[Cerita Pulau] Menaiki Sang Radja

Gak sadar di postingan sebelumnya pake kata “aku”. Rasanya kok Chairil Anwar banget. Karena “aku” bukan binatang jalang. Mari kita ganti “saya” aja. Anggap aja ikut tren karena “aku binatang jalang” sudah terlibas “da saya mah apa atuh”. 😁

Iya tau. Ini intronya emang gak penting. Jadi kalau ngerasa itu adalah saripati tulisan tentang Radja, kalian tertipu dan silahkan klik “close” lalu lanjut aja ngapain kek. Apa kek gitu. Ya kalo mau terusin baca saya mau koprol sih seneng aja. Da saya mah apa atuh.

Ini ceritanya saat saya, Air, Lyd, Dini, dan Chika menembus laut Utara Pulau Jawa menuju Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Kebetulan Sang Radja mau dibangunkan dari cutinya di Hari Buruh ini. Awalnya dia ogah-ogahan ngangkut anak manusia. Tapi Radja baik, dia luluh juga.

image

Kenorakan penuh kebanggaan tiada batas. Bhihihihik.

And here we are in the Radja Express tummy. Radja berupa perahu kapal yang tulisan namanya sudah somplak. Hingga kalau dibaca lebih mirip “Radia”. Dipaksa melahap anak manusia melebihi gendut perutnya sambil merambati laut semata-mata agar seisi kepala di dalamnya bisa liburan, pulang, atau entah apa lagi. 

image

Coba cari kami. Kalo bisa dapet tiket gratis ke Mars PP.

Tak ada jejeran kursi, kipas angin, maupun pelampung yang memadai. Penumpang duduk malang melintang semaunya di lambung Radja sampai kepalanya pun diduduki.

Cuaca yang terik, lembap, dan berasa asin menjadi penyempurna perjalanan kami.

Saya sejujurnya senang naik moda laut macam begini. Gak cuman kapal sih, intinya seneng kasi pengalaman ke Air tentang salah satu cara untuk lebih bisa merasakan jadi rakyat. Sebenar-benarnya merakyat.  Dan saat itu, kami jadi rakyat kecil di perut Radja yang besar.

image

Radja, jangan pipis sembarangan.

Satu jam perjalanan sukses membuat setengah penumpang terhipnotis oleh sayup-sayup angin dari jendela dan goyangan lembut Radja ditingkahi gelombang. Kadang lucu melihat orang tidur di tempat umum. Ada yang ditutupi mukanya, ada yang cuek mulutnya menganga, bahkan karena ini lesehan, gak jarang mata selintas memandang belahan pantat dari penumpang yang tidur meringkuk. Lupa dengan batas celananya. Oh my eyeeeess! 😨

Rupanya Radja suka sekali singgah. Ia bukan perahu yang to the point. Transit di Pulau Pari, kemudian memuntahkan isi lambungnya. Lanjut menyapa dermaga Pulau Tidung.

Lyd dan Dini sempet shock karena dipikir salah pilih kapal. Kalau Pulau Tidung adalah destinasi akhir Sang Radja, maka entah tidur di mana malam ini karena itu jadwal kapal terakhir. Oh please do not another crap. 😭

Ah sungguh lega ternyata Radja hanya suka menggodai kami. Pulau Pramuka tetap jadi tujuan. Lanjoootttt.

image

Radja menjadi saksi dari perbincangan hangat antar kami saat membunuh waktu. Cerita pekerjaan, kisah cinta, membahas isu-isu politik gak penting sampai pertunjukan Lyd dan Dini yang pukul-pukulan bercanda. Dan iklannya tiap 30 menit sekali tayang: Air yang nanya berapa jam lagi sih sampenya? Dunia indah ya.

image

Lyd walau tangan di bebat, tangannya harus tetep eksis.

image

Lagi SMS Neng Putri Duyung janjian di dermaga.

Sementara isi perut Radja makin sedikit, kami pun demikian. Makanan favorit di warung langganan milik Bang Oji jadi inceran.

image

Hei, Pramuka Island. Piye kabare?

Hamdalah. Tiga jam bergeliut-liut bersama Radja menemui akhirnya. The power of kebelet pipis bikin saya langsung ngacir ke toilet dan langsung santap siang bersama genk.

image

Bang Oji iiiihhhh, kami laper.

Salam hormat, Radja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s