Selamat Pagi, Air


Bunda baru saja sampai di kantor. Ada rasa haru dan bahagia atas suguhan sederhana yang Tuhan beri pagi ini.

Nak, bagi Bunda, bisa menggandeng tangan mungilmu ketika mengantarkanmu ke sekolah adalah sebuah keharuan. Biasanya, dengan terburu-buru, kita naik ojek atau diantar ayah menuju sekolah. Tapi tidak pagi ini. Ditemani celotehanmu mengenai kupu-kupu, tentang bagaimana rasanya menjadi orang buta, sampai mengapa saat latihan manasik haji minggu depan harus berputar-putar 7 kali melewai Kabah kita berjalan kaki saja.

Di tengah perjalanan kita melihat seorang adik kecil berusia 2 tahun yang lucu. Buntal, berambut keriting, dengan pandangan mata penuh rasa ingin tahu. Bunda mengatakan padamu bahwa ia mirip sekali dengan dirimu ketika masih kecil. Lalu kau berkomentar bahwa mukanya berbeda denganmu. Ketika Bunda menjawab memang lebih baik berbeda, karena kalau tidak kalian bisa tertukar dan Bunda akan terkaget-kaget mendapati dirimu yang Bunda gandeng menjadi menciut. Kau sambut dengan gelak tawa yang bening dan lesung pipi khasmu yang jika kau tertawa mukamu mirip seperti anak kucing.

Sekitar 300 meter dari gerbang sekolah, kau meminta Bunda untuk berhenti bahkan bersembunyi. Ingin terlihat pergi sekolah sendiri tanpa diantar, katamu. Bunda menurut saja. Dengan langkah tergopoh-gopoh serta tas ransel yang lebih besar dari tubuhmu kau sampai di gerbang sekolah. Di kejauhan Bunda tersadar, bahwa kau sudah menjadi gadis kecil.

Kini kau masih bisa Bunda gandeng. Entah kalau kau sudah beranjak remaja. Kelak kau bertambah dewasa dan Bunda bertambah tua. Maukah kau mengantar Bunda sesekali ke sebuah taman jika Bunda sudah jompo seperti ketika kau menarik-narik tangan Bunda minta diajak ke taman belakang di rumah Eyang? Dan….bersediakah kau menggandeng tangan Bunda dengan penuh cinta ketika tubuh ini sudah renta?

Jawabannya mungkin iya karena Bunda percaya kau anak yang penuh kasih. Terlebih ketika semalam kau begitu setia menanti kedatangan Bunda dari kantor sampai pukul 12 malam dan kita akhirnya tertidur dengan tangan saling menggenggam.

Atas nama Tuhan, Bunda mencintaimu sebagai anakku, mengasihimu sebagai sahabatku, dan menghormatimu sebagai insan yang sejajar denganku. Selamat belajar dan bermain di sekolah, Nak, Bunda mau kerja dulu. Sampai bertemu nanti malam.

With purely love,
Bunda

Advertisements

2 thoughts on “Selamat Pagi, Air

  1. Sama mba, kadang aku juga bayangin kalo anakku gede nanti gimana. Sekarang dy masih 9 bulan sih, salam kenal ya, tulisannya bagus, menginspirasi 🙂

  2. Kak vei, aku suka tulisannya, kereeeeen banget… sebagai ibu yang bekerja, sangat sulit sekali untuk bisa membagi waktu antara pekerjaan dan memberikan perhatian kepada anak..ditambah pekerjaanku yang harus sering meninggalkan anak..karena harus dinas dan lain sebagainya..walaupun sebenarnya aku bisa memilih..tapi aku ingin sekali bisa menjalani kedua peran tersebut dengan baik..saat ini aku berada dalam dilema besar..ingin meninggalkan anak dalam jangka waktu yang lama namun rasa sayangku kepadanya membuatku menjadi ragu..ada saran kak vei?terima kasih sebelumnya bunda Air..^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s