Pantas di Lalu-lintas Banyak yang Naas

Pernah denger ambulans yang mengiung-ngiung ketika di jalan? Tentunya. Pernah menyaksikan banyak kendaraan yang tak memberi jalan pada ambulan yang sedang bergegas ke rumah sakit? Saya sering.

Entah apa pangkalnya. Tapi belakangan saya cuman bisa geleng-geleng kepala sama kelakuan orang “aneh” yang ada di bumi pertiwi ini. Atau saya yang aneh sebenarnya karena: pertama, mempersoalkan masalah ini; kedua, mengatakan mereka yang kebanyakan itu “aneh”.

Ya standar “aneh” kini jadi makin mengabut dan absurd untuk ditelusuri. Tapi karena ini ini blog saya, rumah saya, maka saya memutuskan mereka saja yang “aneh” hihihi.

Betapa tidak, ambulans jadi sangat kerepotan cari celah jalan agar pasiennya gak mati gegara ulah egoisme pengendara di jalanan. Sementara walau agak ngomel, pengendara minggir gak pake mikir sewaktu para petinggi negara mau lewat hanya agar tak telat datang rapat. Padahal entahlah apakah matanya tak terkatup dan hatinya ada di ruang rapat ketika membahas nasib rakyat.

Itu baru satu. Ada lagi hal aneh lainnya. Pak Polisi kita yang berdedikasi mencari uang tambahan di jalanan sering menilang orang yang tidak bawa SIM, STNK, dan lainnya tapi sering membiarkan anak SMP atau yg belum 17 tahun keliaran pakai motor. Bahkan anaknya sendiri yang masih usia SMP sudah dibekali motor. SIM-nya nembak pula.

Padahal tingkat kecelakaan lebih tinggi karena para pengemudi kendaraan bermotor nggak ngerti atau nggak tau rambu-rambunya. Yang lebih penting lagi, mereka masih belum paham etika berlalu-lintas.

Saya sering hampir celaka karena ulah pelajar yang “arisan” di tengah jalan sambil mengendarai motor. Atau karena yang dibonceng pacarnya, matanya nggak liat jalan di depan, malah nengok terus ke belakang. Ada lagi yang dalam kecepatan tinggi sempat-sempatnya mengeluarkan kamera pocket untuk memoto artis idolanya yang mejeng di papan iklan obat bau ketek.

Tak hanya itu, knalpot dibuat nungging ke atas sehingga buat dia keren tapi nyemprotin racun ke muka orang lain. Belum lagi yang hobi menyalip tapi ngajak celaka bareng-bareng. Celaka mah sendiri aja, gak usah ajak-ajak.

Yang paling menyebalkan adalah yang menelepon sambil menyetir. Baik motor atau mobil. Eh itu masih mending. Ternyata yang menyebalkan tingkat dewa adalah nulis SMS atau BBM-an sambil nyetir. Rasanya pengen nimpuk pake halte Transjakarta.

Entah kenapa, kata “tenggang rasa dan tidak semena-mena pada orang lain” turun pamor rasanya.

Kita emang bayar pajak untuk buat jalan. Jalan emang punya kita. Tapi kalimat itu belom selesai. “Jalan emang punya kita SEMUA”. Lha wong yang bayar pajak juga barengan.

Ya, gak?

Advertisements

One thought on “Pantas di Lalu-lintas Banyak yang Naas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s