Pendakwah ‘Berjubah’ Bertabur Rupiah

hartaPagi ini saya seharusnya menulis artikel tentang street photography. Namun kemudian tersesat di rimba berita dan data tentang daftar kekayaan para politisi berjubah ‘dakwah’ milik KPK. Lalu apa hubungannya antara artikel saya dengan hal yang terakhir disebut? Ada.

Bidikan momen jalanan para fotografer nusantara beberapa sangat menyayat hati. Ada yang kurus kerontang, menadahkan tangan karena lapar, anak kecil yang dipekerjakan, para sepuh tuna wisma bermata redup dengan keriput sebanyak derita yang ia hela, serta ah…saya bahkan tak sanggup meneruskan kalimat ini. Ini semua rakyat yang sepatutnya jadi tanggung jawab bersama, terlebih para pejabat hasil lemparan partai politik yang duduk di kursi panas.

Mereka kemana, ya?

Kemudian memori berkejaran di kepala. Salah satunya adalah percakapan para kader sebuah partai Islam yang dulu santer digandrungi mahasiswa kala saya masih kuliah. Kira-kira ini yang saya ingat:

“Politik adalah jalan.”

“Partai adalah kendaraan.”

“Kader adalah tentara dalam kendaraan agar Islam bisa tegak di Indonesia.”

“Indonesia menjadi negara Islam.”

Saya bagaimana saat itu: duduk, menyimak, dan (akhirnya) memutuskan tidak berada di dalam kendaraan itu. Saya bukan alergi. Anggaplah saya seperti hewan, mengandalkan insting belaka. Intuisi menggedor-gedor saya seraya berkata, ini bukan jalan saya. Walau demikian saya tetap menghormati mereka sampai sekarang.

Oke, balik lagi ke masa sekarang.

Voila! Ternyata dinamika demokrasi lebih seru dengan kibaran bendera-bendera partai Islam. Bahkan beberapa di antaranya sukses meloloskan para pentolannya menjadi pejabat negara. Bayangkan: muslim, pendakwah, punya kuasa, dan wakil rakyat. Lalu apa yang terlintas di benak?

Kalau saya, (dulu) berpikir bahwa alangkah bahagianya penerus jejak Rasulullah menjadi bagian dari ulil amri. Dari pengambil kebijakan negara. Rasulullaah yang saya imani adalah pemimpin yang tegas namun lembut, pemikir strategis namun fleksibel, dan menjadikan Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam. Seluruh alam loh ya, bukan hanya rahmat untuk pemeluk Islam.

Sekilas mengenai Rasulullah, ia merupakan saudagar yang sukses. Hartanya melimpah sehingga bisa melamar Siti Khadijah dengan mas kawin yang kebangetan mahalnya. Bagaimana pola hidupnya: sederhana. Kemudian ia diberi wahyu untuk menyebarkan Islam, beliau tak bisa tidur tenang jika ada umatnya yang lapar dan kesusahan. Beliau kaya, beliau peduli. Pola hidupnya saat berdakwah: (tetap) sederhana.

Lalu kita tengok data kekayaan para pejabat dan politisi Islam sekarang. Sebelum menjabat menjadi abdi negara, bagaimana pola hidupnya: sederhana. Lalu setelah jadi petinggi partai atau duduk di kabinet: jam tangan rollex, mobil mewah, rumah tingkat tiga, tanah berlimpah. Helloww, zuhud mana zuhud?

Saya cuma gak habis pikir, jika dakwah acuannya adalah Rasulullaah,  bagaimana mereka bisa tidur tenang di atas kasur King Koilnya jika ada rakyat yang bahkan tidur di dalam gerobak atau di pinggir jalan. Saya pernah melewati Jalan Fatmawati sama Buntai. Dari atas motor yang melaju saya melihat ada ayah yang tidur duduk menjaga istri yang sedang menyusu, serta balita yang tidur bergeletakan di trotoar. Kemana pejabat yang sering menyerukan “Allaahu Akbar” saat konvoi partai?

Bukan berarti pendakwah gak boleh kaya raya atau harus terlihat compang camping, namun sebenarnya apa ya kata hati nuraninya melihat ada yang hidup serba berkekurangan sementara ia punya harta berlebih yang bisa ia berikan pada rakyatnya.

Atau mungkin, apakah definisi rakyat bagi politisi/pejabat mewah ini adalah kader atau partai belaka? 

Bahasan saya memang subjektif. Sebatas apa yang saya lihat dan imani. Jika politik dipercaya oleh mereka untuk menegakkan Islam di bumi pertiwi, Islam macam apa yang sedang dibangun? Entahlah. Semoga saya tak terlalu naif jika berharap masih ada pendakwah berjubah kader dan pejabat yang ingin menegakkan Islam seperti yang Rasulullaah contohkan. Bukan sekadar ego beragama yang ingin dipancangkan tinggi-tinggi.

Wallaahu’alam bi showab *biar dianggap sholeha* 😀

 

Advertisements

One thought on “Pendakwah ‘Berjubah’ Bertabur Rupiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s