapi namanya hidup ya pilihan .semoga kita tetap berada di pilihan yang baik dan lurus.
    kata2 terakhir untuk air..bikin aku kangen ibu dirumah hehehe

    • Setuju, Mba. Itulah kenapa kita nda boleh mudah jatuh menghakimi ya. Aaamiiin, semoga dituntun untuk memilih hal yang senantiasa baik.

      Salam buat ibunya, ya. Semoga sehat dan juga ngangenin anaknya juga. Telepon atuh πŸ™‚

  4. Pengemudi taksi itu memang banyak kisahnya ya Mbak…
    Btw Air bisa tidur terus sepanjang perjalanan ya? Nggak nguping? Ngeri juga kalau denger cerita begitu.

    • Iyah. Mba Eka mau dong ceritanya jugak πŸ™‚

      Air dari bayik gitu. Apalagi kalo cape, rebahan di paha trus merem dan lupa bumi alam. Tadi sempet nanya, Air tau gak Bunda ngobrol apa sama abang taksi waktu itu? Dan dia gak ngeh. Hihihihi.

  5. Ah, aku sndiri udh lama ga respect ama kebanyakan org Arab.. sesama muslim, tapi kelakuannya jauh dr agama :(.. Bahkan di tanah suci sekalipun, sikap petugas2 imigrasinya itu srg melecehkan org2 trutama wanita.. aku bicara dr pengalaman.. nthlah mba.. kalo boleh jujur, alasan knpa aku g trlalu pgn balik ke tanah suci, ya krn org2nya ini… -__-

    • Iya banget. Banyak elus-elus dada sampe licin kali ya. Tapi yang ngeselin ada juga, mungkin mereka lagi tahap belajar sabar ya. Semoga kita jadi penumpang yang manis ya hihihi

  6. Seru ceritanya mbaa..iya saya juga sering ngobrol dengan supir taksi sekadar supaya beliau gak ngantuk apalagi kalau pulang malam..dan selalu ada cerita seru yang dituturkan si bapak supir..heheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s