#JejakRamadhan: Kelak Kau Sendiri Mengarungi Mati

alone


Sebetulnya lintasan ide tulisan ini nggak mampir pas Ramadhan. Namun ide ini minta ditulis dengan diperkuat oleh berita kematian yang setia dilantunkan oleh speaker masjid dekat rumah saya ketika Ramadhan. Nyatanya, hanya syetan yang dibelenggu selama Ramadhan, malaikat maut tak cuti dari tugasnya.

Jadi beberapa hari sebelum puasa, saya lagi rajin jalan kaki dari depan komplek sampai rumah. Lumayan jauh, butuh 15 menit dan ratusan langkah untuk bisa menyapa sarang saya. Apa yang paling enak untuk menemani perjalanan? Owh ya, tentu saja musik.

Musik dengan pesonanya bisa membuat pikiran larut dalam syairnya. Bahkan tubuh pun terhipnotis untuk bergerak selaras bit yang sedang diputar dalam kepala. Apalagi nggak jarang, perjalanan itu dilakoni sendirian di tengah komplek yang sudah sangat sepi. Benar-benar sepi, kucing aja kadang malas menyembulkan kepalanya. Saat tombol ‘play’ ditekan, seluruh bumi sontak ikut larut berdendang.

Lalu, tiba-tiba baterei ponsel drop. Layar padam. Musik berhenti. Yang ada hanya saya sendiri…dalam gelap dan sepi.

Coba bayangkan. Di depan saya hanya ada jalan lurus yang panjang. Di beberapa spot lampu jalan tua sudah lelah menjalankan tugasnya. Gelap. Udara agak berkabut. Pintu bahkan jendela rumah sudah tertutup rapi. Tak ada siapa pun.

Yang berkelebat dalam hati bukanlah rasa takut akan hantu ataupun orang jahat. Kesendirian di tengah jalan yang lengang tanpa siapa pun dalam ini menyiratkan tanya di benak saya: Ya ampun, kalo saya udah mati apakah akan sesepi ini?

Lalu saya membayangkan yang sedang berjalan ini bukanlah badan melainkan ruh saya. Ruh yang sudah habis masa kontraknya di dunia. Saya memang belum pernah mati. Namun, apakah saya akan begitu saja mempercayai diri ini sudah mati jika kelak kehidupan tak lagi bersemayam dalam diri ini? Jika bayi lahir saja menangis ketika berpisah dengan alam rahim, respons apa yang akan saya alami ketika sadar diri ini sudah tak lagi menjejak bumi?

Sungguh, di malam itu saya tiba-tiba merasakan sepi yang teramat sepi. Sendiri yang teramat menyakitkan. Namun saya masih mungkin akan sampai di rumah, ada yang membukakan pintu, ada yang menawari mau dibuatkan teh atau tidak, bertemu dengan buah hati yang mengahmburi saya dengan pelukan. Lalu apa yang terjadi jika yang sedang berjalan menuju rumah ini hanyalah ruh tanpa jasad. Mungkin saya bisa begitu saja masuk rumah namun yang paling menyesakkan dada adalah….tak ada yang menyadari kedatangan saya.

Kesadaran lalu menyergap saya. Menyisakan sebuah nada bicara yang memelas. Ya Tuhan, kelak saya akan sendiri. Sendiri menghadapi maut. Sendiri menghadapi sosok-sosok yang belum pernah saya temui di mana pun. Sendiri menjalani tahapan perjalanan setelah kehidupan. Siapa yang akan menemani? Siapa yang akan menerangi jikalau jalan yang terbentang demikian gelap?

Serentet pertanyaan itu menjadi ‘oleh-oleh’ yang saya bawa sesampainya di rumah. Lalu tak lama dari hari itu saya menemukan jawaban.

Sumber jawaban ini saya dapat dari mana-mana (sila cari sendiri untuk detailnya). Setidaknya ini yang saya imani, setelahnya. Konon, setelah kematian, amal-amalan kita akan mewujud menjadi makhluk-makhluk. Jika amalnya baik makhluk itu akan enak dipandang dan memperlakukan kita dengan baiknya. Begitu pun sebaliknya. Dan sungguh tak ada yang menemani kita dalam menjalani kehidupan pasca kematian. Selain itu tadi….makhluk yang kita ciptakan sendiri.

Pertanyaan membuahkan jawaban. Lalu jawaban menelurkan kembali serentetan pertanyaan. Satu yang langsung menohok. Lalu, makhluk jenis apa yang akan menemani saya, kamu, kamu, dan kamu kelak?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s