Hari di Mana 2 Hal Tercuri dari Saya

Dua hari yang lalu ketika saya berada di kantor si mba menelepon saya. “Bu, kita kena musibah,” suaranya tidak jelas karena bicara sambil sesenggrukan. Deg. Hati saya seperti tercerabut tiba-tiba. Lintasan Air yang sedang dadah-dadah di gerbang sekolahnya lalu melesat di kepala. Duh, semoga bukan tentang Air.

“Lektop ibu diambil orang sama pemutar musik punya Air,” dengan nada ndeso yang bercampur panik si mba menceritakan kejadiannya. Sekitar pukul 12 siang, kondisi perumahan tempat saya tinggal di Bekasi ini lengang. Memang, sebagian besar rumah hanya dihuni oleh para asisten rumah tangga karena kedua majikannya bekerja di Jakarta yang sudah pergi pagi-pagi buta.

Lalu datanglah dua orang pria berseragam kemeja biru. Satu agak pendek gemuk dan satunya kurus tinggi berkumis serta memiliki tompel di atas bibirnya. Si gemuk mengenakan tas sedangkan si kurus membawa alat yang menurut pengakuan si mba seperti untuk mengukur listrik dan agak berisik ketika dinyalakan. Mereka mengaku sebagai petugas PLN dan akan mengecek listrik di seisi rumah.

Awalnya, mba tidak mengizinkan mereka masuk rumah dan menyarankan mereka datang hari Sabtu saja. Namun saat kedua pria ini bilang “harus sekarang, disuruh Bapak”. Sayangnya, si mba ini tidak menelepon saya untuk mengonfirmasi dan begitu saja membuka gembok gerbang dan pintu.

Kedua pria ini masuk terburu-buru ke dalam rumah tanpa membuka sepatunya. Si mba sempat protes “Pak, ko nggak dibuka sih sepatunya, kan kotor”. Mereka berdalih buru-buru. Si gendut bertas ini menyuruh si mba menyalakan semua lampu termasuk yang di lantai 2. Mba pun menurut dengan menaiki tangga diikuti si gendut, sementara si kurus tetap di bawah.

Ketika di atas, si gendut meminta pensil sambil mengeluarkan satu kartu berwarna kuning dengan logo PLN tertera di atasnya. Si Mba lalu dipanggil ke bawah karena ternyata si kurus membawa pulpen dan meminta mba membawakan pulpen itu ke temannya di atas.

Setelah merasa beres, mereka beringsut hendak keluar rumah. Pulpen dan kartu PLN-nya tak mereka ambil kembali. Di pintu, anaknya mba teriak “Maaa, dia ngambil pemutar musik punya Air!”. Si mba kaget dan langsung ke tempat biasa saya menyimpan laptop. Ia makin shock ketika laptop itu tak ada lagi di tempatnya. Kaget luar biasa akhirnya ia hanya bisa menangis bukannya meminta tolong. Saat itulah ia menelepon saya. Saat pelakunya langsung kabur menggunakan motor Mio berwarna putih (si mba tidak memperhatikan plat nomornya).

Saat tahu laptop saya raib, cuman satu yang bikin sedih. Dokumentasi Air dari sejak bayi sampai sekarang hanya ada di laptop itu. Sesuatu yang nggak berharga buat pencurinya tapi priceless buat saya. Mirip seperti kehilangan dompet.Terserahlah uang dan dompetnya, tapi kartu-kartu identitas di dalamnya itu yang nyesek kalo harus urus lagi.

Tak pikir panjang, saya pun langsung izin dari kantor untuk pulang cepat. Pikiran saya sibuk. Saya harus ngapain sekarang? Atas pengarahan Ayahnya Air, saya lalu mengajak mba ke Polres terdekat setelah sebelumnya menjemput Air dari sekolah.

Di kantor polisi, bagian pengaduan.

Saya memasuki ruangan itu. Di salah satu kubikel ada 3 orang polisi yang sedang berbincang. Karena tak tahu musti ke siapa, saya mendekati mereka. Ini secuplik dialog saya dengan salah seorang dari 3 orang polisi tadi.

“Pak, kalau mau buat laporan kehilangan kemana bagian yang mana, ya?”
“Ada apa, Bu?”
“Saya mau lapor kehilangan karena pencurian”
“Kapan emang kejadiannya?”
“Tadi siang, 3 jam yang lalu”
“Apa yang hilang?”
“Laptop dan mp3 player”
“Emang rumah kosong?”
“Ada pembantu saya dan anak perempuannya”
“Orangnya masuk dari mana?”
“Dari gerbang dan pintu utama”
“Kenapa si mba membukakan pintu”
“Pelaku ngaku orang PLN dan disuruh suami mengecek listrik”
“Makanya kalo punya pembantu itu dikasi tau, dong. Si mbanya gimana sih. Ada yang dicuri kan. Harus hati-hati (dan terus dan terus dan terus dia menyalahkan dan memarahi kami)”
“Ok. Saya jadi harus ke bagian mana ini, Pak!”
“Owh ke kubikel yang di pojok itu”

Saat saya memasuki kubikel itu, ada tiga buah kursi yang dipasang berjejer dengan seorang polisi sedang meringkuk tidur. Saya lantas berteriak ke polisi sebelumnya, “Orangnya tidur, Pak!”
Polisi sebelumnya berteriak, “Bangunin aja!”.

Ternyata si polisi sleeping beauty ini terbangun dari mimpinya karena mendengar teriakan saya. Bukannya tergopoh-gopoh ada yang masuk ruangannya, dia malah melihat saya dengan santainya dan membiarkan saya menunggunya menyelesaikan acara ngulet-ngulet panjangnya.

Dia lalu duduk. Dan bertanya hal-hal yang tadi ditanyakan oleh polisi pertama. Pembicaraan saya lalu diakhiri dengan: “Lalu ibu maunya kita ngapain?” Whaaatttt!??

Saya tanya balik. “Biasanya kasus seperti ini gimana reponsnya di kepolisian?”
“Ya buat laporan kehilangan. Terus akan dibawa ke Kepala Bagian. Kita kan punya tujuh unit. Nanti Kepala ini memilih unit mana yang akan menangani kasus. Jika sudah menunjuk, maka si unit akan memilih penyidik untuk menyelesaikan kasus ini”

Dalam hati saya mikir. Kalo kasusnya pencurian mobil, pas penyidik udah kepilih, mobilnya udah tinggal gelundungan ban. Lambat banget.

“Lalu kalo saya sekarang buat laporan kehilangan, kapan saya akan dimintai keterangan lanjutan untuk BAP?”

“Ya kita liat aja sih. Ada apa nggak Kepala Bagiannya. Soalnya dia juga suka keluar kota.”

Dalam hati saya mikir lagi. Kalo ada kasus pembunuhan, kalo semua bergantung kehadiran Kepala Bagian tuh pelaku dan membunuh berapa orang, ya? Pada gak punya BBM atau Skype gitu ya. .

Polisi itu berkata, “Lagian susah juga menyelidikinya lha wong identitasnya aja si mba gak bisa nyebutin namanya. Nggak jelas identitasnya”

Manaaaa adaaaa pencuri yang ngasih identitas, nama asli dan KTP, pas mau nyuri. Gimana sih.

“Identitas bukanya gak cuman nama kan, Pak? Ciri-ciri fisik yang khas, kendaraan yang dipakai sama pelaku bisa lho digambarkan dengan detail sama mba saya”
“Yaaa, susah, Bu”
“Kali aja ada laporan yang sama dan pelaku dengan ciri-ciri yang sama. Memangnya tahun ini udah ada berapa laporan yang motifnya sama kaya saya?”
“Ini motif baru kalau pencurian mengaku dari PLN dan lainnya. Ini laporan pertama yang masuk.”

Kaget dengernya. Soalnya selama perjalanan pulang dari kantor, di Twitter banyak sekali yang cerita dia mengalami kejadian yang serupa. Mengaku sebagai petugas PLN, PAM, servis AC, dan lainnya. Ini apa polisi yang berkilah atau memang masyarakatnya yang nggak lapor ke polisi hanya karena desperate laptopnya nggak bakalan balik walo lapor. Hei laporan ini kan bukan hanya tentang baliknya barang. Tapi juga biar polisi bikin gerakan untuk menangani agar gak terjadi lagi.

Polisi itu lalu mengamati pulpen dan kartu PLN kuning yang saya masukan dengan amat-sangat-hati-hati ke dalam kantung plastik. Karena sering nonton film CSI, NCIS, dan Law and Order saya pikir akan ada sidik jari yang berguna untuk mengarahkan penyelidikan.

Polisi itu bertanya, “Lalu, barang ini mau bisa kita apakan coba?”
“Bukannya ada sidik jari pelaku di situ ya, Pak”
“Bu, polisi kita ini nggak kaya di Jepang, kita nggak punya database kaya gitu….(pembicaraan selanjutnya bernada curcol tentang polisi berkesan nggak berdaya),” jawabnya sambil membuka plastik dan lalu mengunyeng-unyeng pulpen tadi dengan sembarangan dan semaunya. Rusak sudah.

Itu mirip banget perbincangan agen sama klien. Di mana si agen bilang ke kliennya dia nggak bagus lho, dia payah, dia nggak bisa diandalkan, tapi minta tetep dihormati dan dipercaya sama kliennya. Duh, padahal kan nasi yang polisi makanan seragam yang dia pake itu dari pajak yang kita bayar. Stakeholder utamanya dia ya, masyarakat.

Di bawah ukiran tagline di dinding kantor polisi yang bertuliskan “Melayani dan Melindungi Masyarakat” , Polisi itu lantas bertanya setelah mengakhiri sesi curhatnya.
“Kerja di mana, Bu?”
Saya tatap matanya lekat-lekat sambil menjawab, “Saya kerja di media”

Bahasa tubuh polisi itu lalu sontak berbeda. Tegap dan kemudian menjaga tiap kata-katanya.
Terlepas dari jenis barang yang hilang, mau itu cuman sekaliber laptop atau rumah dan nyawa sekali pun, polisi perlu bersikap lebih baik. Saya berhak mendapatkan pelayanan kalo dia nggak bisa melindungi dengan baik.

Saya jadi ingat ketika rumah saya dilempari kaca dan batu oleh suaminya pembantu karena saya melarikan istrinya ke LBH setelah sang suami berbulan-bulan melakukan KDRT pada sang istri. Saya langsung ke polisi, minta dilindungi. Apa yang kurang, motif jelas, identitas jelas, barang bukti perusakan ada. Mereka hanya bisa jawab, “Gini aja, Bu. Nih saya kasih nomer telepon sini, kami akan datang 5 menit ke rumah ibu”. Ya, bisa jadi mereka datang, nyawa saya sudah melayang di menit ke-2. Apa karena saya bukan anak jendral, anak presiden?

Lalu ketika membuat BAP atas pemukulan pembantu saya sama suaminya di rumah saya. Saya ditangani polwan. Tapi di meja sebelah, polwan lain sedang berkelakar dengan polisi pria tentang pelaporan kasus perkosaan seorang wanita. Pelapor dikata-katai dan disindir dengan kata-kata melecehkan. Entah bagaimana rasanya kalo si wanita pelapor itu mendengar. Yang jelas, saya aja yang mendengar itu nggak layak dilakukan oleh pihak yang ada di bawah sumpah untuk berlaku baik sama masyarakat.

Dan saya pun pulang dengan perasaan yang geram. Awalnya geram karena penipuan si pelaku dan si mba yang nggak hati-hati. Lalu berakhir dengan geram karena polisi yang sama sekali tidak menjunjung tinggi slogan yang mereka punya.

Hari itu saya sudah merasa tercuri 2 hal: harta benda yang diambil pelaku dan kepercayaan pada polisi yang diambil oleh oknum polisi sendiri. Saya sudah mengikhlaskan kehilangan material. Tapi saya tidak memilih ikhlas atas kinerja oknum polisi-polisi itu. Saya memilih putus asa.
Walau pastinya ada juga polisi baik di antara polisi kotor di negeri ini. Salam hormat setinggi-tingginya untuk para polisi yang menyandingkan sumpah mereka di jidat mereka agar selalu ingat dan mematrinya di hati mereka agar sumpahnya selalu dijaga untuk ditegakkan.

Advertisements

14 thoughts on “Hari di Mana 2 Hal Tercuri dari Saya

  1. sekarang mh harus waspada yah…. aq sk sendirian dirumah bun, tapi kl ada yg ga kenal meski teriak2 pun aq ga bukain gemboknya… makasih ya sharingnya.. bisa bwt pelajaran bwt kita…

  2. Jadi inget dulu waktu sma kelas 3, dimana semua teman-teman amat sangat antusias mendaftarkan diri jadi polisi, baik secaba maupun akpol. Saya juga pingin ikut, dan ngincer akpol.
    Suatu malam, saya sampaikan niat hati pada ayah. Dan ayah cuma bilang,
    “Lebih baik kamu masuk AD, trus dikirim ke Timtim dan mati di sana. Ayah lebih ikhlas. Dibanding masuk polisi trus disumpahi masyarakat!” dan saya terdiam.

    Ayah saya seorang penegak hukum, Jaksa lebih tepatnya. Tapi sangat tidak suka dengan polisi, meski tidak semuanya polisi berperangai sama. kata ayah, “jangan sampe kemakan sumpah babisiak” atau artinya sumpah berbisik. Dimana masyarakat akan menyumpahi dalam hati.

    Masih di sma, saya aktif di kepramukaan. Saya pun dihadapkan untuk memilih SAKA (Satuan Karya). Biasanya anak-anak milih Saka Bhayangkara (di bawah pelatihan Polri) atau Saka Wana Bhakti (Dept Perhutanan), dan saya memilih Saka Dirgantara (AU). Ya, saya sangat tidak suka dengan polisi.

    Bahkan dengan teman-teman yang tetap melanjutkan cita-cita mereka sebagai polisi, saya utarakan bahwa saya sama sekali tidak hormat ketika mereka mengenakan baju korps mereka. Tapi saya akan menghormati diri pribadi mereka di luar embel-embel korps. Ya, mereka menerima. ungkin karena tahu saya pernah “ribut besar” dengan polisi waktu sma *ngakak*

    hloohh kok jadi ikutan curhat =))

    • Salam hormat setinggi-tingginya untuk kakekmu, ya. Tak ternilai pula jasa seorang polisi yang baik di negeri ini. Makasi ya. Mungkin ini teguran untuk lain kali selalu buat back-up file. 🙂

  3. Kayanya gak ada lagi tempat untuk “bersandar” bagi kita di negri ini -__-” . Anyway, semoga diganti dengan yang lebih baik ya 😀

  4. wah, saya juga pernah bikin laporan kehilangan jawabannya hampir sama, karene saya dah tau bkln begitu, saya cuma butuh surat kehilangan saja dr polisi untk mengurus dokumen penting

  5. Pingback: Hilang | Menulis Agar Mengutuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s