Berapa Harga Anda?

Hari gini yang dihargai ya orang yang punya duit. Orang pinter tapi gak bisa cari duit juga tetep gak dihargai.

Sore ini saya tergugah dengan pernyataan tersebut. Itu adalah lontaran kalimat yang terlontar pada suatu obrolan dalam grup keluarga. Ini menarik.

Beberapa orang menyangkal bahwa tidak semua perkara penilaian bisa dirupiahkan atau berkaitan dengan pundi-pundi Paman Gober. Lainnya menganggap pintar memang tidak cukup, pintar bergaul menjadi penentu nilai seseorang di mata masyarakat. Lainnya lagi berpendapat bahwa yang sukses adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Entahlah. Saya sebetulnya lebih banyak bertanya dalam hati.

Lalu berapa harga Anda?

Berapa harga yang kita sematkan pada diri sendiri?

Standar harga berapakah yang ingin orang lihat dari kita?

Berapa nilai yang orang lain beri pada diri ini?

Mungkin pertanyaan ini sudah menjadi pelontar pikiran para filsuf ataupun peneliti psikologi zaman dahulu yang melahirkan kata “harga diri”. Diri ternyata bisa dibanderol. Siapa yang berhak memasang label harga pada diri sendiri maupun orang lain? Dan bagaimana orang bisa menentukan harga diri orang lain?

Kenyataannya, manusia mungkin sering menggaet stereotip dalam menilai harga orang lain. Pengguna iPhone mendapat nilai diri lebih tinggi dari pemakai Cross. Atau murid sekolah Internasional dibanderol lebih mahal ketimbang lulusan sekolah negeri.

Begitukah? Atau dari berapa banyak mobilnya? Berapa jumlah pintu kontrakannya?

Bagi saya, jika kebendaan menjadi hal yang membantu seseorang dalam melabel harga diri seseorang maka ini mengerikan.  Tapi sekaligus juga memilukan. Karena cara pandang yang seperti ini kerap terjadi. Tak ada yang benar atau salah.  Saya hanya ngeri. Ngeri karena kapitalisme sudah merangsek pada banyak sekali aspek sosial.

Tapi sekali lagi. Ini bukan perkara salah atau benar. Hanya saja saya mungkin terlalu naif ketika merasa bahwa diri ini berharga ketika bisa bersyukur, memberi manfaat pada orang lain, dan mencintai setulus hati. Ya, anggap saja saya cengeng.

Namun tak apa. Karena saya merasa berharga ketika tahu banyak hal baik yang masih bisa disyukuri. Merasa bernilai ketika masih ada hal yang bisa dilakukan untuk membuat orang lain bahagia. Dan merasa penuh  ketika ada pihak-pihak yang senang saya cintai.

Tapi saya merasa sangat yakin. Jika itu pun  harus dikonversi menjadi uang, tak ada satu mata uang pun yang mampu menominalkannya.

Hal yang pasti adalah ternyata orang “hobi” menentukan harga diri seseorang.  Itu sesuatu yang gak bisa kita larang.  Karena memang begitulah salah satu cara manusia memindai yang lainnya. Lalu, kita sendiri jugalah yang menentukan standar harga diri yang dimiliki. Walau beberapa tak peduli dan memilih apa adanya saja.

Kemudian hidup anak manusia menjadi lebih seru ketika harga diri versi diri sendiri dan yang orang lain kenakan pada kita sangat berjarak. But well, ini kan memang cikal bakal dari perilaku bernama pencitraan yang sejatinya semua orang lakukan secara sadar maupun tidak sadar. Begitukah?

Okay, then. Selamat membanderol diri, ya. Dan jangan lupa, agar hidup lebih berwarna sesekali harga diri diberi diskon dan promosi yang pantas, ya. Mungkin ini petuah para kapitalis. Anggap saja begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s