Melepas Balon-balon

“Kalau mau tidur, coba bayangkan masalah ataupun beban pikiran adalah balon-balon warna-warni. Rasakan teksturnya, ukurannya, dan warnanya sampai terasa nyata. Lambat laun, cobalah melepas satu per satu. Bayangkan hal-hal yang menggelayut lepas satu per satu.”

Mungkin redaksionalnya gak tepat kaya gitu. Tapi itu salah satu “harta karun” yang saya nukil hasil dari blogwalking beberapa tahun lalu. Kenapa sih ngomongin balon jadinya? Iya, soalnya blog saya ini baru aja ganti tema: Balloon.

Apa pentingnya? Entah.

Cuman sedikit ngaruh sih sama mood nulis. Tampilan lama yang brownie dan gelap-gelap gitu seakan klop aja sama badai yang kemarin sempat menerjang. Kayaknya janjian aja gitu. Nah, kali aja dengan balon-balon ini saya berasa diajak untuk melepas satu per satu apa yang perlu dilepas.

 

Ngomongin tentang dilepas, saya sering kali jatuh kagum sama blogger yang:
1. Update blog nyaris tiap hari
2. Berani mengulas kehidupan pribadi tanpa lock system

Ya, secara waktu kayanya belakangan ini makin jago melibas manusia dengan beragam stimulasi. Hebat bukan orang-orang yang menyempatkan diri diem sejenak lalu berkutat menuangkan kata ke dalam monitor. Bisa jadi, para ‘jagoan’ ini bukan “menyempatkan” melainkan “membutuhkan” ngeblog. Edan.

Nah, yang kedua ini lebih berani. Bagi saya, jika memang blogging ini salah satu ajang untuk melepas balon-balon pikiran, maka saya gak berani melepas semuanya sampai telanjang. Makanya, hebat banget deh orang yang bisa mengemas urusan lepas-melepas ini tanpa keliatan vulgar. Elegan.

Saya sendiri gimana?

Itulah. Hal yang belakangan bikin saya jadi sok pemikir buat nulis di sini sehingga gak seberani dulu adalah saya lagi teramat jujur. Meh. Kesannya biasaanya tukang boong. Bukan, bukan gitu. Cuman ngeri keceplosan hal-hal yang bukan konsumsi publik. Soalnya lagi kehilangan kemampuan membedakan antara: nyinyir, curhat, ataupun nulis secara berimbang.

Mari kita mulai melepas balon.

Satu.

Per.

Satu…

Advertisements

4 thoughts on “Melepas Balon-balon

  1. Aku sering membaca blog yang isinya terlalu pribadi. Seperti yang Mbak bilang, seperti menelanjangi diri sendiri. Sebagai pembaca aku tidak nyaman. Kok bisa ya ada orang yang bisa dengan santainya menuliskan semuanya tentang dirinya di ranah publik? Tapi, kemudian aku berkaca. Aku juga sering gitu di socmed, terutama twitter. Jadi malu sendiri deh. 😳

    • Apa mereka ini emang bikin diary digital ya. Tapi bukankah ada locking system ya biar gak kebaca orang. Pasti ada alasan sih ya dia gak milih locking system dan membiarkan dibaca publik. Pilihan kita jadinya: gak usah baca. Tapi…kalo kebaca? Hihihi…

      Hmm. Mungkin ada yang beda ya ketika itu dituangkan d Twitter. Karena bisa kegulung dengan cepet. Tergilas oleh roda timeline *tsaaah*. Aku pun kadang suka melakukannya. Namun blog, dia terasa abadi dan bisa dibaca berkali-kali.

      Thanks dah mampir ya, Kim.

  2. Kalo menurut pribadi saya, “tulisan adalah kreasi dan seni”, begitu juga kerjujuran, gak ada yang lebih indah ketimbang membicarakan kebenaran-kebenaran yang ada pada diri sendiri dan dalam kenyatan, terlepas dari keburukan dan “aib” diri sendiri,

    coba lihat facebook, berganti alih peranan sebagai media tempat curhat, yang saya bilang “cenderung alay”, saya lebih suka orang yang menuangkan kisah hidupnya dalam bentuk tulisan, paragraf, puisi, prosa dan mungkin cerpen, ketimbang menulisnya di dinding facebook dengan bahasa yang rendahan “alay”..

    salam

    abdullohhabibie@gmail.com
    http://dayafternoon.wordpress.com

    btw tema qta sama 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s