Bahagiakah Kamu, Nak?

happy kids

happy kids

“Siapa sih yang nggak pengen anaknya bahagia?”
“Apapun akan dilakukan biar anak gue bahagia”
“Eh, tapi anak gue bahagia nggak sih”

Serenceng pertanyaan itu entah mengapa layaknya banjir rob di Jakarta melibas pikiran dan hati saya. Nadanya serupa. Yakin-yakin-tapi-bingung. Bahagia terasa abstrak untuk insan yang tak memasukan kata itu dalam kamus hidupnya. Atau parahnya, yang merasa tak layak berbahagia. Saya? Tentunya

Saya enggan mendefinisikannya. Bahagia itu porsinya dirasa dan dilihat, alih-alih diucap. Apalagi jika dikaitkan dengan makhluk yang namanya anak. Anak yang bahagia. Kalimat yang jika dilafalkan merangsang imaji untuk menayangkan senyum dan tawa anak-anak kita.

Saya jadi ingat. Sudah hampir 2 mingguan ini, Air lebih banyak tersenyum dan tertawa lepas. Saya bertanya, “Hmm, gadis Bunda sekarang makin cantik karena senyumnya banyak dan senang tertawa, Air merasa apa?”. “Aku seneng, tapi nggak tau karena apa,” jawabnya polos.

Padahal di minggu itu beberapa kali ia merasa kecewa karena ayahnya harus pulang ke Bandung, ia lompat-lompat kegirangan karena uang tabungannya cukup untuk membeli robot-robotan, ia mengatakan merasa rindu saat saya harus pulang lebih larut, ia memeluk saya erat saat music box yang didambakan tiba-tiba ada di kamarnya, ia merasa cemas karena akan mengikuti lomba menari, dan ia harus menghadai kenyataan pahit ditinggal pindah rumah oleh sahabatnya. Begitu fluktuatif mood dan perasaannya. Jatuh-bangun ia menyeimbangkan kembali kondisi hatinya. Tapi, mengapa ia tampak begitu….berbahagia.

Saya merasa musykil jika menanyakan hal-hal abstrak atau filosofis seperti “Apakah kamu berbahagia?” pada Air. Terlebih karena saya tidak yakin ia tahu apa dan bagaimana orang yang berbahagia itu. Terseret pada penasaran saya tak bisa menahan untuk bertanya pada Air. Pada anak yang baru saja melepas masa balitanya.

“Apa Air merasa bahagia?” tanya saya di suatu malam, sebelum tidur, dengan lampu temaram, dan ia nyaman di pelukan.

“Aku bahagia, Bunda,” jawabnya sambil memainkan rambutku.

“Pasti menyenangkan ya merasa bahagia. Apa yang Air rasa memangnya sampai bisa merasa bahagia?”

“Bunda pernah bilang. Tiap saat itu ada waktu-waktunya. Ada waktunya main, makan, sekolah, istirahat, mandi. Aku merasa cukup aja. Cukup main, cukup makan, cukup sekolah. Trus, aku boleh merasa sedih, boleh kesal, boleh ketawa, boleh bercanda, boleh marah. Jadi aku seneng, aku bahagia,” seraya memeluk saya erat.

Ya, ternyata merasa cukup itu membahagiakannya.

Jika itu yang kau butuhkan, Nak. Berkembanglah selayaknya dirimu menginginkannya. Ayah dan Bunda hanya menemani perjalananmu dan mengarahkan kembali jika kau tersesat. Dan…..mengantarkanmu pada jalan kembali pada pencipta ruh sucimu.

*Teruntuk semua keponakan Biru dan anak-anak lain di dunia. Bahagia untukmu itu keniscayaan. Kau berhak menciptanya.

Pernah dipublikasi di http://www.kisahharubiru.wordpress.com dan http://www.ruangtanpakubikel.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s