Hilang

COPETIzinkan saya bercerita agak panjang. Tentang perjalanan saya dari rumah ke kantor. Terdengar biasa, ya? Kalau punya waktu lanjutkan. Kalau nggak, tinggalkan aja blog ini.

Pagi itu, saya juga berharap perlintasan saya dari Bekasi ke Terminal Pulo Gadung biasa saja, naik bis tiga per empat–sejenis Kopaja, yang terkenal dipanggil TIGER, singkatan TiGa pER empat–mendengarkan playlist “Naik-naik ke Puncak Gunung” yang berisi lagu-lagu penuh semangat, dan tentu saja dalam suasana berdesakan bersama puluhan penumpang lain.

Namun Tuhan menambahkan yang biasa saya waspadai namun luput juga dari perhatian saya, yaitu alert dengan pencopet, pelaku pelecehan seksual, maupun pihak yang membawa senjata tajam. Ya, hari ini saya kecopetan. Smartphone Blackberry (BB) yang sudah mengakrabi tas saya selama 3 tahun, berpindah tangan. Masih terdengar biasa saja, ya? Toh, bisa jadi kalian yang membaca juga pernah kehilangan barang yang sama. Tapi boleh ya saya sekadar mengeluarkan apa yang ada di kepala agar lebih terasa lega.

Begini ceritanya.

Ketika naik Tiger, suasana mini bus ini memang sudah penuh. Saya masih bisa berdiri dekat pintu. Setelah masuk tol, seorang bapak menyarankan saya agar naik agar lebih aman. Jadilah saya berdiri di lorong Tiger dengan tas yang saya sampirkan talinya di bahu kanan sambil didekap. Di depan saya, ada seorang ibu sedang menggendong anaknya. Di kiri saya, ada seorang mba yang sedang sibuk memaikan BB-nya. Di belakang, bapak tambun berjaket kulit berdiri membelakangi saya. Lalu di kanan, pria usia 20-an berjaket krem yang mencanglongkan tasnya di depan dadanya. Setelah kenek bis memanen ongkos dari para penumpang, semua pun terhanyut dalam pikirannya masing-masing dan jarang ada lagi yang sibuk membuka tas untuk mengambil ongkos.

Tiba-tiba, di tengah tol ada suara seperti ritsleting (penulisannya begitu, dari bahasa Belanda “ritssluiting”, seperti pada KBBI terbitan Pusat Bahasa edisi 4, 2008, hlm. 1178, eh ini apa sih malah bahas bahasa) yang ditutup, “Sreeet,” begitu. Saya jadi otomatis mengecek tas saya yang juga memiliki ritsleting. Ah, tertutup. Aman.

Namun naluri saya berkata bahwa saya harus mengecek tas. Oleh karena kondisi Tiger yang penuh sesak saya hanya mengecek sekilas dan tidak menemukan BB di dalam tas. Saya mulai curiga, namun tak bisa teriak karena saya merasa belum mengecek secara detail. Terlebih saya khawatir pelaku membawa senjata tajam dan melukai penumpang Tiger. Saya hanya mencoba menghapalkan muka-muka yang dekat dengan saya. Entah kenapa. Pria berjaket krem terlihat rikuh dan saya pandang lekat-lekat matanya.

Di pintu Tol Cakung, beberapa penumpang turun. Ya, memang biasanya juga begitu. Saya pun akhirnya bisa duduk karena turunnya penumpang menyisakan beberapa bangku kosong yang juga diduduki oleh penumpang yang asalnya berdiri. Dan lorong Tiger pun kosong. Pria berjaket krem ini pindah ke bangku belakang, saya pikir dia mau turun. Tapi ngapain susah-susah ke belakang toh pintu depan lebih dekat. Saya berpikir oh dia mungkin mau bertemu dengan temannya.

Tak lama, seorang perempuan muda yang mengenakan ransel besar dan tas laptop di tangannya teriak, “Dompet saya ilang!”. Tiba-tiba memori otak saya bekerja. Teriakan itu seakan mantra yang memunculkan kembali ingatan di kopaja yang saya tumpangi 1 tahun lalu. Ada keributan di belakang kopaja karena ada yang kehilangan telepon genggamnya dan beberapa pria mengerubutinya sambil bertanya ini-itu. Selang berapa lama, penumpang depan ada yang kehilangan dompet. Saya cepat-cepat memeriksa secara saksama isi tas yang ada di pangkuan. Benar, BB saya hilang. 

Saya kemudian melihat perempuan muda itu teriak, “Aduh bapak-bapak tolong saya, saya panggil polisi nanti!”.

Ya, polisi! Karena merasa saya juga kehilangan BB, sontak pandangan saya menyusuri jalan di sekitar Tiger yang masih berjalan. Untung saja, ada 2 orang polisi lalu lintas yang sedang bertugas. Wajah saya sumringah. Saya langsung melongokan ke jendela dan memanggil “Polisi! Tolong!”.

Setelah saya minta supir Tiger untuk menepikan kendaraannya, saya melihat perempuan muda itu ekspresinya dari panik menjadi takut. Begitu pula beberapa penumpang yang khawatir akan terjadi keributan akhirnya memilih turun dan mencari kendaraan lain. Merasa takut pencopetnya kabur, abang-abang ojek yang ada di sekitar situ dan saya meminta pada polisi untuk menahan penumpang karena bisa jadi salah satunya adalah pelakunya.

Saya turun dari Tiger. Polisi menanyai saya, “Mba mencurigai siapa?”.  Tak ragu saya menunjuk pria berjaket krem, “Dia, saya mencurigai dia.” Ia pun ditarik turun dan digeledah pakaian dan tasnya. BB saya tidak ada.

Pria berjaket krem menggerutu, “Saya kan bantuin Mba tadi yang kehilangan dompet kenapa saya yang dituduh?”.

Polisi berpakaian preman pun membantu menelepon nomor saya, dan masih tersambung namun karena nada getar, jadi tak langsung terdengar.

Saya bilang sama polisi, “Saya rasa pencopetnya tidak sendiri, dan barang saya sudah berpindah tangan. Geledah saja semuanya.” Polisi setuju, setelah saya meminta waktu dan kesedian seluruh isi bus, polisi menggeledah semua penumpang.

Ada beberapa ibu yang minta izin untuk pindah kendaraan segera karena urusannya penting. Si pria berjaket krem komentar, “Iya suruh pergi aja, gak mungkin kan perempuan yang nyopet”.

Lalu ada yang nyeletuk, “Lah tadi mba yang kehilangan dompet udah ketemu belum?”.

Polisi menanyai si perempuan beransel tadi dan hendak menggeledahnya, sontak ia bilang “Saya juga hilang dompet kenapa saya digeledah?” gerutunya sambil kemudian dia pergi. Tak terima, saya bilang ke polisi, “Kenapa dilepaskan?”

Belum sempat terjawab, salah seorang penumpang menanyakan seperti apa BB-saya. Saya dan polisi yang berurusan dengan perempuan beransel pun teralih perhatiannya.

Akhirnya, BB saya tidak ditemukan. Polisi pun berkata bahwa mereka sudah mengusahakan namun tak lagi bisa mengusahakan apa-apa.

Tiger pun melanjutkan perjalanan. Kemudian ada pria bermata sipit yang nyeletuk, “Lain kali hati-hati, Mba. Emang gak berasa ya, Mba?” Saya hanya mengangguk, malas menanggapi. Mental saya cape.

Mba yang duduk di depan (tepat di belakang supir) mengajak saya untuk duduk di sebelahnya.. Dia kemudian berbisik, “Orang yang kamu tunjuk tadi waktu polisi nanya memang pelakunya. Kata supir, orang itu masih sama temannya 2 orang di dalam kendaraan ini. Dua temannya sudah kabur. Mba coba lihat ke belakang, tapi jangan mencurigakan. Hapalkan wajahnya. Jadi lain kali naik Tiger, Mba harus ekstra hati-hati kalau liat wajah-wajah itu”.

Saya pikir ada baiknya. Dengan pura-pura memperhatikan jalan sekitar saya menengok ke belakang dan memasukkan profil para pelaku yang saya curigai ke dalam otak saya dan dilabel “harus ingat”.

Sampai Pasar Pulo Gadung, saya pun turun bersama satu mba berjilbab yang kemudian naik angkot yang sama dengan saya. Dia bertutur begini, “Mba, salah satu pelakunya adalah yang duduk di sebelah saya, itu loh yang matanya sipit.”

Oh pria bermata sipit yang tadi mencoba beramah-tamah sama saya. Hmm…

“Waktu di pintu tol, saya melihat mas yang matanya sipit memungut sesuatu dari bawah, padahal tak ada barang dia yang jatuh. Itu rupanya BB Mba sedang dialihtangankan,” lanjutnya.

“Saya merasa awalnya saya yang jadi sasaran. Namun ibu berseragam guru di depan saya yang sedang berdiri dan sering naik Tiger bareng menatap saya dengan tatapan berbeda seakan memberi kode agar saya lebih berhati-hati. Saya kekep tas saya erat-erat,” tuturnya.

Ia kemudian mengutarakan analisisnya, “Mba yang kehilangan dompet saya rasa gerombolan mereka. Buktinya. Si orang yang Mba tuduh menegaskan bahwa perempuan gak mungkin nyopet, sesaat Mba minta sama polisi untuk digeledah”.

Ya! Seperti yang saya duga.

Saya menyadari bahwa nurani itu selalu benar. Semua kecurigaan saya bukan tanpa alasan. Dan tentu saja saya harus lebih berhati-hati. Saya ikhlas barang yang saya miliki berpindah tangan.

Salam hormat setinggi-tingginya untuk 2 polisi lalu lintas, 3 orang polisi berpakaian preman yang sudah sigap membantu.. Setidaknya, polisi tersebut tidak seperti kisah saya saat kemalingan laptop di sini. Masih ada polisi yang baik. Syukurlah masih ada.

Walau jujur, saya jadi takut beredar di trayek tersebut karena khawatir mereka mengingat wajah saya dan kemudian menyakiti saya. Semoga hal buruk ini tidak terjadi.

Dua hal yang saya syukuri, tidak ada korban jiwa dan semua penumpang selamat (termasuk pencopetnya). Serta saya diberi kesempatan untuk berjuang untuk mencari barang saya dan hadirnya polisi yang membantu. Setidaknya saya bisa bilang sama diri sendiri bahwa, “Sudah, kamu sudah berusaha dan memilih gak menyerah begitu saja”.

Anggap saja saya kurang sedekah, dan perlu lebih banyak bersyukur.

Hati-hati ya, kawans. *nadahin tangan terima BB baru* 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Hilang

  1. jadi ingat waktu hape esia jadulku hilang tahun 2007 di metromini 604 jurusan tanah abang-pasar minggu pada saat menuju ke kantor pukul 7.30 pagi. seorang pria jelas sudah mengincarku sejak dia naik. tapi dia sendirian, gak bergerombol karena 604 itu sepi banget (kurang dari 10 penumpang). dia bekerja sendirian. untungnya “cuma” hape jadul meski itulah satu-satunya alat komunikasi mobile-ku saat itu. aku gak bisa marah2 tapi diem saking udah gak bisa teriak juga. aku tulis semua itu di blog. yang kuingat pelakunya bertopi, jadi gak jelas wajahnya. setelah 10 menit aku tenang, aku istighfar dan mikir, “oh, ada hak orang lain senilai harga hape itu dan aku lalai memberinya. Allah mengambilnya dengan cara paksa.”

    tahun 2012 lalu, di angkot menuju jalan tubagus ismail dago, aku seangkot dengan sekomplotan copet (sudah ditulis di blog juga) yang sayangnya mereka gagal mendapatkan apa yang mereka incar, blekberiku. justru, sejak mereka naik, aku sengaja memancing karena gerak-gerik mereka terlalu terlihat dan terbaca. hal-hal bodoh yang mereka lakukan justru membuatku semakin waspada dan nyaris nekat lompat dari angkot. sialnya, supir angkot justru diam saja ada hal mencurigakan di dalam kendaraannya. aku selamat. barangku utuh dan lengkap. bersyukur banget.

    sekarang, aku selalu menyalakan radar waspada, tampang galak, dan memerhatikan siapa aja yang ada di dekatku. semoga Allah tetap melindungiku.

    semoga, apa yang terjadi pada bunda Air bisa diambil ibrahnya. Allah sayang bunda 🙂 *peluk erat*

    eh, jadi pin bebeh udah bisa aku apus ya? bagi nomer wasap dunks! hihihi ^_^

    • Wah ternyata banyak yang ngalamin hal serupa ya. Iyah, aku juga udah gapapa dengan kehilangan itu. Kepemilikan memang sepaket dengan waktu yang ada batasnya. Tapi lega karena bisa mengusahakan dan gak membuat sekawanan pencopet itu mudah mendapatkan apa yang mereka mau. Mowahahaha, jahat ya.

      Syukur banget Bun An baek2 aja dan selamet ya. Semoga selalu dilindungi ya. *peluk*

      Iyah pin BB akuh apus aja, mari wasapan!

  2. Hp saya jg pernah mau pindah tangan vei. Saat itu saya lagi naik kereta ekonomi sepulang dari kampus. Saya mengenakan tas olahraga yang ada kantong disamping kanan-kirinya. Suasana kereta memang lagi penuh dan emang ada feeling gak bagus karena hp ditaro di kantong samping tas. Pas ada gerakan grasak-grusuk penumpang keluar-masuk kereta, saya cek deh eh beneran kantong samping tas kebuka dan gak ada hp-nya. Refleks aja langsung saya geledah penumpang-penumpang di samping saya, gak pake ba-bi-bu. Hape hapae..! Eh tiba-tiba hp saya jatuh dari kerumunan, yauda ambil trus turun aja sekalian. Copetnya mikir jg kali y..secara tu hape segede pisang bak jaman mafioso gitu..haha.

    Yauda vei sabar y..nanti insyaAllah diganti yg baru..*lirik bang buntel* 🙂

    • Nah, sebenernya hal yang vei sesalkan adalah Vei gak langsung teriak dan menggeledah pria berjaket krem. Tapi justru mungkin itu bakal gak seru karena mereka bakalan gak ketemu polisi hihihihi. Tentu aja adanya polisi itu di luar skenario mereka.

      Emang hapenya segede aoa sih ampe segede pisang hiihihih…

      Iyah, aamin. Alhamdulillaah malemnya dapet gantinya. Allah yang ganti. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s