Tak Ada Lagi Alasan

Detik ini saya sedang menunggangi kuda besi besar yang rajin mengantarkan saya menuju kantor. Tengah minggu, apa yang biasanya Anda rasakan dalam perjalanan menuju tempat kerja? Jenuh, cape, malas, dan serenceng alasan rajin menyambangi hati di waktu ‘nanggung’ ini.

Jujur, saya pun demikian. Selusin Mario Teguh pun mungkin rasanya tak mampu mendongkrak motivasi, pikir saya. Mencoba menarik ke belakang. Sekelebatan adegan Air dan Ayahnya yang membolehkan saya berkarya sebagai perempuan yang biasanya menguatkan pun menguap begitu saja.

Di tengah waktu yang berjalan lambat, di saat kaki ini berangkat seakan terseret-seret, melintaslah seorang pemuda yang sedang naik sepeda. Seketika, air mata saya jatuh. Mengapa dia sedemikian istimewa?

Pemuda bertopi dan berkaos lusuh ini adalah loper koran. Sebenarnya hampir tiap pagi saya bersua dengannya, di jam yang sama. Dengan sepeda bututnya, pemuda ini mengayuh sepedanya dengan sebelah kakinya. Ya, kakinya hanya satu, lainnya buntung. Untuk menjaga keseimbangannya, ia gunakan tongkat kayu yang ia genggam di tangan kanannya. Senyumnya senantiasa tersungging, menyapa dunia yang tak ramah padanya.

Dengan semangat lebih saya kemudian naik bis. Sambil duduk, saya mengamati para pekerja urban di kanan-kiri saya. Ada yang terkantuk-kantuk dengan wajah letih, ada yang sibuk dengan gadgetnya, ada yang melamun berwajah galau. Saya memilih untuk memandang ke luar jendela. Sambil masih merenungkan pemuda penuh hikmah tadi, saya larut dalam keindahan semesta hijau yang terhampar di sepanjang jalan tol.

Tetiba, ada pengamen yang mulai memetik gitar kecilnya. Entah lagu apa yang dimainkannya karena saya sedang mendengarkan musik dari handphone.

Tibalah saat pengamen tersebut menyodorkan kantong plastiknya untuk menadah pemberian orang yang berbaik hati memberikan koin.

Saya agak kaget karena kantong plastik itu sering kali disodorkan tidak pada tempatnya. Entah itu di kepala penumpang, menyentuh pipi mba-mba yang duduk di tepi kursi, atau justru mengambang begitu saja, jauh dari jangkauan tangan penumpang yang ingin memberi.

Dengan alis yang agak mengerenyit, saya mendongak untuk melihat lebih jelas sosok sang pengamen atas polahnya yang aneh.

Masya Allaah, ternyata pengamen ini adalah seorang kakek renta, kurus, berbaju batik yang sudah pudar, dan… buta. Pantas saja keanehan itu terjadi.

Tak terbayang, saya saja yang kalau berdiri di bis dengan mata terbuka sering kali hampir terjerembab jatuh. Si kakek ini mengamen dengan jarak jauh tanpa penglihatannya.

Saya lalu amaze. Hari ini, bahkan hari di mana saya belum melakukan apa-apa sudah disuguhi kedua malaikat berwujud manusia ini.

Ya Tuhan, saya punya kaki. Punya dua, lengkap. Punya sepasang, jenjang dan sehat. Pun saya punya dua mata. Mata yang benderang menangkap segala citra semesta. Jika mereka saja dengan segala keterbatasannya begitu tangguh dan tekun bekerja, mengapa saya yang punya kaki lengkap dan mata yang sempurna tak lebih produktif ketimbang mereka?

Tuhan, semoga kebaikan dan keberkahan dilimpahkan pada pemuda loper koran dan kepada kakek pengamen buta yang saya tak tau namanya. Semoga tiap langkah saya ketika bekerja dengan niat untuk-Mu, kebaikannya tercurah pula untuk dirinya. Aamiin.

Maka… Alasan apa lagi yang akan kau kemukakan untuk tak memikul semangat dan niat baik ketika berangkat kerja hari ini? Bagi saya, tak ada.

Advertisements

One thought on “Tak Ada Lagi Alasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s