Jelang Setahun Air Jadi Gadis Kecil


Jelang 6 tahun kebersamaan Air bersama saya di 1st September nanti, saya jadi tergelitik ingin menuliskan ragam kebisaan Air yang telah ia raih. Banyaknya kemajuan di tahun pertama setelah melepas masa balitanya ini mirip dengan satu tahun pertama pada bayi. Bedanya, kalo bayi masih nurut-nurut aja, nah di masa gadis kecil ini pake acara nyeyel. Yap, ngeyel ini juga salah satu kemajuannya hihihi. Coba saya runut ya.

Bisa bermanuver dengan sepeda roda dua. Sungguh, ini salah satu dari pencapaian Air yang paling membanggakan. Kenapa? Karena tekad ini lahir dari inisiatifnya sendiri. Seolah dia tau benar kapan dirinya betul-betul siap. Sampai suatu hari dia berkata dengan mantap, “Bun, aku udah siap melepas roda bantunya sekarang”. Langsung bisa? Owh tentu tidak. Air ‘mencicipi’ jatoh ke got, nabrak gerbang, dan luka di beberapa bagian tubuhnya dulu sebelum bisa. Senengnya lagi, saya berkesempatan mengajari dan menyemangatinya. Saya menyaksikan detik-detik pertama ketika Air bisa menggenjot sepeda roda duanya tanpa dipegangi dan tanpa goyang-goyang. Sekarang? Wow, jangan tanya. Dia punya punuk virtual berisi energi super kalo udah main sepeda. Manuvernya? Melaju dengan kecepatan tinggi, melepas satu tangannya, dan belok dengan kemiringan yang bikin emaknya ini deg-deg plas đŸ™‚

Berenang dengan jarak 2 meter. Nah ini yang bikin tercengang. Air ini dulu paling gak suka diguyur. Kalo berenang, kepalanya kering banget. Ngedumel-dumel kalo saya ciprati air. Lha kok namanya Air takut sama Air ihihihi. Rupanya, untuk urusan renang ini dia ‘gengsi’ diajari (ini gen dari siapa cobaa). Maunya liat. Akhirnya saya berenang wara-wiri dengan beragam gaya. Air mengamati dan mencoba sendiri di kolam kecil. Awalnya dia cuman bisa 3 cipakan kaki dengan teknik mengambang yang tau-tau udah bisa. Seiring waktu dia bisa makin jauh jarak renangnya. Intinya dia makin ‘besahabat sama air’ hehehe. Sekarang, dia lagi berlatih gaya katak dan watter trapen (ini harus berlatih di kolam dalam). Awalnya, berenang buat Air adalah terapi untuk amandelnya yang ‘genit’, ditowel virus/bakteri dikit langsung melendung. Rupanya renang ini melancarkan metabolisme dan memperkuat imunitasnya.

Mandi, keramas, makan, nyisir, dan pake baju sendiri. Dari itu semua yang usahanya lebih keras adalah makan sendiri. Jadi kalo makan sendiri thu mukanya males-malesan. Etapi kalo disuapin makannya banyak banget. Jadinya di sekolah, Airlah yang paling telat kalo makan siang. Yang lain udah bobo siang di kelasnya. Dia masih memamah biak. Dan yak, dengan senjata cetakan nasi yang kece-kece, dia melahap dengan lahap. Walo gitu, dasar anak zaman sekarang, Air masih risihan kalo makan pake tangan (gak pake sendok). pelan-pelan lah ya. Kalo urusan mandi, dia punya ritual sendiri. Pintu ditutup (karena terganggu sama emaknya yang dikit-dikit liat progress mandinya bhihhik..), utak-atik maenan di bak (5 menit), guyur badan, ngelamun (3 menit), sabunan (cuman perut, muka, kaki, tangan dikit), maen busa-busa sabun (3 menit, kalo nggak diteriakin), bilas, keramas (kenapa gk sekalian aja bilasnya), bilas rambut, sikat gigi, kumur-kumur, andukan. Fiuuh. Nah, urusan pake baju dah lancar.

Membaca 1 kalimat (5 kata) dan sudah IQRO jilid 2. Dalam hal membaca, sungguh Ayah Air sangat kooperatif sekali. Dia mencari ragam sofware membaca di iPad, membaca cerita dan meminta Air membaca beberapa kalimat, dan lainnya. Nah, tentang IQRO, baru aja kemarin Air masuk jilid 2. Nggak sia-sia rasanya pulang tepat waktu dari kantor untuk bisa shalat Isya berjamaah, berdoa bersama, mengajari Air mengaji, dan mendongengkan kisah para Nabi sebelum tidur. Seneng rasanya.

Bernegosiasi. Inilah mungkin jawaban kenapa Air termasuk anak yang nggak rewel dan jarang tantrum. Kekuatan negosiasi memberinya rasa aman, bahwa dirinya punya hak untuk berpartisipasi dalam tiap keputusan. Misal gini. Saat Air harusnya udah mandi jam 4 sore eh ternyata dia malah tetep asyik nonton. Saya nyuruh dia segera mandi. Dia bilang 30 menit lagi. Saya bilang 10 menit lagi. Dia nawar, 15 menit deh tanpa acara main di bak, tanpa ngelamun, dan tanpa main busa-busa. Kami pun salaman. Deal. Begitupun dalam beragam hal.

Mix n match baju dan aksesoris. Air ini girly banget. Jauh ama emaknya yang rada urakan gayanya. Dia makin PD dengan padu-padan pakaiannya. Tau baju untuk tidur, untuk di rumah, dan jalan-jalan. Begitu pun dengan pilihan warnanya. Dan satu lagi. Dia suka banget pilah-pilih aksesoris yang pas sama bajunya, plus wana kuteknya (omigod). Walau urusan naro perintilan perabotannya masih jauh dari rapi. Bocah lah namanya juga.

Bersahabat. Dulu, Air ini anaknya supel banget. Ke mana-mana gemar berkenalan sama sesama anak-anak. Mungkin karena sekarang udah tau malu, dia jadi cenderung sedikit pilah pilih. Hopla! Terbentuklah persahabatan antara Air-Naya-Audyra di sekolah dan Air-Kaka Aya di rumah. Begitu lekatnya sampai mereka punya bahasa sendiri, mainan favorit sendiri, dan suka bertukar makanan dan aksesoris. Nah, ini keliatan banget pas Kaka Aya pindah rumah dna Audyra ‘cuti’ sekolah. Semua keceriannya tercerabut. Saya setengah mati memotivasi semangatnya. Sampai akhirnya dia tahu, bahwa bersahabat itu nggak harus selalu saling ketemu, yang penting sesekali komunikasi dan selalu ingat di hati.

Mengatur mekanisme diri ketika kangen, sayang, dan menghadapi ketidakhadiran. Dulu, Air pernah mengalami tic syndrom. Gejalanya mata kananya kedip-kedip terus dengan mulut yang ketarik ke atas tanpa ia sadari. Setelah hipnoterapi, ketahuanlah bahwa ia menekan rasa kangen dan kehilangan sosok Ayah karena si Ayah kerjanya jauh. Nah, setelah itu Air menemukan sendiri cara mengatasi rasa-rasa tersebut. Biasanya dia menggambar. Entah itu melukis Ayah/Bunda dan dirinya dengan tanda hati di tengahnya dan ketika Ayah/Bunda datang ia meminta gambar itu dipajang di kantor. Ada juga cara lain, biasanya dia tidur dengan memeluk jaket/baju Bunda/Ayahnya.

Daaaan, masih banyak pencapaian lainnya. Tapi bakalan jadi novel kalau dituntaskan satu persatu. Atas kesemuanya itu satu yang terus saya gaungkan. Rasa syukur. Sungguh sebuah anugerah masih bisa bersamanya dan diberi kesempatan membesarkannya dengan cinta.

Advertisements

2 thoughts on “Jelang Setahun Air Jadi Gadis Kecil

    • ALhamdulillaah. Amin, mudah2an komen itu analog sama doa ya. Aih, justru nih akyu yang lagi belajar dari Alfa. Beneran deh. Apalagi pas liat scrapbook yg 30 hari itu ko rasanya ngenes. Boro-boro bisa bikin nugget sendiri nih, padahal pengen banget. Ajari yaaaa….yuks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s