Mengendarai Hidup

Sepulang kantor sore kemarin, saya gak berangkot ria. Gak bisa sok-sokan lagi membaca orang-orang asing di hadapan. Berkurang kesenangan? Saya pikir nggak. Kenapa? Soalnya saya terjebur dalam perbicangan hangat dengan dokter muda manis yang berbaik hati “mengangkut” saya sampai Jati Bening.

Namanya dokter Vani. Sesi pulang bareng tiap Selasa dan Kamis sama Vani selalu menyenangkan. Cerita-cerita dia sedang PTT, bagaimana akhirnya dia lulus dan disumpah dokter, sampai kenapa dia akhirnya merasa “kecemplung” di dunia dokter karena cita-cita masa kecilnya.

Nah, sore itu kami ngobrol ngaler-ngidul sampai akhirnya tersebutlah kisah seorang dokter muda juga bernama, mm…sebut sajalah Tiara. Dia bukan sembarang dokter. Sebelumnya saya tanya dulu deh, apa sih yang terbersit kalo disebut kata “mahasiswi kedokteran”?  Mungkin yang menjadi gambaran umum dari mereka adalah keren, gadget freak yang selalu punya yang terbaru, horangkayah, bersih-bersih, otaknya brilian, gonta-ganti mobil, dan…sehat serta baik tumbuh kembangnya. Ya, anggap ajalah sebagian besar begitu, ya.

Lalu apa istimewanya dokter Tiara ini?

Di tahun ke-empat dia menjalani perkuliahannya sebagai mahasiswa kedokteran ada beberapa dosen yang bilang gini sama dia, “Udahlah Tiara, kamu mending mengundurkan diri aja. Soalnya kemungkinan lulusnya kecil. Orang normal aja susah banget lulus jadi dokter.” Mungkin kalau si dosen ini bicara dengan mahasiswa yang pemalesan tingkat dewa atau yang intelegensinya tiarap masih agak wajar, ya. Tapi Tiara ini tidak berada di kondisi tersebut. Mau tau alasan di dosen judging seperti itu?

…karena Tiara mengidap multipel sklerosis.

Ini merupakan penyakit yang menyerang saraf. Beberapa kali Tiara mengalami serangan. Nah kalo sudah gini, biasanya dia kejang-kejang, napas susah banget, badan lumpuh sebagian, wajah jadi kurang simetris dan tidak normal. Serangan tersebut mengharuskan dia dirawat intensif di rumah sakit.

Tentunya profesi dokter dan pengidap multipel sklerosis merupakan kombinasi yang tidak biasa, bukan?

Ditambah lagi, apa yang dihadapi mahasiswa kedokteran itu berat banget. Di sela-sela kuliah dan hapalan yang seabreg, mereka juga harus jaga malam. Bahkan menurut penuturan dr. Vani, banyak yang malemnya jaga besoknya wisuda pake baju yang semalem dipake. Kan biasanya yang laen nyiapin kebaya beberapa bulan sebelumnya dan nyalon di subuh hari. Buat mereka, itu udah gak penting. Wisuda dengan mata beler, udah biasa. Ada lagi, temennya yang baru melahirkan  2 hari yang lalu, udah stand by jaga malam. Tidur 1-2 jam sehari udah jadi cemilan mereka. Bisa bayangin gak Tiara ini gimana jalaninnya. Di sela jumpalitan, tangannya selalu dihiasi infusan dan tempat nyuntikin obat. Suntik sendiri bahkan. Kalau sedang nggak bisa jalan ya pake alat bantu.

Selama menjalani perkuliahan dia beberapa kali kena serangan. Sempat dia udah pake alat bantu segala macem, lalu kehilangan kemampuan berbahasa Indonesia. Jadi dia bisa paham orang ngomong, tapi cuman bisa membalas dengan bahasa Inggris. Konon, kata dr. Vani, area yang bikin kita bisa bahasa Indonesia dan Inggris itu beda titik. Nah, Tiara ini keserang area bahasa Indonesianya.

Itu masih mending. Dia juga pernah kena serangan sehingga dia frustasi karena ia mampu mencerna kata orang tapi dia membalas dengan omongan yang bunyinya cuman “cepetang…cepetong…cepetang…cepetong”. Duh….

Tapi…akhirnya…..dia lulus!

Sehabis lulus dia ikut PTT di luar Jawa, di desa pelosok Tanah Air (lupa tempatnya di mana). Selama 3 bulan dia praktik di sana, wah tempat dia mangkal jadi rame. Semua sayang banget sama dia. Bahkan seharusnya dia menjalani layanan penjara (cek kesehatan para napi) sebanyak sebulan sekali, dia rela dateng dua hari dalam seminggu. Atas dasar kasih sayang.

Sampai suatu waktu dia izin kembali ke Jakarta pas baru 3 bulan di desa, ada urusan katanya. Taunya, pas di Jakarta dia kena serangan lagi. Semua warga desa kehilangan. Dia gak ingin warga desa tau kalo tidak kembalinya dia ke sana karena sakit. Oleh karena ada beberapa pihak yang menghembus-hembuskan gosip kurang baik akan hal ini, akhirnya ada yang memberi tahu faktanya ke Kepala Dinas setempat dengan diperkuat surat dari Tiara (itu juga mau nulis karena dipaksa). Semua kemudian nangis…..

Sekarang Tiara lagi menjalani S2 di Belanda. Mendapat beasiswa yang ia raih sendiri di umurnya yang ke-25 tahun. Padahal biasanya penderita multipel sklerosis paling lama bertahan hidup sampai 25 tahun. Hebat, ya.

Selama mendengar kisah ini dari dr. Vani beberapa kali saya tertegun. Malu rasanya. Dia dengan segala keterbatasan bisa mematahkan apa yang orang label terhadap dirinya. Dia tangguh. Seperti apa kata Albert Einstein pada gambar di atas, Tiara memilih untuk terus mengayuh “sepeda” kehidupannya.

Dan terus melaju…..

Kamu?

Advertisements

2 thoughts on “Mengendarai Hidup

    • Makasih ya udah baca. Iya, ini kisah nyata. Orangnya aja masih ada. Rasanya kalo dia pulang ke Indonesia dan sedang sehat pengen banget ketemu.

      Iyah, karena multiple sclerosis ini memang penyakit saraf. Dan ada bagian di otak yang tugasnya mencerna bahasa. Penyakit itu menyerang titik tersebut.

      Subhanallaah ya, kita masih dikasih nikmat sehat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s