Takut

Tiap detik, sejatinya kita senantiasa ada dalam percabangan pilihan sikap. Namun kadang, pilihan ini tak seterang antara hitam-putih. Atau tak semudah memilah mana baik atau buruk.

Misalnya ketika lelah mendera, pilihan untuk berkeluh kesah kian menggoda. Namun lantas malu karena di balik satu keluh ada jutaan atau bahkan biliunan hal yang layak disyukuri. Percabangan balik lagi pada pilihan sikap.

Atau saat melihat di angkutan umum ada seorang penumpang yang membuang plastik air minum kemasan. Mau menegur atau membiarkan?

Sesederhana itu saja sering kali bikin bingung. Apalagi jika ada di titik krusial, di mana keputusan jalan yang dipilih adalah hal genting dan menentukan hidup kita ke depannya.  Setidaknya begitulah bagi saya. Rasa takut menjadi dominan ketika berada di persimpangan. Ia semacam singa yang melindungi sekaligus membuat saya tak bergerak dan kunjung memilih. Saya anggap melindungi sebab takut adalah mekanisme emosional yang saya pikir wajar untuk mengantisipasi kejadian maupun hal buruk yang akan menimpa.

Tapi pernahkah merasa takut sampai bergetar hebat karena percabangan yang akan kita jejaki menyimpan risiko yang sama besarnya? Atau bahkan ketika kita tak mampu mengalkukasi saking percaya bahwa di dunia ini, rencana manusia kerap mudah dijungkirbalikkan oleh semesta.

Saya pernah… dan terus akan begitu.

Ya, terus akan begitu. Karena takut adalah keniscayaan yang dibuat Sang Maha agar saya menampar diri bahwa diri ini sejatinya lemah. Bahwa tak ada satu pun di dunia yang tahu akan yang terbaik untuk kita.

Akhirnya saya tahu, bahwa takut itu keperluan. Kebutuhan. Anggap saja ia reminder bahwa ketika ada di sebuah percabangan, takut adalah alarm agar saya menggandeng tangan Dia dan kemudian berserah. Bukan pasrah. Melainkan berserah.  Di saat hal itu dilakukan, percabangan tak lagi menyeramkan.

Ah, maafkan kalau tulisan ini begitu abstrak dan random. Belakangan tubuh saya statis namun tidak dengan isi kepalanya. Melompat-lompat. Apakah saya sekarang mewujud kutu? Hentikan. Karena saya mulai tergoda membahas tentang kutu. Lebih baik saya mandi saja.

Advertisements

2 thoughts on “Takut

  1. nangkep maksdnya 🙂 dan bnr2 setujuu ^o^.. tanpa rasa takut, mungkin udh lama aku keseret dlm pergaulan ga bener… Selalu percaya, krn rasa takut thd Tuhanlah yg slalu bisa menjaga supaya jalanku ga melenceng dr garis yg Dia tetapin 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s