Jumpalitan

Tulisan ini di-copy dari blog barengan. Underthe3 adalah blog yang saya tulis bersama dua sahabat, Tiwi dan Mur. Sebagai dokumentasi, boleh ya saya tempel di sini (blog sendiri ya boleh tentunya) #ngomong sendiri #gakwaras #emang #biarin.

__________________________

Bener kata Tiwi, tema minggu ini emang cocok. “Repot” emang pas mewakili kita bertiga minggu ini. Liat aja, baru ada Tiwi yang posting artikel. Hebat juga Tiwi.

Barusan, saat meresapi kata “repot” entah kenapa yang refleks dilakukan adalah menghela napas panjang. Repot berpadan manis dengan lelah, mungkin. Ya, bisa jadi gitu.

Bicara tentang “repot”, Vei lebih suka menyebutkannya dengan “jumpalitan”. Nggak tau kenapa. Boleh jadi karena repot itu ko ya berasa jadi kaya sok sibuk. Apakah ini efek dari muka repotnya anggota DPR yang sebenernya kadang nggak repot-repot amat dan gemar merepotkan diri serta rakyat. Sehingga ketika mendengar “repot” rasa-rasanya full of fake. Basi. Begitulah. Daripada paragraf ini jadi makin panas dengan unsur politis mari kita belokan sedikit.

Jumpalitan terdengar lebih real aja gitu repotnya. Pertama, gak semua orang bisa jumpalitan. Kedua, jumpalitan ini butuh kemampuan, skill, dan semangat yang tinggi. Setuju? Pastinya, ya. Cuman makhluk bulan atau alien berhabitat tanpa gravitasi sepertinya yang nggak setuju.

Dan minggu ini Vei benar-benar jumpalitan. Nggak perlu lah ya detail diceritakan di sini bentuk jumpalitannya. Kalian kalo lagi kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala itu rasanya gimana? Apakah pengen lari ke pantai lalu ke hutan? Pecahkan saja kacanya biar ramai. Biar mengaduh sampai gaduh. Bah! Kenapa jadi belok ke film Ada Apa dengan Cinta gini.

Kalo Vei sendiri, berhubung Vei masih satu jenis dengan yang namanya manusia kadang pengen banget menyepi. Repot itu kaya monster yang tiap inci tubuhnya penuh dengan cymbals yang tiap milidetiknya bergeranang sahut-sahutan. Membuat pekak. Hebatnya, monster ini tak hanya memekakan telinga, ia juga memati-fungsikan otak. Nggak bisa mikir. Ya, respons utama manusia dalam menghadapi bahaya emang lari. Tapi ya karena lari nggak bikin masalah selesai, lari ini seringnya ada di angan-angan.

Jalan terbaik menghadapi “badai” adalah melaluinya, kalo kata pepatah. Untung cuman pepatah, ya. Kalo beneran, kebayang tiap ada badai orang-orang langsung ngantri di hadapannya. Tapi kalo badainya adalah badai kehidupan (halaaah) emang bener sih harus dilaluinya. Ini ngetiknya aja gampang, ngelakuinnya mandi keringet dan nangis darah (oke, ini mulai lebay).

Jika jalan terbaik menghadapi “badai” adalah melaluinya, maka jalan terbaik jika mengetahui sahabat kita sedang dilanda badai adalah dengan menemani, senantiasa beri support, membantunya, kemudian yang paling penting mendoakan yang terbaik untuknya. Ini manis banget rasanya.

Begitulah kira-kira.

Advertisements

One thought on “Jumpalitan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s