Ada Tuhan di Facebook (?)

Mencoba menghela napas sebelum mulai menulis.

Tsaahhh, kesannya apa yang ditulis akan bergenre “dalem” dan “berat. Nggak sih. Cuman ya harap maklum, karena udah lama banget gak nulis sesuatu yang reflektif jadinya harus bikin otak dan hati di garis yang sama.

Oke, udah segaris. (Gak hamil dong, oke abaikan ini).  😛

Gini, tahun 2012 adalah tahun yang cukup “ramai” bagi saya. Semesta seakan kompak untuk mengospek saya. Di tengah gulungan ombak itu, ada beragam hal-hal reflektif yang keluar-masuk, hadir-pergi, diamini-diingkari, intinya… berisik. Kemudian saya terhempas ke pantai. Menyisakan diri yang telanjang dan hilang ingatan.

Kesannya serem ya.

 

Nah, hari ini saya iseng mainan aplikasi Facebook yang namanya “Message from God”. Ya tau, ini gak beneran wangsit dari Allaah dan FB sebagai malaikat Jibrilnya. Cuman merasa tertohok aja pas tulisannya gini:

On this day, God wants you to know…… that it’s time you remembered who you really are.
You are not your wallet, your job, your kids, your house. You are not your activities or your worries or the labels other people give you. Like an actor you play these roles, and like a good actor you sometimes forget who you really are. Time to wake up now, and remember that you are a being of immense power and breathtaking beauty created in the image of God.

Tohokan pertama: You are not your wallet, your job, your kids, your house
Hell yeah, kondisi finansial saya emang lagi jungkir balik, politik kantor kemaren emang ngehe, Air lagi demen banget sakit, dan rumah emang berantakan karena mba gak balik lagi. Trus saya jadi stres karena saya gak bisa menyalahkan semesta akan hal-hal itu, yang ada saya malah jadi nubles-nubles diri sendiri.

Lalu saya pun mengooptasi keadaan tersebut sebagai manifestasi dari diri saya. Jadi istilahnya gini, “Saya sih gak pinter-pinter amat jadinya kerjaan gini-gini doang”, “Saya sih salah melulu di kantor, jadinya selalu dalam posisi gak enak”, “Saya sih jadi ibu gak concern ama anak, jadinya Air sakit terus”, “Saya sih pemalas, jadinya rumah berantakan”, dan terus terus teruss…

Bahwa ya memang gak bisa dipungkiri dalam beberapa hal, kita memanen apa yang kita tanam. Tapi apa yang terjadi gak plek-ketiplek (istilah pemred saya) karena saya. Semesta kadang hanya memasukkan diri kita di sebuah kondisi yang sebetulnya ya terjadi aja gitu.

Dan kalimat tohokan pertama itu seperti menampar-nampar. Ya, kondisi di sekitar gak selalu merupakan perwujudan dan perpanjangan diri.

Tohokan Kedua: You are not your activities or your worries or the labels other people give you.
Saat membaca ini, yang terlintas adalah BukuBerkaki dan satu orang rekan kerja. Kenapa mereka? Soalnya ya itu salah satu yang ikut bergulung dengan saya di ombak gede-gede kemarin. BukuBerkaki lagi mandeg. Bukan karena aktivisnya pada males-malesan, tapi lebih karena saya sebagai penggeraknya gak gerak-gerak (ayo keplak beramai-ramai :P). Trus karena itu jadinya bahkan diri sendiri ini melabel macem-macem. Yang akhirnya malah bukan memotivasi melainkan jadi kebanyakan mikir pas mau gerak.

Lalu, rekan kerja. Sikapnya yang judes dan penghapal yang baik akan kesalahan-kesalahan tanpa encourage serta hobi judging membuat label yang ia buat malah jadi bikin nge-drop. Mungkin kalo lagi sehat wal afiat sih bisa disikapin dengan biasa aja. Cuman mungkin karena udah terakumulasi jadinya males untuk beramah-ramah. Parahnya, sikap yang tajam yang ia layangkan bertubi-tubi membuat diri jadi makin berantakan.

Lalu, tohokan kedua pun hadir. Mau gimana pun, yang paling memahami dan tau kondisi diri ini adalah kata hati. Membiarkan kondisi luar menghantam seenak jidatnya merusak diri justru adalah tindakan yang paling bodoh.

Tohokan Ketiga: Like an actor you play these roles, and like a good actor you sometimes forget who you really are
Nah, ini nih. Sejujurnya, tahap ini yang lagi dijalanin. Seperti yang tadi saya tulis di pembuka, saya telanjang dan hilang ingatan. Apa yang terjadi belakangan membuat diri ini kok jadi kaya ABG, mencari jati diri *jijay sih, tapi ya mau gimana*. Ombak yang menggulung menghilangkan frame, menghanyutkan pola berpikir, melenyapkan informasi diri, apa yang baik buat diri sendiri, apa yang biasa dihindari, kebiasaan apa yang kerap dilakukan…semuanya entah menguap ke mana. Mungkin menguap dididikan panas mentari ketika bergulung, dan kemudian jatuh ke bumi sebagai air mata. Tsaaah….

Cuman kerasanya kalimat ini bukan sebagai tohokan sih, justu kaya belaian, semacam puk-puk penuh tatih tayang lah begitu :D. Kata-kata itu seakan tersenyum dan bilang kalau apa yang saya alami itu wajar. Bukan hal yang abnormal dan ke arah pesakitan. Yang terbayang itu adalah mesin cuci. Baju kotornya harus mau direndem, disesaki detergen, diputarbalikan, dikeringkan,….kemudian bersih dan seperti baru.

Semoga saya bisa kaya gitu 🙂

Dan seperti penutupnya, Time to wake up now, and remember that you are a being of immense power and breathtaking beauty created in the image of God.

Walaupun saya tau aplikasi itu bukan Tuhan beneran, tapi bisa jadi Tuhan bicara dengan saya melalui aplikasi tersebut. Why not?

Jadi, apa moral of the storynya? Add friend saya ya di Facebook… #TampakSalah :))

Advertisements

2 thoughts on “Ada Tuhan di Facebook (?)

  1. Pas baca ini (especially yg message from God-nya) lg ngedengerin lagunya Chrisye , yg Ketika Kaki dan Tangan Berbicara, gmn gitu jdnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s