Patah Tak Selalu Payah

240 (1)Dalam sebuah pertemuan dua jiwa, hati mewujud menjadi sayap. Bentangan dari bulu-bulu lembutnya mampu menghangatkan jiwa yang dinisbatkan bersanding bersisian. Tiap helaiannya mengandung seribu anak bulu yang dalam lipatannya terdapat seribu lagi buluh dengan beragam fungsinya. Melindungi, memanjakan, mencintai, bahkan lengkap dengan fungsi rela tersakiti.

Namun hukum persatuan dua jiwa bukanlah 2 tambah 2 menjadi empat. Jika bicara jiwa, maka hukum penjumlahan ini menjadi 2 tambah 2 akan selalu 2. Mengapa? Ini karena sayap tadi.

Begini.

Saat jiwa menemukan jalannya untuk melebur bersama pasangannya, maka keduanya akan jatuh, jatuh sampai dasar. Inilah mengapa penyatuan dua jiwa sering kali dibingkai dengan kata “jatuh cinta”.

Mengapa bisa jatuh, bukankah ada sepasang sayap untuk satu jiwa?

Ya, karena fungsi rela tersakiti pada beberapa buluh yang berada dalam larik-larik bulu sayapnya mulai aktif berfungsi. Ia akan lisis, mengatarsis dirinya sendiri. Pelan namun pasti ia akan merobek ikatan atom yang melekatkan satu sayap pada tubuh jiwa. Menyisakan setengah sayap dan tubuh yang utuh. Pada saat itulah satu jiwa akan jatuh. Bersama dengan jiwa yang ia pilih.

Dua jiwa ini merintih pedih dan gaduh mengaduh. Namun tak sedikit pun terlontar keluh, walau tubuh berkalang peluh. Karena ini adalah sebuah keniscayaan, sebuah pilihan yang dibuat atas nama kesadaran. Walau sisanya dilingkupi selaput takdir atas nama Tuhan.

Hanya yang menyadari dengan segenap-genapnyalah yang kemudian mampu menyaksikan adanya pertautan di tempat patahnya sayap kedua jiwa ini. Perlahan namun pasti. Semacam akar yang mulai mengurat dan mengedarkan darah dengan aliran tak terputus di antara keduanya. Layaknya janin dalam rahim ibunda. Walau dalam tiap jalinannya ada air mata dan amarah. Namun benci, bukan bahasa yang mempunyai daya dalam konsepsi agung ini.

Hanya yang memahami sebenar-benarnyalah yang akan mahir melakukan akselerasi dalam tahap ini. Dua jiwa dengan sepasang sayap ini memendarkan kekuatan digdaya yang siapapun yang memilikinya layak untuk merasa jumawa.

Mengapa?

Dengan konfigurasi itu, jika satu jiwa dengan dua sayap mampu melesat dengan tinggi dan jauh sampai langit ketiga, kelima, atau ketujuh maka dua jiwa dengan sepasang sayap ini mampu meliuk indah dan menebas kedalaman langit menuju pada Zat di mana langit ada dalam genggaman-Nya.

Di sini, sayap yang patah tak berarti lahirnya diri yang payah. Patahnya tak berarti hilang satu, melainkan menjadi satu. Ya, satu…utuh.

*Publikasi pertama di ngerumpi.com pada 16 April 2012

Advertisements

2 thoughts on “Patah Tak Selalu Payah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s