Suami (Perlu Tahu) Bercocok Tanam

love-between-husband-and-wife1

Cobalah tengok warta kriminal belakang ini, kekerasan pada para perempuan marak diberitakan. Kebanyakan dari kabar tersebut menyebutkan bahwa suami, lelaki yang berjanji di depan Allah ketika ijab-qabul akan memelihara istrinya, menjadi pelaku utama kekerasan. Belum lagi kasus penelantaran sang ibu dan anak. Seakan-akan para lelaki tersebut terinspirasi ingin menjadi ‘Bang Thoyib’ yang lupa pulang. Para suami jenis ini gemar bercocok tanam anak, namun setelah dipanen (baca: lahir) dibiarkan begitu saja. Mereka muslim? Ya, mereka muslim, setidaknya itulah yang tertera di KTP-nya. Namun mengapa mereka dapat menjadi keji terhadap wanita yang ia pilih untuk dicintai selama sisa hidupnya? Banyak faktor tentunya, namun bisa jadi karena Rasulullah belum ada dalam hatinya. Rasulullah memang guru terbaik yang mencontohkan bagaimana cara yang paling mulia dalam memperlakukan istri.

Istri Ladangnya, Suami Petaninya

Terinspirasi dari cuplikan tulisan M. Quraish Shihab “Kelahiran Anak” dalam Dia Dimana-mana: Tangan Tuhan di Balik Setiap Fenomena, ternyata ada hikmah besar mengapa Allah mengibaratkan istri sebagai ladang sebagaimana tertuang dalam firman-Nya.

 Istri-istri kamu adalah tanah tempatmu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok- tanam kamu itu kapan dan bagaimana saja kamu kehendaki” (QS. Al-Baqarah [2]: 223).

Jika istri adalah ladang, maka suamilah yang tentunya menjadi petaninya. Petani yang baik paham bagaimana cara bercocok-tanam sehingga kelak ia akan memanen hasil yang baik dan penuh berkah. Suami yang baik tahu dan sadar akan arti memperlakukan istri dengan bijak, agar kelak anak-anak sholeh/ah akan terlahir dari rahim istrinya.

Memilih Ladang

Hal utama yang perlu diperhatikan adalah tentunya melakukan kegiatan bercocok-tanam ini di ladang milik sendiri. Bukan ladang milik orang lain yang bisa jadi akan digugat oleh si empunya, ataupun ladang tak bertuan yang tidak jelas kualitasnya. Hendaknya sang lelaki hanya menebarkan benih pada perempuan yang telah sah menjadi istri. Hal ini bukan hanya lebih baik untuk dirinya, namun juga agar ia dapat menjaga diri dari dosa dan mengundang banyak kebaikan.

Agar buah yang dipanen berkualit baik dan terjaga, pilihlah ladang yang subur. Adapun Rasulullah memberikan kita tips bagaimana menetapkan wanita yang layak dipilih.

Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika memilih wanita karena cantik, bisa jadi buah yang dipanen bagus kulitnya namun busuk dalamnya. Jika memilih wanita karena kaya, bisa jadi buahnya banyak dan rimbun namun kecut rasanya. Wanita yang baik agamanya menjadikan buah yang dipanen indah luarnya dan manis dalamnya.

Bagaimana jika ladang yang dipilih ternyata kurang subur? Jangan lantas dibuang dan ditinggalkan. Berdoa dan berikhtiarlah pada Allah swt., Zat Yang Maha Berkehendak. Layaknya lahan gambut yang kurang subur, dengan ketekunan para ilmuwan dan izin Allah akhirnya dapat ditanami dengan bantuan mikroba tanah. Sama dengan istri, ada banyak alternatif yang dapat meningkatkan kesuburannya. Ajaklah sang istri ke dokter ataupun pengobatan yang halal dan terpercaya.

 Menanam Benih

Petani yang baik mengetahui kapan waktunya ia harus meletakan benih. Ia akan menunggu hari yang cukup cerah sehingga matahari dapat menghangatkan benih, dan senantiasa mengecek persediaan air agar benih dapat disirami lalu tumbuh. Suami yang baik akan mendatangi istrinya di waktu dan cara yang tepat seperti yang dicontohkan Rasulullah,

Datangilah (istrimu) dari arah depan atau arah belakang, tetapi awaslah (jangan menyetubuhi) pada dubur dan dalam keadaan haid. (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Agar nutrisi dan komponen organik dalam tanah merata, sebelum menanam benih biasanya petani akan membajak lahannya. Petani yang baik akan menggunakan peralatan yang memang ditujukan untuk itu, misalnya menggunakan kerbau atau traktor. Suami yang baik kiranya akan memperhatikan kesiapan istrinya sebelum menanam benih, memberikan makanan yang sehat agar mampu mengandung sang buah hati dengan sehat dan kuat.

Merawat Benih yang Sudah Ditanam

Setelah benih tertanam, petani tak langsung begitu saja meninggalkan ladang dan menunggu tanpa melakukan apapun sampai masa panen. Dengan penuh ketekunan dan kesabaran, ia akan menjaga benih agar tumbuh akan berkembang serta siap dipanen dengan kualitas terbaik. Ia akan mendatangi ladang dan menyirami tanaman yang sudah mulai tumbuh secara rutin dan teratur. Suami yang sholeh akan mengikuti bagaimana Rasulullah memperlakukan istrinya. Istri yang sedang mengandung butuh perhatian dan perlakuan yang lembut. Pelukan dan belaian akan dapat menjauhkan istri dari perasaan tertekan.

Adalah Rasulullah setiap hari selalu mengunjungi kami semua (istri-istrinya), seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami dengan tidak mencampuri hingga beliau singgah ke tempat istri yang beliau giliri waktunya, lalu bermalam di tempatnya (HR. Ahmad).

Petani yang baik senantiasa memberikan segala kebutuhan ladangnya misalnya dengan memberi pupuk. Dengannya, tanaman akan merasa senang dan tumbuh dengan baik Rasulullah bahwa wanita perlu disenangkan hatinya dengan diistimewakan dan dipuji dengan panggilan yang menyenangkan. Seperti yang dikisahkan Aisyah ra.,

Saya sedang mencari-cari sebuah jarum yang terjatuh dari tangan saya, namun tak berhasil menemukannya. Tiba-tiba Rasulullah masuk, lalu aku dapat melihat jarum yang terjatuh karena pancaran sinar wajah beliau. Saya pun tertawa, kemudian beliau berkata: ‘Wahai si pipi merah delima, apa yang membuatmu tertawa? (HR. Ibnu ‘Asakir).

Selain pupuk, petani akan menjaga ladangnya dari hama dengan menyemprotkan pestisida, mencabuti gulma pengganggu tiap harinya, dan mengusir burung yang akan merusak buah dari tanaman yang akan kelak dipanen. Suami yang diberkati Allah akan senantiasa mengingatkan akan kebaikan dan menjaga istrinya dari keburukan.

Rasulullah biasa memencet hidung Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkan kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan” (HR. Ibnu Sunni).

Memanen dengan Baik

Tanaman yang sudah besar dan cukup umur akan segera dipanen dengan cara yang terbaik. Petani yang baik akan menggunakan peralatan yang memadai. Jika memungkinkan ia akan menyewa alat terbaik yang dapat mempercepat aktivitas panen. Begitupun suami yang baik, ia akan menjadi suami SIAGA (siap, antar, jaga) ketika istrinya akan melahirkan sang buah hati yang sudah ditunggu-tunggu. Semua kebutuhan bersalin dipenuhi, dan menemani sang istri dengan penuh cinta dan kesabaran saat bertarung dengan maut ketika melahirkan.

Mengatur Masa Panen

Tidak baik jika menanam benih setiap saat. Tanah akan kehilangan kesuburannya. Lihatlah sawah, setelah padi dipanen biasanya akan diselingi dengan menanam sawi atau tanaman lainnya. Selain itu, lahan biasanya dibajak kembali oleh petani. Kesemua hal itu dimaksudkan agar jasad renik dan komposisi nutrisi tanah menjadi subur kembali.

Begitu pun suami yang baik, ia akan mengatur masa kehamilan. Jika kehamilan terjadi setiap tahun, maka sang istri akan lelah dan kurang fit untuk mengandung kembali. Biarkan istri dan sang buah hati menikmati masa menyusui sampai dengan 2 tahun.

Semoga menginspirasi para kaum bapak agar piawai dalam ‘bercocok-tanam’.

Wallahu ‘alam.

**Publikasi pertama di ngerumpi.com pada 12 Januari 2011

Advertisements

One thought on “Suami (Perlu Tahu) Bercocok Tanam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s